Senin, 23 Januari 2017

KEPYOH

KEPYOH

Kali ini Sasa betul-betul tidak habis pikir, tidak paham, kepyoh pikirannya menyaksikan berita-berita di TV dan kenyataan yang terjadi di sekitarnya. Panjang-lebar Sasa nguda-rasa seakan me-review semua hal yang didengar dan dilihatnya.

Bagaimana mungkin seorang polisi yang seharusnya bertugas memberantas narkoba justru meninggal karena overdosis mengkonsumsi narkoba di kamar hotel bersama seorang wanita. Bagaimana mungkin korban miras oplosan yang sudah terus berjatuhan di berbagai daerah, tetapi penjualnya masih bisa leluasa berjualan karena konon dibekingi aparat keamanan. Bagaimana mungkin,orang yang sudah jelas salah, meresahkan masyarakat, bahkan dikhawatirkan bisa mengancam persatuan-kesatuan bangsa justru dibela dan disubyo-subyo, sementara orang yang baru diduga bersalah justru ditangkap dan di-dor tanpa proses hukum. Bagaimana mungkin orang yang sepanjang hidupnya sangat getol mengajak masyarakat membasmi kemaksiatan justru terkesan sedang dicari-cari kesalahannya untuk dijebloskan ke penjara. Bagaimana mungkin pejabat-pajabat Negara dan Daerah yang seharusnya bertugas menjaga harta Negara dan memakmurkan rakyat justru terkesan berlomba-lomba mencuri uang rakyat sambil mengundang para Kumpeni untuk bancakan merampok kekayaan negara.

“Wah jan kepyoh tenan ini, Om. Wolak-waliking jaman. Yang benar disalah-salahkan, yang salah dibenar-benarkan. Kahanan seperti ini mau sampai kapan ya, Om?” Sasa mencoba memancingku untuk merespon celotehnya yang sejak tadi sengaja kudengarkan saja. Aku masih tetap diam menikmati pijatan demi pijatan Sasa sejak ujung kaki hingga ujung kepala, dari bagian belakang hingga depan. Sesekali aku pura-pura meringis kesakitan agar pijatannya tetap stabil dan bersemangat. Baru ketika memasuki sessi finishing pijatan, jari-jari tanganku ditarik satu-persatu hingga berbunyi alias dijethuti, aku merasa tidak tega untuk tidak meresponnya.

“Sasa kan sudah tahu ini memang jaman kepyoh?” tanyaku.
“Lha ya bener to, Om. Ini memang jaman serba membingungkan,” jawabnya. “Salah dibener-benerke, bener disalah-salahke,” lanjutnya.
“Iya, Sa. Makanya kita harus hati-hati. "Rasah kakehan ngomong, ndak malah disalahke,” kataku.
“Maksudnya bagaimana, Om? Apa mulut ini harus "mingkem", diam saja, padahal kita menyaksikan banyak hal yang tidak benar dijentrek-jentrekkan di depan kita setiap hari? Memang benar kita ini cuma rakyat, tapi kita kan juga punya pikiran dan hati, Om?”

Edan..! Jindul tenan. Sanggahan Sasa kali ini benar-benar mak-jleb menusuk ruang terdalam lubuk hatiku. Pengin menjelaskan segamblang-gamblangnya pada sahabatku satu ini, tapi kupikir apa gunanya. Bagiku, selama Sasa masih setia dengan pekerjaan mulianya sebagai juru parkir dan juru pijat, itu sudah sesuai keinginannya menolong semua orang. Itu sudah hebat. Rasa aeng-aeng, Sa.....

1 komentar: