SIKAP ADIL
“Jaman kok makin tidak adil ya, Om,” kata Sasa setelah
mengganjal roda mobilku di parkiran Soto Kartongali tadi pagi.
“Ada apa, Sa?”
“Orang-orang itu, lho. Melihat dan mengomentari
sesuatu kok sak karep-karepe dhewe,”
jawabnya.
“Ayo sarapan sik, Sa. Dilanjut nanti ngobrolnya.”
“Monggo, Om. Saya harus bertugas,” jawab Sasa dengan
senyumnya yang lebar.
Sambil menunggu pesanan soto, kucoba menduga-duga ke
mana arah pembicaraan Sasa tadi. Dia bicara tentang jaman yg “makin tidak
adil”. Mungkin dia sedang ada masalah di keluarganya atau lagi ribut dengan
tetangganya. Mungkin juga sedang prihatin mendengar kabar ibu mantan Bupati
yang kesepian hidup di tahanan KPK dan sedang berusaha meyakinkan para penyidik
agar menjadikannya sebagai justice-collaborator,
bahwa dia tidak sendirian melakukan korupsi, bahwa banyak temannya yang
terlibat, bahkan sudah terjadi sejak sebelum beliau jadi bupati. Memang
sudah jarang terdengar di media, tapi cerita itu masih bisa di-update di warung-warung angkringan di
malam hari. Bagi Sasa, untuk mengakses info itu tentu tidak terlalu sulit
dengan profesinya sebagai juru pijat panggilan langganan para tokoh politik dan
pejabat yang banyak tahu soal itu.
Atau, mungkin Sasa teringat telepon dari adiknya di
Jakarta yang rumahnya kebanjiran beberapa hari lalu. Katanya, semua orang di
kampung tempat tinggal adiknya tidak bisa keluar rumah karena terkepung banjir.
Mereka tinggal di lantai atas menahan lapar sambil berharap ada relawan datang
membawa bantuan makanan. Lucunya, ternyata yang datang membantu justru seorang
tokoh beserta rombongannya yang selama ini orang-orang di kampung itu
membencinya setengah mati karena konon tidak toleran, anti-kebhinekaan, dan
mengancam keutuhan NKRI. Rombongan itu datang berbasah-basah dan berlepotan
lumpur, menyapa dan menyalami warga, mengajak ngobrol dan menyerahkan bantuan
makanan dan pakaian. Itu sesuatu yang sangat besar artinya bagi orang yang
sedang merasa menderita. Sungguh berbeda dengan para tokoh yang pada setiap
musibah justru tidak menampakkkan batang hidungnya, apalagi membantu kesulitan
warga dengan sukarela.
Segelas teh nasgihel
dan semangkok soto tanpa thokolan
sudah tersaji di depanku di antara deretan piring-piring berisi tempe, tahu,
perkedel, mangkuk sambel, botol kecap Gito
Birun, dan kaleng karak. Secuil kenikmatan surga benar-benar terasa
kutemukan pada semangkok Soto Kartongali di pagi hari. Ramuan teh
panas-kental-sepet dan manisnya gula batu menjadi penutup menu yang membuat
mata kemepyar dan tubuh gobyos bersimbah keringat.
“Sebentar, Sa. Jadi apa masalahmu tadi?” tanyaku pada
Sasa yang sudah siap memandu mobilku keluar dari parkiran.
“Ya itu tadi, Om. Wong
kok dho ora adil,” jawabnya sambil mendekatiku.
“Siapa?”
“Orang-orang di tivi. Mungkin juga teman-teman
Sampeyan, Om."
"Ada apa to, Sa?"
"Om, dari dulu yang namanya Presiden kan biasa
berkunjung ke negara lain atau menerima kunjungan Kepala Negara lain. Itu
memang tugasnya, dan kita sebagai rakyat harus mendukung.
"Maksudmu?" aku belum paham ke mana arah
bicaranya.
"Kalau Pemerintah kelihatan nyubyo-nyobyu Tamu Negara, itu memang karena kita harus menghormati
tamu. Biasanya tamu negara mengajak rombongan pengusaha, lalu terjadilah
kerjasama ekonomi dengan Pemerintah kita. Iya to, Om?”
Aku mulai paham. Rupanya Sasa ingin membahas tentang kunjungan
Raja Salman dari Saudi Arabia ke Indonesia.
“Terus apa masalahmu, Sa?”
“Sebenarnya bukan masalahku, Om, tapi masalah
kita," jawab Sasa diplomatid. "Om, tamu negara naik pesawat
kepresidenan dan bawa mobil sendiri kan wajar, to? Itu sama seperti presiden
Amerika atau perdana menteri Inggris, Belanda, Jepang, dan sebagainya. Persis
juga seperti Presiden kita naik pesawat kepresidenan yang dulu dibeli Pak SBY.
Iya to, Om?”
“Bener, Sa. Terus….”
“Selama ini orang juga tidak pernah ngurus para
presiden dan perdana menteri itu punya berapa istri dan berapa gendhakan. Bagi
kita, yang penting mereka mau menanamkan modalnya di sini, membangun
pabrik-pabrik di sini dan menyerap tenaga kerja kita sehingga ekonomi negara
bisa bergerak dan kita dan terkesan agak maju. Iya to, Om?”
Wah Sasa kumat lagi. Kali ini ngomyang tentang politik luar negeri, bukan cuma soal ayam jagonya
yang gering dan terpaksa dijual murah di pasar Gabus, atau istrinya lagi
ngambek karena Sasa cuma ngasih uang sedikit. Jebul tentang hubungan bilateral
antar-negara. Beraat. Edan tenan. Jindul
ik...
“Lha terus tidak adilnya di mana, Sa?”
“Ya itu tadi, Om. Para pengamat gayeng membicarakan
rencana kedatangan Raja Arab Saudi. Ketok pinter dan ampuh-ampuh omongannya,
tapi juga ngemu-ngece. Mereka tampak
curiga pada Raja Saudi, persis kecurigaannya pada ulama-ulama kita yang gigih
melawan kebatilan. Padahal Raja Arab sangat menghormati kita lho, Om."
"Kok tahu, Sa?"
"Loh, Sampeyan ini bagaimana? Dulu waktu
Presiden Soeharto naik Haji diberi penghormatan luar biasa, bahkan diajak masuk
ke dalam Ka’bah. Tidak sembarang orang bisa masuk ke Ka’bah lho, Om. Terus,
waktu Presiden Jokowi melaksanakan umroh, bukan hanya Putra Mahkota atau
menterinya yang menjemput, tetapi Raja Arab sendiri yang menyambutnya di bawah
tangga pesawat. Apakah itu karena hebatnya Soeharto atau Jokowi sebagai
pribadi, Om? Bukan. Tapi karena Raja Arab memandang Indonesia sebagai bangsa
yang besar dan mayoritas penduduknya muslim sehingga dihormati sebagai saudara
seiman.”
Edan Sasa ini. Rupanya dia juga berbakat menjadi
pengamat politik luar negeri, bukan hanya berbakat jadi juru parkir dan tukang
pijat.
“Sa, tapi kenapa Raja Salman seakan mau pamer
kemewahan, ya? Mbokya datang dengan
sederhana saja seperti Kanjeng Nabi dulu.”
“Om, jaman sudah berbeda. Tidak mungkin seorang Kapala
Negara pergi jauh ke luar negeri hanya naik onta atau kapal layar dan memakai
baju bertambal. Ya tidak akan dihormati orang, Om, bahkan diremehkan dan
dianggap lemah."
"Oh, begitu ya, Sa."
"Jaman sekarang orang dihormati kalau tampak
kaya, Om. Apalagi Raja Salman yang jelas kaya, Om, Pelayan Dua Tanah Haram.
Beliau harus bisa menunjukkan kepada dunia bahwa Arab Saudi bukan ecek-ecek, bukan megara miskin yang
datang mengemis-ngemis minta sedekah. Tidak boleh itu, Om."
“Tapi itu bisa dibilang sombong lho, Sa.”
“Loh, katanya menyombongi orang yang sombong itu
sodaqoh, Om?"
"Kok bisa gitu, Sa?"
"Lha kita ini orang-orang sombong yang selalu
bangga dengan kakayaan alam dan penduduk yang banyak. Padahal, siapa yang
selama ini mengeruk kekayaan alam kita? Para kumpeni, Om. Dari dulu kumpeni
memang benci pada orang Islam. Apalagi sekarang yang mau datang Raja Arab
Saudi, negara tempat kiblat kaum muslimin berada.”
“Terus piye,
Sa? Kan belum jelas juga kunjungan Raja Salman akan mendatangkan manfaat bagi
bangsa Indonesia?”
“Ya memang belum tentu, Om. Tapi yang pasti, kita
harus menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang bisa menghormati tamu.'
"Ngono yho,
Sa?"
"Jangan curiga dan menebar kebencian pada tamu,
Om. Lha wong kepada tamu-tamu yang
sudah terbukti merusak saja kita masih menghormati sedemikian rupa dan kita subyo-subyo. Bahkan, permukiman kumuh
digusur demi menyediakan lahan untuk investasi mereka, laut direklamasi agar
mereka bisa investasi lebih murah. Iya to, Om?”
“Sudahlah, Sa. Ngobrol sama kamu gak ada habisnya. Wis, yho…”
Segera kutancap gas dengan kepala pening bercampur
takjub pada kecerdasan Sasa. Analisis politik dan budayanya jauh meninggalkan
profesinya sebagai juru parkir dan juru pijat. Andai dulu Sasa berkesempatan
kuliah di Fisipol UGM, di jurusan HI misalnya, tentu pada usaianya saat ini
sudah jadi pengamat politik yang handal, disegani, dan menjadi rujukan para
pengambil kebijakan. Tapi Sasa tetaplah Sasa, sahabatku yang bersahaja sebagai danyange parkiran soto Kartongali…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar