Kamis, 11 Oktober 2018

QARUN

QARUN

Alkisah, pemuda miskin bernama Qarun yang rajin ibadah itu diajari berwirausaha oleh Musa a.s. Diajarinya cara mengolah bijih2 kuning yang banyak berserakan di tanah, dibuat aneka aksesories dan perhiasan yang bisa bikin cantik penampilan perempuan, yang bisa bikin laki-laki tampak lebih berwibawa bila memakainya.   Perhiasan  dari bijih-bijih kuning yang kemudian kita sebut emas itu laris-manis di pasaran, menjadi barang yang sangat mahal, bahkan menjadi alat ukur kekayaan. Begitulah, Qarun menjadi pengusaha yang kaya-raya dengan ribuan karyawan, yang kunci gudangnya saja banyak sekali sehingga untuk membawanya harus dipikul oleh beberapa orang.

Singkat cerita, Qarun tidak sempat lagi beribadah, tidak mau lagi datang ke majelis taklim yang diasuh Musa a.s., bahkan dia sekarang lebih berpihak pada Fir'aun. Beberapa kali Musa a.s. mencoba mengingatkan agar Qarun menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu orang-orang miskin dan kaum Bani Israil yang tertindas. Tapi Qarun yang kaya-raya tetap kekeh dengan pendiriannya, dan memilih terus bersekutu dengan Fir'aun.

Sebagaimana Fir'aun, Qarun pun merasa jengah dengan dakwah Musa a.s. yang semakin hari semakin banyak pengikutnya. Maka, rencana licik dan jahat pun disusun dengan rapihnya. Diundanglah Musa a.s. untuk memberikan tausiyah/tabligh akbar pada ribuan karyawannya di istana Qarun. Musa a.s. yang tetap positive thinking/husnudlon itu pun datang dikawal beberapa temannya.

Tabligh akbar dimulai. Musa a.s. mengajak semua hadirin untuk senantiasa bersyukur pada Allah SWT dengan rajin beribadah kepadaNya, berbakti pada orang tua, menginfakkan sebagian hartanya, saling tolong-menolong, yang kuat melindungi yang lemah, dst.

Tiba-tiba, seorang perempuan cantik semlohai berdiri mengacungkan tangannya ingin bertanya. Musa a.s. pun mempersilahkan si-cantik itu berbicara.

"Ustad Musa, mohon maaf sebelumnya, saya mau mengutarakan isi hati," kata perempuan cantik itu dengan suaranya yang agak genit.

"Iya silahkan, Mbak."

"Eh eh...begini....eehh... Dengan," kata perempuan itu sambil matanya lirak-lirik ke arah singgasana Qarun. Seluruh hadirin terdiam menunggu-nunggu apa yang akan disampaikan.

"Tapi aku malu mau terus terang," katanya sambil bergaya tersipu malu.

"Ayo ngomong saja terus terang," teriak Qarun dari singgasananya.

Mata perempuan itu berkaca-kaca. Suara sesenggukan mulai terdengar. Dia menangis untuk beberapa saat. Musa a.s. dan seluruh hadirin pun ikut terharu.

"Begini, Ustad Musa. Aku ini seorang pelacur...."

"Waaooww....asyeek....suit..suiitt. Piro regane?," terdengar riuh-rendah suara para lelaki.

"Sudah tidak terhitung berapa banyak lelaki yang kulayani demi memuaskan birahinya. "

"Suit..suit....terus terus...enak tuh....," terdengar sorak-sorai para lelaki.

"Tadi sore aku diundang kemari oleh Mr. Qarun," perempuan itu menunduk dan matanya sesekali melirik ke arah Qarun. "Aku dikasih beberapa perhiasan ini. Tapi...."

"Tapi apa, Mbak. Katakan saja," kata Musa a.s.

"Tapi aku disuruh ngomong di sini, di depan khalayak ini, bahwa Ustad Musa sudah pernah berzina denganku tapi tidak mau membayar."

Semua orang terdiam. Seluruh mata tertuju ke arah Musa a.s. yang wajahnya merah padam manahan amarah. Musa a.s. tidak menyangka Qarun tega memfitnah dengan cara sekeji itu. Sekuat tenaga Musa a.s. tetap berusaha menahan diri. Di sisi lain, Qarun di singgasananya tampak gusar dan kecewa. Mestinya bukan begitu yang disampaikan perempuan itu.

"Payah. Salah redaksi itu. Goblok. Dasar pelacur," kira-kira begitu pikir Qarun.

Dalam kemarahannya, Musa a.s. berdoa agar Allah SWT menurunkan azab pada Qarun dan seluruh hulu-balangnya. Seketika langit pun gelap-gulita, petir menyambar-nyambar. Tanah tempat acara berlangsung terbelah dan ambles. Tampak lumpur menyembul dari dalam tanah lalu menyerang dan menggulung orang-orang dan benda yang ada. Teriakan histeris terdengar dari orang-orang yang berupaya menyelamatkan diri. Namun sia-sia. Qarun berserta seluruh pengikut, hulu-balang, dan harta bendanya tertelan bumi yang ambles itu. Air hujan pun menggenang memenuhi tanah ambles itu menjadi sebuah danau, danau Qarun. Sementara Musa a.s. bersama para sahabatnya sudah meninggalkan tempat dari tadi dan selamat.

#kisah menjelang jumatan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar