Senin, 24 September 2018

HARI TANI

HARI TANI

Baru tahu ada Hari Tani yang  konon jatuh pada hari ini, Senin 24 September. Kok ya kebetulan banget. Hari ini adalah hari/tanggal perdana pengiriman 5.000 kg Beras Sehat ROJOLELE produk petani-petani dampingan kami di Gempol, Karanganom, Klaten untuk Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Sesuai order UMY, beras itu harus kami vacum dulu dalam kemasan 1 kg biar tahan lama dan tidak diserang thether/kutu beras.

"Loh, Om, ini beras Rojolele yang dulu penanaman perdananya dilakukan Pak Hajriyanto Y. Thohari itu?," tanya Sasa melihat kami "gugur-gunung" mindahkan ratusan karung beras dari gudang ke bak truk.

"Iya benar, Sa," jawabku.

"Yang dua bulan lalu panen perdananya ngrawuhke Pak Kyai Marpuji Ali?," tanya Sasa lagi.

"Injih leres, Den..." jawabku.

"Wah hebat. Memang begini seharusnya Muhammadiyah."

"Maksudmu bagaimana, Sa?," tanyaku.

"Loh, selama ini Muhammadiyah kan sudah kondang ampuh di bidang pendidikan, kesehatan, dan tablig to, Om. Bikin ribuan sekolah, ratusan kampus dan rumah sakit sambil merem saja sudah beres semua," kata Sasa sambil jongkok di sampingku.

"Lha iya, Sa. Terus....?"

"Memang sudah saatnya Muhammadiyah serius membantu para petani agar bisa bebas dari belenggu dan penderitaannya. Dan Sampeyan sudah memulai dari sini. Lanjutkan, Om."

"Sik to, Sa. Maksudmu ki piye? Tolong dijelaskan."

"Walaah Sampeyan ki kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Kan sudah jelas to, Om, petani itu profesi yang paling berat kerjanya, hasilnya ditunggu-tunggu, tapi dihargai sangat rendah, bahkan tidak cukup untuk membiayai kebutuhan keluarganya."

"Biasa aja kalee..."

"Biasa piye to, Om? Sampeyan ini kayak gak pernah lihat berita. Beras hasil keringat petani itu dihargai sangat rendah. Harga di pasaran dibatasi oleh Pemerintah dengan HET, Harga Eceran Tertinggi. Tidak boleh melebihi HET. Semakin murah harganya semakin baik."

"Sa, Pemerintah memang harus menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, biar stabil, biar perut seluruh rakyat bisa terpenuhi."

"Iyaak...stabil apanya?  Nyatanya semua harga kebutuhan hidup naik terus kok. Harga bumbon naik, harga sabun dan odol naik, harga BBM dan listrik naik terus gak turun-turun, biaya sekolah pun naik terus. Tapi kenapa harga beras gak boleh naik, Om? Memangnya petani gak butuh nyekolahkan anaknya tinggi-tinggi? Kalau sakit harus cari surat miskin ke kelurahan?"

"Wah rupanya pikiranmu sudah terkontaimasi pikiran para politisi, Sa. Males aku jadinya."

"Keliru itu, Om. Bukan begitu maksudku. Aku cuma ingin mengatakan bahwa nasib petani perlu mendapatkan perhatian serius dari lembaga dakwah sebesar Muhammadiyah. Tidak bisa kita mengandalkan perhatian Pemerintah dan pejabat yang dat-nyeng, yang cuma sibuk memperdebatkan angka-angka, yang sibuk mengamankan posisi, dan sibuk membangun citra agar bisa terpilih lagi."

Kubiarkan saja Sasa "ngoceh" terus, sambil aku terus mencatat karung yang sudah dipindahkan ke bak truk. Kalau sudah nyrempet-nyrempet politik gitu, aku jadi males nanggapinya. Sambil klepas-klepus menghisap rokok, Sasa meneruskan kuliah paginya.

"Mereka seakan peduli pada petani, tapi sebenarnya cuma "mlekotho" petani, Om. Diam-diam mengimpor beras, gula, kedelai, garam, dan bawang dari luar negeri. Alasannya untuk menjaga stok dan mencukupi kebutuhan dalam negeri. Akhirnya petani kita semakin menderita dan terpuruk nasibnya. Kalau ada pejabat yang coba-coba berani membela petani, maka cepat atau lambat dia akan disingkirkan dari posisinya.'

"Memang ruwet kok, Sa. Makanya aku males ngobrol soal ini. Jaman sekarang, Sa, kita salah ngomong sedikit saja bisa dhedel-duel dikeroyok bala-kurawa."

"Tenang saja, Om. Langkahmu ini sudah benar. Petani butuh dikancani, dan Sampeyan sudah memulai. Mudah-mudahan semakin banyak orang yang peduli pada petani. Lanjutkan, Om. Sasa siap membantu kapan saja Sampeyan butuhkan."

Kalimat terakhir Sasa membuatku agak terharu. Ing atase Sasa, orang yang hidupnya besahaja, yang sehari-harinya menjadi juru parkir di pagi-siang hari dan sore-malamnya menjadi juru pijat panggilan. Dia punya  apresiasi dan komitmen yang bagus pada gerakan pembebasan mustadh'afin, meski dengan gaya dan bahasanya yang sederhana.
Aah Sasa...makanya kehadiranmu selalu kurindu.

#serialsasa

#SELAMAT HARI TANI 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar