R E P U T A S I
“Reputasi itu apa to, Mas?” tanya Huri tadi pagi ketika mampir ngopi di rumahku. Huri yang punya usaha toko pakan ternak itu bercerita bahwa kemarin dia menghadiri undangan makan siang dari distributor salah satu merk pakan ternak di sebuah rumah makan. Sekitar 50 agen yang diundang, Huri salah satunya. Acaranya sederhana, hanya makan siang dilanjut sambutan dari distributor. Dalam sambutannya, pihak distributor mengajak para agen agar lebih aktif terjun ke kandang-kandang peternak, mendengar dan mencatat setiap keluhan mereka, syukur bila kemudian bisa memberikan solusi. Bila agen mengalami kesulitan, distributor akan menerjukan tim ahlinya. Itulah salah satu cara menjaga reputasi agar para peternak tetap percaya dan setia menggunakan pakan merk mereka.
“Saya yang belum paham istilah reputasi itu, Mas. Mau tanya di forum juga malu.” Kata Huri sambil nyeruput kopinya.
Untuk menjawab pertanyaan Huri, tentu kurang bijak bila kusuruh dia membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia, atau membaca Wikipedia via Mbah Google misalnya. Dia hanya butuh penjelasan sederhana yang mudah dicerna sambil ngobrol santai menikmati kopi Semendo. Maka kuceritakanlah pertemuanku dengan Sasa dan Kang Panut di warung opor ayam “Pak Dalimin” Kwaren tadi malam.
Aku sengaja datang ke warung Pak Dalimin untuk menghangatkan badan di tengah suasana dingin dan gerimis sisa hujan sesiangan. Rasa perut lapar sejak sore sengaja kutahan karena sudah kangen makan opor sambil mendengarkan wayang kulit yang setiap malam terpancar dari stasiun-stasiun radio di kota Klaten-Jogja-Solo dan sekitarnya. Maklumlah, sudah sekitar 2-3 bulan aku tidak ke sana gara-gara dibilangi dokter agar mengurangi makanan bersantan. Ketika aku datang, sudah ada dua orang yang sedang asyik makan. Aku pun langsung duduk di kursi depannya setelah memesan makanan pada Pak Dalimin.
“Kok sendirian, Mas?” tiba-tiba orang yang duduk di depanku manyapaku. Ya Allah, ternyata Kang Panut pemilik Soto Kartongali dan Sasa si-juru parkir teladan yang duduk di depanku itu.
“Weeh lha, juragane soto to ini,” kusalami Kang Panut dan Sasa sahabatku.
“Mas Panut ini memang sering ke sini kok, Mas,” kata Pak Dalimin sambil menyajikan menu pesananku.
“Hampir tiap malam, Mas,” Kang Panut menyahut.
“Sampeyan dari mana, Om, kok cuma sendirian?” Sasa ganti menanyaiku.
“Dari rumah, Sa. Sengaja ke sini sendiri. Anak-buah sudah pada tidur,” jawabku.
Aku pun mulai menyantap opor ayam yang sudah tersaji, juga Kang Panut dan Sasa meneruskan makannya. Pak Dalimin yang biasanya langsung kembali leyeh-leyeh di kusri panjang di depan warungnya sambil mendengarkan wayang kulit, kali ini ikut duduk di sebelahku. Mungkin maksudnya menghormati Kang Panut koleganya sesama pelaku bisnis kuliner tradisional. Mereka memang tampak akrab. Setelah makan, kami pun asyik ngobrol ngalor-ngidul, termasuk tentang lakon wayang yang sedang dibawakan oleh dalang Ki Tomo Pandoyo dari Randulanang, Jatinom.
“Sasa kok gak ikut Aksi 313 di Jakarta ?”
“Enggaklah, Om. Sudah cukup Aksi 212 dulu,” jawab Sasa.
“Kenapa, Sa?” tanyaku.
“Ya harus kerjalah, Om. Kan harus setia pada pekerjaan,” jawab Sasa.
“Bener Sasa itu, Mas,“ Pak Dalimin menyahut. “Kita memang harus setia pada pekerjaan. Biar pun warung cuma emplek-emplek begini, tapi soal tanggung jawab dan kesetiaan pada pelanggan tetap nomor satu.”
“Itulah kenapa warung Mas Dalimin ini buka 24 jam, Mas. Tidak pernah tutup,” Kang Panut nambahi.
“Warung Mas Panut juga harus buka jam 6 pagi setiap hari. Tidak boleh molor atau libur sesuka hati. Kasihan kalau orang kecele gara-gara kita malas-malasan,” Pak Dalimin balas memuji Kang Panut.
“Ya itulah, Om, makanya aku gak ikut ke Jakarta. Pengunjung Soto Kartongali pasti akan kerepotan parkir kalau Sasa tidak ada…..hahahaa…” Sasa menambahi dengan gayanya yang pede.
Memang, harus diakui warung opor ayam Pak Dalimin memang istimewa. Bukan hanya karena masakan opornya yang sangat enak dan stabil rasanya, tapi juga cara penyajiannya numani. Satu porsi berupa sepiring nasi panas dibubuhi daun singkong rebus, di atasnya satu tepong atau dada-menthok atau paha-atas ayam opor dengan kuahnya yang kental-manis, sambal bawang-lombok ijo tersaji bersama lemper batu ukuran besar, dan segelas teh manis gula batu nasgithel. Bagi orang yang suka mengukur kualitas sesuatu berdasarkan kondisi fisik dan kasat mata, tentu tidak akan pernah menoleh ke warung sempit di sebelah barat Pom Bensin Kwaren, Klaten itu. Tentu juga sulit percaya bahwa dari tangan laki-laki usia 70an tahun itu tersaji masakan opor ayam yang layak dikukuhkan sebagai Juara Dunia. Da, Pak Dalimin siap 24 jam melayani pembeli.
Harus juga diakui bahwa ketika pagi-pagi kita butuh sarapan yang seger, Soto Kartongali di dekat Pemandian Jolotundo yang cepat saji itu sudah siap melayani sejak jam 6 pagi dan tidak pernah molor. Rasa soto dan teh nasgithelnya juga tidak pernah berubah, stabil.
Juga tidak ada juru parkir sehebat Sasa dalam melayani pengendara. Dia bekerja dengan sepenuh jiwa-raganya sejak jam 6 pagi hingga tutup warung jam 2 siang, dengan liak-liuk tubuh dan teriakannya member aba-aba, dengan bendera merah-orange di tangan kiri dan balok pangganjal roda di tangan kanan, dengan senyum lebar dan ungkapan “matur nuwun” dan “ngatos-atos” pada pemberi uang parkir, dan seterusnya. begitulah Sasa si juru parkir teladan bekerja.
“Itulah reputasi, Nda. Pak Dalimin menjaga reputasi sebagai pejual opor ayam. Kang Panut mejaga reputasi Soto Kartongali yang legendaries. Sasa menjaga reputasi sebagai juru parkir teladan,” kataku pada Huri. “Kesan dan catatan baik masyarakat harus kita jaga jangan sampai rusak. Ingat, karena nila setitik bisa rusak susu sebelanga.”
“Ooh, jadi kalo ada pejabat atau politisi melakukan korupsi, atau seorang artis ditangkap polisi karena nyabu, itu sama saja merusak reputasinya sendiri ya, Mas?”
“Iyalah, Nda. Orang berjuang membangun karir hingga berhasil menduduki jabatan tinggi di instansinya, orang terjun ke dunia politik dan membangun citra hingga berhasil menjadi tokoh politik yang disegani, seorang artis bekerja keras hingga terkenal dan banyak job, seorang penyair produktif menulis puisi dengan ketajaman mata hati dan kelembutan jiwanya sehingga melahirkan karya-karya berkualitas, dan sebagainya. Itu semua bisa hancur dalam sekejap karena tergiur godaan harta-tahta-wanita dan kenikmatan sesaat. Bahkan bukan hanya karirnya yang hancur, tetapi juga seluruh bangunan rumah-tangganya. Itulah reputasi, Nda. Makanya jangan main-main. Kita harus menjaga reputasi, apapun pekerjaaan dan posisi kita.”
“Sudah paham aku sekarang. Ya sudah, Mas. Aku mau nengok kandang dulu. Menjaga reputasi….hahaha….” Huri langsung pamitan setelah menghabiskan kopinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar