INGIN JADI MANUSIA
Aku tidak tahu siapa saja temanku yang berangkat ke
Jakarta mengikuti Aksi-112 di Masjid Istiqlal pagi ini karena kemarin siang
tidak sempat nguntapke apalagi nyangoni sekadar
air minum untuk bekal perjalanan. Beruntung ada satu group WA yang
sejak tadi malam hingga saat ini clang-cling-clang-cling mengirim
semacam laporan langsung perjalanan disertai foto-foto dan video pendek,
berbeda dari biasanya yang setiap dini hari menjelang shubuh penuh postingan ajakan
tahajud dan shubuhan di masjid atau copasan tausiyah
yang sering tidak sempat kubaca. Pada foto-foto pagi ini, kulihat ada beberapa
wajah teman yang sudah kukenal dan ada juga yang belum.
Ada satu wajah yang membuatku terharu dan bangga
sekaligus geli. Wajah Sasa. Ya, wajah Sasa sahabatku yang
sehari-harinya jadi juru parkir dan juru pijat itu kali ini sungguh tampak
berbeda. Dia tertawa bahagia memakai kopiah hitam, berbaju putih bersih, duduk
di dalam bus dan melambaikan tangan ke arah kamera bersama teman-temannya. Pada
foto yang lain, tampak Sasa agak canggung berada berada di antara ribuan
manusia dengan latar belakang Masjid Istiqlal.
Tiba-tiba hp-ku berbunyi tanda ada sms masuk.
Cepat-cepat kubuka, siapa tahu ada pelanggan Bunda Collection mau nambah order
mukena travelling untuk stok menjelang Ramadhan- Idul Fitri. Biasanya order masuk
via tlp/sms/WA ke hp istriku, tapi kadang juga masuk via hp-ku.Tapi
ternyata bukan order. Sms kali ini dari Sasa. Ya, sasa yang foto-fotonya baru
kulihat di satu group WA. Subhanallaah, Sasa…..
“Om, ini luar biasa. Saat ini aku di Istiqlal, berada
di antara jutaan manusia seperti lautan putih, semua mengumandangkan takbir dan
shalawat tanpa henti. Aku bener-bener merinding dan menangis ini, Om. Allahu
Akbar……,” begitu Sasa mengirim pendeknya.
“Ya Allaah….rumangsamu yang
merinding cuma kamu, Sa? Rumangsamu sms-mu
ini tidak bikin aku terharu? Sasa...aku bangga punya sahabat sepertimu. Semoga
aman dan dilancarkan semuanya. Aamiin,” balasan sms kukirim ke Sasa.
Teringat kata-kata Sasa kemarin pagi ketika aku mau
pulang setelah gobyos sarapan
soto. Dia sudah tidak mau lagi ikut ubyang-ubyung yang
tidak jelas, tidak mau lagi ikut mogleng-mogleng kampanye
parpol bersama teman-teman yang bau mulutnya seperti sawo bosok sehabis
minum ciu. Sudah kapok, tidak mau lagi kapusan terus. Dia
merasa sudah saatnya kembali mengaji bersama teman-teman di masjid, belajar
mencintai Allah SWT dan Kanjeng Nabi, belajar menjadi manusia sejati yang bukan
hanya berpikir mencari bondho-donya tetapi
mulai menyiapkan bekal bila sewaktu-waktu dipanggil Gusti Kang Murbeng Dumadi.
Siap-siap husnul-khotimah, katanya.
“Loh, Sa, tapi kenapa harus ke Jakarta? Bukankah untuk
melaksanakan niat baikmu itu ada banyak cara yang bisa kita lakukan di sini
kapan saja?” tanyaku.
“Itu benar, Om. Memang banyak cara bisa kita lakukan
di sini. Dan kali ini aku ingin bersama-sama kaum muslimin dari berbagai
penjuru mengingatkan orang Jakarta supaya tidak salah memilih pemimpin. Kita
harus berusaha agar Ibu Kota kita tidak rusak, tidak jatuh ke tangan Kumpeni
lagi.”
Rupanya Sasa masih ingat pelajaran sejarah jaman
sekolah dulu. Dia menyebut-nyebut perjuangan Fatahillah membebaskan Jayakarta
dari Portugis. Fatahillah menggalang kekuatan rakyat dan santri-santri hingga
memenangkan pertempuran melawan Portugis yang bersenjata modern. Dia juga
menyebut-nyebut perjuangan Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram, menyerbu
Batavia yang dikuasai Belanda dengan menggalang kekuatan rakyat
sejak wilayah Kedu, Banyumas, terus menyeberang ke Tanah Sunda, Priangan,dan
Cirebon, lalu mendapatkan dukungan pasukan dan logistik dari Sultan Ageng Tirtayasa
di Banten. Menurut Sasa, kondisi Jakarta saat ini tidak jauh berbeda dengan
jaman itu. Yang berbeda cuma cara pertempurannya. Sekarang jaman demokrasi,
siapa yang bisa mendapatkan dukungan suara terbanyak, dia memenangkan
pertempuran.
“Tetapi orang sudah lupa sejarah, Om. Yang ada di
kepalanya hanya uang-uang-uang sehingga gampang dibeli oleh Kumpeni. Makanya
kita harus mengingatkan orang-orang Jakarta, Om,” kata Sasa pajang lebar di
parkiran kemarin.
Ah Sasa, aku memang harus banyak belajar kepadamu.
Terima kasih, Sa……
Tidak ada komentar:
Posting Komentar