Sabtu, 04 Maret 2017

PENISTA AGAMA

PENISTA AGAMA

Sasa masih belum paham apa yang didengarnya tadi malam. Sasa yang sejak beberapa bulan lalu sudah mulai temuwa, yang sudah memutuskan untuk tidak pethakilan lagi seperti anak-anak muda, yang sudah mulai rajin sholat dan ikut pengajian untuk mempersiapkan diri bila sewaktu-waktu habis jatah usianya, kini mengalami kegelisahan luar biasa.  Kata-kata Ustadz tadi malam benar-benar membuatnya gelisah hingga semalaman susah tidur. Itulah kenapa pagi ini bakda shubuh Sasa sudah tiba di rumahku.

“Kok tumben pagi-pagi, Mas Sasa?” tanya istriku sambil menyuguhkan dua gelas kopi dan pisang kapok godhok di meja.

“Iya, Mbak. Pengin ngopi dan golek tomobo ati…hehehe,” Sasa menjawab dengan santai.

“Loh, golek tombo ati kok sini?,” tanya istriku.

“Ya iya to, Mbak. Katanya salah satu tombo ati itu kumpulono wong kang sholeh? Ya di sini tempat yang paling kusuka.”

“Iyaak…mbok prasojo wae, Sa. Bilang saja terus terang pengin ngopi,” sahutku.

“Iya, Mas Sasa. Tenang  saja, stok kopi semendo cap Iboe Mertoea masih banyak,” timpal istriku. “Monggo diunjuk dulu. Disekecakke, njih,”  lanjutnya.

Istriku kembali ke dalam meneruskan tugas paginya menyiapkan pekerjaan untuk karyawan. Kami pun menikmati sesruput dua sruput kopi kental-manis dan pisang kapok hangat. Asap rokok kretek mulai mengepul menemani kami ngobrol ngalor-ngidul dari yang ringan-hingga yang agak serius. Suara srek-srek-srek sapu lidi mulai terdengar, tetanggaku mulai menyapu halaman. Anak-anak ayam berlarian di halaman, berebut makan laron-laron yang sudah kehilangan sayap. Burung trothok ngoceh mbonang sambil sesekali membentangkan sayapnya, nggaruda. Dua ekor burung puter juga manggung di sangkarnya masing-masing, seakan bersaing memamerkan merdu suaranya.

“Jadi bagaimana, Sa? Apa masalahmu?” tanyaku kembali ke masalah utama kedatangan Sasa pagi ini.

“Aku ini betul-betul bingung, Om. Kan sudah jelas bahwa sholat itu tiang agama. Sholat itu tanda ketaatan kita pada Sang Pencipta. Sholat itu rukun Islam yang kedua. Rukun Islam pertama, Syahadat, tidak akan ada artinya alias bohong kalau kita tidak mengerjakan sholat. Iya to, Om? Tapi kenapa tadi malam ustadz bilang bahwa “sholat  pun bisa haram”. Itu apa maksudnya?”

Sahabatku ini memang selalu gelisah dengan hal-hal yang dijumpainya. Bukan hanya soal politik, bukan hanya soal bermacam-macam karakter pengendara di jalan, seputar pengunjung Soto Kartongali yang kadang aneh-aneh, atau seputar anak-anak muda yang masih suka teler minum wedang pekok. Kali ini Sasa datang dengan kegelisahan spiritual, kegelisahan seputar pemahaman terhadap tausiyah ustadz yang memang suka menyampaikan ungkapan-ungkapan yang kadang membuat jamaah kelihatan manthuk-manthuk tapi sesungguhnya bingung, ora mudheng,  tidak paham. Beliau memang tipe ustadz yang tidak suka mendoktrin jamaahnya, tetapi mengajak berfikir, menggunakan akal dan rasa , dalam memahami agama. Umat jangan mudah percaya semua yang dikatakan ustadz dan kyai. “Makanan jangan langsung ditelan, harus dikunyah dulu, jangan langsung di-leg,“ begitu beliau sering berpesan.

 “Sa, Kamu selalu ngerjakan sholat 5 waktu?”

“Iya, Om. Insya Allah.”

“Kapan waktumu sholat shubuh?”

“Waktu fajar hingga sebelum matahari terbit, Om.”

“Sholat dhuhur?

“Bila matahari sudah si atas kepala kita dan sedikit bergeser ke barat hingga datangnya waktu ashar.”

“Baik, Kamu tentu juga sudah tahu kapan harus sholat ashar, maghrib, dan isya’, kan?”

“Insya Allah, Om. Sudah tahu.”

“Nah, sekarang aku mau tanya lagi. Kalau pagi-pagi begini kita sholat dhuhur atau maghrib boleh apa tidak?”

“Ya jelas tidak boleh, Om?”

“Loh, kok tidak boleh? Katanya wajib sholat?

“Ya kan sudah jelas aturan waktunya, Om. Sholat maghrib ya nanti kalau matahari sudah terbenam.”

“Oke, jadi tidak boleh, ya. Apa istilahnya dalam agama kita?”

“Haram, Om.”

“Haram, Sa? Sholat kok haram?”

 “Hahahaa….iya, ya. Bener juga kata ustadz tadi malam. Urusan halal-haram pun ada waktunya. Ternyata begitu maksudnya. Jindul igg….edyaan.”

 “Sekarang aku tanya lagi, Sa. Masih seputar sholat.”

“Siap, Om.”

“Apa fungsi sholat bagimu?”

“Sebagai latihan mengendalikan diri dari perbuatan keji dan mungkar, Om. Bila kita sudah bisa mengendalikan diri, maka kita pun akan sanggup memberi contoh bagi keluarga dan lingkungan untuk selalu berbuat baik, tidak berbuat keji dan mungkar, di mana saja dan kapan saja.”

“Bagus, Sa. Kalau orang sudah rajin sholat, baik sholat fardhu maupun sholat sunnah, sudah rajin puasa, dan mungkin juga sudah pergi Haji dan Umroh ke Tanah Suci, tetapi ternyata di lingkungannya banyak fakir-miskin dan anak yatim yang tidak terurus, bagaimana menurutmu?”

“Wah lha ini, pertanyaan Sampeyan berat. Apa hubungannya sholat, puasa, dan Haji dengan kemiskinan dan anak yatim? Angel, Om.”

“Sa, Kamu mungkin masih ingat pelajaran Kemuhammadiyahan di SMP dulu?”

“Ingat, Om. Yang ngajar Pak Adnan.”

“Beliau bercerita tentang pengajian KHA Dahlan di Kauman  Yogyakarta yang diprotes jamaahnya karena berbulan-bulan hanya membahas surat Al-Ma’un. Masih ingat, Sa?”

“Ya ingat, Om. Itu cerita tentang Geger Surat Al-Ma’un. Kyai Dahlan mengajak jamaah mencari anak-anak yatim dan fakir-miskin di sekitar Yogyakarta untuk di santuni, dirawat, dan diajak belajar di sekolah yang didirikan di rumah beliau.”
“Wah ingatanmu masih bagus gitu, kok.”

“Lumayan, Om.”

 “Nah, lalu Kyai Dahlan mengajak jamaah membuat panti asuhan dan mendirikan PKO (Penolong Kesengsaraan Oemeoem) yang berkembang hingga sekarang menjadi Sumah Sakit PKU Muhammadiyah.”

“Betul, Om. Aku masih ingat semua pelajaran itu.”

“Kenapa dulu Kyai Dahlan begitu, Sa?”

“Karena beliau ingin mengajak jamaahnya tidak menjadi pendusta agama, Om."

“Maksudmu?”

“Meskipun kita rajin sholat, tapi bila kita tidak gemati pada anak-anak yatim dan fakir-miskin, kita diancam neraka wail, kita termasuk pendusta agama.”

“Sholat kita jadi sia-sia ya, Sa?”

“Iya, Om.”

“Nah, berarti sekarang Sasa sudah paham maksud ustadz tadi malam, kan? Bahwa sholat yang sesungguhnya wajib pun bisa menjadi haram, kita bisa termasuk pendusta agama dan penista agama. Apalagi hal-hal yang sudah jelas diharamkan, ya jangan dilanggar, Sa.”

Injih, Om. Sudah plong sekarang. Matur nuwun, ya. Sekarang saatnya aku undur diri. Nyuwun pamit. Saatnya Sasa bertugas....hahahaa”

Sasa memang hebat. Dia tidak sembarangan menumpahkan kegelisahannya. Aku pun merasa tersanjung bisa menjadi teman curhatnya. Namanya juga sahabat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar