PASAR ILANG
KUMANDHANGE
Pasar Legi
Jatinom. Dulu, pasar ini merupakan pasar
terbesar di kawasan utara-barat Kabupaten Klaten. Bukan hanya masyarakat Jatinom yang datang
berbelanja, tetapi juga dari Karanganom, Polanharjo, Tulung, Kemalang, Karangnongko
serta Ampel dan Musuk Boyolali. Yang berjualan juga bukan hanya
pedagang-pedagang Jatinom yang memang kondang sebagai “bangsa pedagang”, tetapi
juga dari Pedan, Ceper, dan Wedi. Segala macam keperluan ada di sini, dari
mulai sembako, pakaian, sapi, kambing, burung, hingga semua peralatan
pertanian. Bisa dikatakan, pasar inilah pusat ekonomi terbesar di kawasan timur
lereng Gunung Merapi, habitatku sejak kecil.
Seperti
anak-anak desa pada umumnya, hari pasaran Legi adalah hari yang kami tunggu-tunggu,
apalagi kalau pas Minggu Legi. Aku biasa mengajak teman-temanku jalan-jalan ke
pasar melihat-lihat pasar burung, melihat “atraksi” perajin pandai besi sedang
membuat sabit dan cangkul, atau melihat cara orang tawar-menawar kambing dan
sapi serta para blantik yang memakai
topi koboi duduk methingkrang di
warung sate kambing Bu Dirjo. Kami juga suka duduk ndlesep di antara kerumunan orang menyaksikan penjual jamu-kuat,
jamu-encok, dan jamu pegel-linu yang bengok-bengok dengan megaphonenya di antara kios para
pedagang pakaian. Setelah capek, kami pun singgah di kios ibuku untuk makan
sego-pecel Yu Darmi atau soto ayam Bu Among. Sambil pulang, kami biasa singgah
di pojok utara lapangan Bonyokan melihat pasar sepeda bekas dan cara para makelar menawarkan dagangannya.
Minggu Legi
pagi ini aku sengaja datang untuk bernostalgia sambil sarapan Soto Mbah Gito
Birun, soto sapi dengan kecapnya yang khas tak ada bandingnya di dunia. Dulu,
warung ini tempat sarapan para blantik
sapi, tetapi sekarang semua penggemar soto sapi tak akan melewatkan kesempatan
menikmatinya. Maklumlah, warung ini hanya buka 5 hari sekali, khusus hari
pasaran Legi. Meski jaman sudah jauh berubah, Mbak Gito Birun tetep ora kengguh, tidak tergiur untuk
menyesuaikan perubahan jaman dengan buka setiap hari atau bahkan membuka
kesempatan waralaba di berbagai kota. Penampilan warungnya tetap bersahaja, apa
adanya, bahkan terkesan lethek khas
pasar sapi. Tidak percaya? Silahkan dicoba.
“Pasar Legi
sekarang jadi seperti kuburan ya, Om. Sepi tenan,”
tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dan duduk di sampingku. Ternyata Sasa
sahabatku.
“Loh, Sa,
kok gak kerja?” tanyaku.
“Prei dulu,
Om. Istri lagi butuh uang untuk nyumbang tetangga yang lagi hajatan. Tiga ekor
jago terpaksa kujual,” jawab Sasa sambil nyeruput teh nasgithel yang sudah terhidang.
Kulihat di
depan warung seakan menjadi pasar ayam jago. Semua pengunjungnya laki-laki
membawa kiso, tas khusus ayam jago.
Ada 2 serumbung tempat uji-coba kabrukan
yang selalu dikerumuni pengunjung. Mereka bukan berjudi, tetapi hanya sekedar
menguji seberapa tangguh ayam jagonya. Semakin dahsyat kabrukannya akan semakin
mahal harga jualnya.
”Aku ingat betul pasar ini mulai sepi sejak krismon 1997/1998 dulu, Om,” Sasa ngomong lagi.
“Apa
hubungannya, Sa?” tanyaku.
“Loh, ya jelas sekali to, Om,“ jawab Sasa sambil
mulai makan soto di piringnya.
“Waktu itu, banyak
orang yang kehilangan pekerjaan lalu pengin berjualan di pasar ini. Karena
tidak mendapatkan tempat di dalam, mereka menggelar dagangan di pinggir
lapangan Bonyokan sana. Ada yang jualan pakaian bekas, segala paralatan rumah
tangga bekas, dan onderdil kendaraan yang juga bekas. Jadilah lapangan Bonyokan
pasar klithikan yang ramai setiap Legi. Karena
di sana semakin ramai, banyak pedagang yang dulu menempati kios di dalam pasar ini
justru ikut pindah ke lapangan.”
“Terus, Sa,”
aku hanya mendengarkan sambil merokok dan kipas-kipas menikmati suasana.
“Sejak krismon itu pedagang burung juga semakin
banyak. Namanya juga orang pengin berusaha to, Om.”
“Lha iya,
Sa. Terus….”
“Karena los
di dalam pasar terlalu sempit, mereka menggelar dagangannya di oro-oro. Jadilah oro-oro itu pasar burung yang sangat ramai setiap Legi, sedangkan
yang di dalam jadi sepi pengunjung,” kata Sasa bersemangat.
“Apalagi
sejak pasar sapi dipindah, Om. Wah, pasar Legi ini jadi pasar wedok, hanya kaum perempuan yang masuk. Sepi-nyenyet tidak banyak pengunjung
seperti dulu. Kaum laki-laki tempatnya di luar, di pasar klithikan, di pasar burung, di pasar kambing, dan di pasar sapi.”
“Terus piye,
Sa?”
“Yah,
kasihan ibu-ibu pedagang yang masih bertahan di dalam pasar,” kata Sasa.
Aku jadi
teringat ibuku yang sudah berjualan sejak awal pendudukan Jepang hingga
berganti-ganti Orde. Tentu beliau akan terkaget-kaget bila mengalami
perkembangan pasar saat ini.
“Ngendikane Sunan Kalijaga sudah
betul-betul kejadian ya, Om.”
“Wah…ngendikane Sunan Kalijaga yang mana, Sa?”
kaget aku.
“Pasar ilang kumandhange.”
“Piye kuwi,?” tanyaku.
“Loh, Sampeyan
mosok lupa. Kanjeng Sunan Kalijaga sudah ngendika
bahwa tanda akhir jaman itu bila kali
ilang kedhunge, pasar ilang kumandhange, wong wedok ilang wirange…..hahaha,
” jawab Sasa dengan gayanya mengingatkanku pada diskusi-diskusi dengan
teman-teman jaman kuliah di Jogja dulu.
Sasa ini edan tenan, pikirku sambil membayar
soto dan makanan kami sambil ketawa dalam hati. Aku betul-betul salut dengan
daya rekamnya atas setiap perubahan jaman. Tentu belum saatnya Sasa kuberitahu
tentang fenomena pasar online jaman sekarang
yang omsetnya bisa milyaran rupiah setiap hari, tentang kumadhange pasar yang bukan lagi hanya radius 1-2 kilometer tetapi
ke seluruh dunia, tentang transaksi antara penjual dan pembeli yang hanya
mengandalkan kepercayaan tanpa tatap muka dan melihat wujud barangnya, atau
tentang pasar-pasar modern di kota besar yang gemerlapan, yang barang-barangnya
serba bagus dan tidak ada proses tawar-menawar di sana. Belum
saatnya, Sa.
Kapan-kapan Sasa akan kuberitahu biar tidak ndesit melihat perubahan jaman. Mungkin juga dia tidak mudheng, tidak paham. Atau, bisa jadi langsung nggeblak dia…..










Tidak ada komentar:
Posting Komentar