Rabu, 18 Januari 2017

JADI RAKYAT HARUS SABAR

JADI RAKYAT HARUS SABAR

Sasa, begitulah panggilan temanku yang sehari-harinya berprofesi sebagai juru parkir di warung soto "Kartongali" Jolotundo Jatinom. Nama aslinya Lasono. Entah kenapa dari dulu, sejak kami masih sama-sama sekolah di SMP Muhammadiyah Jatinom, dia sudah dipanggil Sasa. Mungkin ada hubungan historis dengan bumbu masak "Sasa" yang cukup terkenal tahun 70an-80an. Dulu, di masyarakat kami ada budaya memanggil anak-anak dengan nama 'paraban', panggilan yang bukan nama aslinya. Nama 'paraban' biasanya disesuaikan dengan karakter, kesukaan dan kebiasaan, atau bahkan bentuk badan si-anak yang unik. Mungkin dulu Lasono kecil sangat suka makanan yang diberi bumbu masak 'Sasa' sehingga dia dipanggil Sasa hingga hari ini. Mungkin.

Sejak belasan tahun yang lalu, aku sudah biasa bepergian nyetir mobil sendiri ke hampir semua kota di Jawa, bahkan hingga ke Palembang dan Bali. Jangan tanyakan sudah berapa ribu juru parkir kujumpai di setiap tempat aku berhenti. Mereka biasanya hanya mendekat saat kita mau keluar dari parkiran untuk narik ongkos parkir Rp 2.000 - Rp.3.000 dan kadang agak kurang sopan. Tak perlu juga kuceritakan tentang tarif parkir di kapal ferry, atau di bandara Jogja dan Cengkareng, atau di Senayan dan Kemayoran tempat kami biasa ikut pameran produk UKM. Aku hanya ingin bercerita tentang sahabatku Sasa si juru parkir fenomenal di warung soto Kartongali Jolotundo.

Sahabatku Sasa bekerja sejak pukul 6 pagi hingga tutup warung sekitar pukul 14 siang. Sangat profesional kerjanya. Dengan sepenuh hati dan totalitas raganya, dia mengatur setiap mobil dan motor yang hendak parkir dan keluar lagi ke jalan provinsi antara Klaten-Jatinom-Boyolali yang padat. Tak peduli gerimis, hujan, atau panas terik, dia selalu memandu pengendara memarkir kendaraannya hingga rapi dengan bengok-bengok, membungkuk-bungkuk dan menuding-nudingkan jarinya memberi arah ke mana setiran mesti kita arahkan hingga posisi ban mobil sudah benar-benar lurus. Beberapa balok kayu disediakannya untuk  mengganjal ban mobil yang parkir. Sempritan hitam selalu terkalung di lehernya, bendera kecil merah-kuning tergenggam di tangan kirinya. Ketika kendaraan mau keluar, dia sengaja menghalangi agar tidak bergerak dulu sebelum lalu-lintas benar-benar aman. Benar-benar prima pelayanannya. Service-exelent, begitu istilah kerennya. Maka banyak pengunjung warung yang senyum-senyum senang, kagum, salut, dan puas dengan pelayanan Sasa. Mereka pun tidak "eman-eman" memberi uang parkir lebih dari tarif biasa.

Ada yang membuat hatiku trenyuh setelah "gobyos" sarapan soto tadi pagi. Sasa tidak kunjung memberi aba2 agar aku segera meninggalkan parkiran. Dia justru mendekat lalu berkeluh-kesah. Curhat.

"Waduh, Om, salah lagi aku," katanya.

"Salah apa, Sa?" tanyaku.

"Salah pilih lagi," jawabnya.

"Maksudmu?"

"Salah pilih Pemilu, salah pilih Presiden, Gubernur, dan Bupati. 'Jangkep' sudah kesalahanku. Jinguuk...."

Tidak kusangka ternyata Sasa curhat soal politik, bukan sekadar basa-basi tanya hal-hal ringan sambil terus bekerja seperti biasa. 

"'Critane piye', Sa?"

"Om, jelek-jelek begini aku ini satgas parpol besar, lho."

"Iya tahu. Sasa tampak 'sangar banget' kalau lagi bertugas."

"Sudah 'kapok' aku, Om."

"'Kapok piye'?"

"Ya kapok. Gak mau lagi ikut-ikutan jadi satgas dan kumpul 'rhewo-rhewo."

"Paling juga cuma 'kapok lombok'. Sekarang bilang kapok, tapi besok diulang lagi, ikut lagi...."

"Tidak, Om. 'Wis wayahe' menyiapkan diri untuk 'husnul-khotimah'."

"Tenane, Sa? Bagus itu."

"Bener, Om. Aku merasa tidak ada manfaatnya 'nyurung' orang-orang jadi Dewan, jadi Presiden, jadi Gubernur, jadi Bupati."

"Kenapa, Sa?"

"Om, setelah partaiku menang Pemilu, Pilgub, dan Pilkada, kukira hidup kita akan jadi lebih baik. Kukira negara kita jadi lebih tertata. Kikira harga-harga kebutuhan jadi lebih murah. Kukira biaya sekolah jadi lebih murah. Kukira anakku yang  sudah lulus SMK jadi lebih gampang cari pekerjaan. Ternyata tidak. 'Mbelgedhes'. 'Taek kabeh'...."

Sasa tampak benar-benar kecewa. Matanya memerah, kosong pandangannya. Beberapa mobil dan motor yang merapat ke parkiran pun dibiarkannya. 

"Korupsi dan pungli semakin meraja-lela di mana-mana. Pejabat yang seharusnya menjaga dan melindungi kekayaan rakyat, ternyata banyak yang ketangkap KPK, termasuk Bupati kita yang baru 10 bulan menjabat dan sekarang mendekam di penjara. Parah, Om. Maling semua."

"Sabar, Sa, sabar....," kucoba menenangkan hatinya. "Semua orang juga prihatin. Bukan hanya Sasa. 'Akeh kancane'."

"'Nyesel tenan' aku, Om.”

Aku tidak berani ngomong apa-apa lagi. Takut kejebak. Sebenarnya ingin kunasehati Sasa supaya hati-hati kalau ngomong soal politik. Jangan sembarangan. Salah omong sedikit saja bisa jadi bulan-bulanan, dan bisa dianggap  menyebarkan ujaran kebencian.

“Jadi rakyat memang harus sabar ya, Om." 

"Iyalah, Sa. Kalau pun terpaksa 'misuh' ya gak apa-apa."

"Boleh 'misuh', Om?"

"Ya boleh, kalau memang merasa teraniaya. Slow wae, Sa..."

Kuinjak gas pelan-pelan dan kutinggalkan Sasa yang tampak lemas badannya. Entah ada berapa banyak rakyat yang gelisah seperti Sasa sahabatku ini. Sabar ya, Sa.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar