Kalau ada orang bertanya siapa guru yang paling berkesan dan berpengaruh dalam hidupku, maka aku akan menjawabnya dengan cepat, "Ada 5 orang." Jawaban ini tentu tanpa sedikitpun bermaksud mengecilkan peran bapak-ibu guru dan dosen-dosenku yang lain yang telah berkontribusi memintarkanku.
Guruku yang pertama adalah ibuku, Asiyah Sahrowardi (Allaahuyarhamha). Beliaulah yang telah mendidikku sejak aku masih ada di dalam rahimnya dengan penuh kasih sayang, melahirkanku, menyusuiku, menyuapiku, mengajari cara makan minum, mengajari berkata-kata dan bertata-bahasa sederhana. Ibuku yang single-parent sejak usiaku 1,5 tahun inilah yang mengajariku (dan kakak2ku) menjalani hidup bersahaja, apa adanya alias tidak neko-neko, membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, yang lumrah dan tidak lumrah, dan selalu husnudhon pada Allah SWT dalam menjalani kehidupan. Beliau juga yang menanamkan pentingnya rajin sekolah tinggi agar jadi anak pintar, di samping harus rajin ibadah dan mengaji. Maklumlah, meski anak perempuan dan bukan anak priyayi, dulu ibuku sempat beberapa tahun mengenyam pendidikan Belanda hingga sekolahnya bubar karena kedatangan tentara Jepang. Jadi beliau tahu betul pentingnya pendidikan anak, pentingnya anak-anak rajin belajar dan sekolah hingga tinggi, di samping juga di sore dan malam hari harus belajar mengaji. Terima kasih, Ibu, semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa ibu dan menempatkan di jannahNya yang indah. Aamiin.
Guru keduaku adalah Mas Muhadji (Allaahuyarhamhu), kakakku nomor 3. Sebagai anak laki-laki tertua, dia bukan saja telah menggantikan peran Bapak sebagai pelindung keluarga dan adik-adiknya, tapi juga mengajari dan memberi contoh bahwa laki-lali harus gentle, percaya diri, tidak boleh minder atau rendah diri, bertanggung-jawab, tidak imbas-imbis, peduli pada sesama, dan selalu menyayangi keluarga.
Tapi ada satu hal yang lucu dari kakakku Muhadji. Alkisah, demi adik-adik lakinya (aku dan Mas Agus) tumbuh menjadi laki-laki yang percaya diri dan tidak minder sebagai anak desa dari keluarga miskin, kami diajarinya menjadi merokok aktif sejak mulai usia akil-baligh (klas 2 SMP). Menurutnya, laki-laki harus merokok, harus tampil gagah, jangan 'melambai'. Maklumlah, memang budaya di desa kami waktu itu bila anak laki sudah sunat mulai diajari merokok. Ada anak yang kemudian terus aktif sebagai perokok, tapi banyak juga yang merokok hanya sekadarnya. Dan Mas Muhadji mengajari kami menjadi perokok aktif agar adik-adiknya tidak imbas-imbis. Terima kasih, Mas Muhadji, semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosamu dan menempatkanmu di jannahNya yang indah. Aamiin.
Guru ketigaku adalah Ibu Sulastri, guruku klas 1, 3, dan 5 di SD Negeri JEMAWAN, Jatinom, Klaten. Alhamdulillah hingga kini Bu Lastri __begitu kami memanggilnya__ masih sugeng dan tampak sehat. Beberapa kali beliau tampak sedang menyapu halaman ketika aku dan istriku jogging pagi-pagi lewat depan rumahnya. Meski sudah sepuh, setiap kali kusapa, beliau masih bisa mengenaliku dengan baik.
Dulu, aku dimasukkan ke sekolah SD sebenarnya hanya berstatus titipan. Ceritanya, Mas Muhadji yang waktu itu sudah lulus sekolah STM pengin meneruskan kuliah ke Jogja. Jadi dia tidak bisa terus di rumah saja hanya untuk menemani adik bungsunya yang masih kecil. Maka, aku yang belum genap usia 5 tahun dan tidak mau disekolahkan di TK Pertiwi Gedaren, oleh Mas Muhadji dimasukkan ke SD Negeri JEMAWAN. Waktu itu kebetulan Bu Lastri yang menjadi guru klas 1. Bu Lastri inilah orang yang mengenalkanku angka-angka dan huruf latin, mengajari membaca-menulis-berhitung, mengajari menyanyi sejak lagu-lagu permainan hingga lagu-lagu kebangsaan, mengenalkan bendera merah putih dan cara hormat bendera, dan sebagainya. Terima kasih, Bu Lastri, semoga Ibu sehat selalu. Bila suatu saat Allah SWT memanggil Ibu, aku yakin Ibu akan ridho dan dalam keadaan husnul-khotimah. Aamiin.
Guru keempatku adalah Paklik Darussalam (Allaahuyarhamhu). Adik sepupu ibuku inilah guru ngajiku. Lek Darus, begitu kami dulu biasa memanggilnya, yang mengajari semua anak-anak di kampungku sejak generasiku dulu hingga beliau meninggal pada 2013 lalu, membaca Al Qur'an dengan baik dan benar, mengajari tafsir sederhana, mengenalkan fikih ibadah mahdhah beserta hadits2 yang menjadi dasarnya, mengenalkan beberapa mahfudhat untuk memotivasi anak-anak rajin belajar dan mengaji, melatih berpidato, kultum, khotbah, dan sebagainya.
Beliau sebagai guru mengaji dan mubaligh (cukup terkenal di Kab. Klaten waktu itu) juga telah berhasil mengubah mindset serta budaya masyarakat kami agar selalu berpikiran maju, bersikap tasamuh dan moderat, dan terus belajar agar dapat menjalankan perintah agama sesuai tuntunan Kanjeng Nabi SAW serta meninggalkan yang tidak dituntunkannya. Terima kasih, Lek Darus. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa Lek Darus dan menempatkan di jannahNya yang indah. Aamiin.
Guru kelimaku adalah Cak Nun, Emha Ainun Nadjib. Cak Nun-lah orang yang telah membuka cakrawala, cara memandang, cara membaca, dan cara memahami kehidupan yang cepat berubah, memahami setiap fenomena tidak hanya dengan satu kaca mata. Dari Cak Nun-lah saya belajar untuk terus berjuang menemukan kebenaran sejati serta tidak terjebak pada kebenaran menurut orang banyak apalagi benarnya sendiri. Dari Cak Nun-lah aku belajar bahwa kebenaran yang kita yakini itu bukan untuk diomongkan dan diperdebatkan, apalagi disombongkan, tapi untuk disuguhkan dengan cara yang baik sebagai sajian yang enak dan indah, perilaku yang baik dan menyenangkan hati. Kebenaran itu ibarat resep makanan dan cara mengolahnya di dapur, sedangkan yang kita suguhkan adalah makanan enak yang bisa bikin orang menjadi tuman serta merasa nyaman makan dan ngobrol di warung kita.
Semoga Cak Nun selalu sehat, mendapatkan keberkahan dan rejeki yang berlimpah untuk terus menemani masyarakat berposes menemukan kesejatian hidup, yang selalu dalam kesadaran maiyyatullaah, kesadaran di mana saja dan kapan saja bersama Allah SWT. Aamiin.
SELAMAT HARI GURU 2021
Tidak ada komentar:
Posting Komentar