KHOTBAH JUMAT
Akhirnya pagi itu aku berhasil berbuka “puasa nyoto Kartongali” setelah kurang-lebih satu tahun tidak ke sana. Warung soto paling legendaris di kawasan Jolotundo Jatinom itu memang jarang sepi terutama di pagi hari. Sedemikian larisnya hingga setiap kali aku lewat dan ingin mampir selalu gagal karena parkiran penuh. Tapi pagi itu sepulang dari ngantar sekolah anak, parkiran tampak longgar, maka aku pun langsung merapat tepat di depan pintu masuk dipandu Sasa si-juru parkir teladan tingkat Nasional.
Semangkok soto ayam dengan lauk perkedel, tempe, karak, dan difinishing dengan segelas teh nasgithel alangkah nikmat terasa. Luar biasa. Kemepyar. “Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang Engkau dustakan?,” begitu pertanyaan berulang-ulang dari Tuhan. Tapi karena itu pertanyaan retoris, maka hanya bisa kujawab dengan menirukan para mubaligh mengawali tausiyahnya, “Alhamdulillah wasyukrulillah, segala puja-puji dan syukur hanya untuk Allah SWT”.
Sebenarnya aku mau langsung pulang seusai sarapan, tapi Sasa tidak memberiku jalan untuk keluar dengan aba-abanya yang atraktif seperti waktu aku masih sering ke sana.
“Sebentar, Om. Jangan pergi dulu. Aku ingin curhat,” katanya.
“Mbok ke rumah saja nanti sore, Sa,” kataku sambil menghidupkan mesin.
“Tidak, Om. Sekarang saja. Darurat ini. Mumpung ketemu,” Sasa mendekat.
“Begini, Om. Sudah sejak beberapa bulan ini aku diminta khotbah Jumat di mesjid kampungku sendiri. Kebetulan besok Jumat Pahing pas jadwalku,” Sasa mulai bercerita.
“Waoow….elok temen kamu, Sa. Hebat itu. Lanjutkan…..”
Salut. Tampaknya Sasa yang sekarang memang sudah jauh berbeda dengan Sasa beberapa tahun lalu. Ternyata dia sungguh-sungguh ketika dulu menyatakan sudah insyaf dan kapok ikut kelompok rewo-rewo, lalu aktif ikut pengajian-pengajian, bahkan kemudian juga ikut aksi umat Islam di Jakarta 411 dan 212. Kukira waktu itu Sasa hanya ikut-ikutan berangkat ke Istiqlal dan Monas karena pengin melihat Ibu Kota. Ternyata tidak. "Batavia harus kita bebaskan dari cengkeraman kumpeni," katanya.
“Sejak kemarin saya jadi ngeri, Om. Harus bagaimana ini? Apa harus kubatalkan jadwal khotbahku?”
“Loh ada apa, Sa? Kalau sudah terjadwal sebagai khotib, berarti Sasa memang sudah dipercaya dan dijagakke oleh jamaah, lho,” kataku.
“Om, Njenengan pasti tahu bahwa sejak beberapa waktu lalu kabarnya pencaramah agama dan khotib Jumat akan ditata oleh Pemerintah. Bahkan, beberapa hari terakhir ini konon Pengawas Pemilu yang akan membuatkan teks khotbah Jumat.”
“Kabarnya memang begitu, Sa. Terus apa masalahnya?”
"Njenengan kan tahu, Om, sebenarnya saya ini sama sekali tidak punya cukup ilmu dan keahlian pidato, tapi terpaksa mau jadi khotib Jumat karena dipaksa masyarakat.”
“Ya dilakoni dengan ikhlas wae to, Sa.”
“Bukan itu masalahnya, Om. Masyarakat kampung saya saat ini sedang semangat-semangatnya beribadah. Tua, muda, remaja, anak-anak, semua rajin ke mesjid yang baru selesai kami bangun. Lalu masyarakat pengin ngadakan Jumatan sendiri, tidak lagi ikut Jumatan di kampung sebelah.”
“Wah apik kuwi, Sa. Alhamdulillah….”
“Yang namanya Jumatan kan harus ada khotibnya, Om.”
“Ya iyalah, Sa.”
“Saya termasuk yang ketiban sampur harus khotbah setiap Jumat Pahing dan Jumat Kliwon. Tidak bisa menolak, Om. Maka saya pun terus belajar, kulakan ilmu untuk dibagikan ke jamaah.”
“Bagus itu, Sa. Memang harus begitu.”
“Tapi sekarang saya jadi takut. Jangan-jangan khotbah saya nanti dianggap membodohi jamaah? Jangan-jangan saya nanti dianggap menebarkan kebencian, mengancam persatuan-kesatuan bangsa, tidak pro-kebhinekaan, anti-Pancasila, dan anti-NKRI. Lalu tahu-tahu saya diciduk. Ngeri to, Om?”
“Lha kok mikirmu sampai segitu to, Sa?” tanyaku dengan nahan ekspresi gumun pada sahabatku yang semakin kritis ini. Tidak kuduga Sasa akan sejauh itu.
“Apa Pemerintah, Kemenag, dan Bawaslu bisa nyediakan khotib untuk seluruh mesjid, baik di kota maupun di desa dan kampung-kampung? Apa Pemerintah akan merekrut khotib secara besar-besaran lalu diadakan penataran paket 100 jam seperti jaman Penataran P4 dulu, lalu hanya khotib yang sudah bersertifikat yang boleh khotbah dan digaji oleh Pemerintah? Memangnya Pemerintah cukup punya duit untuk itu? Lha hutangnya saja semakin menggunung to, Om. Aku sih gak masalah. Malah beneran bisa terbebas dari kewajiban khotbah. Monggo, silahkan Pemerintah nerjunkan khotib. Tapi jangan sampai yang terjadi justru kesengajaan mematikan inisiatif dan swadaya masyarakat. Bisa gawat. Om.”
Sasa masih neruske ngomyang dan aku hanya terdiam tak berani merespon. Beruntung ada mobil datang mau merapat parkir dan Sasa langsung bergerak menyambutnya. Pelan-pelan kupancal pedal gasku meninggalkannya.
“Bali sik yho, Sa,” kulambaikan tanganku kepadanya.
#serialsasa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar