S Y U K U R
Sengaja malam ini kuajak
Sasa menemaniku ke Jogja ketemu teman-teman lama, semacam reuni kecil-kecilan
di warung makan di kawasan Bulaksumur, wedangan sambil ngobrol ngalor-ngidul. Semula Sasa keberatan.
Katanya malu, atau minder lebih tepatnya, karena dipikirnya akan ketemu wong-wong
pinter. Tapi memang benar, teman-temanku
itu sejak jaman kuliah dulu pinter, nilai ujiannya bagus-bagus dan IPKnya
tinggi sehingga tidak aneh bila kemudian UGM merekrutnya sebagai dosen. Sasa tampak
kikuk duduk nglumpruk di kursi pojok
paling belakang, tidak mau kuajak duduk di sampingku agar bisa srawung dan ajur-ajer dengan teman-temanku. Sepanjang obrolan hingga pukul
sebelas malam, kulihat Sasa juga ikut mendengarkan, sesekali senyum-senyum atau
mengernyitkan kening seakan memahami obrolan kami. Entah apa yang dipikir dan
dirasakannya.
“Om, teman Sampeyan tadi
bilang bahwa hidup ini keyakinan, bukan pilihan. Maksudnya apa to, Om?”
tiba-tiba Sasa bersuara ketika kami melewati jembatan layang Janti yang sepi.
Tadinya dia diam saja, kupikir sedang menikmati suasana jalanan kota Jogja yang
hingar-bingar di malam Minggu. Dia pasti gumun melihat
sepanjang jalan banyak anak muda lalu-lalang berboncengan dengan pacarnya atau sedang
nongkrong di trotoar hingga menjelang dini hari. Sengaja kubiarkan saja Sasa
asyik dengan pikirannya sendiri menyaksikan tingkah anak-anak muda di Jogja.
“Sampeyan ini ditanyai
kok diam saja to, Om?”
“Sik, Sa. Nanti kita ngobrol sambil makan bakmi godhok di
Pandansimping, ya,” jawabku sambil tancap gas mumpung jalan ke arah Solo sudah
sepi.
“Wah cocok, Om. Mathuk. Dingin-dingin begini enaknya makan
bakmi godhok.”
Kami pun berhenti di
warung Bakmi Jowo langgananku. Kupesan dua piring bakmi godhok dan dua teh
panas lalu memilih tempat duduk lesehan yang nyaman. Tak berapa lama, pesanan pun
terhidang dan langsung kami santap dengan nikmatnya. Badan kami jadi gobyos. Saatnya kini menikmati teh nasgithel sambil ngobrol santai.
“Sa, kenapa Kamu jadi
juru parkir dan juru pijat?” tanyaku membuka obrolan.
“Ya karena aku harus
bekerja cari nafkah, Om,” jawab Sasa.
“Jadi juru parkir kan
capek, Sa. Panas. Kadang juga kehujanan. Harus lari ke sana-kemari dan bengok-bengok memandu orang yang mau
parkir atau mau jalan lagi.”
“Hahaha...ya biasalah,
Om, namanya orang kerja ya kepanasan, kehujanan, kecapekan.”
“Kenapa gak milih
kerja kantoran, Sa? Lebih nyaman, bergengsi, gak kepanasan dan gak kehujanan.”
“Wah Sampeyan
ini bagaimana to, Om? Kalo boleh memilih, tentu aku memilih tidur atau
duduk-duduk saja di rumah, tapi setiap hari ada duit segepok jatuh dari langit,” kata Sasa sambil terkeh-kekeh.
“Sa, kamu sudah
berumah-tangga berapa tahun?”
“25 tahun, Om.”
“Selama 25 tahun itu
ganti istri berapa kali?”
“Iyaak...ngece. Dari
dulu isteriku ya cuma satu, diajeng Lestari ibunya anak-anakku itu.”
“Lah kenapa gak nganyarke, Sa?”
“Nganyarke bagaimana,
Om? Mbok jangan ngece.”
“Yah ganti yang lebih
muda, masih cantik dan seger kinyis-kinyis seperti
artis-artis di tv, misalnya.”
“Sampeyan ini kok ada-ada
saja to, Om. Mosok orang bebojoan gonta-ganti
semau-maunya seperti ayam. Lha kok le
penuk. Namanya bojo ya
sebisanya sehidup-semati, Om. Aku ini sudah sangat bersyukur, ing atase Sasa
kok ya diparingi isteri
yang setia dan diamanahi 4 anak yang sehat-sehat.”
“Sopo sing
maringi, Sa?”
“Ya Gusti
Allah Kang Murbeng Dumadi to, Om.”
“Jadi gak bisa
milih-milih ya, Sa? Harus nrimo dengan
apa yang ada, begitu?
“Om, seandainya hidup
ini boleh memilih, tentu dulu aku memilih lahir dari perut ibu Megawati
sehingga nasibku jadi lebih baik, bisa jadi menteri, berlimpah harta, dan
dihormati orang. Atau, aku memilih lahir sebagai anak orang Eropa, Amerika,
Jepang, atau Korea sehingga kulitku tidak hitam-legam seperti ini, tetapi
putih, gagah, dan gantheng seperti bintang film. Atau, aku memilih lahir
sebagai anak orang Arab Saudi sehingga aku pinter ngomong pakai bahasa Arab dan
fasih membaca Al-Quran. Semua ini sudah takdir, Om. Sudah ginaris. Makanya
harus kita syukuri apa yang ada ini. Tidak boleh nggresula, tidak
bolah menyesali.”
“Oooh gitu ya, Sa.
Sekarang soal pekerjaan. Kenapa Sasa tidak memilih jadi PNS, Anggota DPR, atau
Bupati Klaten, misalnya? Gajinya besar dan bisa dapat uang tambahan dari
sana-sini yang jauh lebih besar dari gaji. Kenapa kok milih jadi juru parkir
yang cuma nerima uang recehan dan juru pijat dengan upah sak pawehe dari
pasien?”
“Wah, seandainya hidup
ini boleh memilih, Om, tentu waktu dan tenaga kita akan habis untuk
memilih-milih. Manusia tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang sudah
didapatkannya. Tentu kita akan lupa dengan sangkan paraning
dumadi.”
“Oke, Sa. Siipp....”
kuberi Sasa dua jempol.
“Siip piye, Om?”
“Yho siip. Kamu
ternyata sudah paham dengan apa yang dikatakan temanku tadi.”
“Loh, itu to
maksudnya? Walaah….tiwas aku tadi mumetdhewe karena gak mudheng. Mau
bertanya juga gak berani. Jindul tenan
ikk….” kata Sasa sambil ketawa lebar.
Karyawan warung Bakmi
Jowo sudah mulai kemas-kemas pertanda warung akan segera ditutup. Waktu
menunjukkan pukul 01.30 WIB dan udara sudah terasa anyep. Segera kubayar makanan di kasir dan kami pun melanjutkan
perjalanan pulang sambil mendengarkan wayang kulit di radio, entah siapa
dalangnya dan apa lakonnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar