HOAX
Kembali aku dibuat ngelu oleh
pertanyaan Sasa. Ndelalah sarapan
soto Kartongali kali ini pun agak mengecewakan. Rasanya agak hambar,
kurang joss. Mungkin karena sambelnya terlalu cair, terlalu banyak
dicampur kuah soto sehingga terasa kurang pedas. Ulah Sasa yang tak
membiarkanku pergi semakin bikin mangkel.
“Sebentar, Om. Jan-jane HOAX itu apa, to?, tanya
Sasa. "Tadi malam aku nonton di tv kok banyak orang ngomong soal
itu. Blas aku gak mudheng, tidak paham yang mereka
omongkan,” lanjutnya.
“Gak mudheng kok nonton."
“Gak sengaja kok, Om. Ndelalah tadi malam pas mijat Pak Joko yang pensiunan polisi itu, beliau sambil nyimak acara tv,” jawabnya.
“Lha kok gak langsung tanya Pak Joko?” kejarku.
“Walaah, ya gak berani, Om. Aku ditimbali mijat beliau saja sudah seneng banget," jawab Sasa. "Tapi ya itu, Om," lanjutnya, "Mijat wong gedhe itu jan-jane aku agak takut."
"Kenapa?"
"Ya khawatir saja kalau beliau tidak berkenan
karena pijatanku gak enak. Makanya sengaja aku mijatnya pelan-pelan saja agar
beliau merasa nyaman sampai tertidur.....kkkkkk."
Oh, jadi begitu cara Sasa memberi kepuasan pelanggan
pijatnya. Pasien dibuat sampai tertidur sehingga ketika terbangun sudah merasa
seger badannya. "Pinter kowe, Sa. Urik."
batinku.
Sasa kembali bertanya, "Jan-jane HOAX
itu apa to, Om?"
Beruntung ada pengunjung bersepeda motor, suami-istri
dan dua anaknya, mau keluar parkiran. Sasa bergegas membantu dengan sigapnya,
dan aku pun punya sedikit waktu untuk mencari jawaban yang kira-kira gampang
dipahami Sasa.
“Kamu pernah batuk, Sa?”
“Ya pernah, Om. Sering.”
“Berdahak?”
“Kadang-kadang.”
“Bagaimana cara ngeluarkan dahak?”
“Kalau cuma sedikit ya cukup 'kheek cuh...', tapi
kalau pas banyak ya 'hoaak cuh...'. Begitu, Om.”
“Nah, jadi HOAX itu apa, Sa?”
"Wooo….jindul
ik. Jadi HOAX itu maksudnya sesuatu yang njijiki,
menjijikkan seperti dahak, to? Semprul
tenan. Jadi berita bisa dianggap HOAX bila bikin orang jijik dan merasa
tidak enak. Gitu to, Om?”
“Ya begitulah kira-kira, Sa. Makanya hati-hati kalau
buang dahak, jangan sembarangan,” pesanku sambil menghidupkan mobil.
“Sebentar, Om, sedikit lagi. Kalau orang menyebarkan
berita yang tidak benar, berita HOAX, kan bisa dilaporkan ke polisi, dituntut
di pengadilan, dan bisa dipenjara. Lha kalau pemerintah yang bikin cerita
bohong, tidak benar, bikin rakyat jadi was-was dan ketakutan, bahkan bikin
rakyat sengsara, apa itu juga bisa disebut HOAX, Om? Lalu, bisakah rakyat
menuntut pemerintah di pengadilan?”
"Modyar iki...,"
batinku. Aku cuma senyum-senyum tidak berani menjawabnya. Pelan-pelan kuinjak
gas dan kutinggalkan Sasa yang masih cengar-cengir.
Sambil jalan, aku jadi teringat warung-warung makan
yang tidak lagi menyediakan sambal pedas karena harga cabe rawit yang teramat
mahal. Jadi teringat pajak listrik dan harga BBM yang terus naik diikuti
kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Jadi teringat jalan tol yang disebut
infrastruktur, tapi untuk melewatinya rakyat harus membayar mahal. Jadi
teringat berita tentang banyaknya WNA China yang konon masuk secara illegal
sebagai tenaga kerja di tambang-tambang dan pabrik-pabrik yang dibangun di
daerah terpencil pulau terluar. Jadi teringat sesama politisi yang saling
melaporkan ke polisi. Jadi teringat rakyat Indonesia yang seakan saling
mengasah pedang dan bersiap saling-bunuh satu sama lain. Ya Allah
....bermacam-macam cerita ngeri itu semoga tidak serius, semoga cuma Hoax.
Sasa Sasa….lagi-lagi pertanyaanmu membuatku ngelu…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar