PENGKHIANAT NEGERI
Tadi
siang, ketika aku sedang asyik menemani 17 orang ibu-ibu dari Klaten berlatih
membuat roti pada sebuah pabrik tepung di Semarang, terdengar beberapa sms
masuk di hp-ku. “Hari gini kok sms, paling juga iklan seperti biasanya,” begitu
pikirku. Memang, aku sudah biasa kecelik
oleh sms. Kadang cuma iklan dari provider supaya kita terus mengisi pulsa,
kadang dari restoran cepat saji atau dari kios roti-waralaba menawarkan program
diskon beli 6 dapat 12, kadang orang iseng minta dikirim pulsa, dan sebagainya.
Makanya tadi aku sengaja cuek, tidak kubuka sms-sms itu hingga acara pelatihan
selesai.
Melihat
suasana pelatihan bersama chef yang sangat trampil tadi jelas menarik. Ibu-ibu
juga antusias belajar dari membuat adonan, memproses fermentasi, membuat
variasi bentuk dan aneka rasa, hingga memasukkannya ke dalam oven. Dalam
beberapa menit, adonan tadi sudah berubah menjadi roti dengan bentuk dan
warnanya yang menarik serta aromanya yang menggairahkan. Ibu-ibu pun tampak
bahagia dan semangat untuk lebih mengembangkan usaha roti di rumahnya
masing-masing. Sambil menikmati roti hangat yang baru keluar dari oven, kubuka
sms satu-persatu dan kubaca dengan seksama. Ya Allah, ternyata ada tiga dari
Sasa sahabatku.
“Om,
nanti malam ada di rumah? Saya mau sowan lagi,” begitu smsnya yang pertama.
“Sejak
kemarin aku hanya di rumah nonton tivi, Om. Males keluar. Ini ada masalah
penting yang harus kuobrolkan dengan Sampeyan,” begitu smsnya yang kedua.
“Kalau
Sampeyan sibuk ya sudah gak apa-apa, Om. Aku maklum, kok. Biarlah kunikmati
kegundahanku ini sendirian,” sms ketiga.
Segera
kubalas bahwa aku sedang ada acara di Semarang sejak tadi pagi dan baru nanti
sore selesai. Mungkin sekitar jam 20.00 WIB nanti malam sudah sampai rumah.
Tapi
Sasa tidak membalas smsku. Mungkin dia tidur atau kehabisan pulsa atau
jangan-jangan mutung karena tiga sms-nya
tadi tak kunjung kubalas, begitu pikirku.
Benar
juga. Mobil carteran berkapasitas 18 penumpang itu sampai di halaman rumahku
tepat pukul 20.00 WIB. Aku pun turun, sementara teman-teman melanjutkan
perjalanan menuju rumahnya masing-masing. Betapa kaget ketika kulihat di teras
rumahku ada sosok laki-laki duduk sambil membolak-balik koran. Ternyata Sasa.
“Sudah
lama, Sa?’ tanyaku.
“Lima
menitan, Om,” jawabnya.
“Kukira
gak jadi, Sa. Tadi gak balas smsku. Tunggu sebentar, ya.” Aku pun masuk rumah
dan minta istriku membuatkan kopi dua gelas.
“Kok
tampak serius banget. Ada masalah apa, Sa?” tanyaku.
“Hehehee….sebenarnya
bukan aku yang punya masalah, Om.”
“Masalah
siapa?”
“Negara
ini.”
“Weeh
lha dalah, elok tenan. Jadi kamu gundah dan gak keluar-keluar rumah
dari kemarin itu karena nggagas Negara, to? Memangnya ada
masalah apa di Negara kita, Sa?”
“Ini
serius lho, Om. Bukan guyon. Bukan ngoyo-woro.”
“Lha
iya, terus apa masalahnya sehingga hatimu jadi gundah-gulana begitu?
Hahahaa…..”
“Wah
Sampeyan ini lho, kura-kura makan tahu.”
“Maksudmu?”
“Pura-pura
tidak tahu, seperti tokoh-tokoh yang suka bicara berbusa-busa di tivi.”
“Lha
memang ada masalah to, Sa?”
“Hasil
Pemilihan Gubernur DKI kemarin itu lho, Om. Aku kok jadi ngeri.”
“Walah,
Sa, mbokya sudah. Itu kan bukan
urusan kita. Orang Jakarta yang punya hak pilih saja ora nggagas,
kok. Mereka oke-oke saja. Kenapa kamu repot?”
“Lha
ya itu masalahnya, Om. Tampaknya orang Jakarta sudah tidak mau diingatkan lagi.
Mereka terlalu yakin dengan pikirannya sendiri, bahkan tidak mempan diingatkan
dengan ayat suci.”
“Begini
lho, Sa. Pemilu, Pilpres, Pilgub, Pilkada, dan Pilkades itu sudah ada kitab
sucinya sendiri. Namanya konstitusi, undang-undang, sudah disepakati dan
disahkan oleh para Wakil Rakyat di DPR. Semua dijalankan berdasarkan konstitusi
itu. Kalau kamu masih mempermasalahkannya atas dasar Kitab Suci, atas dasar
agama yang Kamu yakini, itu justru inkonstitusional.”
“Om,
aku ini memang wong bodho. Aku tidak
tahu konstitusi, tidak tahu apa saja isi undang-undang yang seakan-akan
ampuhnya melebihi Kitab Suci itu, juga tidak tahu siapa saja dan bagaimana cara
menyusunnya. Tapi menurut panggraitaku, Om, kondisi Negara ini
sudah sangat bahaya.”
“Bahaya piye
to?”
“Ason-ason
kabeh. Sembrono. Ngurus Negara kok awur-awuran. Merasa
konstitusional. Diingatkan baik-baik pakai Ayat Suci, malah dibilang
inkonstitusional.”
“Kalau
mau ngingatkan tata-kenegaraan ya harus pakai konstitusi, Sa.”
“Om,
kata guruku dulu, benar itu ada tiga macam. Pertama, bener benere dhewe, yaitu
benar menurut pikirannya sendiri. Itu yang namanya egois. Kedua, bener
benere wong akeh, yaitu benar
menurut kesepakatan orang banyak. Dan yang ketiga, bener kang sejati, yaitu benar menurut ukuran Sang
Pemilik Kebenaran, Yang Maha Benar, Allah SWT.”
“Lha
iya, terus piye, Sa?”
“Kalau
melihat kahanan atau kondisi saat ini, orang hanya memakai jenis kebenaran yang
kedua, bener benere wong akeh. Meskipun salah, tapi kalau
menurut orang banyak sudah benar, ya dianggap benar. Tidak bisa lagi
diganggu-gugat. Ibarat sudah jelas mobil berjalan menuju jurang, tapi para
penumpangnya yakin bahwa jurusan itu sudah benar. Diingatkan pun sudah tidak
percaya. Padahal bisa modar kabeh masuk
jurang, Om….”
“Nggak
segitunya kali. Nyatanya Sila pertama Pancasila masih Ketuhanan Yang Maha Esa
kok, Sa. Belum diganti.”
“Harusnya
sudah diganti, Om. Buat apa lagi Pancasila kalau orang sudah tidak mau percaya
pada Tuhan, tidak mau percaya pada kitab suciNya, tidak mau lagi menggunakan
ukuran baik-buruk, benar-salah, indah-jorok berdasar tuntunan Kanjeng Nabi.”
“Wah
bagus itu, Sa. Bagaimana kalau orang yang tidak setuju dengan Pancasila, tidak
percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, kita suruh minggat saja dari negeri ini, gak
usah jadi rakyat Indonesia?”
“Setuju
aku, Om. Mathuk. Pengkhianat Negara kok semena-mena. Harus
diusir. Kalau tidak, kasihan arwah para pendiri Republik ini.”
Sasa
tampak lega. Sorot matanya sudah mulai normal, tanda kegalauan hatinya sudah
berkurang. Dia pun pamit pulang dengan sepeda jengki tuanya yang berderit-derit
suaranya. Semoga malam ini Sasa bisa pulas tidurnya, besok pagi bisa bertugas
lagi mengatur parkir di warung Soto Kartongali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar