WANITA PERKASA ITU (3)
(Mengenang ibuku, Asiyah Sahrowardi, yang melahirkanku tepat 50 tahun yang lalu, 6 Febr 1967)
Mas Muhadji langsung menyalami dan duduk di dekat ibu. Setelah berbasa-basi sejenak, aku langsung ke dapur membantu istriku menyiapkan minuman dan nyamikan. Tak berapa lama, segelas teh nasgithel, 2 gelas kopi, dan sepiring pisang goreng telah siap menemani kami ngobrol melepas rindu pagi itu.
“Monggo Pakdhe, minum kopi dulu. Ini Kopi Semendo asli kiriman ibuku di Palembang. Kebetulan juga kemarin panen pisang kapok. Monggo, Pakdhe,” istriku mempersilahkan Pakdhe Muhadji menikmati wedangan.
“Iya, Dek. Sini ngobrol-ngobrol dulu,” Mas Muhadji mengajak istriku ikut bergabung. “Ada salam dari Mbakyumu Pupu.”
“Kok nggak diajak, Pakdhe?”
“Yah, namanya juga mendadak. Sebenarnya semua pengin ikut, tapi susah bener cari tiket,” jawab Mas Muhadji sambil menikmati kopi dan pisang goreng yang masih panas. Obrolan pun berlanjut seputar anak-anak Mas Muhadji: Eka yang masih kuliah di STIP, Sugeng yang masih klas 1 SMA, dan Ramadhan yang masih klas 4 SD. Tidak lupa juga Ibu menanyakan kabar Budhe Yoto di Jakarta. ”Piye kabare budhemu, Ji? Sudah lama kami gak ketemu. Kalau pas ke Jakarta, jangan lupa mampir ke Sumurbatu, lho,” begitulah ibu selalu berpesan.
Memang, dulu Mas Muhadji mengawali kisah perantauannya dengan menumpang tinggal di rumah Pakdhe dan Budhe Yoto, rumah sempit di tepi Jl. Sumurbatu, Kemayoran. Kebetulan di sana ada anak Pakdhe yang seusia Mas Muhadji, namanya Mas Haryono, dan ada adiknya yang seusia Mbak Mun, namanya Mbak Anjar. Dengan bimbingan Pakdhe Yoto itulah Mas Muhadji belajar lara-lapa mencari kerja di Jakarta, dari kerja serabutan hingga menjadi kuli pada sebuah pabrik minuman. Beberapa tahun, dia numpang tinggal di sana hingga mendapatkan pekerjaan yang mapan di Krakatau Steel Cilegon dengan bekal ijazah STM-nya. Wajar bila kemudian ibu selalu berpesan agar Mas Muhadji sering-sering menengok Pakdhe-Budhe Yoto.
“Wah sayangnya Mun gak bisa pulang, Ji. Padahal anak itu selalu kukangeni. Katanya juga susah cari tiket.” kata ibuku dengan nada menampakkan kekecewaan.
“Yah kita maklumi saja. Memang akhir tahun seperti ini susah cari tiket. Apalagi dari Bali yang pusatnya orang berlibur,” Mas Muhadji mencoba menghibur ibu.
Maklumlah bila ibu selalu ngangen-angen Mbak Mun. Sejak ditinggal Mas Muhadji merantau, Mbak Mun itulah anak tertua di rumah kami. Dialah mitra ibu mengurus rumah, dari menyapu lantai, ngepel, hingga menata perabot rumah tangga. Dia tahu betul selera ibu soal kebersihan dan kerapian rumah. Dia memang pintar mengambil hati ibu sehingga apapun permintaannya hampir selalu dituruti. Dia juga yang ngajari adik-adiknya, aku dan Mas Agus, menyapu halaman dan menimba air setiap pagi sebelum mandi, sarapan, dan berangkat ke sekolah. Dia yang membagi tugas. Mas Agus menyapu halaman depan, halaman samping kanan rumah, jalan, serta mengisi bak mandi depan. Aku menyapu halaman kiri dan belakang rumah, lalu mengisi kulah di dapur. Mbak Mun sendiri bertugas membersihkan lantai ruang tamu, gandhok, dan emper, lalu nyuci piring-piring kotor di dapur. Untuk makan seharian, ibu sudah menyiapkannya sejak sebelum shubuh.
Mbak Mun ini juga yang waktu aku masih balita selalu menggendongku ke mana-mana. Pagi hari aku dan Mas Agus dititipkan dulu ke kerabat dekat rumah. Sepulang sekolah, dia menjemput kami dan diajaknya ikut bermain pasaran, jethungan, atau gobak sodor dengan teman-teman sebayanya. Bila musim panen mlinjo tiba, aku juga diajaknya ikut oncek di rumah tetangga jauh yang tebasan mlinjo. Kulit mlinjonya itu boleh dibawa pulang untuk dimasak atau dia mendapat upah serupiah dua rupiah buat uang saku sekolah. Mungkin karena kesibukannya mengurus adik-adiknya itulah, nilai rapor sekolah Mbak Mun agak pas-pasan. Bahkan, dia pernah mogok tidak mau sekolah dan akhirnya tidak naik kelas gara-gara buku-buku sekolahnya dibuang Mas Agus ke dalam sumur depan rumah. Namanya juga anak-anak. Mbak Mun kadang terlalu galak mengatur adik-adiknya, sementara Mas Agus juga kadang berani melawan.
“Rencana acara besok bagaimana, Yud? Siapa saja yang diundang?” Mas Muhadji bertanya kepadaku tentang acara khataman besok malam.
Kujelaskan padanya bahwa pengajian bapak-bapak sudah kuundang untuk ngaji dan sholawatan. Pengajian ibu-ibu juga sudah kuhubungi koordinatornya. Urusan konsumsi sudah kupasrahkan pada istriku untuk koordinasi dengan Yu Waqi’ah. Mbah Darus yang akan memberi tausiyah setelah tadarus Al-Quran.
“Ya sudah, berarti tinggal pelaksanaan, ya. Nanti siang mobilmu kupakai ke Kotagede jemput Agus dan anak-anaknya. Musim hujan kayak gini, kasihan kalo mereka motoran. Sekalian nanti pulangnya kuampiri Yu Siti. Kita ngobrol lagi nanti malam,” begitulah Mas Muhadji. Setiap kali pulang, dia berperan sebagai imam keluarga kami. Dan kami pun mentaatinya.
(bersambung)
(Mengenang ibuku, Asiyah Sahrowardi, yang melahirkanku tepat 50 tahun yang lalu, 6 Febr 1967)
Mas Muhadji langsung menyalami dan duduk di dekat ibu. Setelah berbasa-basi sejenak, aku langsung ke dapur membantu istriku menyiapkan minuman dan nyamikan. Tak berapa lama, segelas teh nasgithel, 2 gelas kopi, dan sepiring pisang goreng telah siap menemani kami ngobrol melepas rindu pagi itu.
“Monggo Pakdhe, minum kopi dulu. Ini Kopi Semendo asli kiriman ibuku di Palembang. Kebetulan juga kemarin panen pisang kapok. Monggo, Pakdhe,” istriku mempersilahkan Pakdhe Muhadji menikmati wedangan.
“Iya, Dek. Sini ngobrol-ngobrol dulu,” Mas Muhadji mengajak istriku ikut bergabung. “Ada salam dari Mbakyumu Pupu.”
“Kok nggak diajak, Pakdhe?”
“Yah, namanya juga mendadak. Sebenarnya semua pengin ikut, tapi susah bener cari tiket,” jawab Mas Muhadji sambil menikmati kopi dan pisang goreng yang masih panas. Obrolan pun berlanjut seputar anak-anak Mas Muhadji: Eka yang masih kuliah di STIP, Sugeng yang masih klas 1 SMA, dan Ramadhan yang masih klas 4 SD. Tidak lupa juga Ibu menanyakan kabar Budhe Yoto di Jakarta. ”Piye kabare budhemu, Ji? Sudah lama kami gak ketemu. Kalau pas ke Jakarta, jangan lupa mampir ke Sumurbatu, lho,” begitulah ibu selalu berpesan.
Memang, dulu Mas Muhadji mengawali kisah perantauannya dengan menumpang tinggal di rumah Pakdhe dan Budhe Yoto, rumah sempit di tepi Jl. Sumurbatu, Kemayoran. Kebetulan di sana ada anak Pakdhe yang seusia Mas Muhadji, namanya Mas Haryono, dan ada adiknya yang seusia Mbak Mun, namanya Mbak Anjar. Dengan bimbingan Pakdhe Yoto itulah Mas Muhadji belajar lara-lapa mencari kerja di Jakarta, dari kerja serabutan hingga menjadi kuli pada sebuah pabrik minuman. Beberapa tahun, dia numpang tinggal di sana hingga mendapatkan pekerjaan yang mapan di Krakatau Steel Cilegon dengan bekal ijazah STM-nya. Wajar bila kemudian ibu selalu berpesan agar Mas Muhadji sering-sering menengok Pakdhe-Budhe Yoto.
“Wah sayangnya Mun gak bisa pulang, Ji. Padahal anak itu selalu kukangeni. Katanya juga susah cari tiket.” kata ibuku dengan nada menampakkan kekecewaan.
“Yah kita maklumi saja. Memang akhir tahun seperti ini susah cari tiket. Apalagi dari Bali yang pusatnya orang berlibur,” Mas Muhadji mencoba menghibur ibu.
Maklumlah bila ibu selalu ngangen-angen Mbak Mun. Sejak ditinggal Mas Muhadji merantau, Mbak Mun itulah anak tertua di rumah kami. Dialah mitra ibu mengurus rumah, dari menyapu lantai, ngepel, hingga menata perabot rumah tangga. Dia tahu betul selera ibu soal kebersihan dan kerapian rumah. Dia memang pintar mengambil hati ibu sehingga apapun permintaannya hampir selalu dituruti. Dia juga yang ngajari adik-adiknya, aku dan Mas Agus, menyapu halaman dan menimba air setiap pagi sebelum mandi, sarapan, dan berangkat ke sekolah. Dia yang membagi tugas. Mas Agus menyapu halaman depan, halaman samping kanan rumah, jalan, serta mengisi bak mandi depan. Aku menyapu halaman kiri dan belakang rumah, lalu mengisi kulah di dapur. Mbak Mun sendiri bertugas membersihkan lantai ruang tamu, gandhok, dan emper, lalu nyuci piring-piring kotor di dapur. Untuk makan seharian, ibu sudah menyiapkannya sejak sebelum shubuh.
Mbak Mun ini juga yang waktu aku masih balita selalu menggendongku ke mana-mana. Pagi hari aku dan Mas Agus dititipkan dulu ke kerabat dekat rumah. Sepulang sekolah, dia menjemput kami dan diajaknya ikut bermain pasaran, jethungan, atau gobak sodor dengan teman-teman sebayanya. Bila musim panen mlinjo tiba, aku juga diajaknya ikut oncek di rumah tetangga jauh yang tebasan mlinjo. Kulit mlinjonya itu boleh dibawa pulang untuk dimasak atau dia mendapat upah serupiah dua rupiah buat uang saku sekolah. Mungkin karena kesibukannya mengurus adik-adiknya itulah, nilai rapor sekolah Mbak Mun agak pas-pasan. Bahkan, dia pernah mogok tidak mau sekolah dan akhirnya tidak naik kelas gara-gara buku-buku sekolahnya dibuang Mas Agus ke dalam sumur depan rumah. Namanya juga anak-anak. Mbak Mun kadang terlalu galak mengatur adik-adiknya, sementara Mas Agus juga kadang berani melawan.
“Rencana acara besok bagaimana, Yud? Siapa saja yang diundang?” Mas Muhadji bertanya kepadaku tentang acara khataman besok malam.
Kujelaskan padanya bahwa pengajian bapak-bapak sudah kuundang untuk ngaji dan sholawatan. Pengajian ibu-ibu juga sudah kuhubungi koordinatornya. Urusan konsumsi sudah kupasrahkan pada istriku untuk koordinasi dengan Yu Waqi’ah. Mbah Darus yang akan memberi tausiyah setelah tadarus Al-Quran.
“Ya sudah, berarti tinggal pelaksanaan, ya. Nanti siang mobilmu kupakai ke Kotagede jemput Agus dan anak-anaknya. Musim hujan kayak gini, kasihan kalo mereka motoran. Sekalian nanti pulangnya kuampiri Yu Siti. Kita ngobrol lagi nanti malam,” begitulah Mas Muhadji. Setiap kali pulang, dia berperan sebagai imam keluarga kami. Dan kami pun mentaatinya.
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar