Senin, 20 Februari 2017

REKLAMASI


REKLAMASI

Hampir seminggu Sasa tidak tampak bekerja. Kata Kang Panut, Sasa dheyek-dheyek karena pinggangnya kecetit. Segera kutengok ke rumahnya, di rumah sempit yang untuk sampai ke sana harus jalan kaki melewati gang yang juga sangat sempit itu. Kulihat Sasa sedang duduk lesehan di atas tikar depan pintu, telanjang dada, sambil membaca koran terbaru yang mungkin sengaja dibelikan istrinya tadi pagi.

"Sa, Kamu kenapa?" tanyaku.
"Wah, Om, kok sampe sini? Monggo duduk lesehan."
"Sakit apa, Sa?”
" Pinggangku kecetit pas menggali kuburan untuk tetangga meninggal minggu lalu. Tapi sekarang sudah lumayan ini," kata Sasa sambil berdiri memperagakan jalannya yang sudah hampir normal, tidak separah beberapa hari lalu.

"Ada berita apa di koran hari in, Sa?"
“Walah, Om, berita koran ya cuma begini-begini saja. Biasa, gak ada yang istimewa.”
“Nyatanya tadi kamu tampak serius bacanya?”
“Ini lho, Om. Aku cuma mantau perkembangan harga cabe di pasar Gabus dan pasar-pasar se-Solo Raya. Masih tinggi, di angka 140an ribu. Siapa yang paling untung, coba? Pasti bukan teman-teman petani, Om.”
“Lha terus siapa untung, Sa?”
“Walah, Sampeyan kok kayak gak tahu saja. Ya jelas para pedagang besar, para spekulan, dan importir. Gayanya saja mereka membantu pemerintah mengatasi lonjakan harga dengan cara impor, padahal sesungguhnya mereka juga yang sengaja menimbun barang di gudang-gudang pendinginan, dikeluarkan sedikit-sedikit sehingga terjadi kelangkaan cabe di pasaran. Mereka yang mengatur harga jual sehingga keuntungannya bisa berlipat-ganda. Anehnya, Om, pemerintah cuma manut saja dibohongi. Mungkin karena sudah dikasih persenan di muka, ya.”
“Mungkin, Sa. Terus, ada berita apalagi?”
“Ini, kelanjutan lakon Duet Srikandi pecah kongsi. Politik lokal, Om. Gak penting. Apalagi seputar kriminalitas yang semakin marak ini. Males aku bacanya. Kasihan.”
“Kenapa kasihan, Sa?”
“ Menurutku ya, Om, para pelaku kriminal itu jan-jane cuma korban. Korban kebijakan pemerintah, kebijakan politik yang membuat orang-orang selalu merasa miskin, merasa kurang sehingga nekad melakukan apa saja untuk memenuhi keinginannya. Intinya kurang bersyukur, Om.”
Edan tenan Sasa. Sudut pandang dan nalisisnya atas setiap fenomena selalu unik dan cerdas. Jalmo tan kena kiniro. Benar-benar di luar perkiraanku.

“Lha itu kok ada foto kopian, Sa. Tulisan siapa itu?
“Hahahaa…..iya ini, Om. Tadi malam dikasih anakku, katanya dikasih kakak temannya. Tulisan Tere Liye tentang reklamasi laut Jakarta. Memang seharusnya kita tolak kok, Om.”
“Kamu baca tulisan sastrawan, Sa? Elok tenan. Isinya apa, coba?” tanyaku penasaran. Selera baca Sasa nggilani tenan.
“Aku gak tahu siapa Tere Liye, Om. Tapi aku setuju dengan hitung-hitungannya yang masuk akal ini. Aku setuju banget. Kita digobloki habis-habisan soal reklamasi. Dan ini pasti hanya bisa terjadi bila ada kongkalingkong antara pemilik modal besar dengan penguasa. Pemilik modal besar melakukan apa saja untuk melancarkan pencapaian ambisinya melipatgandakan modal. Bahkan, mereka mengatur siapa-siapa yang layak dijadikan penguasa. Tentu yang mereka anggap bisa diajak kerjasama, kongkalingkong. Yang aku heran, teman-teman Sampeyan kok malah nggeguyu, sinis, nyinyir pada para alim-ulama yang mencoba mengingatkan bahayanya reklamasi serta bahaya memilih pemimpin yang jelas-jelas akan membuat kerusakan di muka bumi ini.”

“Yah, teman-temanku kan hanya bicara soal demokrasi, Sa. Tidak bicara tentang reklamasi. Dalam berdemokrasi, jangan pakai ukuran agama, jangan bawa-bawa Ayat Suci, jangan pakai kata-kata kafir apalagi mengkafirkan orang yang berbeda keyakinan,” kucoba menyanggah Sasa.
Iyaaak….tenaane, Om? Apa bukan karena teman-teman Sampeyan melihat peluang akan mendapat jabatan dan proyek besar di masa depan bila mendukung kelompok bermodal besar itu? Yang bener sajalah. Gak usah sok demokratislah, sok pluralis, sok pro-NKRI….. hahahaaa,”
Jindul tenan Sasa ini. Sindiran Sasa terasa mak-jleb di ulu hatiku, seakan-akan aku sendiri yang dituduhnya. Omongannya kayak orang ngomyang, ngigau, kumat stresnya. Aku kan hanya berusaha memahamkan sikap dan pilihan teman-temanku yang memang harus tetap dihormati. Tidak perlu menganalisis sejauh itu, gak perlu negative-thinking.
“Mbokya jangan shu’udhon begitu to, Sa. Gak baik, lho.”
“Aku bukan shu’udhon, Om. Ini cuma othak-athik-gathuk, mencoba menganalisis atas sikap mental para pemilih, termasuk teman-teman Sampeyan, berdasarkan bacaan ini. Bukankah dulu Sampeyan yang bilang bahwa analisis bisa benar bisa juga salah, bisa dianggap benar oleh sebagian orang dan bisa dianggap salah oleh sebagian lainnya. Dan semua sah-sah saja.”
“Iya bener. Tapi mbokya jangan terus menuduh sekan teman-temanku bermental proyek dan haus jabatan. Teman-temanku itu orang-orang pinter lho, Sa. Sekolah mereka jauh lebih tinggi dariku. Hebat-hebat, Sa. Jangan ngece-lah….”
“Bukan ngece, Om. Aku percaya teman-teman Sampeyan orang baik dan pinter. Jangan salah paham, Om. Itu tadi cuma othak-athik-gathuk. Aku mohon maaf bila Sampeyan kurang berkenan.”
“Iya sama-sama, Sa. Aku juga minta maaf. Semoga Kamu cepet pulih dan bisa kembali bekerja, ya.”

Aku pun pamitan dengan perasaan kecut. Kutinggalkan Sasa dengan tatap matanya yang juga tampak menyesal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar