Kamis, 19 Januari 2017

KEROKAN

KEROKAN

"Kok kemarin gak kerja, Sa?" tanyaku begitu Sasa membukakan pintu dan menyilahkan turun dari mobil sebagaimana dia biasa menyambut setiap pengunjung Soto Kartongali hingga kadang aku merasa sungkan sendiri. 

"Wah kemarin njeglek, Om. Masuk angin. Tapi alhamdulillah cukup dikeroki, gak usah ke dokter," jawab Sasa dengan senyum lebarnya.

"Loh, Kamu bisa masuk angin juga to, Sa?" tanyaku menggoda kawan lama.

"Walah, saya ini jalmo-limrah kok, Om. Manusia biasa. Tiap malam mijeti dan ngeroki orang, kadang badan ini butuh pijet dan kerokan juga," jawabnya.

Entah tadi sudah sarapan atau belum, tapi Sasa kulihat tetap gesit menyambut setiap kendaraan yang masuk parkir dan melepas pengunjung warung yang mau keluar parkiran dengan liyak-liyuk tubuhnya, dengan senyum lebarnya, dengan tangan dan bendera kecilnya, dan dengan kata-katanya yang simpatik setelah nerima uang parkir,"Matur nuwun, ngatos-atos." Begitulah Sasa, ia tetap bekerja melayani dengan sepenuh hati dan raganya.

Minggu pagi ini warung Soto Kartongali sangat ramai. Banyak rombongan pesepeda pagi, gowes, dengan keringatnya yg msh mengucur seperti berebut menyantap soto. Sedemikian ramainya sehingga usai makan soto dengan kecapnya yang khas, dengan tempe dan sepotong paha ayam goreng serta beberapa karak (semacam krupuk dari beras), lalu minum segelas teh nasgithel yang nikmat, aku pun segera membayar dan meninggalkan warung. Tidak sempat mat-matan karena harus gantian tempat duduk dengan lain.

"Om, penemu kerokan itu siapa, ya?" tanya Sasa mendekatiku sebelum masuk mobil.

"Memangnya kenapa, Sa? tanyaku balik.

"Kupikir-pikir penemu kerokan itu mesti masuk sorga nanti. Jariyahnya mengalir. Sudah berapa juta orang dari dulu sampai sekarang yang masuk angin lalu sehat bugar dengan kerokan. Hiya to, Om?"

Wah benar juga Sasa ini, pikirku. Selama ini orang tidak pernah terpikir soal itu. Tahunya cuma cara pengobatan warisan nenek-moyang, tidak sampai berpikir siapa penemunya, tidak pernah membayangkan bahwa kerokan itu menjadi amal jariyah penemunya.

Hebat bener Sasa. Ternyata dia bukan hanya juru parkir yang punya kepekaan politik, tapi juga kaya imajinasi dan religiusitas sekaligus.

SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Komentari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar