B I D ‘ A H
“Loh, Sa, tumben Jumatan di sini?” tanyaku sambil
membalas jabat tangannya di depan mesjid usai sholat Jumat tadi.
“Iya, Om. Sengaja ke sini sekalian mau mampir ngopi di
rumah Sampeyan,” jawab Sasa.
Kami pun berjalan beriringan menuju rumahku sambil
Sasa menuntun sepedanya. Cuaca kamarau yang terik membuat semua orang bergegas
jalannya agar cepat sampai rumah menghindari sengatan matahari. Tak berapa
lama, kami pun sudah duduk di kursi emper rumahku. Kolam ikan di bawah pohon
belimbing yang lebat buahnya, pohon mangga arum manis yang rimbun, serta suara
gemericik dan kecipak air di kolam ikan depan rumah terasa memberi kesejukan
tersendiri di saat cuaca terik begini. Kami pun ngobrol ngalor-ngidul seputar kabar Sasa dan keluarganya, situasi terkini
warung Soto Kartongali, aktivitasnya sebagai juru pijat, dan sebagainya. Satu
karyawanku menyajikan dua gelas kopi yang sudah kupesan. Beberapa toples klethikan sudah terjajar rapi di atas
meja seperti hari-hari biasanya.
“Om, aku mau minta saran,” kata Sasa setelah nyeruput
kopi dari lepeknya.
“Saran apa, Sa?”
“Nanti malam aku ada undangan tahlilan di rumah
tetangga memperingati setahun meninggal suaminya. Aku jadi ewuh, Om.”
“Lha kok ewuh?
Kalau diundang ya datang saja.”
“Kata ustadzku, tahlilan peringatan kematian itu tidak
ada tuntunannya dari Kanjeng Nabi. Bid’ah, katanya. Tapi kalau aku gak datang,
apa alasanku nanti? Bisa-bisa aku dimusuhi saudara dan tetangga. Ewuh tenan aku, Om.”
Aku jadi teringat, kadang ada ustadz yang menyampaikan
tausiyah tanpa memperhitungkan dampaknya
bagi jamaah. Yang penting sudah menyampaikan kebenaran, kebenaran yang
diyakininya. Tidak jarang jamaah menjadi bingung. Repotnya, tidak jarang pula
jamaah menelan mentah-mentah ilmu yang diperolehnya, lalu dipakai untuk
menghakimi sesuatu yang terjadi atau yang sudah menjadi kebiasaan di
masyarakatnya. Maka terjadilah konflik
di tengah masyarakat, baik yang terbuka maupun yang diam-diam. Seperti soal undangan
tahlilan yang ditanyakan Sasa. Jamaah jadi takut jangan-jangan amalnya akan sia-sia
karena dulu Kanjeng Nabi tidak pernah melakukannya. Kata bid’ah seakan telah menjadi
hantu yang sangat menakutkan dan lebih berbahaya dari dosa syirik.
“Makanya aku ngelengke
ke sini, Om, pengin tahu yang dimaksud bid’ah itu sebenarnya apa, to? Apa iya
kita tidak boleh melakukan sesuatu kecuali yang sudah dicontohkan oleh Kanjeng
Nabi? Kalau begitu, kenapa kita setiap hari makan nasi, makan soto, naik
sepeda, naik mobil, main HP, sekolah, dan sebagainya? Bukankah dulu Kanjeng
Nabi babar blas tidak pernah
melakukan itu semua, Om?”
“Loh, Sasa sudah tahu gitu, kok.”
“Tahu bagaimana to, Om? Aku ini tanya, kok.”
“Pertanyaanmu itu tadi benar.”
“Benar bagaimana?”
“Sa, manusia ini dikaruniai akal sehingga beda dengan
kerbau, ayam, ular, anjing, dsb. yang hanya dikarunia naluri. Dengan akal,
manusia menjalani hidupnya sebagai hamba Allah SWT dan khalifah di bumi
sekaligus. Manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku dengan
bermacam-macam budaya yang dihasilkan, supaya saling kenal-mengenal. Manusia
yang ditakdirkan lahir dan hidup di benua Eropa tentu berbeda cara menjalani
hidupnya dengan yang lahir dan hidup di Jazirah Arab, Afrika, dan Asia termasuk
Indonesia. Orang Eropa dan Arab makan gandum, bukan nasi seperti kita. Orang
Maluku dan Papua juga makan sagu, bukan nasi.”
“Iya aku tahu itu, Om. Tapi apa hubungannya dengan
pertanyaanku tadi?"
“Soal bid’ah?”
“Ya iya....”
“Begini, Sa. Dalam hal pertanian, misalnya, dulu
Kanjeng Nabi bilang, Antum
a’lamubi’umuriddunyaakum, Kalian lebih tahu urusan dunia Kalian. Itu
artinya, Kanjeng Nabi menyuruh kita menjalani hidup ini secara kreatif-inovatif
dengan modal ilmu. Beliau tidak mengajari kita cara budidaya kurma, cara
membuat pedang dan senjata, atau cara membuat kapal dan kendaraan lainnya. Yang
beliau wanti-wanti pada kita adalah Sholluukamaaroaitumuuni ushallii,
sholatlah Kalian sebagaimana aku sholat.”
“Maksudnya, Om?"
“Dalam hal sholat dan ibadah mahdhoh lainnya, kita wajib mencontoh Rasulullah SAW. Dalam hal
teknis menjalani urusan dunia, kita boleh melakukan apa saja kecuali yang sudah
jelas-jelas dilarang oleh Allah SWt dan Kanjeng Nabi SAW.”
“Ooh jadi gak masalah kita makan soto, sate, naik
motor, dsb. itu ya, Om?”
“Ya gak masalah asalkan nasi, soto, sate, dan motor
itu Kamu dapatkan dengan cara yang baik dan untuk menjalani kebaikan hidup.
Akan menjadi masalah dan bisa haram kalau kita minum air sumur langsung satu ember,
misalnya. Atau makan sate ayam kambing yang kambingnya Kamu curi dari tetangga.
Atau, kalau kita punya mobil bagus dan
rumah mewah magrong-magrong yang kita
beli dengan duit hasil maling, merampok, atau korupsi. Itu jelas-jelas dilarang,
alias haram, Sa. Haram mugholadhoh...kkkkl.”
“Om, kata ustadzku, peringatan kematian 3 hari, 7
hari, 40 hari, 1 tahun, dst. itu bukan ajaran Islam, tapi peninggalan budaya
Hindu. Jadi harus kita tinggalkan.”
“Lha kalau anak-anak sekolah dan pegawai kantor
melakukan upacara bendera setiap hari Senin dan hari-hari besar Nasional itu
menurutmu ajaran siapa?”
“Gak tahu, Om.”
“Terus, kenapa pengajian yang di kampungmu hanya
setiap Malam Jumat dan Minggu Pahing, Sa? Kenapa tidak setiap hari?”
“Ya karena sudah jadi kesepakatan jamaah, Om.”
“Oke, Sa. Kesepakatan jamaah. Berarti peringatan
kematian 3,7,40 hari dan seterusnya itu juga gak perlu jadi masalah kalau itu sudah
menjadi kesepakatan masyarakat, atau sudah tradisi turun-temurun.”
“Tapi kan isinya tahlilan dan doa, Om. Mestinya kita melakukannya
setiap saat, tidak harus hari ke-3,7,40, dan seterusnya itu.”
“Betul, Sa. Tahlilan tentu akan lebih afdhol kalau kita bisa melakukannya
setiap saat di mana saja dan kapan saja. Setiap tarikan nafas dan gerak tubuh kita
senantiasa mengagungkan Asma Allah. Tapi apa bisa orang berkumpul setiap hari untuk melakukan doa
bersama? Tidak, kan? Makanya perlu ada waktu-waktu tertentu yang disepakati.
Dalam hal sholat pun Alllah SWT hanya menjadwal kita 5 waktu dalam
sehari-semalam. Iya, kan?”
“Sebentar, Om. Ini masih soal tahlilan tadi. Bukankah
yang bermanfaat bagi almarhum/ah itu hanya doa dari anaknya yang sholeh? Lalu buat
apa tetangga dan kerabat ikut mendoakan? Pakai makan-makan lagi. Gak ada
manfaatnya, kan?”
“Lha kok gak ada manfaatnya? Kanjeng Nabi SAW saja
mengajari kita selalu berkirim sholawat dan salam untuk beliau, untuk
keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya. Kita diajari untuk selalu
berdoa untuk kebaikan seluruh kaum beriman, mukminin
walmukminat, muslimin walmuslimat, dan orang-orang tua kita. Iya, kan?”
“Iya juga ya, Om.”
“Jadi kenapa Kamu ragu untuk mendatangi undangan
tahlilan tetanggamu nanti malam, Sa? Kamu gak mau mendoakan tetanggamu?”
“Wah ya bukan begitu, Om. Aku tadi benar-benar ragu.
Takut dosa. Ya maklumlah, dosaku sudah terlalu banyak, dan sekarang baru
belajar berbuat baik sebanyak-banyaknya, juga menghindari hal-hal yang bisa membuat
dosaku bertambah lagi."
"Bagus itu. Sasa pasti bisa."
"Baiklah, Om. Aku sudah agak paham sekarang.
Matur nuwun njih, Om."
Adzan ashar terdengar bersahut-sahutan dari corong
mesjid-mesjid sekitar kampungku. Kami pun mengakhiri obrolan Jumat siang ini
dengan ikut sholat ashar berjamaah di mesjid depan rumah. Sasa sahabatku yang
selalu gelisah, dan akan terus gelisah melihat berbagai perkembangan di
sekitarnya.
Kegelisahanmu menjadi inspirasiku, Sa. Makasih, ya…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar