Kamis, 20 Juni 2019

ZONASI

ZONASI

"Om, Sampeyan ini kenapa, to, diajak ngobrol dari tadi kok kesannya males-malesan, tidak nglegakke?," protes Sasa pagi ini.

Bagiku, soto dan teh nasgithel pagi ini lebih menggairahkan daripada obrolan politik ala Sasa. Sengaja sejak tadi kubiarkan Sasa  nggacor tentang kesannya setelah nonton sidang MK tentang sengketa Pilpres di tivi. Aku males nanggapi. Tapi tumben kali ini dia berani protes.

"Aku jadi kayak orang ngomyang, ngomong sendiri dari tadi."

"Piye yho, Sa, aku harus ngomong apa coba? Lha wong aku memang tidak paham politik, kok. Mengikuti perdebatan para pakar hukum tata negara juga tidak mudheng. Orang-orang ampuh, hebat semua, omongannya juga masuk akal semua. Jadi gak jelas mana yang benar mana dan yang tidak benar. Tapi yang pasti semua ingin menang."

"Tapi kesannya Sampeyan jadi gak peduli nasib bangsa dan negara lho, Om."

"Ngono yho, Sa?"

"Iya. Pertandingan belum selesai, tapi Sampeyan sudah leren duluan. Tinggal gelanggang colong playu namanya."

"Sa, aku kan bukan ikut bertanding. Kamu kan aku ini bukan pemain politik? Cuma rakyat biasa. Sebagai rakyat, aku juga sudah ikut Pemilu, sudah nyoblos caleg dan capres-cawapres sesuai selera. Menurutku itu sudah cukup, tinggal nunggu hasilnya."

"Justru kita harus mengawal pilihan kita sampai akhir, Om."

"Apa kita harus ikut demo ke Jakarta biar terkesan peduli, Sa? Ya ayo siap-siap ndang mangkat."

"Ya bukan begitu, Om. Paling tidak kita ini harus mengikuti berita politik biar tidak ndong alias lholak-lholok kalau diajak bicara politik. Aku ini, Om, meski cuma tukang parkir, tapi gak boleh ketinggalan berita supaya bisa meladeni semua obrolan orang, termasuk politik. Biar tidak ndesit, Om."

Jindul tenan. Berarti menurut Sasa aku ini ndesit karena tidak mudheng politik. Untunglah, belum sempat kutanggapi, ada teman datang dan duduk bergabung di meja depanku. Mas Parto namanya, seorang pegawai kecamatan yang kukenal waktu ngurus KTP dulu. Kami pun salaman dan basa-basi tanya kabar layaknya kawan yang jarang ketemu.

"Masih pagi kok sudah keluar kantor to, Mas Parto?" tanyaku.

"Iya, Mas. Tadi sudah ke kantor, terus ijin ngurus sekolah anakku, Mas."

"Anaknya masuk sekolah mana, Mas?"

"Di SMAN Karanganom. Sebenarnya penginnya masuk SMAN 1, tapi gak bisa karena terganjal sistem zonasi. Padahal NEM anakku tinggi, lho, mestinya bisa masuk sekolah favorit," jawab Mas Parto dengan akspresi agak gelo. "Anakku kecewa banget, Mas. Tapi mau bagaimana lagi, itu sudah kebijakan dari Pemerintah Pusat," lanjutnya.

"Zonasi ki jan-jane piye to maksude, Mas? Maklumlah, aku gak punya pengalaman nyekolahkan anak di sekolah Negeri. Semua anakku ke pesantren. Jadi belum mudheng juga soal zonasi."

"Sebenarnya maksud Pemerintah ini bagus zekali, Mas. Untuk pemerataan, untuk memberi kesempatan anak-anak dari keluarga kurang mampu bisa melanjutkan di sekolah-sekolah terdekat."

"Kayaknya kok banyak orang bengok-bengok kecewa ya, Mas?

"Ya itulah, Mas, banyak masyarakat  terutama yang merasa anaknya pintar belum bisa memahami. Maunya orang tua, anaknya yang pintar bisa ke sekolah favorit agar nanti setelah lulus juga bisa masuk ke Universitas favorit juga. Tapi sekarang Pemerintah menerapkan kebijakan sistem zonasi, jadi banyak yang kaget."

"Lha iya, zonasi itu jelasnya bagaimana to, Mas? Apa masalahnya?" Sasa ikut nimbrung seakan paham obrolanku dengan Mas Parto.

"Contoh gampangnya begini lho, Mas Sasa. Alamatku kan di wilayah Kecamatan Jatinom.  Anakku hanya bisa sekolah di sekolah yang ada di zona eks-Kawedanan Jatinom. Meskipun NEMnya tinggi, anakku tidak bisa sekolah di kota Klaten karena berbeda zona."

"Wah mesakke ya, Mas Parto. Eman-eman cah pinter," Sasa tampak bersimpati.

"Tapi malah bagus itu, Sa," kucoba memahami info dari Mas Parto, "Dengan begitu akan terjadi pemerataan potensi anak didik."

"Maksudnya, Om?"

"Kalau dulu, semua anak pintar ngumpul di SMAN 1 . Lalu lulusan dari sana banyak yang ketrima di UGM, ITB, UI, dan Perguruan Tinggi favorit lainnya. Sementara SMAN lainnya harus setengah mati mengejar ketertinggalan, padahal dasar bibitnya memang biasa-biasa saja. Begitu to, Mas Parto?"

"Leres, Mas. Memang itu maksud Pemerintah. Jadi sekarang anak-anak pintar di sekitar Jatinom cukup sekolah di SMAN Jatinom, SMAN Karanganom, dan SMAN Polanharjo. Mudah-mudahan nanti hasilnya juga bagus."

"Malah dekat dan bisa irit biaya transport to, Mas?"

"Iya betul, Mas. Pegawai rendahan seperti aku gak usah repot-repot kredit sepeda motor untuk anak. Aku bisa ngantar anak dulu sambil ke kantor."

Obrolan harus kuakhiri karena ada WA masuk di hpku. Dari istriku, katanya aku ditunggu tamu di rumah. Aku pun pamit Mas Parto yang masih menikmati tehnya, dan Sasa sahabatku yang juga harus kembali bertugas di parkiran.

#serialsasa



Tidak ada komentar:

Posting Komentar