Rabu, 23 Oktober 2019

POLITIK UANG

POLITIK UANG

Lagi-lagi pagi aku dibuat kagum oleh Sasa, sahabatku yang jadi juru parkir Soto Kartongali Jolotundo. Dari mana dia tahu berbagai informasi seputaran Jatinom yang terkini dan seolah A-1? Sedemikian jangkep penguasannya atas berbagai kejadian terkini. Mungkinkah dia dapat info dari intel Polsek yang kebetulan suka mampir nyoto? Tidak mungkin. Seorang intel pasti pintar menjaga rahasia. Hanya atasannya yang boleh tahu semua info yang didapatkan dan tidak mungkin membuka infonya di warung soto atau angkringan. Atau, jangan-jangan Sasa punya prewangan dari bangsa jin yang secara khusus ditugasi mensuplay informasi? Kayaknya juga tidak mungkin. Memangnya Sasa sekelas sama Nabi Sulaiman yang punya asisten hebat bernama Jin Ifrid? Pasti tidak. Tapi entahah. Jalma tan kena kinira, begitu orang Jawa bilang. Tidak gampang menilai orang hanya dari penampilannya.

"Wah, Desa Sampeyan hebat, Om. Selamat, ya. Ikut bangga," kata Sasa menyambutku di parkiran.

"Hebat apanya?"

"Pilkades kemarin berlangsung bersih, paling bersih, dan sukses tanpa ekses."

"Sasa kok tahu?"

"Ya tahulah, Om. Kabar Pilkades se Jatinom aku tahu semua."

"Wah elok...."

"Umumnya Pilkades diwarnai maraknya Politik Uang, Om. Para timses calon Kepala Desa seperti berlomba membagi amplop. Kuat-kuatan membeli suara rakyat.  Bahkan biasanya dukun-dukun pun dilibatkan untuk memuluskan usahanya."

"Mosok to, Sa?"

"Bener, Om." Lalu Sasa nggacor cerita tentang beberapa kejadian Pilkades di desa-desa tetangga. Ada Desa yang pemenangnya bahkan sampai menghabiskan dana 1 M, ada yang habis 700 juta, 500 juta, dan sebagainya. Konon ada calon yang kalah dan stres karena sudah menghabiskan dana hingga 800 juta. Ada juga Desa yang sampai terjadi pertumpahan darah antar warganya dan hingga kini kasusnya masih ditangani kepolisian.

"Yang paling sulit itu memulihkan paseduluran antar-warga yang kadhung retak, Om. Orang-orang yang beda pilihan masih plirik-plirikan kalau ketemu. Tidak sedikit yang jadi jothakan, tidak bertegur-sapa, putus hubungan."

"Kasihan ya, Sa. Butuh waktu lama memulihkannya."

"Sebenarnya calon yang menang maupun kalah sama-sama mumet mencari cara mengembalikan modal. Tapi masih mending yang menang, masih bisa cari-cari seseran atau nyunat Dana Desa. Lha yang kalah, Om? Mesakke...."

Semangkok soto sudah habis kusantap dengan nikmat sambil mendengarkan update info dari Sasa. Dalam hati, aku sangat bersyukur berbagai kejadian itu tidak terjadi di Desaku.

"Kudengar Desa Sampeyan akan dijadikan percontohan Desa Anti Politik Uang oleh Bawaslu Klaten, Om. Hebat itu. Memang sangat layak."

"Sangat layak piye, Sa?"

"Om, selama ini rakyat dibodohi oleh para politisi, orang-orang yang berebut kekuasaan. Seolah-olah rakyat ini kere kabeh, tidak mau memilih kalau tidak disogok amplop nyeket ewu. Seolah rakyat tidak tahu mana orang baik mana orang jahat. Padahal sesungguhnya justru karena para politisi sendiri yang kurang percaya diri, punya kelemahan dalam bermasyarakat, tidak yakin dirinya akan dipilih rakyat, tidak berani bersaing secara sehat, lalu nekad mengumpulkan modal besar untuk nyogok rakyat agar dipilih. Kelakuan seperti ini yang bikin rusak, Om."

"Terus, Sa...."

"Ternyata itu semua tidak berlaku di Desa Sampeyan, Om. Kudengar para calon Kades kemarin tidak keluar uang sedikitpun selain sekadar biaya nyuguh tamu-tamu yang datang sejak seminggu sebelum dan sesudah pemilihan. Pengeluaran yang wajar sebagai tuan rumah."

"Ya memang, Sa. Bahkan pemenangnya sampai sekarang masih pekewuh karena belum ketemu cara berterima kasih pada timses dan para relawannya. Mau ngasih sekadar uang bensin saja ditolak lho, Sa. Timses dan masyarakat hanya minta Kades terpilih nanti menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh, adil, dan jujur."

"Ya itulah yang kumaksud layak dijadikan percontohan, Om. Rakyat harus baik dulu kalau ingin melahirkan pemimpin yang baik. Kalau semua masih suka aji mumpung, tidak jujur, tidak prasojo, tentu hanya akan melahirkan pempimpin yang suka maling, suka korupsi, menumpuk-numpuk harta untuk tujuh turunan."

Pagi mulai beranjak siang, saatnya aku pulang ngurusi pekerjaan. Pasti di rumah sudah terdengar karyawan hiruk-pikuk menggenjot mesin-mesin jahit.

"Tak bali sik yho, Sa."

"Njih, Om. Nderekke....."

#serialsasa




Tidak ada komentar:

Posting Komentar