LEGAWA
"Wah baru kali ini aku
kalah Pilpilan, Om," Sasa mengawali obrolannya sore ini. "Ternyata
sangat tidak enak, ya." lanjutnya.
"Nyeseg ya, Sa?" tanyaku.
"Banget, Om. Sampeyan kan tahu, sejak
pertama ikut Pemilu dulu, aku selalu di pihak yang menang. Setelah reformasi
pun aku juga selalu menang baik di Pemilu, Pilpres, maupun Pilgub, Pilkada, dan
Pilkades. Baru kali ini pilihanku kalah."
Istriku datang menyajikan dua
gelas kopi semendo dan gorengan pisang kepok yang baru kupanen kemarin pagi. Dia
paham betul setiap sahabatku satu ini datang pasti ingin ngobrol sambil ngopi,
dan biasanya cukup betah ngobrolnya.
“Mbok sudah, Sa. Gak
usah digagas, gak usah baper. Pertandingan sudah selesai kok. Slow waelah.”
"Penginku juga begitu, Om.
Tapi ini kalahnya bukan karena benar-benar kalah je, Om, tapi kalah karena
dibuat kalah. Diakali....”
“Lha kok gitu, Sa?”
“Lha iya, to? Sudah jelas-jelas banyak kecurangan di sana-sini, lha kok
sidang MK kemarin tidak dimasalahkan sama-sekali, dianggap tidak ada bukti tidak ada saksi," kata Sasa menampakkan kekesalannya.
“Harusnya wasit bisa adil, Om. Seperti dalam permainan sepak bola, kalau ada
pemain yang ngawur dan main gasak hingga mencederai pamain lawan, dia pasti diganjar
kartu merah dan harus keluar lapangan,” lanjutnya.
“Itu kan sepak bola di luar negeri, Sa, seperti Liga Primes, Liga
Champions atau Piala Dunia. Sepakbola di sini kan beda.”
“Beda pripun, Om?”
“Loh, Sasa pasti masih
ingat beberapa bulan lalu petinggi PSSI kita, juga beberapa pemilik klub dan
pemain ditangkap polisi karena kasus kongkalingkong, kan? Pertandingan sepakbola
yang melibatkan dana besar dari negara dan para sponsor, juga ditonton oleh
jutaan orang baik langsung maupun melalui tivi, ternyata bisa diatur oleh botoh alias
penjudi dengan cara menyuap para wasit, pamain, petinggi klub dan pengurus PSSI.
Pemenang pertandingan dan skornya bisa diatur sesuai keinginan botoh. Ingat to, Sa?”
“Iya masih ingat. Jinguk tenan. Tapi kan mestinya itu tidak terjadi pada Pemilu
dan Pilpres yang katanya pesta demokrasi, Om?”
“Walah, Sa, kamu ini kok lupa dengan kata-katamu sendiri.”
“Yang mana?”
“Ojo gumunan, ojo kagetan.
Itu kata-kata yang sering kamu ingatkan ke aku, lho.”
“Wah, tapi kali ini aku benar-benar heran kok, Om. Orang sudah
kalah karena dicurangi, eeh lha kok masih
dioyak-oyak diajak rekonsiliasi,
disuruh ngucapkan selamat, dan diiming-imingi satu-dua jabatan menteri. Kalau
tidak mau dibilang tidak legawa, tidak kesatria, tidak mengakui kekalahan Lha wong jelas diuriki disuruh legawa. Puluhan juta pendukungnya jelas tidak mau, Om.”
“Termasuk Sasa, kan?”
“Ya termasuk Sampeyan ini....wkwkwk.”
“Aku justru heran sama kamu lho, Sa.”
“Pripun, Om?”
“Omongan politisi kok tok
gagas, tok rasakke. Mbok nganti
modyar kamu pasti akan kecele. Begini lho, Sa, kalau mereka bilang A, itu belum tentu A. Bisa
jadi yang dimaksud B, C, D, atau bahkan X dan Z. ”
“Lha kalau polisi, jaksa, dan hakim kan bukan politisi, Om? Mereka
penegak hukum. Jadi kalau bilang A tentu saja memang A, bilang B ya B.”
“Itu rak karepmu, Sa?
Kamu juga harus ingat jer basuki mawa bea,
lho.”
“Maksudnya?”
“Sa, jaman sekarang ini, untuk jadi pejabat atau tokoh yang bisa
sering tampil di tivi, semua pakai biaya.
Tidak ada makan siang gratis, begitu istilahnya. Masuk jadi ASN atau anggota polisi
mesti pakai biaya yang tidak sedikit. Mau naik pangkat harus pakai biaya juga.
Begitu juga jaksa dan hakim, Sa. Sama saja dengan politisi, sama-sama pakai
biaya. Untuk daftar jadi caleg harus bayar ke parpol. Untuk bisa maju jadi cabup, cagub, dan capres harus mendapat dukungan dari parpol. Itu pakai mahar cukup besar, Sa. Cuma bedanya kalau di politik calon-calon itu dipilih oleh rakyat. Makanya setiap
menjelang pemilu para politisi sibuk nyiapkan amplop untuk membeli suara
rakyat, alias nyogok rakyat. Iya, to? Kalau pejabat mau naik pangkat dan mendapat posisi bagus, yang penting dia harus pinter-pinter ndlosori atasan. Dan itu semua pakai
biaya, Sa. Pakai mahar juga. Makanya orang kalau lagi menjabat harus pinter-pinter bermain, Jangan
salah menempatkan diri, harus pinter bermain mata. Kalau tidak bisa jadi kere, gak cepat balik modalnya,
Sa. Rugi sendiri.”
“Wah jiaan....nasib...nasib.
Rakyat ingin ada perubahan agar hidup menjadi lebih baik kok dihalang-halangi, digagalkan.
Jindul tenan.....”
“Sasa jangan lupa, disamping rakyat yang ingin ada perubahan, juga
banyak pejabat dan penikmat kue kekuasaan yang ingin bertahan, lho. Mereka
punya modal besar untuk mengamankan posisinya. Rakyat punya apa coba? Ora gablek opo-opo selain keinginan, niat
baik, dan akal sehat. Jangan lupa juga bahwa masih banyak rakyat yang nyatanya
masih gampang kesengsem amplop dan
rayuan gombal. Iya to, Sa?”
“Terus bagaimana ini baiknya, Om?”
“Ikhlaskan apa yang sudah terjadi. Ingat, Sa, Gusti Allah tidak akan
membebani seseorang di luar kemampuannya."
"Maksudnya?"
"Rakyat seperti kita tidak
akan dimintai pertanggungjawaban atas kacau dan rusaknya pengelolaan negara ini. Yang harus
bertanggungjawab terutama adalah para politisi, para pejabat dan penegak hukum.”
“Lha kalau para ulama, wong-wong pinter dan cendikiawan, Om? Mereka juga harus bertanggungjawab,
kan?”
“Ya pasti harus bertanggungjawab, Sa, tapi sebatas apakah dengan ilmunya itu mereka sudah melaksanakan tugas mengingatkan semua orang mana-mana perilaku yang baik dan
mana yang tidak baik, mana yang sesuai dengan tuntunan Tuhan dan mana yang
dilarang. Bila sudah diingatkan tapi orang tetap melanggar dan mendustakan, ya
serahkan saja pada Tuhan Yang Maha Hakim dan Maha Adil.”
"Om, lha kalau ulama dan cendikiawan malah ikut rebutan kekuasaan, njur pripun?"
"Wah ya bisa repot, Sa. Kebaikan dan kebenaran jadi samar, lamat-lamat, bruwet, kabur."
"Bisa rusak-rusakan ya, Om.
Ah sudahlah, aku mau mikir keluargaku sendiri saja. Gak usah melu mumet mikir negara. Bekerja sebaik-baiknya sebagai tukang parkir sajalah. Dapat
rejeki banyak disyukuri, dapat sedikit ya alhamdulillah. Gitu aja to, Om?”
“Betul itu, Sa. Kata kunci agar hidup ini bahagia ya cuma satu itu,
bersyukur. Apapun yang terjadi disyukuri, tidak usah nggrundhel, tidak usah nggresula.”
“Njih, Om. Matur nuwun. Saya
pamit dulu, ya.”
Sasa pun pulang mengayuh sepeda jengkinya. Sebentar lagi waktu maghrib.
Anak-anak yang sedari tadi wira-wiri
main sepeda sudah tak tampak lagi. Tentu mereka sudah di masjid dan siap-siap berebut speaker azan. Biarkan saja. Namanya juga anak-anak. Meski suara dan
nadanya masih lugu dan kurang bagus, tapi merekalah yang akan memakmurkan
masjid di masa-masa yang akan datang. Maka berilah kesempatan anak-anak berlatih
mencintai masjid. Begitu pesan guru ngajiku dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar