Selasa, 19 November 2019

OJO DUMEH

OJO DUMEH

Dasar Sasa, kalau lagi punya kegelisahan sering kurang empan papan. Seperti kemarin sore, kami kebetulan ketemu pas lagi takziyah meninggalnya kakak kelas kami jaman SMP dulu. Di antara ratusan pelayat, terdengar suara memanggilku dari arah teras rumah tetangga yang berduka cita. Ternyata sahabatku Sasa . Aku pun mendekat dan ikut duduk lesehan di sampingnya. Tanpa basa-basi, sahabatku ini langsung ngajukan pertanyaan yang sungguh membuatku jadi kikuk.

"Om, perintah bershalawat dan menyampaikan salam penghormatan kepada Kanjeng Nabi itu kan memang hanya untuk orang beriman, ya?"

"Maksudmu?"

"Ya kalau orang tidak beriman kan gak wajib bershalawat."

"Ya memang," jawabku agak kurang antusias karena pekewuh dengan orang-orang sekitar.

"Gak papa tidak beriman, terserah saja. Tapi mbokya gak usah merendahka."

"Siapa yang merendahkan, Sa?"

"Ya adalah, Om. Tapi siapapun orangnya, kalau tidak beriman dan mencintai Kanjeng Nabi,  mbok sudah diam saja, gak usah ngomong yang bisa bikin orang tersinggung."

"Sik to, Sa, maksudmu ki piye, to?"

"Begini lho, Om. Ibarat istri. Istriku mungkin bagi Sampeyan babar blas tidak cantik dan tidak ada manfaatnya. Iya, kan? Tapi Sampeyan tetap harus menghormati istriku, tidak boleh ngelek-elek dan merendahkan. Kalau sampai Sampaian meremdahkan istriku, pasti aku akan marah. Bener gak, Om?"

"Ya jelas, Sa. Kita harus saling menghormati."

"Jaman sekarang memang harus hati-hati, Mas Sasa," Pak Modin yang duduk di sebelahku menyahut.  "Orang kalau asal ngomong bisa kena pasal ujaran kebencian, lho," lanjutnya.

"Apalagi terhadap Kanjeng Nabi, orang yang sangat dimuliakan oleh jutaan orang beriman," sahut Mas Temu. "Karena sudah menyangkut keyakinan dan keimanan, tentu banyak orang siap membela sampai mati."

"Makanya kalau memang tidak beriman, jangan asal ngomong ya, Mas Sasa. Atau mau kena pasal penistaan agama?" Pak Modin menyahut lagi.

"Simbah kita dulu berpesan ojo dumeh. Jangan mentang-mentang," kata Sasa. "Dulu kita ini lahir di mana dan jadi anaknya siapa, kita tidak bisa memilih. Tinggal menjalani," lanjut Sasa dengan tatapan serius seperti ustad sedang tausiyah. "Ada yang lahir dari keluarga pejabat yang terhormat dan kaya-raya, ada yang lahir di keluarga petani miskin, ada yang lahir dari keluarga pengusaha, keluarga kyai, keluarga tentara, dan sebagainya. Ada yang lahir di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali, dan sebagainya. WeKita semua tinggal menjalani, tidak bisa memilih. Kita harus selalu bersyukur dan tidak boleh sombong. Juga tidak boleh minder dan rendah diri," lanjutnya.

"Betul itu, Ustad. Hehehe...," sahutku.

"Wah mbok jangan ngece to, Om. Aku tidak punya potongan ustad."

"Loh, potongan itu gak penting, Sa. Tapi tausiyahmu  tentang ojo dumeh tadi memang bener, kok. Bagus. Kayak ustad beneran. Dapat dari mana, Sa?

"Dari tivi, Om....hehehee."

"Suka nyimak pengajian di tivi, to?"

"Sasa ini rajin nonton tivi kok, Pak," kata Pak Modin.

"Apalagi kalau pas acara ILC, nontonnya sambil mentheleng tak berkedip," sahut Kang Sarno yang diam dari tadi.

"Ya maklumlah, Om, orang seperti aku ini mau belajar di mana lagi kalau bukan di tivi," Sasa minta permakluman.

Terdengar pembawa acara mulai memandu upacara pelepasan jenazah, membacakan urut-urutan acara, dari pembukaan, pembacaan ayat suci, sambutan-sambutan, hingga doa pemberangkatan jenazah menuju makam. Semua pelayat pun menghentikan obrolan untuk mengikuti rangkaian acara upacara. Obrolan kami pun terhenti. Sebenarnya aku masih penasaran dengan omongan Sasa tentang shalawat tadi. Apa maksudnya? Siapa orangnya yang berani merendahkan Kanjeng Nabi? Tapi ah sudahlah. Sasa memang terkadang sangat kritis bahkan terkesan over sensitif terhadap apapun yang didengar dan dilihatnya.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar