Selasa, 22 Mei 2018

KHOTBAH JUMAT

KHOTBAH JUMAT

Akhirnya pagi itu aku berhasil berbuka “puasa nyoto Kartongali” setelah kurang-lebih satu tahun tidak ke sana. Warung soto paling legendaris di kawasan Jolotundo Jatinom itu memang jarang sepi terutama di pagi hari. Sedemikian larisnya hingga setiap kali aku lewat dan ingin mampir selalu gagal karena parkiran penuh. Tapi pagi itu sepulang dari ngantar sekolah anak, parkiran tampak longgar, maka aku pun langsung merapat tepat di depan pintu masuk dipandu Sasa si-juru parkir teladan tingkat Nasional.

Semangkok soto ayam dengan lauk perkedel, tempe, karak, dan difinishing dengan segelas teh nasgithel alangkah nikmat terasa. Luar biasa. Kemepyar. “Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang Engkau dustakan?,” begitu pertanyaan berulang-ulang dari Tuhan. Tapi karena itu pertanyaan retoris, maka hanya bisa kujawab dengan menirukan para mubaligh mengawali tausiyahnya, “Alhamdulillah wasyukrulillah, segala puja-puji dan syukur hanya untuk Allah SWT”.

Sebenarnya aku mau langsung pulang seusai sarapan, tapi Sasa tidak memberiku jalan untuk keluar dengan aba-abanya yang atraktif seperti waktu aku masih sering ke sana.

“Sebentar, Om. Jangan pergi dulu. Aku ingin curhat,” katanya.

“Mbok ke rumah saja nanti sore, Sa,” kataku sambil menghidupkan mesin.

“Tidak, Om. Sekarang saja. Darurat ini. Mumpung ketemu,” Sasa mendekat.

“Begini, Om. Sudah sejak beberapa bulan ini aku diminta khotbah Jumat di mesjid kampungku sendiri. Kebetulan besok Jumat Pahing pas jadwalku,” Sasa mulai bercerita.

“Waoow….elok temen kamu, Sa. Hebat itu. Lanjutkan…..”

Salut. Tampaknya Sasa yang sekarang memang sudah jauh berbeda dengan Sasa beberapa tahun lalu. Ternyata dia sungguh-sungguh ketika dulu menyatakan sudah insyaf dan kapok ikut kelompok rewo-rewo, lalu aktif ikut pengajian-pengajian, bahkan kemudian juga ikut aksi umat Islam di Jakarta 411 dan 212. Kukira waktu itu Sasa hanya ikut-ikutan berangkat ke Istiqlal dan Monas karena pengin melihat Ibu Kota. Ternyata tidak. "Batavia harus kita bebaskan dari cengkeraman kumpeni," katanya.

“Sejak kemarin saya jadi ngeri, Om. Harus bagaimana ini? Apa harus kubatalkan jadwal khotbahku?”

“Loh ada apa, Sa? Kalau sudah terjadwal sebagai khotib, berarti Sasa memang sudah dipercaya dan dijagakke oleh jamaah, lho,” kataku.

“Om, Njenengan pasti tahu bahwa sejak beberapa waktu lalu kabarnya pencaramah agama dan khotib Jumat akan ditata oleh Pemerintah. Bahkan, beberapa hari terakhir ini konon Pengawas Pemilu yang akan membuatkan teks khotbah Jumat.”
 
“Kabarnya memang begitu, Sa. Terus apa masalahnya?”

"Njenengan kan tahu, Om, sebenarnya saya ini sama sekali tidak punya cukup ilmu dan keahlian pidato, tapi terpaksa mau jadi khotib Jumat karena dipaksa masyarakat.”

“Ya dilakoni dengan ikhlas wae to, Sa.”

“Bukan itu masalahnya, Om. Masyarakat kampung saya saat ini sedang semangat-semangatnya beribadah. Tua, muda, remaja, anak-anak, semua rajin ke mesjid yang baru selesai kami bangun. Lalu masyarakat pengin ngadakan Jumatan sendiri, tidak lagi ikut Jumatan di kampung sebelah.”

“Wah apik kuwi, Sa. Alhamdulillah….”

“Yang namanya Jumatan kan harus ada khotibnya, Om.”

“Ya iyalah, Sa.”

“Saya termasuk yang ketiban sampur harus khotbah setiap Jumat Pahing dan Jumat Kliwon. Tidak bisa menolak, Om. Maka saya pun terus belajar, kulakan ilmu untuk dibagikan ke jamaah.”

“Bagus itu, Sa. Memang harus begitu.”

“Tapi sekarang saya jadi takut. Jangan-jangan khotbah saya nanti dianggap membodohi jamaah? Jangan-jangan saya nanti dianggap menebarkan kebencian, mengancam persatuan-kesatuan bangsa, tidak pro-kebhinekaan, anti-Pancasila, dan anti-NKRI.  Lalu tahu-tahu saya diciduk. Ngeri to, Om?”

“Lha kok mikirmu sampai segitu to, Sa?” tanyaku dengan nahan ekspresi gumun pada sahabatku yang semakin kritis ini.  Tidak kuduga Sasa akan sejauh itu.

“Apa Pemerintah, Kemenag, dan Bawaslu bisa nyediakan khotib untuk seluruh mesjid, baik di kota maupun di desa dan kampung-kampung? Apa Pemerintah akan merekrut khotib secara besar-besaran lalu diadakan penataran paket 100 jam seperti jaman Penataran P4 dulu, lalu hanya khotib yang sudah bersertifikat yang boleh khotbah dan digaji oleh Pemerintah? Memangnya Pemerintah cukup punya duit untuk itu? Lha hutangnya saja semakin menggunung to, Om. Aku sih gak masalah. Malah beneran bisa terbebas dari kewajiban khotbah. Monggo, silahkan Pemerintah nerjunkan khotib. Tapi jangan sampai yang terjadi justru kesengajaan mematikan inisiatif dan swadaya masyarakat. Bisa gawat. Om.”

Sasa masih neruske ngomyang dan aku hanya terdiam tak berani merespon. Beruntung ada mobil datang mau merapat parkir dan Sasa langsung bergerak menyambutnya. Pelan-pelan kupancal pedal gasku meninggalkannya.

“Bali sik yho, Sa,” kulambaikan tanganku kepadanya.

#serialsasa

Minggu, 06 Mei 2018

NYADRAN

NYADRAN

Nyadran adalah tradisi masyarakat Jawa menjelang bulan Ramadhan tiba. Orang beramai-ramai mengunjungi pesarean tempat keluarganya dimakamkan dengan membawa sapu, cangkul, sabit, cengkrong, dan alat-alat yang diperlukan untuk membersihkan makam. Setelah makam bersih lalu ditaburi bunga mawar atau melati untuk pewangi. Biasanya setelah itu orang-orang duduk khusyuk mendoakan arwah almarhum/almarhumah agar diampuni dosanya dan mendapat tempat terbaik di aisiNya.

Rangkaian kegiatan itu juga disebut besik. Dulu di beberapa tempat biasa dijumpai orang-orang membakar kemenyan sebelum berdoa. Suasanapun jadi magis.

Seusai besik, orang-orang pulang ke rumah masing-masing untuk berganti pakaian dan mengambil ambeng atau tumpeng serta aneka kue pelengkap seperti tape ketan, jadah, apem, wajik, lemet, kacang godhok, dan buah-buahan. Mereka berkumpul di bangsal dekat makam, duduk bersila menghadap ambengnya masing-masing. Setelah semua warga berkumpul, termasuk para perantau yang sempat mudik nyadran, tahlilan dan doa dipimpin seorang kaum pun dimulai. Usai tahlilan dan doa  dilanjutkan makan bersama. Orang bebas memilih semua makanan yang ada atau cukup makan dari ambeng yang dibawanya dari rumah. Inilah saat anak-anak bersuka-cita berebut makanan yang diinginkan dan sudah dilirak-liriknya sambil ikut tahlilan tadi.

“Wah nyadran kali ini lebih ramai dari tahun lalu, Om. Ndelalah pas hari Minggu, anak-anak sekolah pada libur,” Sasa mengawali ceritanya.

“Anak-anak ikut besik di sarean, Sa?, tanyaku.

“Hiya, Om. Tapi namanya anak-anak, mereka bukannya ikut bersih-bersih makam.”

“Dho dolanan?”

“Mencari ketonggeng, Om. Tumpukan-tumpukan batu bata di sekitar makam dibongkarinya. Kulihat mereka dapat beberapa ekor lalu diwadahi pakai toples Aku juga gak mudheng mau buat apa ketonggeng. Kukira untuk tugas sekolah. Aku cuma khawatir kalau mereka dientup pasti sakit luar biasa.”

“Kamu gak tanya, Sa?”

“Tanya, Om. Katanya mau diternak. Anak jaman sekarang makin aneh-aneh ya, Om. Ketonggeng mau diternak. Tenanan ato cengengesan to, Om?”

Tampaknya kali ini Sasa kurang update berita. Tumben. Jadinya gak mudheng melihat fenomena anak-anak berburu kalajengking. Berita mutakhir yang bikin heboh jagad maya dan jagad politik kok sampai gak paham. “Ah Sasa...kok tumben ketinggalan isu penting,” batinku.

“Kamu ngapain aja seminggu ini, Sa? Apa gak lihat berita di tivi, atau diceritai ponakanmu yang rajin baca berita di internet?

“Tiviku rusak, Om. Belum kuserviske. Ndelalah semingguan ini ponakan juga gak nongol. Lha ada isu apa to, Om?”

“Ngene lho, Sa. Anak-anak yang berburu ketonggeng itu mesti gara-gara dengar saran Presiden kepada para Bupati dan Wali Kota.”

“Saran apa, Om?”

“Para Bupati dan Walikota supaya mengembangkan komoditas yang bernilai jual sangat tinggi, yaitu racun kalajengking alias ketonggeng.”

“Ah mosok Pak Presiden ngasih saran gitu, Om?”

"Kandyani kok. Konon, harga racun itu per ons bisa sampai 135 Milyar.”

“Paling itu cuma guyon, Om.”

“Guyon piye? Di farum resmi lho, Sa.”

“Ya meskipun di forum resmi, tapi piye-piye Presiden kita itu wong Jowo, Om. Kadang kalau ngendikan pakai sanepan, perumpamaan, istilah ponakanku pakai metamor.”

“Metafor?"

“Ya pokoknya pakai for for gitulah."

"Terus, Sa...."

"Mari coba kita pahami kata kalajengking itu. Kala, berarti waktu, saat. Jengking, berarti jatuh. Kata kalajengking bisa diartikan waktu/saat jatuh, waktu ketika kita terpaksa turun dari posisi saat ini, saat kita hanya bisa diam saja dan tidak bergerak.”

“Artinya, Sa?”

“Mungkin Pak Presiden bermaksud mengingatkan para Bupati dan Walikota supaya tansah eling lan waspada bahwa masa jabatannya cuma sebentar sehingga harus rajin-rajin kerja  keras untuk mensejahterakan rakyatnya. Jangan leha-leha nyantai menunggu saat jatuh terjerembab. Jangan enak-enak nglumpukke  duit dengan cara korupsi. Sebab kalau jatuh bisa terasa menyakitkan seperti racun ketonggeng.”

Wah ini....tafsir yang bagus dan cerdas. Kalau benar kata Sasa bahwa itu sanepan, alangkah dungunya orang-orang yang nyinyir dan mencibir soal kalajengking. Tapi kalau bukan sanepan, alias sungguhan, betapa habat anak-anak jaman NOW. Sangat peka dan cepat tanggap terhadap peluang bisnis dan komoditas yang bernilai WAOW.

Ahh, Sasa. Tak mungkin kujelaskan bahwa secara ilmiah racun ketonggeng memang punya khasiat yang dahsyat untuk ngobati kanker. Tak mungkin juga kujelaskan karena sedemikian sulitnya beternak kalajengking dan teknis pengambilan racunnya sehingga harga racun jadi sangat muahal, jauh lebih mahal dari harga emas.

Ahh, Sasa. Janjane aku yho ora mudheng je....