MANUSIA VVIP
“Jadi orang
kaya itu enak ya, Om,” kata Sasa sambil mulai mijat kakiku tadi malam.
“Enak bagaimana?”
“Ya enak.
Pengin apa saja keturutan. Orang penting,” jawabnya.
“Maksudmu piye, Sa? Nyindir aku, to?”
“Wah, bukan, Om. Ini soal pengalamanku melayani banyak orang, kok,“ jawabnya.
Sasa mulai
bercerita tentang tamu-tamu parkirnya di warung Soto Kartongali yang
bermacam-macam penampilan dan watak. Ada yang semanak, ramah, khas orang desa. Ada pejabat penting yang datang naik mobil
plat merah bersama bawahannya yang mundhuk-mundhuk.
Ada yang seperti boss naik mobil mewah, suka minta tempat parkir pas di depan
warung, dan belum mau turun kalau belum dibukakan pintu mobilnya. Dia juga
bercerita tentang pasien-pasien pijatnya. Ada yang rumahnya sederhana dan hidupnya
pas-pasan, tapi tidak eman-eman
ngasih minum teh nasgithel dan
makanan. Ada yang kaya-raya dan suka cerita tentang kekayaannya, tentang
anak-anaknya yang selalu juara di sekolah, tetapi orangnya sangat pelit.
“Pokoknya aneh-anehlah,
Om. Tapi semua kulayani sama baiknya, tidak kubeda-bedakan. Orang biasa, orang kaya, orang penting, atau rakyat
jelalatan, semua harus merasa nyaman dan aman bersama Sasa…..hahahaa….” gayanya
khas juru pijat.
“Terus, masalahmu
dengan orang kaya dan penting tadi apa, Sa?” aku masih penasaran dengan istilahnya.
Soal cara Sasa melayani tamu parkir, aku sudah biasa melihatnya. Dengan bendera
kecil warna merah-orange itu dia beri aba-aba sambil bengok-bengok tanpa sempritan, dengan tubuhnya membungkuk-bungkuk, dengan
jari tangan kanannya menuding-nuding arah setiran dan tangan kirinya memegang
paving untuk dipakai mengganjal ban bila mobil sudah berhenti pada posisi yang
tepat. Bila tamunya mau keluar, baik yang
naik mobil atau sepeda motor, dia akan pastikan dulu lalu-lintas sudah aman,
baru boleh tamu beranjak pergi. Tapi soal pasien-pasien pijatnya, baru kali ini Sasa mau bercerita.
“Teman kita si-Nasir
itu hebat betul ya, Om,” disebutnya nama salah satu teman sekolah kami dulu.
“Ya Alhamdulillah
to, Sa. Ada teman kita yang sukses.”
“Sukses
bisnisnya. Toko-tokonya laris. Kaya-raya dia. Pantas kalo besok dia mau maju pemilihan Bupati
Klaten.”
“Wah, bagus idemu.
Didorong saja, Sa.”
“Bukan
ideku, Om. Itu Nasir sendiri yang ngomong waktu kupijat minggu lalu. Mungkin dia akan maju pada Pilbub nanti.”
“Kesempatan itu,
Sa.”
“Kesempatan
apa, Om?”
“Ya kesempatan
merubah nasib.”
“Wah ada-ada
saja Om ini. Merubah nasib pripun?”
“Sa, di Jakarta dulu pernah ada seorang juru pijat persis seperti kamu ini. Ndilalah terjadi wolak-waliking jaman, terjadi
reformasi, terjadi ontran-ontran dan perubahan besar-besaran di negeri ini. Salah satu pelanggannya yang seorang
tokoh Nasional dumadakan jadi Presiden.”
“Terus, Om…”
“Juru pijat
yang semula tiap hari melayani panggilan ke seantero Jakarta itu mendadak jadi
juru pijat kepresidenan, jadi orang penting di Istana Negara. Bayangkan, Sa,
juru pijat di Istana Negara.”
“Terus, Om…”
“Nah, dia
tidak lagi nerima upah amplopan sekadarnya
dari pasien, tetapi digaji Negara dan biasa nerima tips-tips uang dolar dari
para pejabat tinggi dan tamu-tamu Negara. Kaya-raya, Sa, jadi milyuner dia.”
“Wah asyik
itu, Om.”
“Sasa juga
bisa memperbaiki nasib seperti dia. Bayangkan, Sa, kalau si-Nasir pelanganmu itu nanti jadi Bupati, kamu bisa jadi juru pijat Bupati merangkap koordinator
juru parkir se-Kabupaten. Jadi orang sangat penting kamu, Sa, alias VVIP. Piye jal….?”
“Hahahaaaa….oalah,
Om Om. Tangeh-lamun. Tidak mungkin
itu terjadi padaku,” kata Sasa sambil terus mijat punggungku.
"Ya mungkin saja, Sa. Makanya doronglah dia supaya lebih serius persiapannya sejak sekarang."
“Kemarin dia cerita tentang bisnisnya, tentang perputaran uangnya setiap hari, tentang
bank-bank yang hampir tiap hari datang nawarkan kredit, tentang persaingan bisnisnya
dengan toko-toko lain tetapi bisa dimenangkannya. Salut tenan aku.”
“Wah, berarti
kamu masih dianggap teman dekat, Sa. Makanya dia mau cerita hal-hal yang
mungkin jarang diceritakan pada orang lain.”
“Ada
juga omongan Nasir kemarin yang bikin aku penasaran, Om.”
“Ngomong piye?”
“Tentang keberhasilannya menduduki jabatan
di beberapa organisasi setelah orang-orang melihatnya sukses dan kaya. Jadi orang penting yang diperebutkan banyak organisasi. Bahkan katanya, ada satu organisasi
yang mempercayakan beberapa posisi penting padanya karena di organisasi itu memang tidak ada orang yang punya kemampuan seperti dia. Itu bener apa tidak to, Om?”
“Wah ya aku
gak tahu, Sa. Setiap organisasi kan punya aturan mainnya sendiri-sendiri,” jawabku.
“Apa dia memang
sehebat itu ya, Om? Bisa rangkap-rangkap jabatan. Cara membagi waktu dan pikirannya bagaimana? Penasaran aku. Kok ampuh, ya.”
“Gak usah gumun, Sa. Dalam organisasi itu semua
keputusan didasarkan pada peraturan atau aturan main yang jelas dan sudah
dipahami bersama. Selama aturan membolehkan, bisa saja seseorang rangkap-rangkap
jabatan. Menjadi Ketua Dewan Pembina merangkap Sekretaris atau Bendahara, juga merangkap
Direktur perusahaan milik orgaisasi itu,
sekalian merangkap Pengawas, atau mungkin masih merangkap sebagai Ketua cabang atau anak-cabang. Tidak masalah,
Sa, boleh-boleh saja selama aturan organisasi itu memungkinkan. Dengan posisinya itu dia semakin kuat dan bisa melakukan apa saja, termasuk memecat orang yang dipandang tidak sejalan dengan pikirannya.”
“Jadi 'hangabehi' ya, Om? Tapi apa gak saru?
“Saru
bagaimana, Sa? Itu soal aturan organisasi, kok. Bukan soal saru dan tidak saru,
bukan soal pantas dan tidak pantas, tetapi soal boleh atau tidak menurut aturan
organisasi. Soal saru itu kan
tergantung pada hati dan mental orangnya, Sa.”
Pijat sudah
selesai. Kami melanjutkan ngobrol sambil menikmati wedangan kopi semendo dan
pisang goreng panas buatan istriku.
“Tidak mudheng aku, Om. Terserah sajalah si-Nasir
itu mau jadi apa saja yang penting dia masih mau sesekali ngundang aku ke
rumahnya, dan menjelang lebaran masih mengirimiku bingkisan lebaran,” kata Sasa
sambil menghisap kretek di tangannya.
“Nah bener itu,
Sa. Doakan saja teman kita semakin sukses dan kita ikut bangga.
Syukur-syukur dia nanti jadi Bupati beneran. Kamu bisa ikut mulyo, Sa…..hahahaaa….”
Sasa pun
pamitan, katanya mau neruskan mijat Pak Anwar di kota Jatinom. Beruntung cuaca sedang baik, tidak hujan. Matur nuwun, Sa. Kamulah manusia VVIP yang tetap rendah hati.......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar