Jumat, 10 Maret 2017

B I D ' A H


B I D ‘ A H

“Loh, Sa, tumben Jumatan di sini?” tanyaku sambil membalas jabat tangannya di depan mesjid usai sholat Jumat tadi.

“Iya, Om. Sengaja ke sini sekalian mau mampir ngopi di rumah Sampeyan,” jawab Sasa.

Kami pun berjalan beriringan menuju rumahku sambil Sasa menuntun sepedanya. Cuaca kamarau yang terik membuat semua orang bergegas jalannya agar cepat sampai rumah menghindari sengatan matahari. Tak berapa lama, kami pun sudah duduk di kursi emper rumahku. Kolam ikan di bawah pohon belimbing yang lebat buahnya, pohon mangga arum manis yang rimbun, serta suara gemericik dan kecipak air di kolam ikan depan rumah terasa memberi kesejukan tersendiri di saat cuaca terik begini. Kami pun ngobrol ngalor-ngidul seputar kabar Sasa dan keluarganya, situasi terkini warung Soto Kartongali, aktivitasnya sebagai juru pijat, dan sebagainya. Satu karyawanku menyajikan dua gelas kopi yang sudah kupesan. Beberapa toples klethikan sudah terjajar rapi di atas meja seperti hari-hari biasanya.

“Om, aku mau minta saran,” kata Sasa setelah nyeruput kopi dari lepeknya.

“Saran apa, Sa?”

“Nanti malam aku ada undangan tahlilan di rumah tetangga memperingati setahun meninggal suaminya. Aku jadi ewuh, Om.”

Lha kok ewuh? Kalau diundang ya datang saja.”

“Kata ustadzku, tahlilan peringatan kematian itu tidak ada tuntunannya dari Kanjeng Nabi. Bid’ah, katanya. Tapi kalau aku gak datang, apa alasanku nanti? Bisa-bisa aku dimusuhi saudara dan tetangga. Ewuh tenan aku, Om.”

Aku jadi teringat, kadang ada ustadz yang menyampaikan tausiyah tanpa memperhitungkan dampaknya bagi jamaah. Yang penting sudah menyampaikan kebenaran, kebenaran yang diyakininya. Tidak jarang jamaah menjadi bingung. Repotnya, tidak jarang pula jamaah menelan mentah-mentah ilmu yang diperolehnya, lalu dipakai untuk menghakimi sesuatu yang terjadi atau yang sudah menjadi kebiasaan di masyarakatnya.  Maka terjadilah konflik di tengah masyarakat, baik yang terbuka maupun yang diam-diam. Seperti soal undangan tahlilan yang ditanyakan Sasa. Jamaah jadi takut jangan-jangan amalnya akan sia-sia karena dulu Kanjeng Nabi tidak pernah melakukannya. Kata bid’ah seakan telah menjadi hantu yang sangat menakutkan dan lebih berbahaya dari dosa syirik.

“Makanya aku ngelengke ke sini, Om, pengin tahu yang dimaksud bid’ah itu sebenarnya apa, to? Apa iya kita tidak boleh melakukan sesuatu kecuali yang sudah dicontohkan oleh Kanjeng Nabi? Kalau begitu, kenapa kita setiap hari makan nasi, makan soto, naik sepeda, naik mobil, main HP, sekolah, dan sebagainya? Bukankah dulu Kanjeng Nabi babar blas tidak pernah melakukan itu semua, Om?”

“Loh, Sasa sudah tahu gitu, kok.”

“Tahu bagaimana to, Om? Aku ini tanya, kok.”

“Pertanyaanmu itu tadi benar.”

“Benar bagaimana?” 

“Sa, manusia ini dikaruniai akal sehingga beda dengan kerbau, ayam, ular, anjing, dsb. yang hanya dikarunia naluri. Dengan akal, manusia menjalani hidupnya sebagai hamba Allah SWT dan khalifah di bumi sekaligus. Manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku dengan bermacam-macam budaya yang dihasilkan, supaya saling kenal-mengenal. Manusia yang ditakdirkan lahir dan hidup di benua Eropa tentu berbeda cara menjalani hidupnya dengan yang lahir dan hidup di Jazirah Arab, Afrika, dan Asia termasuk Indonesia. Orang Eropa dan Arab makan gandum, bukan nasi seperti kita. Orang Maluku dan Papua juga makan sagu, bukan nasi.” 

“Iya aku tahu itu, Om. Tapi apa hubungannya dengan pertanyaanku tadi?"

“Soal bid’ah?”

“Ya iya....”

“Begini, Sa. Dalam hal pertanian, misalnya, dulu Kanjeng Nabi bilang, Antum a’lamubi’umuriddunyaakum, Kalian lebih tahu urusan dunia Kalian. Itu artinya, Kanjeng Nabi menyuruh kita menjalani hidup ini secara kreatif-inovatif dengan modal ilmu. Beliau tidak mengajari kita cara budidaya kurma, cara membuat pedang dan senjata, atau cara membuat kapal dan kendaraan lainnya. Yang beliau wanti-wanti pada kita adalah Sholluukamaaroaitumuuni ushallii, sholatlah Kalian sebagaimana aku sholat.” 

“Maksudnya, Om?"

“Dalam hal sholat dan ibadah mahdhoh lainnya, kita wajib mencontoh Rasulullah SAW. Dalam hal teknis menjalani urusan dunia, kita boleh melakukan apa saja kecuali yang sudah jelas-jelas dilarang oleh Allah SWt dan Kanjeng Nabi SAW.”

“Ooh jadi gak masalah kita makan soto, sate, naik motor, dsb. itu ya, Om?”

“Ya gak masalah asalkan nasi, soto, sate, dan motor itu Kamu dapatkan dengan cara yang baik dan untuk menjalani kebaikan hidup. Akan menjadi masalah dan bisa haram kalau kita minum air sumur langsung satu ember, misalnya. Atau makan sate ayam kambing yang kambingnya Kamu curi dari tetangga.  Atau, kalau kita punya mobil bagus dan rumah mewah magrong-magrong yang kita beli dengan duit hasil maling, merampok, atau korupsi. Itu jelas-jelas dilarang, alias haram, Sa. Haram mugholadhoh...kkkkl.”

“Om, kata ustadzku, peringatan kematian 3 hari, 7 hari, 40 hari, 1 tahun, dst. itu bukan ajaran Islam, tapi peninggalan budaya Hindu. Jadi harus kita tinggalkan.”

“Lha kalau anak-anak sekolah dan pegawai kantor melakukan upacara bendera setiap hari Senin dan hari-hari besar Nasional itu menurutmu ajaran siapa?”

“Gak tahu, Om.”

“Terus, kenapa pengajian yang di kampungmu hanya setiap Malam Jumat dan Minggu Pahing, Sa? Kenapa tidak setiap hari?”

“Ya karena sudah jadi kesepakatan jamaah, Om.”

“Oke, Sa. Kesepakatan jamaah. Berarti peringatan kematian 3,7,40 hari dan seterusnya itu juga gak perlu jadi masalah kalau itu sudah menjadi kesepakatan masyarakat, atau sudah tradisi turun-temurun.”

“Tapi kan isinya tahlilan dan doa, Om. Mestinya kita melakukannya setiap saat, tidak harus hari ke-3,7,40, dan seterusnya itu.”

“Betul, Sa. Tahlilan tentu akan lebih afdhol kalau kita bisa melakukannya setiap saat di mana saja dan kapan saja. Setiap tarikan nafas dan gerak tubuh kita senantiasa mengagungkan Asma Allah. Tapi apa bisa orang  berkumpul setiap hari untuk melakukan doa bersama? Tidak, kan? Makanya perlu ada waktu-waktu tertentu yang disepakati. Dalam hal sholat pun Alllah SWT hanya menjadwal kita 5 waktu dalam sehari-semalam. Iya, kan?” 

“Sebentar, Om. Ini masih soal tahlilan tadi. Bukankah yang bermanfaat bagi almarhum/ah itu hanya doa dari anaknya yang sholeh? Lalu buat apa tetangga dan kerabat ikut mendoakan? Pakai makan-makan lagi. Gak ada manfaatnya, kan?”

“Lha kok gak ada manfaatnya? Kanjeng Nabi SAW saja mengajari kita selalu berkirim sholawat dan salam untuk beliau, untuk keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya. Kita diajari untuk selalu berdoa untuk kebaikan seluruh kaum beriman, mukminin walmukminat, muslimin walmuslimat, dan orang-orang tua kita. Iya, kan?”

“Iya juga ya, Om.”

“Jadi kenapa Kamu ragu untuk mendatangi undangan tahlilan tetanggamu nanti malam, Sa? Kamu gak mau mendoakan tetanggamu?”

“Wah ya bukan begitu, Om. Aku tadi benar-benar ragu. Takut dosa. Ya maklumlah, dosaku sudah terlalu banyak, dan sekarang baru belajar berbuat baik sebanyak-banyaknya, juga menghindari hal-hal yang bisa membuat dosaku bertambah lagi."

"Bagus itu. Sasa pasti bisa."

"Baiklah, Om. Aku sudah agak paham sekarang. Matur nuwun njih, Om."

Adzan ashar terdengar bersahut-sahutan dari corong mesjid-mesjid sekitar kampungku. Kami pun mengakhiri obrolan Jumat siang ini dengan ikut sholat ashar berjamaah di mesjid depan rumah. Sasa sahabatku yang selalu gelisah, dan akan terus gelisah melihat berbagai perkembangan di sekitarnya. 
Kegelisahanmu menjadi inspirasiku, Sa. Makasih, ya…..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar