Minggu, 06 Mei 2018

NYADRAN

NYADRAN

Nyadran adalah tradisi masyarakat Jawa menjelang bulan Ramadhan tiba. Orang beramai-ramai mengunjungi pesarean tempat keluarganya dimakamkan dengan membawa sapu, cangkul, sabit, cengkrong, dan alat-alat yang diperlukan untuk membersihkan makam. Setelah makam bersih lalu ditaburi bunga mawar atau melati untuk pewangi. Biasanya setelah itu orang-orang duduk khusyuk mendoakan arwah almarhum/almarhumah agar diampuni dosanya dan mendapat tempat terbaik di aisiNya.

Rangkaian kegiatan itu juga disebut besik. Dulu di beberapa tempat biasa dijumpai orang-orang membakar kemenyan sebelum berdoa. Suasanapun jadi magis.

Seusai besik, orang-orang pulang ke rumah masing-masing untuk berganti pakaian dan mengambil ambeng atau tumpeng serta aneka kue pelengkap seperti tape ketan, jadah, apem, wajik, lemet, kacang godhok, dan buah-buahan. Mereka berkumpul di bangsal dekat makam, duduk bersila menghadap ambengnya masing-masing. Setelah semua warga berkumpul, termasuk para perantau yang sempat mudik nyadran, tahlilan dan doa dipimpin seorang kaum pun dimulai. Usai tahlilan dan doa  dilanjutkan makan bersama. Orang bebas memilih semua makanan yang ada atau cukup makan dari ambeng yang dibawanya dari rumah. Inilah saat anak-anak bersuka-cita berebut makanan yang diinginkan dan sudah dilirak-liriknya sambil ikut tahlilan tadi.

“Wah nyadran kali ini lebih ramai dari tahun lalu, Om. Ndelalah pas hari Minggu, anak-anak sekolah pada libur,” Sasa mengawali ceritanya.

“Anak-anak ikut besik di sarean, Sa?, tanyaku.

“Hiya, Om. Tapi namanya anak-anak, mereka bukannya ikut bersih-bersih makam.”

“Dho dolanan?”

“Mencari ketonggeng, Om. Tumpukan-tumpukan batu bata di sekitar makam dibongkarinya. Kulihat mereka dapat beberapa ekor lalu diwadahi pakai toples Aku juga gak mudheng mau buat apa ketonggeng. Kukira untuk tugas sekolah. Aku cuma khawatir kalau mereka dientup pasti sakit luar biasa.”

“Kamu gak tanya, Sa?”

“Tanya, Om. Katanya mau diternak. Anak jaman sekarang makin aneh-aneh ya, Om. Ketonggeng mau diternak. Tenanan ato cengengesan to, Om?”

Tampaknya kali ini Sasa kurang update berita. Tumben. Jadinya gak mudheng melihat fenomena anak-anak berburu kalajengking. Berita mutakhir yang bikin heboh jagad maya dan jagad politik kok sampai gak paham. “Ah Sasa...kok tumben ketinggalan isu penting,” batinku.

“Kamu ngapain aja seminggu ini, Sa? Apa gak lihat berita di tivi, atau diceritai ponakanmu yang rajin baca berita di internet?

“Tiviku rusak, Om. Belum kuserviske. Ndelalah semingguan ini ponakan juga gak nongol. Lha ada isu apa to, Om?”

“Ngene lho, Sa. Anak-anak yang berburu ketonggeng itu mesti gara-gara dengar saran Presiden kepada para Bupati dan Wali Kota.”

“Saran apa, Om?”

“Para Bupati dan Walikota supaya mengembangkan komoditas yang bernilai jual sangat tinggi, yaitu racun kalajengking alias ketonggeng.”

“Ah mosok Pak Presiden ngasih saran gitu, Om?”

"Kandyani kok. Konon, harga racun itu per ons bisa sampai 135 Milyar.”

“Paling itu cuma guyon, Om.”

“Guyon piye? Di farum resmi lho, Sa.”

“Ya meskipun di forum resmi, tapi piye-piye Presiden kita itu wong Jowo, Om. Kadang kalau ngendikan pakai sanepan, perumpamaan, istilah ponakanku pakai metamor.”

“Metafor?"

“Ya pokoknya pakai for for gitulah."

"Terus, Sa...."

"Mari coba kita pahami kata kalajengking itu. Kala, berarti waktu, saat. Jengking, berarti jatuh. Kata kalajengking bisa diartikan waktu/saat jatuh, waktu ketika kita terpaksa turun dari posisi saat ini, saat kita hanya bisa diam saja dan tidak bergerak.”

“Artinya, Sa?”

“Mungkin Pak Presiden bermaksud mengingatkan para Bupati dan Walikota supaya tansah eling lan waspada bahwa masa jabatannya cuma sebentar sehingga harus rajin-rajin kerja  keras untuk mensejahterakan rakyatnya. Jangan leha-leha nyantai menunggu saat jatuh terjerembab. Jangan enak-enak nglumpukke  duit dengan cara korupsi. Sebab kalau jatuh bisa terasa menyakitkan seperti racun ketonggeng.”

Wah ini....tafsir yang bagus dan cerdas. Kalau benar kata Sasa bahwa itu sanepan, alangkah dungunya orang-orang yang nyinyir dan mencibir soal kalajengking. Tapi kalau bukan sanepan, alias sungguhan, betapa habat anak-anak jaman NOW. Sangat peka dan cepat tanggap terhadap peluang bisnis dan komoditas yang bernilai WAOW.

Ahh, Sasa. Tak mungkin kujelaskan bahwa secara ilmiah racun ketonggeng memang punya khasiat yang dahsyat untuk ngobati kanker. Tak mungkin juga kujelaskan karena sedemikian sulitnya beternak kalajengking dan teknis pengambilan racunnya sehingga harga racun jadi sangat muahal, jauh lebih mahal dari harga emas.

Ahh, Sasa. Janjane aku yho ora mudheng je....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar