Kamis, 23 April 2020

PULANG KAMPUNG

PULANG KAMPUNG

Akhirnya Bu Bei bisa tersenyum lega setelah Pak Bei menunjukkan bookingan 3 tiket pesawat Solo-Palembang atas nama Bu Bei dan kedua anak gadisnya, Zika dan Alya, untuk hari Rabu, serta 2 tiket atas nama Pak Bei dan Cahya untuk hari Minggu. Ya, keluarga Pak Bei-Bu Bei harus mudik ke Palembang, pulang kampung selama beberapa hari.

Sudah semingguan Bu Bei tampak murung dan sesekali air matanya berhamburan sejak mendengar kabar dari adiknya, si Heni, bahwa Ibunya yang sudah uzur itu diopname di rumah sakit dan kondisinya semakin menurun. Banjir air mata semakin tak terbendung ketika Jumat pagi bakda shubuh tanggal 10 April adiknya mengabarkan bahwa Ibu yang sangat dicintainya itu telah kembali ke haribaan Allah SWT dengan tenang.

Seharian Bu Bei tampak murung dengan matanya yang sembab. Sesekali Pak Bei memeluk dan berusaha menenangkannya, mengajaknya untuk ikhlas dannridho menerima takdirNya. Sholat ghaib, sholat jenazah dari jauh, alias tanpa menghadap jenazah di depannya, telah dilakukan tadi pagi bersama seluruh karyawannya.

"Anak-anakku, sahabat-sahabatku, bakda shubuh tadi ibu kami di Palembang telah kembali ke hadirat Allah SWT setelah sakit selama seminggu," kata Pak Bei memberi pengantar sebelum sholat ghaib dimulai. "Sebagai anak sulung, seharusnya kami sudah pulang ke Palembang sejak kemarin-kemarin agar bisa menemani dan merawat beliau di Rumah Sakit. Tapi tidak bisa. Situasinya tidak memungkinkan kami pulang kampung, mudik. Tidak mungkin," suara Pak Bei terdengar parau dan matanya tampak berkaca-kaca.

Bu Bei mengusap air matanya. Semua karyawan menundukkan kepala. Terharu. Semua orang paham kalau pun kemarin Pak Bei dan Bu Bei ke Palembang, kemungkinan juga tak akan bisa masuk ke Rumah Sakit untuk menunggui Ibu. Bisa jadi, mereka justru harus ikut karantina selama 14 hari di ruang isolasi milik Pemprov Sumsel di Jakabaring, atau setidaknya harus melakukan isolasi mandiri di rumah dengan status Orang Dalam Pengawasan (ODP). Maka tidak ada pilihan lain, keluarga Pak Bei harus ikhlas mendoakan Ibu dan nenek tercinta dari jauh, bahkan hingga beliau meninggal dunia pagi itu.

"Anak-anakku dan sahabat-sahabatku, kami minta kalian membantu berdoa dengan bersama-sama melakukan sholat ghaib, semoga Ibu kami mendapatkan husnul-khotimah, diampuni semua dosanya, dilapangkan kuburnya, dan mendapatkan tempat terbaik di sisiNya. Marilah kita mulai sholat ghaib, semoga Allah SWT meridhoi...aamiin."

Lima hari kemudian, Bu Bei bersama Zika dan Alya pun terbang ke Palembang dengan keyakinan akan dimudahkan segala urusan selama perjalanan. Pak Bei dan Cahya anak lelakinya akan menyusul lima hari kemudian setelah menuntaskan dulu ratusan order baju APD dari dokter dan Rumah Sakit di berbagai daerah. Maklumlah, semua dokter dan tenaga medis menunggu-nunggu datangnya APD yang sudah dipesannya sejak beberapa hari lalu. Tentu Pak Bei pun harus menjaga komitmennya meski dalam situasi yang serba sulit itu.

Agenda terpenting kepulangan keluarga Pak Bei-Bu Bei tentu menziarahi makam almarhumah Ibu Hodimah binti Ahmad Rifa'i di kompels pemakaman umum Puncak Sekuning. Misi berikutnya adalah memimpin adik-adiknya untuk berembuk tentang berbagai hal sepeninggal Ibu. Maklumlah, ayahnya, yakni Bapak Ali Kusmen, sudah meninggal 15 tahun yang lalu ketika menunaikan ibadah Haji ke Tanah Suci. Beliau dimakamkan di kompleks pemakaman Ma'la di luar kota Mekah. Sepeninggal Ibu, maka Bu Bei sebagai anak sulung harus tampil memimpin ketiga adiknya agar selalu rukun dan tetap akrab satu sama lain.

Bu Bei menyadari bahwa ketiga adiknya punya kesibukan dengan keluarganya masing-masing. Ketiganya tinggal di kota Palembang, dan hanya Bu Bei yang tinggal di Jawa sejak lulus SMA dan kuliah di Bulak Sumur Jogjakarta lalu mendapat suami Pak Bei yang orang Jawa. Selama ini, si-Heni anak nomor dualah yang total menemani dan merawat Ibu, hingga rela melepaskan pekerjaannya sebagai insinyur sipil. Si-Deni anak ketiga punya kesibukan menemani dan merawat ibu mertuanya yang juga sudah uzur. Si bungsu Aisyah masih rempong dengan kedua anaknya yang masih balita. Begitulah, kepulangan Bu Bei sungguh sangat berarti bagi keutuhan keluarga alm. Pak Ali Kusmen.

"Selamat datang, Pak Bei sekeluarga. Semoga selama perjalanan ke Palembang hingga pulang ini tidak mengalami hambatan apapun," kata Pak Kades yang langsung datang bersama Pak RT begitu keluarga Pak Bei tiba di rumah.

"Njih, Pak Kades. Matur nuwun kerawuhanipun. Alhamdulillah perjalanan kami sangat lancar, tidak semenakutkan kabar atau berita yang setiap hari kita baca di medsos," jawab Pak Bei.

"Apa gak ada pemeriksaan ketat ketika sampai di sana, Pak Bei?," tanya Pak RT."

"Blas gak ada, Pak RT. Sama sekali tidak ada, selain di bandara semua penumpang yang datang wajib mengisi Formulir Kewaspadaan," jawab Pak Bei.

"Apa Palembang belum termasuk zona merah ya, Pak Bei?," tanya Pak Kades.

"Entahlah. Dengar-dengar mulai tanggal 25 akan berlaku PSBB. Tapi gak apa-apa, toh kami sudah keluar dari sana."

"Untung Pak Bei sudah kembali. Kalau belum bisa repot," kata Pak RT.

"Repot bagaimana, Pak RT?"

"Looh...Pak Bei belum dengar, ya? Kemarin Pak Presiden melarang seluruh rakyat mudik lebaran. Besok tidak boleh ada orang mudik, Pak Bei."

"Yang dilarang kan mudik, Pak RT? Kalau pulang kampung kan boleh. Iya to, Pak Kades?"

Pak Kades hanya senyum-senyum tidak menjawab sepatah kata pun. Hari sudah menjelang maghrib. Pak Kades dan Pak RT pun berpamitan. Pak Bei masuk rumah dengan senyum-senyum mengingat kabar Pak RT tentang larangan mudik.

"Yang dilarang kan mudik, bukan pulang kampung," kata Pak Bei dalam hati dengan geli.

#serialpakbeibubei

Sabtu, 04 April 2020

GLOBAL DETOX

GLOBAL DETOX

Sudah sepuluh hari terakhir ini Pak Bei dan Bu Bei tampak sangat sibuk melayani pesanan baju Alat Pelindung Diri (APD) dari berbagai penjuru Tanah Air. Para dokter, dokter gigi, perawat, bidan, ormas, dan kelompok masyarakat peduli, setiap hari sejak pagi hingga tengah malam tanpa henti menelpon atau kirim pesan WA, dari bertanya-tanya hingga memesan (PO), lalu mendesak minta APD segera dikirim. Maklum, di mana-mana terjadi krisis APD. Mereka pun terpaksa saweran untuk mencari APD. Sayangnya, Pemerintah baik Pusat maupun Daerah tampak tidak cukup siap menghadapi wabah pendemi ini. Sebagai kepala urusan PR dan CS, Pak Bei harus sabar merespon satu-persatu karena paham betapa para tenaga medislah yang paling beresiko dalam perang melawan corona.

Sebagai kepala urusan produksi, Bu Bei pun tak kalah sibuk dan tegangnya. Menjelang tidur, Bu Bei harus merekap semua order yang masuk lewat Pak Bei, lalu menghitung berapa bahan baku dan bahan penunjang yang dibutuhkan dan diorder ke suplayer, serta membagi pekerjaan untuk karyawan dan mitranya di luar. Bu Bei juga harus terus menggalang mitra kerja produksi, baik penjahit perorangan maupun koleganya sesama pengusaha konveksi yang saat ini terpaksa berhenti produksi karena pasar-pasar langganannya di kota besar  terkena kebijakan lockdown. Untuk urusan mencari mitra, baik mitra produksi maupun suplayer, tidak jarang Bu Bei mengajak Pak Bei untuk bantu meyakinkan. Upase mandi, begitu istilah Bu Bei agar Pak Bei mau membantunya meyakinkan calon mitra.

Ada hal menarik dari obrolan bakda sarapan pagi ini. Sambil mengupas pepaya kesukaannya, Bu Bei seperti ngundamana, berbicara sendiri mereview kahanan yang sedang terjadi.

"Tampaknya kali ini Gusti Allah sungguh-sungguh mendetox alam ciptaanNya ya, Pak Bei."

"Mendetox bagaimana maksud Bu Bei?"

"Tentu Pak Bei masih ingat kejadian Tsunami di Aceh dn Padang, gempa bumi di Jogja dan Klaten, gunung Merapi meletus, gunung Kelud, gunung Agung, gempa Lombok dan likuifaksi di Palu?"

"Ya masih ingat."

"Itu bencana cuma lokal. Memang sangat memilukan karena banyak jatuh korban nyawa dan benda.

"Iya, terus...."

"Setelah recovery, biasanya daerah-daerah yang dulu porak-poranda menjadi tampak maju dan lebih makmur."

"Iya ya. Betul itu, Bu Bei." Pak Bei jadi teringat, sejak letusan gunung Merapi hingga saat ini, setiap hari ada ribuan truk lalu lalang mengangkut material tambang galian-C. Masyarakat setempat menjadi makmur bahkan kaya-raya, baik yang hanya menjadi buruh maupun pengelola kegiatan penambangan. Para pejabat Daerah yang biasanya jadi investor alat-alat berat, truk, begho, atau pemecah batu, dan sekaligus pemilik ijin penambangan, seakan panen raya tiada henti swlama bertahun-tahun. Konon, hasilnya bisa milyaran per bulan.

"Jadi, memang setiap terjadi bencana pasti ada korban sekaligus kepiluan, Pak Bei. Tapi sesudahnya, ada Rahmat Tuhan yang berlimpah-ruah dan bermanfaat bagi manusia."

"Tapi kali ini beda sekali, Bu Bei."

"Ya memang beda. Wabah Covid-19 ini menyerang seluruh dunia."

"Ya itulah, Bu Bei. Pada bencana lokal, masih ada Pemerintah Pusat yang gagah-perkasa membantu Pemerintah Daerah. Juga ada solidaritas dari masyarakat di daerah-daerah aman, dari berbagai negara kaya, dan bahkan PBB. Semua memberi bantuan besar-besaran, baik yang sifatnya jangka pendek, maupun untuk recovery pasca-musibah selama berbulan-bulan atau bahkan tahunan. Kalau sekarang, siapa yang mau membantu? Semua dalam ketakutan yang sama."

"Lha ya itulah, Pak."

"Sayang sekali tiap hari rakyat justru disuguhi para pejabat dan cerdik pandai yang masih saja eker-ekeran, bertengkar tiada habisnya, saling menyalahkan, sementara teman-teman tenaga medis harus di garda terdepan pertempuran tanpa dibekali peralatan memadai."

Azan dhuhur terdengar bersahutan. Obrolan pun diakhiri. Pak Bei dan Bu Bei bersiap ke masjid ikut sholat berjamaan. Untung mushola di depan rumah tidak dilockdown.

#serialpakbeibubei



Rabu, 01 April 2020

LOCKDONESIA

LOCKDONESIA

Sejak seminggu lalu, Pak Bei tampak sibuk luar biasa dengan pekerjaannya sebagai pengusaha konveksi. Bila sebelumnya masih tampak sore-sore duduk santai di taman bawah pohon alpukat di pojok rumahnya sambil ngopi dan berbincang dengan teman-temannya yang suka mampir, beberapa hari ini Pak Bei tak pernah tampak lagi batang hidungnya, kecuali tahu-tahu mak wush mobilnya lewat di jalan keluar desa. Pak Bei juga belum pernah tampak bergabung dengan teman-teman segenerasinya yang  sudah mulai main pingpong lagi di aula masjid setiap bakda isya'. Ketika salah seorang bertanya melalui pesan WA dan mengajaknya bergabung, Pak Bei hanya menjawab, "Maaf, Lur, belum bisa bergabung. Lagi prepegan." Teman-temannya pun maklum, setiap menjelang Ramadhan dan Idul Fitri semua pengusaha konveksi memang sibuk. Istilah orang Jawa, prepegan.

Begitulah. Sejak menawarkan produk baru berupa baju Alat Pelindung Diri (APD) melalui akun FB dan beberapa WAG yang kemudian menjadi viral itu, Pak Bei sulit beranjak dari tempat duduknya di gandhok rumah untuk merespon banyak sekali pesan WA yang masuk, baik yang masih sekadar minta info maupun yang langsung PO baju APD.

"Jan ora nyana ora njimpittidak mengira sama sekali akan jadi seperti ini," kata Pak Bei pada wartawan-wartawan yang datang mewawancarai dan bertanya alasan Pak Bei membuat APD. "Awalnya, seminggu yang lalu saya trenyuh, prihatin melihat foto dan video di WAG tentang para petugas medis yang bertugas mengevakuasi atau memeriksa dan merawat orang-orang yang diduga terinfeksi virus Corona. Mereka terpaksa hanya memakai jas hujan sebagai pelindung karena tidak punya APD. Kita tahu, Mas, para petugas medis itu di garda terdepan melawan ganasnya Covid-19. Sangat berbahaya kalau mereka tidak dilengkapi APD. Kasihan sekali, keluarganya di rumah pasti sangat khawatir," lanjut Pak Bei.

"Tapi bukankah Bunda Colection usaha Pak Bei ini sedang sangat padat pekerjaan saat ini?," tanya salah satu wartawan.

"Lha ya itulah, Mas. Mulanya kami hanya ingin membantu dan berkontribusi menghadapi wabah ini dengan  kemampuan kami yang terbatas. Kucari info seputar APD, bahan dan modelnya, lalu kami buat sampel dengan sedikit bahan yang mampu kami beli. Seorang karyawan kuminta mencobanya dan kami foto. Sorenya kuposting di FB dan WAG dengan tambahan narasi sederhana. Ternyata responnya luar biasa dari seluruh penjuru Tanah Air. Viral, Mas. Para dokter, bidan, perawat, pengelola Rumah Sakit, juga ormas-ormas langsung memesan dan minta supaya cepat dikirim. Ini sungguh di luar ekspektasi kami, Mas," terang Pak Bei.

Sejak pagi bakda shubuh hingga menjelang dini hari, Pak Bei sibuk melayani pemesan via WA. Tanggung jawab produksi diserahkannya pada Bu Bei yang juga tak kalah sibuknya menggalang para penjahit se Kabupaten untuk bergabung membuat APD. Sesekali Pak Bei nemani Bu Bei mendatangi rumah calon mitra kerjanya dan ikut meyakinkan betapa penting peran penjahit dalam melawan wabah corona.

"Kita harus berbuat, Bu. Kita harus membantu saudara-saudara kita para petugas medis dengan kemampuan kita, yakni membuat baju APD," begitu Pak Bei memotivasi calon mitranya.

Tapi betapa kagetnya Pak Bei dan Bu Bei ketika kemarin pagi hendak mendatangi calon mitra di satu dusun, ternyata tidak bisa masuk karena jalan-jalan masuk ke dusun itu ditutup dengan bambu dan dipasangi tulisan, "Maaf, dukuh ini kami lockdown," atau, "Kami perang melawan corona," atau, "Corona? No way...," dan sebagainya. Yang lebih aneh lagi, di jalan-jalan antar Desa ada beberapa bangunan darurat pos penyemprotan disinfektan yang dijaga beberapa Hansip Setiap orang yang lewat jalan itu harus masuk dan berhenti dulu untuk disemprot disinfektan.

"Edya tenaan.....Ini yang namanya gugon tuhon, alias mengada-ada, salah kaprah. Semua orang jadi kontra produktif," begitu grenengan Pak Bei. Bila Pak Bei sudah mulai ngomel hal-hal yang agak berbau politik, Bu Bei memilih diam dan asyik dengan gadgetnya. Pak Bei pun capek sendiri dengan grenengannya, lalu diam dan kembali konsentrasi nyetir mobilnya.

#serialpakbeibubei