Tumben pagi ini Sasa tidak tampak di pinggir japan menyambut kedatangan pengunjung Soto Kartongali, mengatur dan mengamankan setiap mobil dan motor yang mau masuk atau keluar parkiran di wilayah kerjanya. Biasanya setiap ada mobil atau motor yang ngasih tanda mau berhenti langsung disambutnya dengan sempritan dan bendera kecil merah-orange memberi arah ke mana mobil harus diparkir. Bila kebetulan parkirnya di seberang jalan, Sasa pasti membantu penumpangnya untuk nyeberang jalan dengan tetap menghormati kendaraan yang melaju lewat. Dia berani pasang badan untuk memberi rasa aman penyeberang yang dipandunya dan pemakai jalan sekaligus. Begitulah Sasa, dia bekerja dengan sepenuh hati, jiwa, dan raganya.
Tapi entah ke mana Sasa
pagi ini.L, aku nyeberang
sendiri mencari celah di antara mobil dan motor yang melaju kencang di
jalan provinsi Jatinom - Klaten. Aku pun langsung masuk warung mencari kursi kosong. Ternyata Sasa sedang menyapu lantai
dan ngelap meja, pekerjaan yang biasanya dilakukan para pelayan.
"Lha kok gak ngatur parkir, Sa?"
"Maaf ya, Om. Ya gini ini, biasa. Barusan ada rombongan makan, meninggalkan kotoran di meja dan lantai. Mesakke kalo mbak-mbak yg harus nyapu juga," Sasa minta permaklumanku karena harus parkir dan nyeberang sendiri.
"Slow wae, Sa. Gak masalah," aku berusaha menghiburnya.
"Wah Om, aku sudah kapok tenan ikut-ikutan partai," kata Sasa sambil ngelap meja.
"Ada apa lagi, Sa?" tanyaku.
"Aku benar-benar tersinggung mendengar pidato politik kemarin. Nggebyah-uyah."
"Nggebyah-uyah piye to, Sa?"
"Om, sebagai alumni SMP
Muhammadiyah, aku betul-betul gak rela agamaku dianggap anti-demokrasi, tidak
pro NKRI, tidak menghargai perbedaan. Kita sholat, puasa, zakat, naik
haji, mbangun mesjid, dsb, dibilang seperti orang Arab. Edan, to?" Sasa masih terus
nerocos numpahkan uneg-uneg seputar kekecewaannya pada tokoh parpol diikutinya selama ini. "Kalau tidak paham mbokya belajar dulu, ngaji pada ahlinya," sambungnya.
Aku sebenarnya paham siapa yang dimaksud Sasa, tapi gak mungkin hati sahabat yang sudah panas ini kusiram dengan bensin. Beruntung semangkok soto dan segelas teh nasgithel disajikan mbak-mbak pelayan di depanku. Masih panas kemutug siap disantap. Aku jadi punya alasan tidak nanggapi grenengan Sasa.
Aku sebenarnya paham siapa yang dimaksud Sasa, tapi gak mungkin hati sahabat yang sudah panas ini kusiram dengan bensin. Beruntung semangkok soto dan segelas teh nasgithel disajikan mbak-mbak pelayan di depanku. Masih panas kemutug siap disantap. Aku jadi punya alasan tidak nanggapi grenengan Sasa.
"Sik yho, Sa, aku sarapan dulu. Bicara politik gak ada habisnya."
"Monggo disekecake, Om. Saya mau bertugas lagi."
Sasa pun langsung
beraksi kembali di pinggir jalan, dengan sempritan dan bendera kecilnya, dengan senyumnya
yang lebar dan dengan liyak-liyuk tubuhnya yang lincah.
Hebatnya lagi, Sasa hanya mau nerima uang parkir dari pengunjung yang naik mobil, yang naik motor ditolaknya. Gratis. Ini hebat atau diskriminatif, ya?
Hebatnya lagi, Sasa hanya mau nerima uang parkir dari pengunjung yang naik mobil, yang naik motor ditolaknya. Gratis. Ini hebat atau diskriminatif, ya?
Begitulah Sasa teman sekolahku dulu, temanku bermain drumband di bawah
asuhan Pak Mas'ud yang bersahaja di SMP Muhammadiyah 2 Jatinom, Klaten.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar