PENISTA AGAMA
Sasa masih belum paham
apa yang didengarnya tadi malam. Sasa yang sejak beberapa bulan lalu sudah
mulai temuwa, yang sudah memutuskan
untuk tidak pethakilan lagi seperti
anak-anak muda, yang sudah mulai rajin sholat dan ikut pengajian untuk
mempersiapkan diri bila sewaktu-waktu habis jatah usianya, kini mengalami
kegelisahan luar biasa. Kata-kata Ustadz tadi malam benar-benar
membuatnya gelisah hingga semalaman susah tidur. Itulah kenapa pagi ini bakda
shubuh Sasa sudah tiba di rumahku.
“Kok tumben pagi-pagi,
Mas Sasa?” tanya istriku sambil menyuguhkan dua gelas kopi dan pisang kapok
godhok di meja.
“Iya, Mbak. Pengin ngopi dan golek tomobo ati…hehehe,” Sasa menjawab dengan
santai.
“Loh, golek tombo ati kok sini?,” tanya
istriku.
“Ya iya to, Mbak.
Katanya salah satu tombo ati itu kumpulono
wong kang sholeh? Ya di sini tempat yang paling kusuka.”
“Iyaak…mbok prasojo wae, Sa. Bilang saja terus
terang pengin ngopi,” sahutku.
“Iya, Mas Sasa. Tenang
saja, stok kopi semendo cap Iboe Mertoea
masih banyak,” timpal istriku. “Monggo
diunjuk dulu. Disekecakke, njih,”
lanjutnya.
Istriku kembali ke
dalam meneruskan tugas paginya menyiapkan pekerjaan untuk karyawan. Kami pun
menikmati sesruput dua sruput kopi kental-manis dan pisang kapok hangat. Asap
rokok kretek mulai mengepul menemani kami ngobrol ngalor-ngidul dari yang ringan-hingga yang agak serius. Suara
srek-srek-srek sapu lidi mulai terdengar, tetanggaku mulai menyapu halaman.
Anak-anak ayam berlarian di halaman, berebut makan laron-laron yang sudah
kehilangan sayap. Burung trothok ngoceh
mbonang sambil sesekali membentangkan
sayapnya, nggaruda. Dua ekor burung
puter juga manggung di sangkarnya
masing-masing, seakan bersaing memamerkan merdu suaranya.
“Jadi bagaimana, Sa?
Apa masalahmu?” tanyaku kembali ke masalah utama kedatangan Sasa pagi ini.
“Aku ini betul-betul
bingung, Om. Kan sudah jelas bahwa sholat itu tiang agama. Sholat itu tanda
ketaatan kita pada Sang Pencipta. Sholat itu rukun Islam yang kedua. Rukun
Islam pertama, Syahadat, tidak akan ada artinya alias bohong kalau kita tidak
mengerjakan sholat. Iya to, Om? Tapi kenapa tadi malam ustadz bilang bahwa
“sholat pun bisa haram”. Itu apa maksudnya?”
Sahabatku ini memang
selalu gelisah dengan hal-hal yang dijumpainya. Bukan hanya soal politik, bukan
hanya soal bermacam-macam karakter pengendara di jalan, seputar pengunjung Soto
Kartongali yang kadang aneh-aneh, atau seputar anak-anak muda yang masih suka teler
minum wedang pekok. Kali ini Sasa
datang dengan kegelisahan spiritual, kegelisahan seputar pemahaman terhadap tausiyah ustadz yang memang suka
menyampaikan ungkapan-ungkapan yang kadang membuat jamaah kelihatan manthuk-manthuk tapi sesungguhnya
bingung, ora mudheng, tidak paham. Beliau memang tipe ustadz yang
tidak suka mendoktrin jamaahnya, tetapi mengajak berfikir, menggunakan akal dan
rasa , dalam memahami agama. Umat
jangan mudah percaya semua yang dikatakan ustadz dan kyai. “Makanan jangan
langsung ditelan, harus dikunyah dulu, jangan langsung di-leg,“ begitu beliau sering berpesan.
“Sa, Kamu selalu
ngerjakan sholat 5 waktu?”
“Iya, Om. Insya
Allah.”
“Kapan waktumu sholat
shubuh?”
“Waktu fajar hingga
sebelum matahari terbit, Om.”
“Sholat dhuhur?
“Bila matahari sudah
si atas kepala kita dan sedikit bergeser ke barat hingga datangnya waktu
ashar.”
“Baik, Kamu tentu juga
sudah tahu kapan harus sholat ashar, maghrib, dan isya’, kan?”
“Insya Allah, Om. Sudah
tahu.”
“Nah, sekarang aku mau
tanya lagi. Kalau pagi-pagi begini kita sholat dhuhur atau maghrib boleh apa
tidak?”
“Ya jelas tidak boleh,
Om?”
“Loh, kok tidak boleh?
Katanya wajib sholat?
“Ya kan sudah jelas
aturan waktunya, Om. Sholat maghrib ya nanti kalau matahari sudah terbenam.”
“Oke, jadi tidak boleh,
ya. Apa istilahnya dalam agama kita?”
“Haram, Om.”
“Haram, Sa? Sholat kok
haram?”
“Hahahaa….iya, ya. Bener juga kata ustadz tadi
malam. Urusan halal-haram pun ada waktunya. Ternyata begitu maksudnya. Jindul igg….edyaan.”
“Sekarang aku
tanya lagi, Sa. Masih seputar sholat.”
“Siap, Om.”
“Apa fungsi sholat
bagimu?”
“Sebagai latihan
mengendalikan diri dari perbuatan keji dan mungkar, Om. Bila kita sudah bisa
mengendalikan diri, maka kita pun akan sanggup memberi contoh bagi keluarga dan
lingkungan untuk selalu berbuat baik, tidak berbuat keji dan mungkar, di mana
saja dan kapan saja.”
“Bagus, Sa. Kalau orang
sudah rajin sholat, baik sholat fardhu maupun sholat sunnah, sudah rajin puasa,
dan mungkin juga sudah pergi Haji dan Umroh ke Tanah Suci, tetapi ternyata di
lingkungannya banyak fakir-miskin dan anak yatim yang tidak terurus, bagaimana
menurutmu?”
“Wah lha ini,
pertanyaan Sampeyan berat. Apa hubungannya sholat, puasa, dan Haji dengan
kemiskinan dan anak yatim? Angel, Om.”
“Sa, Kamu mungkin
masih ingat pelajaran Kemuhammadiyahan di SMP dulu?”
“Ingat, Om. Yang
ngajar Pak Adnan.”
“Beliau bercerita
tentang pengajian KHA Dahlan di Kauman Yogyakarta yang diprotes jamaahnya
karena berbulan-bulan hanya membahas surat Al-Ma’un. Masih ingat, Sa?”
“Ya ingat, Om. Itu
cerita tentang Geger Surat Al-Ma’un.
Kyai Dahlan mengajak jamaah mencari anak-anak yatim dan fakir-miskin di sekitar
Yogyakarta untuk di santuni, dirawat, dan diajak belajar di sekolah yang
didirikan di rumah beliau.”
“Wah ingatanmu masih
bagus gitu, kok.”
“Lumayan, Om.”
“Nah, lalu Kyai Dahlan mengajak jamaah membuat
panti asuhan dan mendirikan PKO (Penolong Kesengsaraan Oemeoem) yang berkembang
hingga sekarang menjadi Sumah Sakit PKU Muhammadiyah.”
“Betul, Om. Aku masih
ingat semua pelajaran itu.”
“Kenapa dulu Kyai
Dahlan begitu, Sa?”
“Karena beliau ingin
mengajak jamaahnya tidak menjadi pendusta agama, Om."
“Maksudmu?”
“Meskipun kita rajin
sholat, tapi bila kita tidak gemati pada
anak-anak yatim dan fakir-miskin, kita diancam neraka wail, kita termasuk pendusta agama.”
“Sholat kita jadi
sia-sia ya, Sa?”
“Iya, Om.”
“Nah, berarti sekarang
Sasa sudah paham maksud ustadz tadi malam, kan? Bahwa sholat yang sesungguhnya
wajib pun bisa menjadi haram, kita bisa termasuk pendusta agama dan penista
agama. Apalagi hal-hal yang sudah jelas diharamkan, ya jangan dilanggar, Sa.”
“Injih, Om. Sudah plong
sekarang. Matur nuwun, ya. Sekarang saatnya aku undur diri. Nyuwun pamit. Saatnya Sasa bertugas....hahahaa”
Sasa memang hebat. Dia
tidak sembarangan menumpahkan kegelisahannya. Aku pun merasa tersanjung bisa
menjadi teman curhatnya. Namanya juga sahabat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar