Jumat, 03 Februari 2017

MANUSIA VVIP

MANUSIA VVIP

“Jadi orang kaya itu enak ya, Om,” kata Sasa sambil mulai mijat kakiku tadi malam.

“Enak bagaimana?”

“Ya enak. Pengin apa saja keturutan. Orang penting,” jawabnya.

“Maksudmu piye, Sa? Nyindir aku, to?”

“Wah, bukan, Om. Ini soal pengalamanku melayani banyak orang, kok,“ jawabnya.

Sasa mulai bercerita tentang tamu-tamu parkirnya di warung Soto Kartongali yang bermacam-macam penampilan dan watak. Ada yang semanak, ramah, khas orang desa.  Ada pejabat penting yang datang naik mobil plat merah bersama bawahannya yang mundhuk-mundhuk. Ada yang seperti boss naik mobil mewah, suka minta tempat parkir pas di depan warung, dan belum mau turun kalau belum dibukakan pintu mobilnya. Dia juga bercerita tentang pasien-pasien pijatnya. Ada yang rumahnya sederhana dan hidupnya pas-pasan, tapi tidak eman-eman ngasih minum teh nasgithel dan makanan. Ada yang kaya-raya dan suka cerita tentang kekayaannya, tentang anak-anaknya yang selalu juara di sekolah, tetapi orangnya sangat pelit. 

“Pokoknya aneh-anehlah, Om. Tapi semua kulayani sama baiknya, tidak kubeda-bedakan.  Orang biasa, orang kaya, orang penting, atau rakyat jelalatan, semua harus merasa nyaman dan aman bersama Sasa…..hahahaa….” gayanya khas juru pijat.

“Terus, masalahmu dengan orang kaya dan penting tadi apa, Sa?” aku masih penasaran dengan istilahnya. Soal cara Sasa melayani tamu parkir, aku sudah biasa melihatnya. Dengan bendera kecil warna merah-orange itu dia beri aba-aba sambil bengok-bengok tanpa sempritan, dengan tubuhnya membungkuk-bungkuk, dengan jari tangan kanannya menuding-nuding arah setiran dan tangan kirinya memegang paving untuk dipakai mengganjal ban bila mobil sudah berhenti pada posisi yang tepat. Bila tamunya mau keluar, baik yang naik mobil atau sepeda motor, dia akan pastikan dulu lalu-lintas sudah aman, baru boleh tamu beranjak pergi. Tapi soal pasien-pasien pijatnya, baru kali ini Sasa mau bercerita. 

“Teman kita si-Nasir itu hebat betul ya, Om,” disebutnya nama salah satu teman sekolah kami dulu.

“Ya Alhamdulillah to, Sa. Ada teman kita yang sukses.”

“Sukses bisnisnya. Toko-tokonya laris. Kaya-raya dia. Pantas  kalo besok dia mau maju pemilihan Bupati Klaten.”

“Wah, bagus idemu. Didorong saja, Sa.”

“Bukan ideku, Om. Itu Nasir sendiri yang ngomong waktu kupijat minggu lalu. Mungkin dia akan maju pada Pilbub nanti.”

“Kesempatan itu, Sa.”

“Kesempatan apa, Om?”

“Ya kesempatan merubah nasib.”

“Wah ada-ada saja Om ini. Merubah nasib pripun?”

“Sa, di Jakarta dulu pernah ada seorang juru pijat persis seperti kamu ini. Ndilalah terjadi wolak-waliking jaman, terjadi reformasi, terjadi ontran-ontran dan perubahan besar-besaran di negeri ini. Salah satu pelanggannya yang seorang tokoh Nasional  dumadakan jadi Presiden.”

“Terus, Om…”

“Juru pijat yang semula tiap hari melayani panggilan ke seantero Jakarta itu mendadak jadi juru pijat kepresidenan, jadi orang penting di Istana Negara. Bayangkan, Sa, juru pijat di Istana Negara.”

“Terus, Om…”

“Nah, dia tidak lagi nerima upah amplopan sekadarnya dari pasien, tetapi digaji Negara dan biasa nerima tips-tips uang dolar dari para pejabat tinggi dan tamu-tamu Negara. Kaya-raya, Sa, jadi milyuner dia.”

“Wah asyik itu, Om.”
“Sasa juga bisa memperbaiki nasib seperti dia. Bayangkan, Sa, kalau si-Nasir pelanganmu itu nanti jadi Bupati, kamu bisa jadi juru pijat Bupati merangkap koordinator juru parkir se-Kabupaten. Jadi orang sangat penting kamu,  Sa, alias VVIP. Piye jal….?”

“Hahahaaaa….oalah, Om Om. Tangeh-lamun. Tidak mungkin itu terjadi padaku,” kata Sasa sambil terus mijat punggungku.

"Ya mungkin saja, Sa. Makanya doronglah dia supaya lebih serius persiapannya sejak sekarang." 

“Kemarin dia cerita tentang bisnisnya, tentang perputaran uangnya setiap hari, tentang bank-bank yang hampir tiap hari datang nawarkan kredit, tentang persaingan bisnisnya dengan toko-toko lain tetapi bisa dimenangkannya. Salut tenan aku.”

“Wah, berarti kamu masih dianggap teman dekat, Sa. Makanya dia mau cerita hal-hal yang mungkin jarang diceritakan pada orang lain.”

“Ada juga omongan Nasir kemarin yang bikin aku penasaran, Om.”

 “Ngomong piye?”

“Tentang keberhasilannya menduduki jabatan di beberapa organisasi setelah orang-orang melihatnya sukses dan kaya. Jadi orang penting yang diperebutkan banyak organisasi. Bahkan katanya, ada satu organisasi yang mempercayakan beberapa posisi penting padanya karena di organisasi itu  memang tidak ada orang yang punya kemampuan seperti dia. Itu bener apa tidak to, Om?”

“Wah ya aku gak tahu, Sa. Setiap organisasi kan punya aturan mainnya sendiri-sendiri,” jawabku.

“Apa dia memang sehebat itu ya, Om? Bisa rangkap-rangkap jabatan. Cara membagi waktu dan pikirannya bagaimana? Penasaran aku. Kok ampuh, ya.”

 “Gak usah gumun, Sa. Dalam organisasi itu semua keputusan didasarkan pada peraturan atau aturan main yang jelas dan sudah dipahami bersama. Selama aturan membolehkan, bisa saja seseorang rangkap-rangkap jabatan. Menjadi Ketua Dewan Pembina merangkap Sekretaris atau Bendahara, juga merangkap Direktur perusahaan milik orgaisasi itu, sekalian merangkap Pengawas, atau mungkin masih merangkap sebagai Ketua cabang atau anak-cabang. Tidak masalah, Sa, boleh-boleh saja selama aturan organisasi itu memungkinkan. Dengan posisinya itu dia semakin kuat dan bisa melakukan apa saja, termasuk memecat orang yang dipandang tidak sejalan dengan pikirannya.”

“Jadi 'hangabehi' ya, Om? Tapi apa gak saru? 

 Saru bagaimana, Sa? Itu soal aturan organisasi, kok. Bukan soal saru dan tidak saru, bukan soal pantas dan tidak pantas, tetapi soal boleh atau tidak menurut aturan organisasi. Soal saru itu kan tergantung pada hati dan mental orangnya, Sa.”

Pijat sudah selesai. Kami melanjutkan ngobrol sambil menikmati wedangan kopi semendo dan pisang goreng panas buatan istriku.

“Tidak mudheng aku, Om. Terserah sajalah si-Nasir itu mau jadi apa saja yang penting dia masih mau sesekali ngundang aku ke rumahnya, dan menjelang lebaran masih mengirimiku bingkisan lebaran,” kata Sasa sambil menghisap kretek di tangannya.

“Nah bener itu, Sa. Doakan saja teman kita semakin sukses dan kita ikut bangga. Syukur-syukur dia nanti jadi Bupati beneran. Kamu bisa ikut mulyo, Sa…..hahahaaa….”

Sasa pun pamitan, katanya mau neruskan mijat Pak Anwar di kota Jatinom. Beruntung cuaca sedang baik, tidak hujan. Matur nuwun, Sa. Kamulah manusia VVIP yang tetap rendah hati.......







Tidak ada komentar:

Posting Komentar