Minggu, 05 Januari 2020

LENDHUT

LENDHUT

Sasa masih tampak sangat prihatin dengan kondisi Jakarta usai diterjang banjir bandang beberapa hari lalu. Dengan intonasi datar dan wajah sedih, dia ceritakan kembali kabar dari Marno, adiknya yang tinggal di kawasan Bekasi.

Diceritakannya, Marno telah merantau ke Jakarta sejak lulus SMK dan bekerja pada sebuah pabrik di kawasan Cakung. Marno juga sudah menikah dengan gadis Jawa yang juga teman kerjanya, dan saat ini telah dikarunia dua anak. Meski gajinya tergolong pas-pasan, tapi dengan tekad dan keyakinan yang kuat soal rejeki dari Tuhan, dia juga telah memiliki rumah sangat sederhana yang dibayarnya dengan cicilan tiap bulan selama sepuluh tahun. Di rumah itulah dia membina rumah tangga bersama istrinya dengan bahagia, merawat serta mendidik anak-anaknya yang masih balita dan lucu-lucu. Di waktu-waktu senggang, Marno juga menyempatkan srawung ajur-ajer dengan tetangga kiri-kanannya.

Namun, kebahagian itu seakan lenyap tiba-tiba, ketika di shubuh dini hari itu kompleks perumahan tempat tinggalnya diterjang banjir bandang menyusul hujan deras yang turun sejak tadi malam, satu kejadian yang konon di luar perkiraan para ahli di BMKG sekalipun. Suasana pagi pun gempar. Semua orang berjuang menyelamatkan diri dan keluarganya. Dalam keadaan panik, Marno pun hanya sempat  menyelamatkan istri dan kedua anaknya, ikut mengungsi ke masjid berlantai dua di kampung sebelah hingga banjir surut. Hanya beberapa lembar pakaian anak-anak yang sempat dibawanya. Harta benda lainnya ditinggalkan begitu saja demi menghindari air bah yang tampak semakin meninggi. Beruntung selama dua hari satu malam tinggal di masjid, banyak dermawan dan relawan yang datang membawa makanan, pakaian, selimut, dan obat-obatan.

Singkat cerita, setelah banjir surut, semua pengungsi terutama yang laki-laki pun pulang duluan ke rumahnya untuk melihat keadaan. Betapa pilu hari Marno melihat seisi rumah berbalut lendhut alias lumpur endapan banjir. Dilihatnya ruang tamu dan perabotnya berwarna coklat. Sepeda roda tiga, apolo yang biasa untuk si kecil belajar jalan, dan satu sepeda motor alat transportasi kerjanya juga berbalut lendhut. Dilihatnya juga dua kamar tidur yang tak mungkin lagi bisa digunakan karena kasurnya berselimut lendhut cukup tebal. Lemari pakaian beserta isinya juga berbalut lendhut. Ditengok juga ruang dapurnya yang sempit, dilihatnya seluruh peralatan masak dan makan-minum terbungkus lendhut.

"Kasihan sekali, Om. Ingin sekali aku ke sana membantu adikku bersih-bersih rumah, tapi keadaanku saat ini lagi tidak memungkinkan," Sasa mengakhiri ceritanya dengan tatapan mata yang tampak kosong, sedih karena tidak bisa membantu adiknya.

"Dibantu doa saja, Sa, semoga adikmu sekeluarga tetap sehat dan segera bisa bangkit kembali."

"Iya, Om. Terima kasih," jawab Sasa sambil bersiap menyulut rokoknya. "Untung yang kebuntel lendhut hanya rumah dan perabotnya ya, Om," lanjutnya.

"Lha kok untung?"

"Ya masih untung, Om. Coba kalau yang kebuntel lendhut itu orangnya atau hatinya atau pikirannya."

"Hati dan pikiran kok kebuntel lendhut? Terus apa jadinya, Sa?"

"Ya jadinya gak punya otak, pikirannya kotor, dan hatinya penuh kedengkian, Om."

"Apa iya to, Sa?"

"Wah Sampeyan ini bagaimana. Coba perhatikan berita-berita dan dialog di tivi,  banyak orang berlagak pinter, tapi otaknya kebuntel lendhut."

"Yang mana?"

"Orang -orang yang sesungguhnya tidak peduli pada nasib orang lain, tidak mau membantu kesulitan orang lain, tapi kerjanya mencari-cari kesalahan lalu menimpakan semua kesalahan itu pada Gubernur DKI. Itu kan wong pekok namanya."

"Pekok piye to, Sa? Mereka kan berupaya kritis pada pemerintah yang dianggap melakukan kesalahan dalam mengambil kebijakan?"

"Sok kritis tapi tidak cerdas."

"Maksudmu?"

"Apa mereka gak tahu bahwa Bogor dan Bekasi itu wilayah Jawa Barat, bahwa Tangerang itu wilayah Banten? Apa mereka juga gak tahu bahwa Semarang itu ibukota Jawa Tengah, dan Surbaya itu ibukota Jawa Timur? Atau jangan-jangan mereka memang tidak paham Ilmu Bumi ya, Om?"

"Mereka orang pinter-pinter dan pengalaman kok, Sa. Ya pasti tahulah."

"Tahu tapi pekok."

Hujan sudah reda. Candhik ayu membuat cuaca sore jadi tampak jingga. Tidak lama lagi waktu maghrib akan tiba. Sasa pun pamit pulang setelah menghabiskan kopinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar