Kamis, 17 Oktober 2019

SEBARAN APEM

SEBARAN APEM

Nanti siang bakda Jumat,  tanggal 18 Safar / 18 Oktober 2019, adalah puncak acara haul Ki Ageng Gribik di Jatinom, Klaten, ditandai dengan acara sebaran apem. Berton-ton kue apem disebarkan dari dua panggung/menara yang dibangun di lapangan Klampeyan (Plempeyan) di pinggir kali bawah Masjid Gedhe Jatinom. Berjuta orang dari berbagai penjuru datang dengan suka-cita ke acara itu. Ada yang sekadar nonton dari kejauhan, banyak juga yang turun ke lapangan ikut rebutan, konon ada juga yang sengaja datang dari jauh untuk 'ngalap berkah' ikut berebut kue yang terbuat dari tepung beras itu lalu dibawa pulang untuk berbagai keperluan. Konon banyak orang meyakini kue apem Yaqawiyyu bisa untuk jimat penglarisan, untuk menjaga sawah agak tidak diserang hama, atau bahkan untuk obat keluarganya agar sembuh dari sakit.

"Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu," begitu kata Sasa mengutip satu pepatah. "Kita ini jangan mengambil hak Gusti Allah menilai niat seseorang," lanjut Sasa.

"Iya memang benar, Mas Sasa, tapi kita kan harus hati-hati supaya tidak terjebak syirik, dosa yang tidak terampuni," sanggah Amat.

"Loh, soal hati-hati dan mewaspadai hati kita sendiri memang harus, Dik. Kita harus selalu waspada jangan-jangan niat kita salah. Tapi jangan pernah menilai niat dan hati orang lain. Jadi biarlah acara tahunan Yaqawiyyu itu tetap berlangsung sebagai hiburan rakyat yang murah-meriah."

"Kalau saya melihat sebaran apem itu satu kegiatan yang mubadzir, Mas Sasa. Makanan segitu banyaknya kok dilempar-lemparkan. Apa gak ada cara yang lebih baik, yang lebih santun, yang lebih berbudaya?," kata si Hendrik.

"Bagus pertanyaanmu itu, Dik. Saya juga pernah berpikir alangkah bagusnya kalau masyarakat Jatinom sebagai tuan rumah berupaya menghormati tamu-tamunya yang ingin mendapatkan kue apem itu. Misalnya, setiap keluarga menyediakan kue apem dibungkus pakai dos berisi 3-5 buah, lalu dibagikan pada orang yang lewat di depan rumahnya."

"Ya itu maksud saya, Mas. Jadi orang gak usah rebutan, tapi bisa makan apem dengan nyaman di setiap rumah orang Jatinom," kata Hendrik.

"Ya tapi terus gak ada lagi acara Sebaran Apem, Om?," tanya Ifan.

"Diganti acara Pesta Apem, Mas. Malah bagus itu. Semua orang Jatinom bisa sedekah apem," sahut Sasa.

"Ada istilah selain pesta gak, Mas? Kesannya kok kurang sakral, ya."

"Tapi gak apa-apa itu, Om, rakyat kan sudah biasa dengan pesta-pesta. Ada pesta pernikahan, ada pesta ulang tahun anak, dan sebagainya," kata Hendrik.

"Iya betul, Dik. Rakyat juga sudah biasa ikut pesta demokrasi, kok. Tapi isinya ya cuma janji-janji politik dan sebaran amplop. Nasib rakyat selama lima tahun cuma dihargai seket-ewu. Para politisi seperti berlomba ngadakan sebaran amplop. Tragisnya, begitu usai pemilu, rakyat menangis karena harga-harga kebutuhan hidup naik semua, dan orang-orang yang dipilihnya ternyata ketangkap KPK karena korupsi. Rakyat kapusan terus," Sasa mulai berpikir politik.

"Jadi masih mending sebaran apem Yaqawiyyu ya, Mas Sasa?"

"Ya jelas, Dik. Sebaran apem mengandung maksud agar orang yang makan apem mendapat kekuatan menjalani hidup. Kalau sebaran amplop justru bikin rakyat semakin lemah, sementara sebagian lainnya semakin ngawu-awu berkuasa dan korupsi setiap saat."

Obrolan di warung Kang Torong pun bubar karena udara sudah terasa anyep tanda waktu sudah dini hari.

#serialsasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar