Minggu, 19 Maret 2017

SIASAH VS POLITIK

SIASAH VS POLITIK

Warung angkringan Gus Yusuf memang ngangeni. Bukan hanya karena menu masakan dan wedangnya yang nyamleng, tapi juga tempatnya memang cocok buat nglaras sambil ngobrol malam-malam bersama teman sesama penggemar angkringan. Lokasinya di sebelah barat Lapangan Bonyokan, di pinggir jalan provinsi Klaten – Jatinom, sekitar 50 m sebelah selatan pertigaan Koramil Jatinom. 

Jangan bayangkan warung itu seperti warung angkringan modern milik orang-orang kaya di kota yang berani investasi besar di bisnis kuliner bergaya kerakyatan, bergaya angkringan. Beda sama sekali. Ini asli warung rakyat, angkringan, yang sebagian orang menyebutnya warung kucing. Gus Yusuf membuat dan mengelola warung di emperan rumahnya dan hasilnya untuk menafkahi keluarganya.

Teh-jahe dan makan sego-gudangan ditambah sambel welut adalah menu kesukaanku. Tentu menu itu belumlah lengkap sebelum dilanjut ngobrol ngalor-ngidul dengan teman-teman, dari seputar makelaran mobil yang lagi sepi, tentang  burung love-bird yang harganya terjun bebas , atau tentang gadis tetangga desa yang dilarikan teman facebooknya hingga berhari-hari belum ketemu entah di mana, dan sebagainya. Begitulah, kami biasa ngumpul dan baru bubar bila udara sudah terasa anyep tanda waktu sudah dini hari.

Obrolan malam ini agak beda karena ada Sasa yang kebetulan mampir usai memijat pelanggan. Kami sedang asyik ngobrol tentang durian yang musim ini tampaknya tidak sebagus tahun lalu, tiba-tiba Sasa mak-jegagik datang dan uluk salam.

“Weeeh…Sasa. Dari mana, Sa? tanyaku setalah menjawab salamnya.

“Monggo, Mas Sasa. Duduk sini,” Ifan mempersilakan Sasa duduk di sampingnya. Memang sudah lama Ifan pengin bisa ikut ngobrol dengan Sasa. Penasaran, katanya.

“Biasa, Om, dari jihad.….hehehee,” jawab Sasa dengan senyumnya yang menawan.

“Wah elok tenan. Jihad apa, Mas?” tanya Huri yang juga tampak antusias. 

“Ya jihad membantu orang yang butuh dipijat badannya, Mas. Namanya juga tukang pijat.” 

“Dapat berapa pasien malam ini, Sa? tanya Ifan.

“Alhamdulillah ada satu, Om. Pak Khusnul masuk angin, perlu dipijat dan dikeroki.”

Begitulah Sasa. Hari-harinya disibukkan dengan mambantu orang lain. Pagi sampai siang memandu kendaraan di parkiran Soto Kartongali, sore dan malamnya membantu orang yang badannya pegal-pegal atau kecetit otot kaki, tangan, atau punggungnya.

Segelas susu-jahe disajikan Gus Yusuf dan langsung ditangkap Sasa lalu dituangkannya ke lepek agar segera bisa diminum sesruput dua sruput.

“Ada cerita apa dari Pak Khusnul, Sa?” tanyaku. 

“Tadi cerita lagi seputar kehebatan mendiang Pak Jayeng, salah satu komandan Batalion 426 yang dibunuh PKI dan hingga kini tak diketahui di mana makamnya.”

”Terus, Sa?”

“Tadi beliau juga cerita tentang Partai Masyumi yang dulu dibubarkan Bung Karno. Ceritanya mirip-mirip dengan yang kudengar waktu ikut Sampeyan diskusi di Jogja, Om.”

“Mirip-mirip bagaimana, Mas?” tanya Huri.

“Wah, panjang ceritanya….hehee.”

“Gak apa-apa panjang, Mas Sasa, ceritakan saja. Aku juga pengin dengar sejarah jadul itu,” Ifan pun tampak antusias.

“Ceritakan saja, Sa. Berbagi ilmu kan bagus,” sahutku.

“Tak makan dulu ya, Mas. Nanti tak ceritai singkatnya saja. Kalau panjang-panjang bisa sampai shubuh belum rampung,” kata Sasa sambil makan nasi-sambel welut denga lahapnya.

“Masyumi itu berdiri tahun 1945 sebagai wadah umat Islam urun-rembuk bagi pembentukan Negara RI," Sasa mulai bercerita. "Waktu itu, di samping Masyumi sudah ada PNI, PKI, dan lain-lain," lanjutnya. 

Kata Sasa, para pendiri Republik ini dulu melakukan sidang-sidang secara marathon untuk merumuskan Negara yang mau kita dirikan nanti seperti apa, mau ke mana, dan sebagainya. Mereka itu tokoh-tokoh Nasionalis yang mengenyam pendidikan Belanda dan tokoh-tokoh Islam  atau ulama.  Di antara kalangan Nasionalis ada tokoh besar seperti Bung Karno dan Bung Yamin, dari kalangan Islam ada ulama-ulama hebat seperti KH Wakhid Hasyim dan Ki Bagus Hadikusumo. Ada juga tokoh-tokoh Kristen-Katolik serta tokoh-tokoh revolusioner berhaluan Komunis. 

"Bisa dibayangkan betapa alot perdebatan mereka saat itu, Mas. Tentu tidak mudah merumuskan Dasar Negara Pancasila dan UUD 1945.” 

Sasa kembali mengulut rokok. Ifan dan Huri yang dari tadi asyik menyimak sambil klepas-klepus, kali ini tampak ndomblong dan gumun, heran. Ing-atase Sasa kok bisa cerita sejarah berdirinya Republik dan hafal beberapa nama tokoh.

“Sama seperti Sampeyan, Om, tadi Pak Khusnul juga menyinggung tentang PSII dan NU yang keluar dari Masyumi sehingga kekuatan politik umat Islam terpecah dan lemah sejak Pemilu 1955,” lanjut Sasa.

“Pak Khusnul bilang apa tadi?” tanyaku.

“Yang beliau sesalkan, sejak itu umat Islam khususnya warga Muhammadiyah dan NU jadi gampang diadu-domba hanya karena masalah-masalah sepele dan soal khilafiyah seperti qunut, ziarah kubur, dan tahlilan.”

Aku jadi teringat kesaksian Buya Hamka di novel “Jalan Cinta Buya” yang ditulis oleh Haedar Musyafa, bahwa politik telah memecah-belah umat Islam. 

"Sesungguhnya Masyumi yang berasas Islam dulu berdiri untuk dan di atas semua golongan," Sasa melanjutkan ceritanya. "Namun sayang, cita-cita luhur Masyumi tidak berjalan sesuai harapan karena kemudian tokoh-tokoh intinya lebih mengutamakan kepentingan golongannya masing-masing. Spirit gerakan modernis dan pembaharu dari Persyarikatan Muhammadiyah telah gagal diterjemahkan oleh tokoh-tokoh tradisional dari NU. Tokoh-tokoh NU lebih pandai berpolitik sehingga berhasil menduduki jabatan-jabatan strategis dalam struktur pemerintahan, sedangkan naluri tokoh-tokoh Masyumi lebih cenderung membangun dan menumbuhkan semangat persatuan umat. Masyumi menghadapi masa-masa sulit terutama sejak Dewan Konstituante yang kemudian dibubarkan melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dewan Konstituante diganti dengan Nasakom, semangat gotong-royong antara kekuatan revolusioner dengan prinsip Nasionalisme, Agamis, Komunisme. Karena menolak Nasakom, maka Masyumi dibubarkan pada 1960 dan beberapa tokohnya dipenjara tanpa melaui proses pengadilan.

“Oooh, rupanya tokoh-tokoh Masyumi dulu memang tidak pandai berpolitik ya, Mas Sasa? Pantesan anak-cucunya juga lugu-lugu sampai sekarang, ya.” tanya Huri.

“Iya, bener itu. Di era reformasi mereka juga ikut bikin partai politik, tapi ya gak bisa besar…hahahaa,” Ifan menyahut sambil mentertawakan dirinya sendiri.
Sasa menyahut,“Begini lho, Mas. Kalau menurut penangkapanku waktu ikut diskusi minggu lalu, tokoh-tokoh Masyumi seperti Buya Hamka dulu memang tidak berpolitik, tetapi bersiasah.” Sasa menghisab rokoknya dalam-dalam, lalu melanjutkan, “Mereka masuk gelanggang politik untuk memperjuangkan kepentingan dan aspirasi Umat Islam, bukan untuk kepentingan diri sendiri dan golongannya. Kalau sudah menyangkut aqidah, mereka kukuh dan tidak mau kompromi. Itulah bedanya dengan politisi, apalagi politisi jaman sekarang yang lebih cenderung kompromis dan transaksional. Wani piro? Aku dapat apa? Begitulah. Bener kan, Om?” Sasa memandangku minta persetujuan pendapatnya.

Aku hanya tersenyum sambil melihat jam tangan yang sudah menunjukkan waktu memasuki dini hari. Udara sudah terasa anyep berembun.
“Baiklah kalau begitu…..besok kita lanjut lagi obrolan kita,” kataku sambil berdiri menyalami Sasa, Ifan, dan Huri. Dan kami pun bubar setelah membayar makanan dan minuman ke Gus Yusuf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar