Senin, 27 Februari 2017

SIKAP ADIL


SIKAP ADIL

“Jaman kok makin tidak adil ya, Om,” kata Sasa setelah mengganjal roda mobilku di parkiran Soto Kartongali tadi pagi.

“Ada apa, Sa?”

“Orang-orang itu, lho. Melihat dan mengomentari sesuatu kok sak karep-karepe dhewe,” jawabnya.

“Ayo sarapan sik, Sa. Dilanjut nanti ngobrolnya.”

“Monggo, Om. Saya harus bertugas,” jawab Sasa dengan senyumnya yang lebar.

Sambil menunggu pesanan soto, kucoba menduga-duga ke mana arah pembicaraan Sasa tadi. Dia bicara tentang jaman yg “makin tidak adil”. Mungkin dia sedang ada masalah di keluarganya atau lagi ribut dengan tetangganya. Mungkin juga sedang prihatin mendengar kabar ibu mantan Bupati yang kesepian hidup di tahanan KPK dan sedang berusaha meyakinkan para penyidik agar menjadikannya sebagai justice-collaborator, bahwa dia tidak sendirian melakukan korupsi, bahwa banyak temannya yang terlibat, bahkan sudah terjadi sejak sebelum beliau jadi bupati. Memang sudah  jarang terdengar di media, tapi cerita itu masih bisa di-update di warung-warung angkringan di malam hari. Bagi Sasa, untuk mengakses info itu tentu tidak terlalu sulit dengan profesinya sebagai juru pijat panggilan langganan para tokoh politik dan pejabat yang banyak tahu soal itu.

Atau, mungkin Sasa teringat telepon dari adiknya di Jakarta yang rumahnya kebanjiran beberapa hari lalu. Katanya, semua orang di kampung tempat tinggal adiknya tidak bisa keluar rumah karena terkepung banjir. Mereka tinggal di lantai atas menahan lapar sambil berharap ada relawan datang membawa bantuan makanan. Lucunya, ternyata yang datang membantu justru seorang tokoh beserta rombongannya yang selama ini orang-orang di kampung itu membencinya setengah mati karena konon tidak toleran, anti-kebhinekaan, dan mengancam keutuhan NKRI. Rombongan itu datang berbasah-basah dan berlepotan lumpur, menyapa dan menyalami warga, mengajak ngobrol dan menyerahkan bantuan makanan dan pakaian. Itu sesuatu yang sangat besar artinya bagi orang yang sedang merasa menderita. Sungguh berbeda dengan para tokoh yang pada setiap musibah justru tidak menampakkkan batang hidungnya, apalagi membantu kesulitan warga dengan sukarela.

Segelas teh nasgihel dan semangkok soto tanpa thokolan sudah tersaji di depanku di antara deretan piring-piring berisi tempe, tahu, perkedel, mangkuk sambel, botol kecap Gito Birun, dan kaleng karak. Secuil kenikmatan surga benar-benar terasa kutemukan pada semangkok Soto Kartongali di pagi hari. Ramuan teh panas-kental-sepet dan manisnya gula batu menjadi penutup menu yang membuat mata kemepyar dan tubuh gobyos bersimbah keringat.

“Sebentar, Sa. Jadi apa masalahmu tadi?” tanyaku pada Sasa yang sudah siap memandu mobilku keluar dari parkiran.

“Ya itu tadi, Om. Wong kok dho ora adil,” jawabnya sambil mendekatiku.

“Siapa?”

“Orang-orang di tivi. Mungkin juga teman-teman Sampeyan, Om."

"Ada apa to, Sa?"

"Om, dari dulu yang namanya Presiden kan biasa berkunjung ke negara lain atau menerima kunjungan Kepala Negara lain. Itu memang tugasnya, dan kita sebagai rakyat harus mendukung. 

"Maksudmu?" aku belum paham ke mana arah bicaranya.

"Kalau Pemerintah kelihatan nyubyo-nyobyu Tamu Negara, itu memang karena kita harus menghormati tamu. Biasanya tamu negara mengajak rombongan pengusaha, lalu terjadilah kerjasama ekonomi dengan Pemerintah kita. Iya to, Om?”

Aku mulai paham. Rupanya Sasa ingin membahas tentang kunjungan Raja Salman dari Saudi Arabia ke Indonesia.

“Terus apa masalahmu, Sa?”

“Sebenarnya bukan masalahku, Om, tapi masalah kita," jawab Sasa diplomatid. "Om, tamu negara naik pesawat kepresidenan dan bawa mobil sendiri kan wajar, to? Itu sama seperti presiden Amerika atau perdana menteri Inggris, Belanda, Jepang, dan sebagainya. Persis juga seperti Presiden kita naik pesawat kepresidenan yang dulu dibeli Pak SBY. Iya to, Om?”

“Bener, Sa. Terus….”

“Selama ini orang juga tidak pernah ngurus para presiden dan perdana menteri itu punya berapa istri dan berapa gendhakan. Bagi kita, yang penting mereka mau menanamkan modalnya di sini, membangun pabrik-pabrik di sini dan menyerap tenaga kerja kita sehingga ekonomi negara bisa bergerak dan kita dan terkesan agak maju. Iya to, Om?”

Wah Sasa kumat lagi. Kali ini ngomyang tentang politik luar negeri, bukan cuma soal ayam jagonya yang gering dan terpaksa dijual murah di pasar Gabus, atau istrinya lagi ngambek karena Sasa cuma ngasih uang sedikit. Jebul tentang hubungan bilateral antar-negara. Beraat. Edan tenan. Jindul ik...

“Lha terus tidak adilnya di mana, Sa?”

“Ya itu tadi, Om. Para pengamat gayeng membicarakan rencana kedatangan Raja Arab Saudi. Ketok pinter dan ampuh-ampuh omongannya, tapi juga ngemu-ngece. Mereka tampak curiga pada Raja Saudi, persis kecurigaannya pada ulama-ulama kita yang gigih melawan kebatilan. Padahal Raja Arab sangat menghormati kita lho, Om."

"Kok tahu, Sa?"

"Loh, Sampeyan ini  bagaimana? Dulu waktu Presiden Soeharto naik Haji diberi penghormatan luar biasa, bahkan diajak masuk ke dalam Ka’bah. Tidak sembarang orang bisa masuk ke Ka’bah lho, Om. Terus, waktu Presiden Jokowi melaksanakan umroh, bukan hanya Putra Mahkota atau menterinya yang menjemput, tetapi Raja Arab sendiri yang menyambutnya di bawah tangga pesawat. Apakah itu karena hebatnya Soeharto atau Jokowi sebagai pribadi, Om? Bukan. Tapi karena Raja Arab memandang Indonesia sebagai bangsa yang besar dan mayoritas penduduknya muslim sehingga dihormati sebagai saudara seiman.”

Edan Sasa ini. Rupanya dia juga berbakat menjadi pengamat politik luar negeri, bukan hanya berbakat jadi juru parkir dan tukang pijat.

“Sa, tapi kenapa Raja Salman seakan mau pamer kemewahan, ya? Mbokya datang dengan sederhana saja seperti Kanjeng Nabi dulu.”

“Om, jaman sudah berbeda. Tidak mungkin seorang Kapala Negara pergi jauh ke luar negeri hanya naik onta atau kapal layar dan memakai baju bertambal. Ya tidak akan dihormati orang, Om, bahkan diremehkan dan dianggap lemah."

"Oh, begitu ya, Sa."

"Jaman sekarang orang dihormati kalau tampak kaya, Om. Apalagi Raja Salman yang jelas kaya, Om, Pelayan Dua Tanah Haram. Beliau harus bisa menunjukkan kepada dunia bahwa Arab Saudi bukan ecek-ecek, bukan megara miskin yang datang mengemis-ngemis minta sedekah. Tidak boleh itu, Om."

“Tapi itu bisa dibilang sombong lho, Sa.” 

“Loh, katanya menyombongi orang yang sombong itu sodaqoh, Om?"

"Kok bisa gitu, Sa?"

"Lha kita ini orang-orang sombong yang selalu bangga dengan kakayaan alam dan penduduk yang banyak. Padahal, siapa yang selama ini mengeruk kekayaan alam kita? Para kumpeni, Om. Dari dulu kumpeni memang benci pada orang Islam. Apalagi sekarang yang mau datang Raja Arab Saudi, negara tempat kiblat kaum muslimin berada.”

“Terus piye, Sa? Kan belum jelas juga kunjungan Raja Salman akan mendatangkan manfaat bagi bangsa Indonesia?”

“Ya memang belum tentu, Om. Tapi yang pasti, kita harus menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang bisa menghormati tamu.'

"Ngono yho, Sa?"

"Jangan curiga dan menebar kebencian pada tamu, Om. Lha wong kepada tamu-tamu yang sudah terbukti merusak saja kita masih menghormati sedemikian rupa dan kita subyo-subyo. Bahkan, permukiman kumuh digusur demi menyediakan lahan untuk investasi mereka, laut direklamasi agar mereka bisa investasi lebih murah. Iya to, Om?”

“Sudahlah, Sa. Ngobrol sama kamu gak ada habisnya. Wis, yho…”

Segera kutancap gas dengan kepala pening bercampur takjub pada kecerdasan Sasa. Analisis politik dan budayanya jauh meninggalkan profesinya sebagai juru parkir dan juru pijat. Andai dulu Sasa berkesempatan kuliah di Fisipol UGM, di jurusan HI misalnya, tentu pada usaianya saat ini sudah jadi pengamat politik yang handal, disegani, dan menjadi rujukan para pengambil kebijakan. Tapi Sasa tetaplah Sasa, sahabatku yang bersahaja sebagai danyange parkiran soto Kartongali…..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar