Jumat, 10 Februari 2017

INGIN JADI MANUSIA



INGIN JADI MANUSIA

Aku tidak tahu siapa saja temanku yang berangkat ke Jakarta mengikuti Aksi-112 di Masjid Istiqlal pagi ini karena kemarin siang tidak sempat nguntapke apalagi nyangoni sekadar air minum untuk bekal perjalanan.  Beruntung ada satu group WA yang sejak tadi malam hingga saat ini clang-cling-clang-cling mengirim semacam laporan langsung perjalanan disertai foto-foto dan video pendek, berbeda dari biasanya yang setiap dini hari menjelang shubuh penuh postingan ajakan tahajud dan shubuhan di masjid atau copasan tausiyah yang sering tidak sempat kubaca. Pada foto-foto pagi ini, kulihat ada beberapa wajah teman yang sudah kukenal dan ada juga yang belum. 

Ada satu wajah yang membuatku terharu dan bangga sekaligus geli.  Wajah Sasa. Ya, wajah Sasa sahabatku yang sehari-harinya jadi juru parkir dan juru pijat itu kali ini sungguh tampak berbeda. Dia tertawa bahagia memakai kopiah hitam, berbaju putih bersih, duduk di dalam bus dan melambaikan tangan ke arah kamera bersama teman-temannya. Pada foto yang lain, tampak Sasa agak canggung berada berada di antara ribuan manusia dengan latar belakang Masjid Istiqlal. 

Tiba-tiba hp-ku berbunyi tanda ada sms masuk. Cepat-cepat kubuka, siapa tahu ada pelanggan Bunda Collection mau nambah order mukena travelling untuk stok menjelang Ramadhan- Idul Fitri. Biasanya order masuk via tlp/sms/WA ke  hp istriku, tapi kadang juga masuk via hp-ku.Tapi ternyata bukan order. Sms kali ini dari Sasa. Ya, sasa yang foto-fotonya baru kulihat di satu group WA. Subhanallaah, Sasa…..

“Om, ini luar biasa. Saat ini aku di Istiqlal, berada di antara jutaan manusia seperti lautan putih, semua mengumandangkan takbir dan shalawat tanpa henti. Aku bener-bener merinding dan menangis ini, Om. Allahu Akbar……,” begitu Sasa mengirim pendeknya.

“Ya Allaah….rumangsamu yang merinding cuma kamu, Sa? Rumangsamu sms-mu ini tidak bikin aku terharu? Sasa...aku bangga punya sahabat sepertimu. Semoga aman dan dilancarkan semuanya. Aamiin,” balasan sms kukirim ke Sasa. 

Teringat kata-kata Sasa kemarin pagi ketika aku mau pulang setelah gobyos sarapan soto. Dia sudah tidak mau lagi ikut ubyang-ubyung yang tidak jelas, tidak mau lagi ikut mogleng-mogleng kampanye parpol bersama teman-teman yang bau mulutnya seperti sawo bosok sehabis minum ciu. Sudah kapok, tidak mau lagi kapusan terus. Dia merasa sudah saatnya kembali mengaji bersama teman-teman di masjid, belajar mencintai Allah SWT dan Kanjeng Nabi, belajar menjadi manusia sejati yang bukan hanya berpikir mencari bondho-donya tetapi mulai menyiapkan bekal bila sewaktu-waktu dipanggil Gusti Kang Murbeng Dumadi. Siap-siap husnul-khotimah, katanya.

“Loh, Sa, tapi kenapa harus ke Jakarta? Bukankah untuk melaksanakan niat baikmu itu ada banyak cara yang bisa kita lakukan di sini kapan saja?” tanyaku.

“Itu benar, Om. Memang banyak cara bisa kita lakukan di sini. Dan kali ini aku ingin bersama-sama kaum muslimin dari berbagai penjuru mengingatkan orang Jakarta supaya tidak salah memilih pemimpin. Kita harus berusaha agar Ibu Kota kita tidak rusak, tidak jatuh ke tangan Kumpeni lagi.”

Rupanya Sasa masih ingat pelajaran sejarah jaman sekolah dulu. Dia menyebut-nyebut perjuangan Fatahillah membebaskan Jayakarta dari Portugis. Fatahillah menggalang kekuatan rakyat dan santri-santri hingga memenangkan pertempuran melawan Portugis yang bersenjata modern. Dia juga menyebut-nyebut perjuangan Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram, menyerbu Batavia yang dikuasai Belanda dengan  menggalang kekuatan rakyat sejak wilayah Kedu, Banyumas, terus menyeberang ke Tanah Sunda, Priangan,dan Cirebon, lalu mendapatkan dukungan pasukan dan logistik dari Sultan Ageng Tirtayasa di Banten. Menurut Sasa, kondisi Jakarta saat ini tidak jauh berbeda dengan jaman itu. Yang berbeda cuma cara pertempurannya. Sekarang jaman demokrasi, siapa yang bisa mendapatkan dukungan suara terbanyak, dia memenangkan pertempuran.

“Tetapi orang sudah lupa sejarah, Om. Yang ada di kepalanya hanya uang-uang-uang sehingga gampang dibeli oleh Kumpeni. Makanya kita harus mengingatkan orang-orang Jakarta, Om,” kata Sasa pajang lebar di parkiran kemarin.

Ah Sasa, aku memang harus banyak belajar kepadamu. Terima kasih, Sa……        


Tidak ada komentar:

Posting Komentar