Senin, 28 Oktober 2019

RADIKALISME

RADIKALISME

Sedemikian populernya istilah 'radikalisme' akhir-akhir ini, sampai-sampai sahabatku Sasa, juru parkir Soto Kartongali itu, jadi ikut penasaran. Sedemikian penasarannya Sasa, bahkan undangan kerjaan sambilan sebagai tukang pijat panggilan pun terpaksa ditolaknya malam ini. Entah apa yang dipikirkannya hingga Sasa keroyo-royo datang ke rumahku sejak bakda maghrib tadi.

Sasa datang ndelalah pas di rumahku sedang ada beberapa pemuda kumpul sejak sore berdiskusi tentang program kerjasama dengan Bawaslu Klaten, kerjasama membuat Desa Jemawan sebagai percontohan Desa Anti Politik Uang. Kehadiran Sasa kali ini benar-benar nyolong fokus. Diskusi pun mendadak terhenti. Semua antusias mbagekke Sasa seakan menyambut kehadiran seorang artis atau tokoh politik. Anak-anak muda itu juga tidak sungkan-sungkan berebut foto-selfi, dan semua dilayani Sasa dengan gayanya yang cengar-cengir bahkan terkesan ndesit itu. Sementara kubiarkan Sasa ajur-ajer dengan para pemuda, aku ke dapur membuatkan kopi kesukaannya.

"Om, jan-jane radikalisme itu apa, to? Lha kok sejak pelantikan menteri  sampai hari ini beritanya soal itu terus," Sasa mulai ngudarasa setelah nyeruput kopi panas yang baru kusuguhkan. "Kok seperti tidak ada urusan lain yang lebih penting dilakukan para menteri, ya?," sambungnya.

"Ayo, siapa bisa menjawab? Ini Pak Sasa pengin tahu tentang radikalisme," tanyaku pada para pemuda.

"Namanya juga politik, Pak Sasa," Budi tampak berminat menjawab yang pertama.

"Maksudnya bagaimana, Dik?" tanya Sasa.

"Isu radikalisme itu dagangan politik. Perlu digoreng terus-menerus agar semua  orang percaya bahwa radikalisme itu sangat membahayakan negara sehingga harus diperangi dan dibasmi. Kalau tidak, bisa bubar negara kita gara-gara ulah kaum radikal."

"Wah, kok medeni ya, Dik," Sasa tampak belum paham.

"Mas Budi, Pak Sasa ini mungkin perlu dijelaskan dulu pengertian radikalisme. Jangan jauh-jauh dululah. Bener gak, Pak Sasa?" tanya Ikhsan.

"Njih leres, Mas," jawab Sasa.

"Bener, Dik Ihsan. Coba dipahami dulu arti kata radikal dengan contoh-contoh sederhana," kucoba mengarahkan pembicaraan.

"Radikal itu seperti cara Mas Sasa memandu parkir dengan total action dan sering menolak pemberian uang," kata Thoriq.

"Radikal itu seperti masyarakat Jemawan yang sepakat menolak politik uang dalam pelaksanaan Pilkades, padahal di Desa-Desa lain para calon Kades kuat-kuatan berlomba menyebar amplop serangan fajar," Budi menyahut.

"Radikal itu ketika orang nekad jadi politisi atau pejabat dengan menghabiskan modal sangat besar, padahal sesungguhnya mereka tidak punya kemampuan mengurusi nasib negara dan bangsa," kata yang lain.

"Radikal itu ketika  seorang politisi nekad menggadaikan SKnya ke Bank demi menjaga imej dan performance, lalu untuk mengangsur cicilannya mereka nyambi jadi makelar proyek," tambah yang lain.

"Radikal itu ketika seorang pemuda berani memutuskan menikahi seorang gadis, padahal banyak gadis yang menunggu-nunggu lamarannya," sahut yang lain.

"Radikal itu seperti Pak Sasa yang dulu kondang sebagai wong ndalan ora enak dipangan, tapi tiba-tiba memutuskan rajin ibadah, rajin ke masjid, rajin ikut pengajian," sahut yang lain lagi.

Kulihat Sasa yang dari tadi bengong tampak senyum-senyum disebut namanya sebagai contoh. Tampak Sasa ingin merespon.

"Sik, Mas. Berarti yang dimaksud radikal itu sesuatu yang ora umum, yang tidak biasa dilakukan orang lain?" tanya Sasa kepadaku.

"Ya begitulah kira-kira, Sa. Lalu dianggap nyleneh dan bisa mengancam kepentingan umum," jawabku sekenanya.

"Tapi kenapa hanya orang Islam yang dianggap radikal, Om? Kok yang lainnya tidak?" tanya Sasa lagi. "Saya jadi takut, Om, jangan-jangan nanti aku juga dianggap radikal?"

"Memangnya Pak Sasa berbuat apa di parkiran?" tanya Teguh.

"Bukan di parkiran, Dik. Jelek-jelek begini aku dipercaya jamaah di mesjid kampungku jadi khotib setiap Jumat Pahing. Meski ilmuku masih sangat terbatas, tapi karena amanah jamaah, ya aku harus belajar setiap hari. Kulakan ilmu, Mas."

Azan isya' terdengar bersahutan dari corong-corong masjid sekitar. Kami pun mengakhiri obrolan dan bersama-sama menuju masjid.

#serialsasa


Rabu, 23 Oktober 2019

POLITIK UANG

POLITIK UANG

Lagi-lagi pagi aku dibuat kagum oleh Sasa, sahabatku yang jadi juru parkir Soto Kartongali Jolotundo. Dari mana dia tahu berbagai informasi seputaran Jatinom yang terkini dan seolah A-1? Sedemikian jangkep penguasannya atas berbagai kejadian terkini. Mungkinkah dia dapat info dari intel Polsek yang kebetulan suka mampir nyoto? Tidak mungkin. Seorang intel pasti pintar menjaga rahasia. Hanya atasannya yang boleh tahu semua info yang didapatkan dan tidak mungkin membuka infonya di warung soto atau angkringan. Atau, jangan-jangan Sasa punya prewangan dari bangsa jin yang secara khusus ditugasi mensuplay informasi? Kayaknya juga tidak mungkin. Memangnya Sasa sekelas sama Nabi Sulaiman yang punya asisten hebat bernama Jin Ifrid? Pasti tidak. Tapi entahah. Jalma tan kena kinira, begitu orang Jawa bilang. Tidak gampang menilai orang hanya dari penampilannya.

"Wah, Desa Sampeyan hebat, Om. Selamat, ya. Ikut bangga," kata Sasa menyambutku di parkiran.

"Hebat apanya?"

"Pilkades kemarin berlangsung bersih, paling bersih, dan sukses tanpa ekses."

"Sasa kok tahu?"

"Ya tahulah, Om. Kabar Pilkades se Jatinom aku tahu semua."

"Wah elok...."

"Umumnya Pilkades diwarnai maraknya Politik Uang, Om. Para timses calon Kepala Desa seperti berlomba membagi amplop. Kuat-kuatan membeli suara rakyat.  Bahkan biasanya dukun-dukun pun dilibatkan untuk memuluskan usahanya."

"Mosok to, Sa?"

"Bener, Om." Lalu Sasa nggacor cerita tentang beberapa kejadian Pilkades di desa-desa tetangga. Ada Desa yang pemenangnya bahkan sampai menghabiskan dana 1 M, ada yang habis 700 juta, 500 juta, dan sebagainya. Konon ada calon yang kalah dan stres karena sudah menghabiskan dana hingga 800 juta. Ada juga Desa yang sampai terjadi pertumpahan darah antar warganya dan hingga kini kasusnya masih ditangani kepolisian.

"Yang paling sulit itu memulihkan paseduluran antar-warga yang kadhung retak, Om. Orang-orang yang beda pilihan masih plirik-plirikan kalau ketemu. Tidak sedikit yang jadi jothakan, tidak bertegur-sapa, putus hubungan."

"Kasihan ya, Sa. Butuh waktu lama memulihkannya."

"Sebenarnya calon yang menang maupun kalah sama-sama mumet mencari cara mengembalikan modal. Tapi masih mending yang menang, masih bisa cari-cari seseran atau nyunat Dana Desa. Lha yang kalah, Om? Mesakke...."

Semangkok soto sudah habis kusantap dengan nikmat sambil mendengarkan update info dari Sasa. Dalam hati, aku sangat bersyukur berbagai kejadian itu tidak terjadi di Desaku.

"Kudengar Desa Sampeyan akan dijadikan percontohan Desa Anti Politik Uang oleh Bawaslu Klaten, Om. Hebat itu. Memang sangat layak."

"Sangat layak piye, Sa?"

"Om, selama ini rakyat dibodohi oleh para politisi, orang-orang yang berebut kekuasaan. Seolah-olah rakyat ini kere kabeh, tidak mau memilih kalau tidak disogok amplop nyeket ewu. Seolah rakyat tidak tahu mana orang baik mana orang jahat. Padahal sesungguhnya justru karena para politisi sendiri yang kurang percaya diri, punya kelemahan dalam bermasyarakat, tidak yakin dirinya akan dipilih rakyat, tidak berani bersaing secara sehat, lalu nekad mengumpulkan modal besar untuk nyogok rakyat agar dipilih. Kelakuan seperti ini yang bikin rusak, Om."

"Terus, Sa...."

"Ternyata itu semua tidak berlaku di Desa Sampeyan, Om. Kudengar para calon Kades kemarin tidak keluar uang sedikitpun selain sekadar biaya nyuguh tamu-tamu yang datang sejak seminggu sebelum dan sesudah pemilihan. Pengeluaran yang wajar sebagai tuan rumah."

"Ya memang, Sa. Bahkan pemenangnya sampai sekarang masih pekewuh karena belum ketemu cara berterima kasih pada timses dan para relawannya. Mau ngasih sekadar uang bensin saja ditolak lho, Sa. Timses dan masyarakat hanya minta Kades terpilih nanti menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh, adil, dan jujur."

"Ya itulah yang kumaksud layak dijadikan percontohan, Om. Rakyat harus baik dulu kalau ingin melahirkan pemimpin yang baik. Kalau semua masih suka aji mumpung, tidak jujur, tidak prasojo, tentu hanya akan melahirkan pempimpin yang suka maling, suka korupsi, menumpuk-numpuk harta untuk tujuh turunan."

Pagi mulai beranjak siang, saatnya aku pulang ngurusi pekerjaan. Pasti di rumah sudah terdengar karyawan hiruk-pikuk menggenjot mesin-mesin jahit.

"Tak bali sik yho, Sa."

"Njih, Om. Nderekke....."

#serialsasa




Kamis, 17 Oktober 2019

SEBARAN APEM

SEBARAN APEM

Nanti siang bakda Jumat,  tanggal 18 Safar / 18 Oktober 2019, adalah puncak acara haul Ki Ageng Gribik di Jatinom, Klaten, ditandai dengan acara sebaran apem. Berton-ton kue apem disebarkan dari dua panggung/menara yang dibangun di lapangan Klampeyan (Plempeyan) di pinggir kali bawah Masjid Gedhe Jatinom. Berjuta orang dari berbagai penjuru datang dengan suka-cita ke acara itu. Ada yang sekadar nonton dari kejauhan, banyak juga yang turun ke lapangan ikut rebutan, konon ada juga yang sengaja datang dari jauh untuk 'ngalap berkah' ikut berebut kue yang terbuat dari tepung beras itu lalu dibawa pulang untuk berbagai keperluan. Konon banyak orang meyakini kue apem Yaqawiyyu bisa untuk jimat penglarisan, untuk menjaga sawah agak tidak diserang hama, atau bahkan untuk obat keluarganya agar sembuh dari sakit.

"Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu," begitu kata Sasa mengutip satu pepatah. "Kita ini jangan mengambil hak Gusti Allah menilai niat seseorang," lanjut Sasa.

"Iya memang benar, Mas Sasa, tapi kita kan harus hati-hati supaya tidak terjebak syirik, dosa yang tidak terampuni," sanggah Amat.

"Loh, soal hati-hati dan mewaspadai hati kita sendiri memang harus, Dik. Kita harus selalu waspada jangan-jangan niat kita salah. Tapi jangan pernah menilai niat dan hati orang lain. Jadi biarlah acara tahunan Yaqawiyyu itu tetap berlangsung sebagai hiburan rakyat yang murah-meriah."

"Kalau saya melihat sebaran apem itu satu kegiatan yang mubadzir, Mas Sasa. Makanan segitu banyaknya kok dilempar-lemparkan. Apa gak ada cara yang lebih baik, yang lebih santun, yang lebih berbudaya?," kata si Hendrik.

"Bagus pertanyaanmu itu, Dik. Saya juga pernah berpikir alangkah bagusnya kalau masyarakat Jatinom sebagai tuan rumah berupaya menghormati tamu-tamunya yang ingin mendapatkan kue apem itu. Misalnya, setiap keluarga menyediakan kue apem dibungkus pakai dos berisi 3-5 buah, lalu dibagikan pada orang yang lewat di depan rumahnya."

"Ya itu maksud saya, Mas. Jadi orang gak usah rebutan, tapi bisa makan apem dengan nyaman di setiap rumah orang Jatinom," kata Hendrik.

"Ya tapi terus gak ada lagi acara Sebaran Apem, Om?," tanya Ifan.

"Diganti acara Pesta Apem, Mas. Malah bagus itu. Semua orang Jatinom bisa sedekah apem," sahut Sasa.

"Ada istilah selain pesta gak, Mas? Kesannya kok kurang sakral, ya."

"Tapi gak apa-apa itu, Om, rakyat kan sudah biasa dengan pesta-pesta. Ada pesta pernikahan, ada pesta ulang tahun anak, dan sebagainya," kata Hendrik.

"Iya betul, Dik. Rakyat juga sudah biasa ikut pesta demokrasi, kok. Tapi isinya ya cuma janji-janji politik dan sebaran amplop. Nasib rakyat selama lima tahun cuma dihargai seket-ewu. Para politisi seperti berlomba ngadakan sebaran amplop. Tragisnya, begitu usai pemilu, rakyat menangis karena harga-harga kebutuhan hidup naik semua, dan orang-orang yang dipilihnya ternyata ketangkap KPK karena korupsi. Rakyat kapusan terus," Sasa mulai berpikir politik.

"Jadi masih mending sebaran apem Yaqawiyyu ya, Mas Sasa?"

"Ya jelas, Dik. Sebaran apem mengandung maksud agar orang yang makan apem mendapat kekuatan menjalani hidup. Kalau sebaran amplop justru bikin rakyat semakin lemah, sementara sebagian lainnya semakin ngawu-awu berkuasa dan korupsi setiap saat."

Obrolan di warung Kang Torong pun bubar karena udara sudah terasa anyep tanda waktu sudah dini hari.

#serialsasa