OJO CEDHAK KEBO GUPAK
Selepas ashar. Hujan deras sesiangan masih menyisakan gerimis tak seberapa tebal dan sampah berserakan di halaman. Sungguh, ini waktu yang tepat untuk menikmati Kopi Semendo asli kiriman Ibu mertua. Jangan coba-coba bandingkan nikmatnya ngopi di rumahku dengan di kafe hotel atau di kafe waralaba (impor). Gulung kabeh, begitu istilah teman-temanku dari Jogja yang tuman datang ke rumahku untuk ngopi dan ngobrol.
Segelas kopi baru selesai kubuat dan belum sempat kuminum, tiba-tiba terdengar suara uluk-salam dari halaman, "Assalaamu'alaikum."
Ya Allah, suara itu tidak asing bagiku. Sasa, sahabatku sejak SMP yang belakangan jadi idola para pengunjung Soto Kartongali karena kepiawaiannya memandu parkir kendaraan, yang setiap sore hingga malam melayani pangilan sebagai juru pijat bagi orang yang kecapekan. Ada apakah gerangan dia datang tanpa kuundang naik sepeda onthel dan pakai jas hujan?
Setelah salaman dan kupersilakan duduk, aku pun langsung ke dapur membuatkan kopi. Lumayan sore ini ada teman ngopi, pikirku.
"Kok njanur gunung, Sa? Tumben," tanyaku sambil meletakkan segelas kopi di depannya.
"Wah cocok ini, Om. Hujan-hujan minum kopi," kata Sasa sambil senyum-senyum dan menuangkan kopi di lepek. Dia tahu betul cara minum kopi selagi masih panas namun bibir tidah mlocot kepanasan. Diminumnya sesruput dua sruput dari lepek diikuti suara desah kenikmatan,"aaakhhhhh."
"Nagara kok semakin kisruh ya, Om, " kata Sasa sambil menyalakan sebatang kretek.
"Kisruh bagaimana, Sa?" tanyaku.
"Ya kisruh, Om. Setiap hari orang bertengkar, saling fitnah, saling jegal, saling gebuk. Rakyat sebagai supporter menikmati sambil bersorak-sorai saling cemooh, bahkan rela berantem demi membela jago kesayangannya," Sasa mulai berceloteh soal politik dengan logikanya sendiri seperti sedang ngomyang, kambuh ketidaksadarannya. Tapi jujur, aku sungguh menikmati kecerdasannya yang sering tak terduga-duga.
Belum juga kurespon, Sasa melanjutkan ngomyangnya, "Om, ada kesan kasus penistaan agama gubernur itu sengaja ditutup-tutupi, ya. Kita digiring untuk percaya bahwa dia orang baik dan tidak bersalah."
"Ditutup-tutupi piye, Sa? Kan sudah masuk tahap sidang-sidang di pengadilan. Kita tunggu saja hasilnya, Sa," kucoba menenangkan Sasa yang selalu gelisah.
"Iya, tapi sampai hari ini belum jelas juntrungnya, Om. Malah tokoh pelapornya ganti dilaporkan, mau dipenjarakan, organisasinya mau dibubarkan sebagai ormas terlarang. Aku jadi khawatir ini bakal jadi dledah, jadi ontran-ontran, bakal ajur-ajuran karena perang saudara."
Kucoba mengajak Sasa memahami peta masalah. Yang namanya proses hukum memang membutuhkan waktu yang panjang. Tidak bisa sekali dua kali sidang langsung vonis. Tidak mungkin. Apalagi ini menyangkut seorang tokoh, pejabat, gubernur, seorang yang oleh banyak kalangan sudah didomo-domo sebagai tokoh yang akan mampu menyesaikan semua masalah bangsa-negara ini. Seperti Ratu Adil, kehadirannya sudah lama ditunggu-tunggu. Orang rela melakukan apa saja dengan segala daya-upaya demi menyambut kehadiran Ratu Adil. Kalau ada yang coba-coba menghalangi, tentu akan disikat habis.
Sasa nyeruput kopi lagi. Dua batang kretek sudah hampir habis, kopi segelas juga hampir tuntas.
"Kalau menurut Sampeyan, Om, kasus OTT seorang Hakim Konstitusi kemarin itu bagaimana? Apa yang sesungguhnya terjadi? Apakah juga bagian dari upaya mengaburkan kasus penistaan agama itu?"
Mak-jleb rasanya mendengar pertanyaan Sasa. Imajinasinya sudah sampai ke sana. Aku sama sekali tidak nggagas karena kasus korupsi pejabat sudah jadi menu sehari-hari.
"Begitulah politik, Sa. Yang sedang berkuasa akan terus berupaya melanggengkan kekuasaannya, apapun caranya. Berkuasa itu enak to, Sa? Bisa mendadak kaya-raya. Sementara yang tidak berkuasa juga berjuang keras agar bisa berkuasa. Iya to, Sa? Makanya, daripada ndasmu ngelu jadi penonton, mending ikut terjun sekalian di gelanggang politk. Ikut bertanding, ikut rebutan."
"Wah, mboten mawon, Om. Gak usah ikut-ikutan ngedan. Saya juga gak mau cedhak-cedhak kebo gupak, mendekati kerbau yang sedang mandi di kubangan. Saya gak mau kena lumpur, kena blethok. Hanya kerbau yang suka berkubang di lumpur, Om," kata-katanya mengingatkanku pada pelajaran Bahasa Jawa di sekolah dulu, Ojo cedhak-cedhak kebo gupak.
"Loh, Sa, daripada cuma ngelu-ndasmu njur ngomyang terus, hayo?" kejarku.
"Nuwun sewu lho, Om. Saya masih percaya bahwa banyak orang berjuang semata-mata demi membela kebenaran, setidaknya membela nilai-nilai yang diyakininya sebagai kebenaran. Mereka berjuang bukan karena pengin berkuasa, tapi merasa wajib melawan ketidakbenaran dan ketidakadilan. Melawan penguasa yang semena-mena kan tidak berarti merebut kekuasaan, Om," katanya sambil matanya melirik halaman dan langit yang menampakkan candhik-ayu.
Hari menjelang maghrib, dan Sasa pun bermitan. Gara-gara Sasa, aku jadi ikut ngelu ndhasku.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar