Jumat, 17 Februari 2017

PENGKHIANAT NEGERI


PENGKHIANAT NEGERI

Tadi siang, ketika aku sedang asyik menemani 17 orang ibu-ibu dari Klaten berlatih membuat roti pada sebuah pabrik tepung di Semarang, terdengar beberapa sms masuk di hp-ku. “Hari gini kok sms, paling juga iklan seperti biasanya,” begitu pikirku. Memang, aku sudah biasa kecelik oleh sms. Kadang cuma iklan dari provider supaya kita terus mengisi pulsa, kadang dari restoran cepat saji atau dari kios roti-waralaba menawarkan program diskon beli 6 dapat 12, kadang orang iseng minta dikirim pulsa, dan sebagainya. Makanya tadi aku sengaja cuek, tidak kubuka sms-sms itu hingga acara pelatihan selesai.
Melihat suasana pelatihan bersama chef yang sangat trampil tadi jelas menarik. Ibu-ibu juga antusias belajar dari membuat adonan, memproses fermentasi, membuat variasi bentuk dan aneka rasa, hingga memasukkannya ke dalam oven. Dalam beberapa menit, adonan tadi sudah berubah menjadi roti dengan bentuk dan warnanya yang menarik serta aromanya yang menggairahkan. Ibu-ibu pun tampak bahagia dan semangat untuk lebih mengembangkan usaha roti di rumahnya masing-masing. Sambil menikmati roti hangat yang baru keluar dari oven, kubuka sms satu-persatu dan kubaca dengan seksama. Ya Allah, ternyata ada tiga dari Sasa sahabatku.

“Om, nanti malam ada di rumah? Saya mau sowan lagi,” begitu smsnya yang pertama.
“Sejak kemarin aku hanya di rumah nonton tivi, Om. Males keluar. Ini ada masalah penting yang harus kuobrolkan dengan Sampeyan,” begitu smsnya yang kedua.
“Kalau Sampeyan sibuk ya sudah gak apa-apa, Om. Aku maklum, kok. Biarlah kunikmati kegundahanku ini sendirian,” sms ketiga.

Segera kubalas bahwa aku sedang ada acara di Semarang sejak tadi pagi dan baru nanti sore selesai. Mungkin sekitar jam 20.00 WIB nanti malam sudah sampai rumah.
Tapi Sasa tidak membalas smsku. Mungkin dia tidur atau kehabisan pulsa atau jangan-jangan mutung karena tiga sms-nya tadi tak kunjung kubalas, begitu pikirku.

Benar juga. Mobil carteran berkapasitas 18 penumpang itu sampai di halaman rumahku tepat pukul 20.00 WIB. Aku pun turun, sementara teman-teman melanjutkan perjalanan menuju rumahnya masing-masing. Betapa kaget ketika kulihat di teras rumahku ada sosok laki-laki duduk sambil membolak-balik koran. Ternyata Sasa.

“Sudah lama, Sa?’ tanyaku.

“Lima menitan, Om,” jawabnya.

“Kukira gak jadi, Sa. Tadi gak balas smsku. Tunggu sebentar, ya.” Aku pun masuk rumah dan minta istriku membuatkan kopi dua gelas.

“Kok tampak serius banget. Ada masalah apa, Sa?” tanyaku.

“Hehehee….sebenarnya bukan aku yang punya masalah, Om.”

“Masalah siapa?”

“Negara ini.”

Weeh lha dalah, elok tenan. Jadi kamu gundah dan gak keluar-keluar rumah dari kemarin itu karena nggagas Negara, to? Memangnya ada masalah apa di Negara kita, Sa?”

“Ini serius lho, Om. Bukan guyon. Bukan ngoyo-woro.”

“Lha iya, terus apa masalahnya sehingga hatimu jadi gundah-gulana begitu? Hahahaa…..”

“Wah Sampeyan ini lho, kura-kura makan tahu.”

“Maksudmu?”

“Pura-pura tidak tahu, seperti tokoh-tokoh yang suka bicara berbusa-busa di tivi.”

“Lha memang ada masalah to, Sa?”

“Hasil Pemilihan Gubernur DKI kemarin itu lho, Om. Aku kok jadi ngeri.”

“Walah, Sa, mbokya sudah. Itu kan bukan urusan kita. Orang Jakarta yang punya hak pilih saja ora nggagas, kok. Mereka oke-oke saja. Kenapa kamu repot?”

“Lha ya itu masalahnya, Om. Tampaknya orang Jakarta sudah tidak mau diingatkan lagi. Mereka terlalu yakin dengan pikirannya sendiri, bahkan tidak mempan diingatkan dengan ayat suci.”

“Begini lho, Sa. Pemilu, Pilpres, Pilgub, Pilkada, dan Pilkades itu sudah ada kitab sucinya sendiri. Namanya konstitusi, undang-undang, sudah disepakati dan disahkan oleh para Wakil Rakyat di DPR. Semua dijalankan berdasarkan konstitusi itu. Kalau kamu masih mempermasalahkannya atas dasar Kitab Suci, atas dasar agama yang Kamu yakini, itu justru inkonstitusional.”

“Om, aku ini memang wong bodho. Aku tidak tahu konstitusi, tidak tahu apa saja isi undang-undang yang seakan-akan ampuhnya melebihi Kitab Suci itu, juga tidak tahu siapa saja dan bagaimana cara menyusunnya. Tapi menurut panggraitaku, Om, kondisi Negara ini sudah sangat bahaya.”

“Bahaya piye to?”

Ason-ason kabeh. Sembrono. Ngurus Negara kok awur-awuran. Merasa konstitusional. Diingatkan baik-baik pakai Ayat Suci, malah dibilang inkonstitusional.”

“Kalau mau ngingatkan tata-kenegaraan ya harus pakai konstitusi, Sa.”

“Om, kata guruku dulu, benar itu ada tiga macam. Pertama, bener benere dhewe, yaitu benar menurut pikirannya sendiri. Itu yang namanya egois. Kedua, bener benere wong akeh, yaitu benar menurut kesepakatan orang banyak. Dan yang ketiga, bener kang sejati, yaitu benar menurut ukuran Sang Pemilik Kebenaran, Yang Maha Benar, Allah SWT.”

“Lha iya, terus piye, Sa?”

“Kalau melihat kahanan atau kondisi saat ini, orang hanya memakai jenis kebenaran yang kedua, bener benere wong akeh. Meskipun salah, tapi kalau menurut orang banyak sudah benar, ya dianggap benar. Tidak bisa lagi diganggu-gugat. Ibarat sudah jelas mobil berjalan menuju jurang, tapi para penumpangnya yakin bahwa jurusan itu sudah benar. Diingatkan pun sudah tidak percaya. Padahal bisa modar kabeh masuk jurang, Om….”

“Nggak segitunya kali. Nyatanya Sila pertama Pancasila masih Ketuhanan Yang Maha Esa kok, Sa. Belum diganti.”

“Harusnya sudah diganti, Om. Buat apa lagi Pancasila kalau orang sudah tidak mau percaya pada Tuhan, tidak mau percaya pada kitab suciNya, tidak mau lagi menggunakan ukuran baik-buruk, benar-salah, indah-jorok berdasar tuntunan Kanjeng Nabi.”

“Wah bagus itu, Sa. Bagaimana kalau orang yang tidak setuju dengan Pancasila, tidak percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, kita suruh minggat saja dari negeri ini, gak usah jadi rakyat Indonesia?”

“Setuju aku, Om. Mathuk. Pengkhianat Negara kok semena-mena. Harus diusir. Kalau tidak, kasihan arwah para pendiri Republik ini.”

Sasa tampak lega. Sorot matanya sudah mulai normal, tanda kegalauan hatinya sudah berkurang. Dia pun pamit pulang dengan sepeda jengki tuanya yang berderit-derit suaranya. Semoga malam ini Sasa bisa pulas tidurnya, besok pagi bisa bertugas lagi mengatur parkir di warung Soto Kartongali.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar