MBAN CINDE MBAN SILADAN
Rasanya sudah dua windu aku tidak ketemu Sasa, tiba-tiba pagi ini kami bertemu di depan warung soto “Gito Birun” Pasar Legi Jatinom. Kulihat Sasa sedang duduk di bawah pohon waru sambil tangannya memegang kiso berisi ayam jago. Rupanya dia mau menjual ayam jago bangkoknya lagi. Tetapi pasar masih sepi, belum tampak satu pun pedagang dan pengunjung di sana. Maklum, hari memang masih terlalu pagi untuk pasaran Legi yang bukan pas hari Minggu. Hanya tampak beberapa pemuda setempat sudah yang bertugas sebagai juru parkir dan beberapa pengunjung warung soto.
“Mau jual jago lagi, Sa?” tanyaku sambil menjabat tangannya.
“Iya, Om. Istriku butuh duit buat nyumbang nanti sore. Lagi musim orang hajatan…hehehee..”
“Ayo kita ngobrol di dalam, Sa, sambil sarapan. Sudah lama kita gak ngobrol, kan?”
Sasa tidak menolak ajakaku.
Sengaja kupilih tempat duduk di pojok agar obrolan kami tidak terganggu pengunjung yang pasti akan semakin ramai. Tanpa menunggu lama, pesanan dua piring soto dan dua gelas teh nasgithel sudah tersaji. Kami pun menikmatinya setelah kami lengkapi dengan sambel dan kecap tradisional asli produksi Mbah Gito Birun yang khas.
“Sebenarnya tadi malam saya mau ke rumah Sampeyan, Om, tapi hujan tidak reda sejak maghrib hingga malam. Jadi kebetulan sekali kita ketemu di sini,” kata Sasa setelah menghabiskan sotonya.
“Ada cerita apa, Sa?”
“Politik, Om.”
“Weehh….kukira soal sepakbola elclasico antara Real Madrid vs Barcelona, atau MU vs Chelsea.”
“Walah Om, namanya sepakola ya gitu-gitu saja. Kadang menang kadang kalah, biasa. Ada yang lebih menarik dari sepakbola.”
“Politik, maksudmu?”
“Hehehee….iya, Om," jawabnya dengan nyengir, "Pilgub DKI kemarin betul-betul menguras tenaga. Dulu aku ikut Aksi 212 di Monas bersama jutaan Umat Islam dari berbagai penjuru. Berbulan-bulan aku juga kebat-kebit karena khawatir perjuangan Umat Islam kalah. Makanya sepulang dari kerja parkiran kemarin aku pun ikut memantau perhitungan di KPU via tv. Untung tetap jagoku yang menang, alhamdulillah. Coba kalau samapai terjadi manipulasi data lalu jagoku dikalahkan. Apa jadinya, Om? ”
“Bisa geger ya, Sa.”
“Ya jelas geger, Om. Namanya kecurangan kan harus kita lawan. Asal Sampeyan tahu, kemarin aku sudah siap berangkat ke Jakarta kalau terjadi gegeran. Tapi jangan bilang-bilang lho, Om.”
“Siap ikut perang, maksudmu?”
“Ya jelas to, Om. Jayakarta harus kita rebut. Batavia harus kita bebaskan dari cengkeraman Kumpeni,” jawab Sasa semangat.
Aku jadi teringat ketika dia pamit mau ke Jakarta ikut Aksi 212 dulu. Dengan fasih dia bercerita tentang sejarah perjuangan Fatahillah/Sunan Gunungjati yang menggalang kekuatan umat untuk mengusir Portugis dari Jayakarta. Dia juga fasih bercerita tentang Raja Mataram, Sultan Agung Hanyokrokusumo, yang masa kanak-kanak hingga remajanya menjadi santri/anak murid Ki Ageng Gribik Jatinom itu menggalang kekuatan umat berperang melawan Belanda yang mengusai Batavia selama lima tahun. Dua peristiwa itulah rupanya yang telah menginspirasi Sasa hingga merasa terpanggil dan merasa terlibat dalam urusan Pilgub DKI. Dengan biaya sendiri, bahkan hanya dengan bekal seadanya dari hasil menjual 3 ekor ayam jagonya.
“Tapi kemarin aku betul-betul kecewa, Om,” kata Sasa sambil menghisap kretek di tangannya.
“Kecewa soal apa, Sa?”
“Tuntutan Jaksa di pengadilan penista agama kemarin itu sangat tidak masuk akal dan tidak adil.”
“Loh kok bisa begitu, Sa?”
“Ini kesan saya. Proses pengadilan itu ternyata hanya main-main, bukan sungguh-sungguh menegakkan hukum dan menjaga keadilan. Sudah jelas penista agama dan meresahkan berjuta-juta umat, lha kok tidak dihukum. Tuntutan jaksa terlalu ringan, dan tampak sengaja ingin membebaskan terdakwa dari segala hukuman. Padahal kita tahu, orang-orang yang masih diduga makar saja langsung digerebek dan ditahan berbulan-bulan, bahkan banyak terduga teroris diculik dan yang langsung di-dor tanpa proses pengadilan.”
“Sa, bukankah sebaiknya kita husnudhon saja pada jaksa dan para hakim? Tentu mereka sudah dengan kajian mendalam dan pertimbangan matang berdasar fakta-fakta di pengadilan. Slow waelah, Sa. Apa Sasa tidak kasihan pada si-terdakwa? Sudah dia kalah di Pilgub, mosok masih mau dijebloskan ke penjara. Kasihanlah, Sa.”
“Om Om…Sampeyan ini bagaimana, to? Itu kan dua hal yang berbeda. Pilgub itu utusan politik. Peristiwa demokrasi. Sudah jelas pemenangnya. Selesai. Kita tinggal menunggu serah-terima jabatan lalu mengawal supaya gubernur baru itu nanti benar-benar amanah. Kalau soal pengadilan, ini kan soal hukum, Om. Kebetulan memang si-terdakwa masih menjabat gubernur dan kemarin masih mau maju Pilgub untuk jabatan berikutnya. Para penegak hukum tidak boleh “mban cinde mban siladan”, Om.”
“Artinya apa itu, Sa?”
“Penegak hukum harus adil, Om. Tidak boleh membeda-bedakan. Di negeri ini tidak boleh ada orang atau kelompok yang merasa paling hebat. Dumeh orang kaya boleh semena-mena, di pengadilan pun diistimewakan. Salah tidak dihukum, malah dipuja-puja, digendong dengan selendang. Sementara rakyat biasa yang miskin dan tidak punya jabatan diperlakukan semena-mena, digendong dengan siladan yang bisa membuat kulit dan tubuhnya terluka.”
Mban cinde mban siladan, alias tidak adil. Sudah lama aku tidak mendengar peribahasa Jawa itu. Sejak TVRI Yogyakarta berhenti menayangkan acara Kethoprak setiap malam Rabu tahun 70-80an, memang banyak ajaran, ungkapan, dan kearifan lokal yang hilang dari masyarakat. Untung masih ada Sasa.
“Jaman semakin rusak-rusakan,Om,” kata Sasa.
“Sudahlah, Sa. Kamu bikin mumet pagi-pagi. Itu pasar jago sudah ramai. Juallah ayammu, mudah-mudahan dapat harga bagus. Aku pulang dulu, ya…..”
Aku pun langsung pulang setelah membayar makanan ke Mbah Gito Putri yang bertindak sebagai kasir. Suwe ora jamu, jamu pisan godong duwet. Suwe ora ketemu, ketemu pisan gawe mumet. Sasa Sasa…….
21/4/2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar