Rabu, 08 Februari 2017

HARGA DIRI

HARGA DIRI

“Om, saya pamit besok gak kerja 3 hari,” kata Sasa setelah memandu parkirku pagi tadi.

“Memang mau ke mana, Sa?” tanyaku sambil turun dari mobil.

“Mau berangkat ke Jakarta dengan teman-teman.”

“Weeh....ada acara apa? Piknik?”

“Wah Sampeyan ini bagaimana? Saya mau ikut Aksi-112 di Monas dan Bundaran HI, Om. Besok siang berangkat ramai-ramai naik bus,” kata Sasa mantap. 

Tenane, Sa? Kamu mau ikut aksi umat Islam di Jakarta? Elok. Piye critane, Sa?,” tanyaku belum percaya mendengar rencana Sasa. 

Setahuku, selama ini dia termasuk temanku yang cukup aktif mengikuti kegiatan dan kampanye-kampanye partai. Dulu sering kulihat dia pakai seragam satgas hitam-hitam, pakai baret merah dan bersepatu ala tentara, berkacamata hitam, bergerombol dengan teman-temannya atau sedang mengatur jalan yang dilalui para peserta konvoi. Sungguh, Sasa tampak gagah dan sangar di mataku. 

“Aku sudah insyaf, Om. Kapok ikut ubyang-ubyung orang-orang politik. Diapusi thok,” katanya. 

“Weeh elok..."

“Aku sekarang lebih percaya pada ngendikane para alim-ulama, Om. Memang dulu aku ndugal, tapi sekarang wis wayahe kumpul karo wong-wong kang sholeh. Kita ini sudah tidak muda lagi,” kata Sasa sembari bergerak sigap memandu mobil yang datang dengan bendera kecilnya, dengan liyak-liyuk tubuhnya, dengan nuding-nudingkan telunjuknya, dengan suaranya yang bengok-bengok, dan dengan senyumnya yang selalu lepas dan lebar.

Aku pun segera masuk ke warung dan duduk di meja paling dekat dengan tempat Kang Panut meracik mangkok-mangkok soto. Tempat favoritku itu kebetulan lagi kosong karena warung belum terlalu ramai. Piring-piring berisi tahu goreng, tempe goreng, perkedel, dan mentho masih terjajar rapi. Masih penuh isinya. Semangkok sambel dan dua botol kecap Gito Birun juga masih utuh. Kaleng karak dan kerupuk juga masih penuh. Tidak berapa lama, semangkok soto dan segelas teh nasgithel pun terhidang di depanku dan segera kusantap. Alangkah nikmatnya.

Sasa, mungkin tadi dia hanya bermaksud cerita biasa saja. Tapi sejujurnya, kata-kata Sasa sungguh menohok perasaanku. Masing terngiang ungkapannya kapok, diapusi thok, percaya ngendikane para alim-ulama, dan wis wayahe kumpul karo wong-wong kang sholeh. Apakah sedemikian drastisnya perubahan diri Sasa, pada hati, pikiran, dan mentalnya? 

Aku sendiri sama-sekali belum tergerak untuk ikut terjun aksi di Jakarta karena masih banyak pekerjaaan dan tanggungjawab yang bisa kukerjakan di sini. Tetapi Sasa, sahabatku yang secara lahiriyah tampak bernasib tidak lebih baik dariku, juga tampak biasa saja dalam menjalankan ibadah sehari-hari, justru punya kesadaran untuk ikut berkontribusi dalam aksi membela harga diri wong cilik, harga diri umat Umat Islam serta para Ulama yang selalu difitnah, direndahkan, dan dipinggirkan.

Aku jadi teringat jaman masih di kampus dulu suka berdiskusi dengan teman-temanku. Kami suka mengamati perilaku manusia, mengkritisi teman-teman sendiri, nyinyir pada alim-ulama yang sok-suci dalam pandangan kami, mendiskusikan kondisi umat yang masih bodoh menurut referensi yang kami baca, serta mengkritisi pemerintah yang represif dan membungkam aspirasi rakyat. Sampai hari ini pun, aku dan teman-temanku masih istiqamah sebagai pengamat tanpa pernah tergerak untuk ikut menyelami realitas umat di dusun-dusun atau pinggiran perkotaan, juga tidak berempati pada kerja keras para dai dan guru ngaji yang tak takut panas tak takut hujan terus telaten mengajari umat membaca Kitab Suci serta menjaga keimanan dan akidahnya.

Ah Sasa, pagi ini aku betul-betul malu menatap wajahmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar