Senin, 13 Maret 2017

S Y U K U R



S Y U K U R

Sengaja malam ini kuajak Sasa menemaniku ke Jogja ketemu teman-teman lama, semacam reuni kecil-kecilan di warung makan di kawasan Bulaksumur, wedangan sambil ngobrol ngalor-ngidul. Semula Sasa keberatan. Katanya malu, atau minder lebih tepatnya, karena dipikirnya akan ketemu wong-wong pinter.  Tapi memang benar, teman-temanku itu sejak jaman kuliah dulu pinter, nilai ujiannya bagus-bagus dan IPKnya tinggi sehingga tidak aneh bila kemudian UGM merekrutnya sebagai dosen. Sasa tampak kikuk duduk nglumpruk di kursi pojok paling belakang, tidak mau kuajak duduk di sampingku agar bisa srawung dan ajur-ajer dengan teman-temanku. Sepanjang obrolan hingga pukul sebelas malam, kulihat Sasa juga ikut mendengarkan, sesekali senyum-senyum atau mengernyitkan kening seakan memahami obrolan kami. Entah apa yang dipikir dan dirasakannya.

“Om, teman Sampeyan tadi bilang bahwa hidup ini keyakinan, bukan pilihan. Maksudnya apa to, Om?” tiba-tiba Sasa bersuara ketika kami melewati jembatan layang Janti yang sepi. Tadinya dia diam saja, kupikir sedang menikmati suasana jalanan kota Jogja yang hingar-bingar di malam Minggu. Dia pasti gumun melihat sepanjang jalan banyak anak muda lalu-lalang berboncengan dengan pacarnya atau sedang nongkrong di trotoar hingga menjelang dini hari. Sengaja kubiarkan saja Sasa asyik dengan pikirannya sendiri menyaksikan tingkah anak-anak muda di Jogja.

“Sampeyan ini ditanyai kok diam saja to, Om?”

Sik, Sa. Nanti kita ngobrol sambil makan bakmi godhok di Pandansimping, ya,” jawabku sambil tancap gas mumpung jalan ke arah Solo sudah sepi.

“Wah cocok, Om. Mathuk. Dingin-dingin begini enaknya makan bakmi godhok.”

Kami pun berhenti di warung Bakmi Jowo langgananku. Kupesan dua piring bakmi godhok dan dua teh panas lalu memilih tempat duduk lesehan yang nyaman. Tak berapa lama, pesanan pun terhidang dan langsung kami santap dengan nikmatnya. Badan kami jadi gobyos. Saatnya kini menikmati teh nasgithel sambil ngobrol santai.

“Sa, kenapa Kamu jadi juru parkir dan juru pijat?” tanyaku membuka obrolan.

“Ya karena aku harus bekerja cari nafkah, Om,” jawab Sasa.

“Jadi juru parkir kan capek, Sa. Panas. Kadang juga kehujanan. Harus lari ke sana-kemari dan bengok-bengok memandu orang yang mau parkir atau mau jalan lagi.”

“Hahaha...ya biasalah, Om, namanya orang kerja ya kepanasan, kehujanan, kecapekan.”

“Kenapa gak milih kerja kantoran, Sa? Lebih nyaman, bergengsi, gak kepanasan dan gak kehujanan.”

 “Wah Sampeyan ini bagaimana to, Om? Kalo boleh memilih, tentu aku memilih tidur atau duduk-duduk saja di rumah, tapi setiap hari ada duit segepok jatuh dari langit,” kata Sasa sambil terkeh-kekeh.

“Sa, kamu sudah berumah-tangga berapa tahun?”

“25 tahun, Om.”

“Selama 25 tahun itu ganti istri berapa kali?”

“Iyaak...ngece. Dari dulu isteriku ya cuma satu, diajeng Lestari ibunya anak-anakku itu.”

“Lah kenapa gak nganyarke, Sa?”

Nganyarke bagaimana, Om? Mbok jangan ngece.

“Yah ganti yang lebih muda, masih cantik dan seger kinyis-kinyis seperti artis-artis di tv, misalnya.”

“Sampeyan ini kok ada-ada saja to, Om. Mosok orang bebojoan gonta-ganti semau-maunya seperti ayam. Lha kok le penuk. Namanya bojo ya sebisanya sehidup-semati, Om. Aku ini sudah sangat bersyukur, ing atase Sasa kok ya diparingi isteri yang setia dan diamanahi 4 anak yang sehat-sehat.”

“Sopo sing maringi, Sa?”

“Ya Gusti Allah Kang Murbeng Dumadi to, Om.”

“Jadi gak bisa milih-milih ya, Sa? Harus nrimo dengan apa yang ada, begitu?

“Om, seandainya hidup ini boleh memilih, tentu dulu aku memilih lahir dari perut ibu Megawati sehingga nasibku jadi lebih baik, bisa jadi menteri, berlimpah harta, dan dihormati orang. Atau, aku memilih lahir sebagai anak orang Eropa,  Amerika, Jepang, atau Korea sehingga kulitku tidak hitam-legam seperti ini, tetapi putih, gagah, dan gantheng seperti bintang film. Atau, aku memilih lahir sebagai anak orang Arab Saudi sehingga aku pinter ngomong pakai bahasa Arab dan fasih membaca Al-Quran. Semua ini sudah takdir, Om. Sudah ginaris. Makanya harus kita syukuri apa yang ada ini. Tidak boleh nggresula, tidak bolah menyesali.”

“Oooh gitu ya, Sa. Sekarang soal pekerjaan. Kenapa Sasa tidak memilih jadi PNS, Anggota DPR, atau Bupati Klaten, misalnya? Gajinya besar dan bisa dapat uang tambahan dari sana-sini yang jauh lebih besar dari gaji. Kenapa kok milih jadi juru parkir yang cuma nerima uang recehan dan juru pijat dengan upah sak pawehe dari pasien?”

“Wah, seandainya hidup ini boleh memilih, Om, tentu waktu dan tenaga kita akan habis untuk memilih-milih. Manusia tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang sudah didapatkannya. Tentu kita akan lupa dengan sangkan paraning dumadi.”

“Oke, Sa. Siipp....” kuberi Sasa dua jempol.

“Siip piye, Om?”

“Yho siip. Kamu ternyata sudah paham dengan apa yang dikatakan temanku tadi.”

“Loh, itu to maksudnya? Walaah….tiwas aku tadi mumetdhewe karena gak mudheng. Mau bertanya juga gak berani. Jindul tenan ikk….” kata Sasa sambil ketawa lebar.

Karyawan warung Bakmi Jowo sudah mulai kemas-kemas pertanda warung akan segera ditutup. Waktu menunjukkan pukul 01.30 WIB dan udara sudah terasa anyep. Segera kubayar makanan di kasir dan kami pun melanjutkan perjalanan pulang sambil mendengarkan wayang kulit di radio, entah siapa dalangnya dan apa lakonnya.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar