Kamis, 19 Januari 2017

HOAX


HOAX

Kembali aku dibuat ngelu oleh pertanyaan Sasa. Ndelalah sarapan soto Kartongali kali ini pun agak mengecewakan. Rasanya agak hambar, kurang joss. Mungkin karena sambelnya terlalu cair, terlalu banyak dicampur kuah soto  sehingga terasa kurang pedas. Ulah Sasa yang tak membiarkanku pergi semakin bikin mangkel.

“Sebentar, Om. Jan-jane HOAX itu apa, to?,  tanya Sasa. "Tadi malam aku nonton di tv kok banyak orang ngomong soal itu. Blas aku gak mudheng, tidak paham yang mereka omongkan,” lanjutnya. 

“Gak mudheng kok nonton."

“Gak sengaja kok, Om. Ndelalah tadi malam pas mijat Pak Joko yang pensiunan polisi itu, beliau sambil nyimak acara tv,” jawabnya. 

“Lha kok gak langsung tanya Pak Joko?” kejarku.

“Walaah, ya gak berani, Om. Aku ditimbali mijat beliau saja sudah seneng banget," jawab Sasa. "Tapi ya itu, Om," lanjutnya, "Mijat wong gedhe itu jan-jane aku agak takut." 

"Kenapa?"

"Ya khawatir saja kalau beliau tidak berkenan karena pijatanku gak enak. Makanya sengaja aku mijatnya pelan-pelan saja agar beliau merasa nyaman sampai tertidur.....kkkkkk."

Oh, jadi begitu cara Sasa memberi kepuasan pelanggan pijatnya. Pasien dibuat sampai tertidur sehingga ketika terbangun sudah merasa seger badannya. "Pinter kowe, Sa. Urik." batinku.

Sasa kembali bertanya, "Jan-jane  HOAX itu apa to, Om?" 

Beruntung ada pengunjung bersepeda motor, suami-istri dan dua anaknya, mau keluar parkiran. Sasa bergegas membantu dengan sigapnya, dan aku pun punya sedikit waktu untuk mencari jawaban yang kira-kira gampang dipahami Sasa.

“Kamu pernah batuk, Sa?” 

“Ya pernah, Om. Sering.” 

“Berdahak?” 

“Kadang-kadang.” 

“Bagaimana cara ngeluarkan dahak?” 

“Kalau cuma sedikit ya cukup 'kheek cuh...', tapi kalau pas banyak ya 'hoaak cuh...'. Begitu, Om.” 

“Nah, jadi HOAX itu apa, Sa?”

"Wooo….jindul ik. Jadi HOAX itu maksudnya sesuatu yang njijiki, menjijikkan seperti dahak, to? Semprul tenan. Jadi berita bisa dianggap HOAX bila bikin orang jijik dan merasa tidak enak. Gitu to, Om?” 

“Ya begitulah kira-kira, Sa. Makanya hati-hati kalau buang dahak, jangan sembarangan,” pesanku sambil menghidupkan mobil. 

“Sebentar, Om, sedikit lagi. Kalau orang menyebarkan berita yang tidak benar, berita HOAX, kan bisa dilaporkan ke polisi, dituntut di pengadilan, dan bisa dipenjara. Lha kalau pemerintah yang bikin cerita bohong, tidak benar, bikin rakyat jadi was-was dan ketakutan, bahkan bikin rakyat sengsara, apa itu juga bisa disebut HOAX, Om? Lalu, bisakah rakyat menuntut pemerintah di pengadilan?”

"Modyar iki...," batinku. Aku cuma senyum-senyum tidak berani menjawabnya. Pelan-pelan kuinjak gas dan kutinggalkan Sasa yang masih cengar-cengir

Sambil jalan, aku jadi teringat warung-warung makan yang tidak lagi menyediakan sambal pedas karena harga cabe rawit yang teramat mahal. Jadi teringat pajak listrik dan harga BBM yang terus naik diikuti kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Jadi teringat jalan tol yang disebut infrastruktur, tapi untuk melewatinya rakyat harus membayar mahal. Jadi teringat berita tentang banyaknya WNA China yang konon masuk secara illegal sebagai tenaga kerja di tambang-tambang dan pabrik-pabrik yang dibangun di daerah terpencil pulau terluar. Jadi teringat sesama politisi yang saling melaporkan ke polisi. Jadi teringat rakyat Indonesia yang seakan saling mengasah pedang dan bersiap saling-bunuh satu sama lain. Ya Allah ....bermacam-macam cerita ngeri itu semoga tidak serius, semoga cuma Hoax.

Sasa Sasa….lagi-lagi pertanyaanmu membuatku ngelu…..




Tidak ada komentar:

Posting Komentar