Sabtu, 29 Juni 2019

LEGAWA

LEGAWA

"Wah baru kali ini aku kalah Pilpilan, Om," Sasa mengawali obrolannya sore ini. "Ternyata sangat tidak enak, ya." lanjutnya.

"Nyeseg ya, Sa?" tanyaku.

"Banget, Om. Sampeyan kan tahu, sejak pertama ikut Pemilu dulu, aku selalu di pihak yang menang. Setelah reformasi pun aku juga selalu menang baik di Pemilu, Pilpres, maupun Pilgub, Pilkada, dan Pilkades. Baru kali ini pilihanku kalah."

Istriku datang menyajikan dua gelas kopi semendo dan gorengan pisang kepok yang baru kupanen kemarin pagi. Dia paham betul setiap sahabatku satu ini datang pasti ingin ngobrol sambil ngopi, dan biasanya cukup betah ngobrolnya.

Mbok sudah, Sa. Gak usah digagas, gak usah baper. Pertandingan sudah selesai kok. Slow waelah.”

"Penginku juga begitu, Om. Tapi ini kalahnya bukan karena benar-benar kalah je, Om, tapi kalah karena dibuat kalah. Diakali....”

“Lha kok gitu, Sa?”

“Lha iya, to? Sudah jelas-jelas banyak kecurangan di sana-sini, lha kok sidang MK kemarin tidak dimasalahkan sama-sekali, dianggap tidak ada bukti tidak ada saksi," kata Sasa menampakkan kekesalannya. “Harusnya wasit bisa adil, Om. Seperti dalam permainan sepak bola, kalau ada pemain yang ngawur dan main gasak hingga mencederai pamain lawan, dia pasti diganjar kartu merah dan harus keluar lapangan,” lanjutnya.

“Itu kan sepak bola di luar negeri, Sa, seperti Liga Primes, Liga Champions atau Piala Dunia. Sepakbola di sini kan beda.”

“Beda pripun, Om?”

 “Loh, Sasa pasti masih ingat beberapa bulan lalu petinggi PSSI kita, juga beberapa pemilik klub dan pemain ditangkap polisi karena kasus kongkalingkong, kan? Pertandingan sepakbola yang melibatkan dana besar dari negara dan para sponsor, juga ditonton oleh jutaan orang baik langsung maupun melalui tivi, ternyata bisa diatur oleh botoh alias penjudi dengan cara menyuap para wasit, pamain, petinggi klub dan pengurus PSSI. Pemenang pertandingan dan skornya bisa diatur sesuai keinginan botoh. Ingat to, Sa?”

“Iya masih ingat. Jinguk tenan. Tapi kan mestinya itu tidak terjadi pada Pemilu dan Pilpres yang katanya pesta demokrasi, Om?”

“Walah, Sa, kamu ini kok lupa dengan kata-katamu sendiri.”

“Yang mana?”

Ojo gumunan, ojo kagetan. Itu kata-kata yang sering kamu ingatkan ke aku, lho.”

“Wah, tapi kali ini aku benar-benar heran kok, Om. Orang sudah kalah karena dicurangi, eeh lha kok masih dioyak-oyak diajak rekonsiliasi, disuruh ngucapkan selamat, dan diiming-imingi satu-dua jabatan menteri. Kalau tidak mau dibilang tidak legawa, tidak kesatria, tidak mengakui kekalahan  Lha wong jelas diuriki disuruh legawa. Puluhan juta pendukungnya jelas tidak mau, Om.”

“Termasuk Sasa, kan?”

“Ya termasuk Sampeyan ini....wkwkwk.”

“Aku justru heran sama kamu lho, Sa.”

“Pripun, Om?”

“Omongan politisi kok tok gagas, tok rasakke. Mbok nganti modyar kamu pasti akan kecele. Begini lho, Sa, kalau mereka bilang A, itu belum tentu A. Bisa jadi yang dimaksud B, C, D, atau bahkan X dan Z. ”

“Lha kalau polisi, jaksa, dan hakim kan bukan politisi, Om? Mereka penegak hukum. Jadi kalau bilang A tentu saja memang A, bilang B ya B.”

“Itu rak karepmu, Sa? Kamu juga harus ingat jer basuki mawa bea, lho.”

“Maksudnya?”

“Sa, jaman sekarang ini, untuk jadi pejabat atau tokoh yang bisa sering tampil di tivi,  semua pakai biaya. Tidak ada makan siang gratis, begitu istilahnya. Masuk jadi ASN atau anggota polisi mesti pakai biaya yang tidak sedikit. Mau naik pangkat harus pakai biaya juga. Begitu juga jaksa dan hakim, Sa. Sama saja dengan politisi, sama-sama pakai biaya. Untuk daftar jadi caleg harus bayar ke parpol. Untuk bisa maju jadi cabup, cagub, dan capres harus mendapat dukungan dari parpol. Itu pakai mahar cukup besar, Sa. Cuma bedanya kalau di politik calon-calon itu dipilih oleh rakyat. Makanya setiap menjelang pemilu para politisi sibuk nyiapkan amplop untuk membeli suara rakyat, alias nyogok rakyat. Iya, to? Kalau pejabat mau naik pangkat dan mendapat posisi bagus, yang penting dia harus pinter-pinter ndlosori atasan. Dan itu semua pakai biaya, Sa. Pakai mahar juga. Makanya orang kalau lagi menjabat harus pinter-pinter bermain, Jangan salah menempatkan diri, harus pinter bermain mata. Kalau tidak bisa jadi kere, gak cepat balik modalnya, Sa. Rugi sendiri.”

Wah jiaan....nasib...nasib. Rakyat ingin ada perubahan agar hidup menjadi lebih baik kok dihalang-halangi, digagalkan. Jindul tenan.....”

“Sasa jangan lupa, disamping rakyat yang ingin ada perubahan, juga banyak pejabat dan penikmat kue kekuasaan yang ingin bertahan, lho. Mereka punya modal besar untuk mengamankan posisinya. Rakyat punya apa coba? Ora gablek opo-opo selain keinginan, niat baik, dan akal sehat. Jangan lupa juga bahwa masih banyak rakyat yang nyatanya masih gampang kesengsem amplop dan rayuan gombal. Iya to, Sa?”

“Terus bagaimana ini baiknya, Om?”

“Ikhlaskan apa yang sudah terjadi. Ingat, Sa, Gusti Allah tidak akan membebani seseorang di luar kemampuannya."

"Maksudnya?"

"Rakyat seperti kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas kacau dan rusaknya pengelolaan negara ini. Yang harus bertanggungjawab terutama adalah para politisi, para pejabat dan penegak hukum.”

“Lha kalau para ulama, wong-wong pinter dan cendikiawan, Om? Mereka juga harus bertanggungjawab, kan?”

“Ya pasti harus bertanggungjawab, Sa, tapi sebatas apakah dengan ilmunya itu mereka sudah melaksanakan tugas mengingatkan semua orang mana-mana perilaku yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang sesuai dengan tuntunan Tuhan dan mana yang dilarang. Bila sudah diingatkan tapi orang tetap melanggar dan mendustakan, ya serahkan saja pada Tuhan Yang Maha Hakim dan Maha Adil.”  

"Om, lha kalau ulama dan cendikiawan malah ikut rebutan kekuasaan, njur pripun?"

"Wah ya bisa repot, Sa. Kebaikan dan kebenaran jadi samar, lamat-lamat, bruwet, kabur."

"Bisa rusak-rusakan ya, Om.
Ah sudahlah, aku mau mikir keluargaku sendiri saja. Gak usah melu mumet mikir negara. Bekerja sebaik-baiknya sebagai tukang parkir sajalah. Dapat rejeki banyak disyukuri, dapat sedikit ya alhamdulillah. Gitu aja to, Om?”

“Betul itu, Sa. Kata kunci agar hidup ini bahagia ya cuma satu itu, bersyukur. Apapun yang terjadi disyukuri, tidak usah nggrundhel, tidak usah nggresula.”

“Njih, Om. Matur nuwun. Saya pamit dulu, ya.”

Sasa pun pulang mengayuh sepeda jengkinya. Sebentar lagi waktu maghrib. Anak-anak yang sedari tadi wira-wiri main sepeda sudah tak tampak lagi. Tentu mereka sudah di masjid dan siap-siap berebut speaker azan. Biarkan saja. Namanya juga anak-anak. Meski suara dan nadanya masih lugu dan kurang bagus, tapi merekalah yang akan memakmurkan masjid di masa-masa yang akan datang. Maka berilah kesempatan anak-anak berlatih mencintai masjid. Begitu pesan guru ngajiku dulu.


Kamis, 20 Juni 2019

ZONASI

ZONASI

"Om, Sampeyan ini kenapa, to, diajak ngobrol dari tadi kok kesannya males-malesan, tidak nglegakke?," protes Sasa pagi ini.

Bagiku, soto dan teh nasgithel pagi ini lebih menggairahkan daripada obrolan politik ala Sasa. Sengaja sejak tadi kubiarkan Sasa  nggacor tentang kesannya setelah nonton sidang MK tentang sengketa Pilpres di tivi. Aku males nanggapi. Tapi tumben kali ini dia berani protes.

"Aku jadi kayak orang ngomyang, ngomong sendiri dari tadi."

"Piye yho, Sa, aku harus ngomong apa coba? Lha wong aku memang tidak paham politik, kok. Mengikuti perdebatan para pakar hukum tata negara juga tidak mudheng. Orang-orang ampuh, hebat semua, omongannya juga masuk akal semua. Jadi gak jelas mana yang benar mana dan yang tidak benar. Tapi yang pasti semua ingin menang."

"Tapi kesannya Sampeyan jadi gak peduli nasib bangsa dan negara lho, Om."

"Ngono yho, Sa?"

"Iya. Pertandingan belum selesai, tapi Sampeyan sudah leren duluan. Tinggal gelanggang colong playu namanya."

"Sa, aku kan bukan ikut bertanding. Kamu kan aku ini bukan pemain politik? Cuma rakyat biasa. Sebagai rakyat, aku juga sudah ikut Pemilu, sudah nyoblos caleg dan capres-cawapres sesuai selera. Menurutku itu sudah cukup, tinggal nunggu hasilnya."

"Justru kita harus mengawal pilihan kita sampai akhir, Om."

"Apa kita harus ikut demo ke Jakarta biar terkesan peduli, Sa? Ya ayo siap-siap ndang mangkat."

"Ya bukan begitu, Om. Paling tidak kita ini harus mengikuti berita politik biar tidak ndong alias lholak-lholok kalau diajak bicara politik. Aku ini, Om, meski cuma tukang parkir, tapi gak boleh ketinggalan berita supaya bisa meladeni semua obrolan orang, termasuk politik. Biar tidak ndesit, Om."

Jindul tenan. Berarti menurut Sasa aku ini ndesit karena tidak mudheng politik. Untunglah, belum sempat kutanggapi, ada teman datang dan duduk bergabung di meja depanku. Mas Parto namanya, seorang pegawai kecamatan yang kukenal waktu ngurus KTP dulu. Kami pun salaman dan basa-basi tanya kabar layaknya kawan yang jarang ketemu.

"Masih pagi kok sudah keluar kantor to, Mas Parto?" tanyaku.

"Iya, Mas. Tadi sudah ke kantor, terus ijin ngurus sekolah anakku, Mas."

"Anaknya masuk sekolah mana, Mas?"

"Di SMAN Karanganom. Sebenarnya penginnya masuk SMAN 1, tapi gak bisa karena terganjal sistem zonasi. Padahal NEM anakku tinggi, lho, mestinya bisa masuk sekolah favorit," jawab Mas Parto dengan akspresi agak gelo. "Anakku kecewa banget, Mas. Tapi mau bagaimana lagi, itu sudah kebijakan dari Pemerintah Pusat," lanjutnya.

"Zonasi ki jan-jane piye to maksude, Mas? Maklumlah, aku gak punya pengalaman nyekolahkan anak di sekolah Negeri. Semua anakku ke pesantren. Jadi belum mudheng juga soal zonasi."

"Sebenarnya maksud Pemerintah ini bagus zekali, Mas. Untuk pemerataan, untuk memberi kesempatan anak-anak dari keluarga kurang mampu bisa melanjutkan di sekolah-sekolah terdekat."

"Kayaknya kok banyak orang bengok-bengok kecewa ya, Mas?

"Ya itulah, Mas, banyak masyarakat  terutama yang merasa anaknya pintar belum bisa memahami. Maunya orang tua, anaknya yang pintar bisa ke sekolah favorit agar nanti setelah lulus juga bisa masuk ke Universitas favorit juga. Tapi sekarang Pemerintah menerapkan kebijakan sistem zonasi, jadi banyak yang kaget."

"Lha iya, zonasi itu jelasnya bagaimana to, Mas? Apa masalahnya?" Sasa ikut nimbrung seakan paham obrolanku dengan Mas Parto.

"Contoh gampangnya begini lho, Mas Sasa. Alamatku kan di wilayah Kecamatan Jatinom.  Anakku hanya bisa sekolah di sekolah yang ada di zona eks-Kawedanan Jatinom. Meskipun NEMnya tinggi, anakku tidak bisa sekolah di kota Klaten karena berbeda zona."

"Wah mesakke ya, Mas Parto. Eman-eman cah pinter," Sasa tampak bersimpati.

"Tapi malah bagus itu, Sa," kucoba memahami info dari Mas Parto, "Dengan begitu akan terjadi pemerataan potensi anak didik."

"Maksudnya, Om?"

"Kalau dulu, semua anak pintar ngumpul di SMAN 1 . Lalu lulusan dari sana banyak yang ketrima di UGM, ITB, UI, dan Perguruan Tinggi favorit lainnya. Sementara SMAN lainnya harus setengah mati mengejar ketertinggalan, padahal dasar bibitnya memang biasa-biasa saja. Begitu to, Mas Parto?"

"Leres, Mas. Memang itu maksud Pemerintah. Jadi sekarang anak-anak pintar di sekitar Jatinom cukup sekolah di SMAN Jatinom, SMAN Karanganom, dan SMAN Polanharjo. Mudah-mudahan nanti hasilnya juga bagus."

"Malah dekat dan bisa irit biaya transport to, Mas?"

"Iya betul, Mas. Pegawai rendahan seperti aku gak usah repot-repot kredit sepeda motor untuk anak. Aku bisa ngantar anak dulu sambil ke kantor."

Obrolan harus kuakhiri karena ada WA masuk di hpku. Dari istriku, katanya aku ditunggu tamu di rumah. Aku pun pamit Mas Parto yang masih menikmati tehnya, dan Sasa sahabatku yang juga harus kembali bertugas di parkiran.

#serialsasa



Minggu, 09 Juni 2019

NYANTRI

NYANTRI

Anak kami ada tiga. Yang sulung laki-laki, Cahya panggilannya, sudah lulus dari Gontor Ponorogo dan saat ini masih kuliah di Fisipol UMY semester (mau masuk) tujuh. Anak kedua putri, Zika panggilannya, baru lulus dari Gontor Putri pada Ramadhan kemarin dan mau meneruskan kuliah di UNIDA (Universitas Islam Darussalam) Gontor. Anak ketiga putri juga, Alya panggilannya, baru lulus SD dan saat ini sedang berjuang agar bisa diterima nyantri di Gontor Putri mengikuti jejak kakaknya.

Aku dan istriku sering mendapat pertanyaan dari teman tentang anak-anak kami yang nyantri di Pondok Gontor. Macam-macam pertanyaannya, tapi yang paling sering seperti ini, "Bagaimana cara supaya anak mau mondok di Pesantren?" Atau, "Anaknya sudah hafal berapa juz?" Atau, "Kalau masukkan anak di pesantren, apa biar si anak jadi ahli agama, ustadz, atau kyai?"

Sungguh tidak mudah menjawab pertanyaan seperti itu karena itu soal mindset orang tua tentang pendidikan anak. Pada umumnya orang tua mencita-citakan anaknya setelah besar nanti menjadi dokter, insinyur, pegawai negeri, karyawan perusahaan dengan gaji besar, atau bahkan menjadi pejabat dan politisi kondang. Itulah makanya mereka memasukkan anaknya ke sekolah favorit sejak SD hingga SMA unggulan agar nanti bisa melanjtkan ke universitas terkenal. Bahkan ada juga ortu yang mencita-citakan anaknya menjadi artis terkenal, maka anak-anaknya diikutkan kursus musik, menyanyi,  modelling, dsb, lalu si anak pun sering diikutkan lomba atau festival hingga menjadi juara dan bila beruntung bisa menjadi bintang/artis terkenal dan kaya raya.

Begitulah wajarnya orang tua menuntun anaknya agar kelak hidup sukses dengan profesi mentereng sesuai dengan konsepsi tentang sukses saat ini. Hal itu berbeda dengan wali santri yang memilih memasukkan anaknya ke Pondok Pesantren Gontor, misalnya. Kami, juga beberapa wali santri yang pernah ngobrol degan kami, pada umumnya hanya menginginkan anak-anaknya menjadi shalih dan shalihah. Tidak lebih. Tidak berani mencita-citakan anak akan menjadi ini menjadi itu seperti umumnya ortu. Kami hanya meyakini bahwa setelah lulus dari Gontor anak-anak mampu beradaptasi dengan dunia yang dihadapinya, entah dunia kampus/kuliah atau dunia kerja. Kami yakin hahwa anak-anak kami akan mampu istiqamah menghadapi dunia pergaulan yang penuh intrik, hoax dan fitnah rebutan hal-hal duniawi.

Kalau mindset atau konsepsi ortu tentang pendidikan anak masih standar alias konvensional, jangan masukkan anak ke Gontor. Berat, Bro. Anda pasti akan merasa kecele dan kecewa kalau tidak punya setelan layaknya seorang santri. Baru dalam proses pendaftaran saja Anda akan merasa kurang terhormat karena harus antri berhari-hari dan bermalam-malam tanpa fasilitas memadai. Ortu harus siap tidur klesetan di lantai bersama ribuan ortu dan calon santri lain, antri kamar mandi seperti jamaah haji sedang wukuf di Mina, antri makan di kantin yang dikelola santri klas 5-6 dengan menu seadanya, dsb. Bagi yang punya tenda agak lumayan bisa mendirikan tenda di teras gedung atau di halaman dan bawah pohon seperti orang camping sehingga agak punya privacy. Bagi yang datang duluan bisa menempati gazebo-gazebo yang dibangun di bawah pohon pinggir lapangan.

Begitulah, semua ortu calon santri harus bermental santri, sanggup hidup bersahaja setidaknya untuk beberapa hari sampai anaknya dapat kepastian diterima atau tidak. Bila anaknya diterima, ortu pun harus ikhlas anak diterima di Gontor Putri (GP)1, 2, 3 (ketiganya di Ngawi, Jatim), atau di GP 5 di Kediri. Harus manut. Tidak boleh protes. Kalau tidak manut, silahkan anak dibawa pulang seperti halnya anak-anak yang memang tidak diterima karena tidak lulus ujian seleksi masuk. Itulah ujian pertama bagi ortu santri Gontor.

Ujian berikutnya terjadi ketika harus berpisah dengan anak, meninggalkan anak hidup di pondok. Ini jelas berat, Bro, terutama ketika si anak nangis-nangis karena mungkin belum bisa enjoy di pondok. Namanya juga anak, harus berpisah dengan ortu tanpa fasilitas seperti di rumah yang serba komplit dan terpenuhi semua kebutuhannya. Maka tidak jarang ortu di rumah terus kepikiran anaknya sampai-sampai gak bisa makan enak karena membayangkan anaknya menderita di pondok. Padahal, pikiran dan kekhawatiran ortu semacam inilah yang justru membuat anaknya jadi gelisah dan tidak nyaman sehingga prosesnya menjadi santri terganggu. Di sinilah perlunya ortu harus TETEG dan TEGEL alias kuat hati dan tega mengikhlaskan anak berproses di pondok bersama ribuan teman barunya. Dan jangan lupa, sebenarnya anak-anak memiliki kemampuan lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya dibandingkan ortu. Maka IKHLASKAN saja anak berproses di pondok. Percayalah bahwa pondok punya SOP pendidikan anak yang sudah teruji kedahsyatannya.

Pertanyaan berikutnya, "Anaknya di Gontor sudah hafal Al Quran berapa jus?" Perlu dipahami bahwa Gontor bukanlah Pondok Tahfidz sehingga tidak mewajibkan santrinya menghafalkan Al Quran. Ada banyak pilihan kegiatan santri di sana. Ada Pramuka, jurnalistik, sastra, bermacam-macam olah raga, qiro'ah/seni baca Al Quran, musik, pertamanan, kebersihan lingkungan, dan lain-lain, salah satunya adalah kegiatan tahfidz Al Quran. Biasanya anak akan mengambil kegiatan sesuai dengan minat dan bakatnya, meski ada juga yang sekadar ikut temannya. Boleh juga kalau ortu mengarahkan anaknya agar ikut kegiatan tahfidz, dan syukur bila si anak mau dan berminat. Kalau tidak berminat ya jangan dipaksakan.

Pertanyaan berikutnya, "Kalau masukkan anak ke pesantren, apa biar si anak jadi ahli agama, ustadz, atau kyai?" Sekali lagi, sejak awal kami tidak berani memproyeksikan anak akan jadi apa, kecuali jadi anak yang shalih-shalihah yang berbakti dan  bisa mendoakan ortunya setelah meninggal nanti. Tidak lebih. Soal rejeki, pasti Allah SWT akan memberikan rejeki sesuai dengan kapasitas dan ikhtiarnya. Sudah ada ratusan ribu alumni Gontor. Mereka masuk ke berbagai sektor kehidupan. Ada yang jadi ulama seperti alm. K.H. Hasyim Muzadi (PBNU), Prof. Din Syamsuddin (Muammadiyah), alm. Dr. Nurcholis Madjid, dll. Ada juga yang jadi politisi 'hebat' seperti Hidayat Nur Wahid (PKS) dan Lukman Hakim Syaifuddin (PPP). Ada juga alumni/jebolan yang sulit diidentifikasi karena perannya yang menonjol/jenius di lintas sektoral dan istiqamah menemani umat seperti Cak Nun (Emha Ainun Nadjib). Ada juga yang dianggap 'mbahnya teroris' seperti Ustadz Abu Bakar Basyir yang hingga usianya yang sudah uzur pun masih dipaksa hidup di penjara. Ada juga yang jadi diplomat hebat seperti Aji Surya. Banyak juga alumni yang jadi udtadz dan pimpinan Ponpes di berbagai daerah. Bahkan, konon ada juga alumni yang jadi pimpinan/raja preman di satu kota besar.

Ah, jadi teringat puisi Kahlil Gibran, "Anakmu bukan anakmu. Dialah putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri....dst."

#catatanwalisantrigontor

Jumat, 07 Juni 2019

BADAN

BADAN

"Om, atur sungkem taklim, sugeng riyaya Idul Fitri, sedaya lepat kula nyuwun pangapunten," kata Sasa sambil menyalamiku dengan takzim tadi sore.

"Hiyo podho-podho, Sa. Salahku akeh banget neng awakmu. Aku yho njaluk pangapuramu. Mugo-mugo dosa awake dhewe dingapura dening Gusti Allah. Aamiin....," jawabku dengan susunan kata sebisaku.

Sebenarnya sangat tidak enak aku menerima kunjungan dan badan atau ucapan lebaran dari sahabatku tadi. Usia Sasa lebih tua dariku, maka mestinya aku yang sowan ke rumahnya untuk menghaturkan permohonan maaf kepadanya. Syukur-syukur bisa membawakan buah tangan untuk keluarganya. Beda soal kalau, misalnya, Sasa masih terhitung kerabatku dan awu atau garis nasabnya lebih muda dariku. Maka dia yang harus sowan, sebagaimana banyak ponakan-ponakanku yang datang berlebaran ke rumahku meski usianya lebih tua. Begitulah budaya kami, budaya wong Jowo di pedesaan yang masih setiap dengan tradisi.  Sasa sama sekali tidak ada kaitan kerabat denganku. Kami hanya sahabat, teman glenak-glenik dan rerasan tentang berbagai hal. Itu pun aku lebih banyak berposisi sebagai ember penampung limbah dari kegelisahannya yang sering menggumpal. Lha kok dia yang datang ke rumahku. Sungguh tidak enak rasanya.

"Sa, mestinya aku yang ke rumahmu, tapi betul-betul memang belum sempat karena masih banyak tamu," kataku sambil mempersilakan Sasa minum kopi dan mencicipi kue di depannya.

"Gak apa-apa, Om. Ndelalah waktuku memang longgar, maka aku yang sowan ke sini," jawabnya sambil tangannya bersiap menyulut rokok.

Sambil menikmati kopi sore, kami mulai ngobrol ngalor-ngidul tentang berbagai hal yang ringan-ringan. Sasa bercerita tentang puasanya yang tahun ini bisa full 30 hari tanpa bolong, tentang sholat tarawih di mesjid kampungnya yang tetap ramai sejak awal hingga akhir Ramadhan, tentang anak-anak yang rajin tadarus setiap bakda tarawih, tentang sholat Ied di lapangan yang bacaan imamnya sangat bagus dan khotibnya tidak nyinggung politik sama-sekali, tentang jalan Boyolali-Jatinom-Klaten yang padat merayap sejak 3 hari sebelum lebaran, dan sebagainya.

Kami sedang asyik ngobrol, tiba-tiba datang ponakanku yang biasa dipanggil ustadz Wildan karena sering ngisi pengajian di kampung-kampung, pintar qiroah dan muazin utama di Mesjid Agung.

"Assalaamu'alaikum....," Wildan mengucap salam dan kami jawab "Wa'alaukumasalam."

"Dari mana, Wil?," tanyaku.

"Dari rumah, Om. Tadi kulihat Pak Sasa lewat depan rumah, kupikir pasti mau ke sini. Makanya aku ke sini pengin ikut ngobrol, Om," jawab Wildan.

"Wah kebetulan ada Ustadz ini. Nderek tepang, saya Sasa tukang parkir Soto Kartongali," Sasa mencoba memperkenalkan diri.

"Njih, Pak Sasa. Siap. Saya sudah kenal Njenengan kok, si juru parkir teladan Nasional dari Jolotundo. Ngaturaken Sugeng Riyadi, sedaya lepat nyuwun pangapunten."

"Njih sami-sami....tapi Ustadz mbok jangan ngece, to."

"Bukan ngece, Pak Sasa. Memang Njenengan pantas mendapatkan gelar itu. Saya ini sudah biasa bepergian ke berbagai kota, sudah ketemu banyak sekali juru parkir, tapi belum ada yang profesional seperti Sampeyan. Iya to, Om?," Wildan minta persetujuanku.

"Profesional bagaimana, Ustadz? Lha wong saya ini ya cuma bekerja, ngibadah, melakukan yang seharusnya saya lakukan sebagai tukang parkir, memberi aba-aba supaya orang bisa markir kendaraan dengan rapi dan nyaman."

"Lha ya itu kelebihan Pak Sasa."

"Kok kelebihan?"

"Pak Sasa bekerja dengan hati yang tulus dan total membantu orang mau parkir atau keluar dari parkiran. Profesional. Bahkan orang-orang bilang Pak Sasa tidak mata-duitan, tidak butuh duit, karena kadang menolak dikasih uang parkir."

"Wah mbok jangan gitu to, Ustadz. Saya masih butuh duit, kok. Makanya bekerja tiap hari."

"Pak Sasa, semua orang memeng butuh duit. Tapi banyak orang yang bekerjanya tidak sungguh-sungguh dan tidak jujur. Itu namanya tidak profesional. Banyak orang hanya mencari duit, tapi tidak serius kerjanya. Tidak tulus. Terkesan tidak ikhlas. Bahkan karena sedemikian penginnya cepat kaya, punya harta banyak, dia berani mengambil yang bukan haknya."

"Berani mencuri ya, Ustadz?"

"Ya mencuri, merampok, atau korupsi. Karena apa, Pak Sasa? Karena orang tidak punya lagi sifat jujur dan ikhlas. Puasa Ramadhan kita sebenarnya untuk melatih jujur dan ikhlas itu. Coba kalau kita tidak jujur dan tidak ikhlas, bisa saja kita sembunyi di kamar agar tidak ada orang melihat kita makan minum atau merokok. Iya to, Pak Sasa? Tapi sayangnya setelah Ramadhan kita tidak kuat untuk istiqamah."

"Iya bener itu, Ustadz. Jan-jane puasa itu memang berat kok, ya."

"Memang berat, Pak Sasa. Makanya setelah lebaran orang jadi merasa sudah bebas lagi melakukan apa saja, bahkan berani melakukan sesuatu yang jelas dilarang."

"Wah alhamdulillaah, Om, beruntung sekali sowanku ke sini sore ini bisa dapat ilmu dari Ustadz Wildan. Matur nuwun ya, Ustadz. Kapan-kapan kalau Njenengan pas nyoto, saya mau ngaji lagi."

Obrolan sore pun kami akhiri karena Wildan mau adzan maghrib. Sasa pamit pulang juga karena harus bertugas menjadi imam maghrib di masjid kampungnya.