KAFIR KOK BANGGA
Ternyata benar, Sasa datang ke rumahku bakda isya’
sesuai janjinya. Tadi pagi dia sibuk ngurusi parkir, sementara aku juga tidak
cukup punya waktu untuk ngobrol setelah sarapan soto Kartongali.
“Sa, jan-jane aku pengin dengar
ceritamu dari Istiqlal kemarin, tapi ini aku harus cepat-cepat pulang. Sudah
ditunggu tamu di rumah,” kataku sebelum meniggalkan parkiran.
“Slow wae, Om. Nanti malam saja aku sowan, ya.
Habis Isya’. Banyak oleh-olehku dari Jakarta. Sudah kangen ngopi juga aku,”
kata Sasa dengan senyum lebarnya.
“Tenane, Sa? Tak tunggu, lho.”
“Siap, Om. Insya Allah.”
Biasanya Sasa ke rumahku bila kuundang untuk mijat
atau mampir sepulang dari mijat pelanggan. Karena kali ini sudah janjian, maka
sehabis maghrib tadi sudah kuorder istriku supaya menggorengkan pisang kepok
yang dipanen kemarin.
“Mas Sasa sendirian?” tanya istriku sambil menyuguhkan
kopi dan pisang goreng hangat.
“Iya, Mbak. Biasa ke mana-mana juga sendiri.” Jawab
Sasa.
“Mbokya sekali-sekali mbakyu diajak ke sini. Kan bisa
ngobrol sama saya,” kata istriku.
“Njih kapan-kapan,
Mbak. Insya Allah.”
Setelah mempersilakan Sasa menikmati suguhannya,
istriku pun pamit undur diri. Sasa mulai menceritakan perjalanannya, runtut
sejak menunggu lengkap rombongan, lalu melingkar dan doa bersama sebelum naik
bus, hingga keberangkatan yang di-untapke
banyak orang. Ada beberapa beserta yang mabok di jalan, termasuk dia sendiri
yang memang jarang bepergian naik bus. Beruntung panitia sudah menyiapkan
obat-obatan darurat, PPPK, terutama obat anti-mabok dan anti-masuk angin, di
samping juga membawa aneka makanan dan minuman sumbangan para dermawan.
Rombongan hanya berhenti untuk sholat maghrib-isya’ dan makan malam di Alas
Roban serta sholat shubuh di rest-area
Tol Cikampek.
“Ya Allah, Om, betapa senang hatiku bisa ikut
rombongan itu. Orangnya baik-baik semua,” Sasa melanjutkan ceritanya.
"Begitu masuk Jakarta, Om, banyak sekali bus dan mobil rombongan dari
berbagai penjuru menuju Masjid Istiqlal. Di kiri-kanan sepanjang jalan juga
kulihat orang-orang berbaju putih dan berkopiah berjalan kaki menuju ke sana.”
Lalu Sasa bercerita betapa dia tidak mampu menahan
haru ketika masuk kawasan Istiqlal melihat banyak stand makanan dan minuman
gratis. Ibu-ibu dan gadis-gadis cantik berbusana muslimah dibantu bapak-bapak
dan pemuda menawarkan makanan-minuman gratis itu dengan ramahnya. Dilihatnya
juga beberapa rombongan sedang duduk menikmati sarapan, tetapi lebih banyak
yang langsung menuju masjid untuk bergabung dengan jamaah sambil bertasbih,
bertahmid, dan bertakbir, serta melantunkan Sholawat Nabi tiada henti.
“Beruntung kami sampai di sana masih pagi, Om. Jadi
bisa masuk Masjid, masih bisa mendengarkan dengan jelas pidato dan doa-doa dari
para tokoh yang selama ini hanya kulihat di televisi,” kenang Sasa sambil
menghisap kretek di tangannya.
“Terus apalagi yang paling mengesankan, Sa?” tanyaku.
“Begini, Om. Aku ini bener-bener heran. Acara sebagus
itu kok sempat mau dilarang? Kami juga ditakut-takuti supaya tidak jadi
berangkat. Padahal kulihat sendiri di sana orang-orangnya bersih, tertib,
khusyuk, dan ramah satu sama lain. Isinya juga tausiyah dan doa-doa untuk
kebaikan seluruh kaum muslimin dan untuk seluruh bangsa. Tidak ada caci-maki.
Tidak ada keributan sedikitpun."
"Beda dengan yang dikhawatirkan ya, Sa?"
"Beda banget, Om. Sampeyan tahu sendiri seperti apa
kumpulanku selama ini to? Rhewo-rhewo kabeh, urakan, dan bau
ciu…...hahahaha. Di Istiqlal sama sekali berbeda. Semuanya baik. Makanya aku
heran kenapa kebaikan seperti ini harus dihalang-halangi.”
“Yah mungkin karena ada yang merasa kepentingannya
terganggu, Sa,” jawabku santai.
“Terganggu bagaimana? Takut kalah dalam pemilihan
gubernur atau presiden?”
“Mungkin saja, Sa. Kamu kok kayak gak tau saja.”
“Maksudmu, Om?”
“Loh, bukankah sebelum berangkat kemarin kamu sudah
bercerita tentang Fatahillah dan Sultan Agung yang bertahun-tahun memimpin
perang merebut Batavia? Katamu sekarang ini sama saja dengan dahulu, bahwa kita
harus merebut kembali Jakarta dari para penjajah?”
“Lha iya, Om.”
“Tapi jaman sudah berbeda, Sa. Ini jaman demokrasi.
Dalam demokrasi itu tidak boleh bawa-bawa agama, tidak boleh mengobarkan
sentimen agama. Ibarat bermain bola, Sa, kamu tidak boleh minta klubmu harus
menang hanya karena semua pemainmu beragama Islam. Itu bisa disebut tidak
konstitusional, tidak demokratis, anti-kebhinekaan, dan anti-Pancasila.”
“Ah, Sampeyan ini bikin ibarat kok kayak gitu. Sangat
tidak pas.”
“Tidak pas bagaimana, Sa?”
“Ya jelas tidak pas itu, Om. Ngoyo-woro,
bahkan ngece.”
“Ngece bagaimana?”
“Om, orang bodoh seperti aku saja tahu bahwa sepakbola
itu olah raga yang punya aturan main jelas. Menang atau kalah tidak ada
urusannya dengan agama. Tapi kalau soal merebut Jakarta, ini usaha
menyelamatkan Ibu Kota dari ulah kaum penjajah. Kahanan negara yang
rusak-rusakan ini harus kita perbaiki, Om. Kalau Ibu Kota jatuh, Negara kita
pasti akan semakin hancur berkeping-keping. NKRI bisa bubar. Katanya “harga
mati”…..?”
“Tapi ya jangan terus mengkafir-kafirkan oranglah,
Sa?”
“Om, aku ini kemarin ngikuti acara di Istiqlal sejak
pagi hingga usai acara, tidak ada sedikitpun kudengar kata-kata kafir apalagi
mengkafir-kafirkan orang. Kita sudah tahu, kok, bahwa sejak jaman Kanjeng Nabi
dulu kaum muslimin selalu dimusuhi, difitnah, diadu-domba, dan dilemahkan oleh
orang-orang kafir. Sekarang ini sama saja, Om. Orang-orang kafir yang membuat
kerusakan di muka bumi, tapi kita yang disalah-salahkan terus. Aku juga heran,
lho, kenapa justru banyak teman kita sendiri ikut sinis terhadap niat baik para
ulama dan kaum muslimin? Apa karena sering dikasih makan orang kafir lalu ikut
sinis pada temannya sendiri? Ikut jadi kafir kok bangga…..hahaha.”
Edan tenan Sasa, kataku dalam
hati. Kok tiba-tiba jadi pinter kayak gini. Belajar ke mana dia? Mosok dapat
ilmu ladunni, dapat bisikan langsung dari malaikat Jibril sehingga bisa
membaca dengan tartil setiap kahanan yang dilihatnya? Ah, yang
bener aja, Sa……
Tidak ada komentar:
Posting Komentar