Rabu, 01 Desember 2021

REUNI

REUNI

Hari masih pagi. Pak Bei baru saja mengakhiri nderes beberapa halaman Al-Quran --kebiasaannya setiap bakda shubuh-- lalu menyalakan kompor memasak air untuk bikin kopi. Burung-burung perkutut dan derkuku peliharaan yang tergantung di teras depan sudah manggung bernyanyi bersahutan dari tadi. Terdengar juga beberapa kendaraan lewat di jalan depan rumah, biasanya para petani mau ke sawah, atau pedagang sayur  keliling mau menuju daerah sasarannya. Sambil menunggu air mendidih, Pak Bei membuka pintu-pintu dan jendela untuk ngundhuh udara segar serta sinar mentari pagi.

Betapa kaget Pak Bei ketika membuka pintu depan, dilihatnya sesosok lelaki duduk tercogok di gladri kayu di teras sambil membolak-balik koran Solo Pos edisi kemarin. Tak asing lagi, dilihat dari bentuk punggung, rambut ikal, dan gaya duduknya, orang itu sahabat lamanya yang entah sudah berapa purnama tidak pernah ketemu. "Wah mau reuni nih...," pikir Pak Bei.

"Sasa ya? Sudah lama di sini?" tanya Pak Bei mengagetkan Sasa yang sedang asyik membaca.

"Hehehe...iya, Pak Bei. Assalaamu'alaikum...," jawab Sasa sambil berdiri dan mengulurkan tangannya menyalami Pak Bei.

"Kok gak salam dari tadi? tanya Pak Bei setelah menjawab salamnya.

"Lha tadi Pak Bei masih mengaji, ya aku duduk saja di sini sambil mendengarkan dan menikmati. Wah nyamleng tenan dengarkan ngaji Pak Bei. Adem rasanya."

"Sebentar ya, kubuat kopi dulu. Air sudah mendidih."

"Siap, Pak Bei."

Tak berapa lama, Pak Bei sudah kembali ke depan dengan membawa dua gelas kopi di nampan dan sebungkus rokok kretek.

"Kupikir kamu sudah di Jakarta pagi ini, Sa," kata Pak Bei sambil meletakkan nampan.

"Iya, Pak Bei. Harusnya saya dan teman-teman berangkat kemarin sore dan tadi shubuh sudah masuk Jakarta, kumpul dengan sedulur-sedulur dari berbagai daerah. Tapi batal, Pak Bei," kata Sasa dengan nada kecewa. Diraihnya gelas kopi panas dan diseruputnya sedikit. 

"Kukira teman-teman berani nekad seperti reuni dua tahun lalu, Sa," kata Pak Bei sambil menyodorkan rokok pada sahabatnya. Pak Bei ingat betul kejadian dua tahun lalu, ketika tiba-tiba nerima video call dari Sasa yang sedang berada di dalam bus bersama rombongan aksi Reuni 212 menuju Masjid Istiqlal Jakarta. Sasa, sahabatnya yang sehari-hari jadi juru parkir di warung Soto Kartongali Jolotundo itu, tampak bersih dan cakep pakai baju koko dan kopiah warna putih. Pak Bei tahu betul sahabatnya itu sebelumnya termasuk kelompok rewo-rewo, orang jalanan, anti-kemapanan, dan baru tiga tahun terakhir hidupnya berubah drastis. Dia jadi rajin ibadah, rajin ke mesjid dan ikut pengajian sejak anak laki sulungnya meninggal gara-gara terkena cikunguya. 

"Situasinya beda, Pak Bei," kata Sasa sambil menyulut rokok di jarinya. "Dulu dukungan dari berbagai kalangan masih sangat kuat sehingga kita berani berangkat ramai-ramai dengan biaya urunan, patungan. Sekarang ancamannya nggegirisi, Pak Bei. Maka dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kita memutuskan untuk berdoa saja dari rumah, semoga teman-teman yang hari ini datang reuni 212 di Jakarta tetap aman dan tidak terprovokasi para pihak pembenci ulama.

"Iyalah, Sa. Berbuat baik kan ada banyak cara dan jalannya. Bukankah Allah SWT tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya?"

"Ya memang, Pak Bei. Kalau kita gagas-gagas, sebenarnya yang paling bertanggungjawab ndandani keadaan yang rusak-rusakan ini ya Pemerintah, bukan kita sebagai rakyat. Pemerintah yang harusnya membasmi para koruptor yang berlomba maling uang rakyat. Pemerintah yang harusnya menghentikan ulah para makelar yang menjual kekayaan alam ke para Kumpeni. Pemerintah yang harusnya menangkap dan memenjarakan orang-orang yang suka mengadu-domba dan merusak persatuan kesatuan bangsa. Pemerintah yang harusnya melindungi para ulama dari fitnah orang-orang yang pro-maling dan perusak bangsa. Tapi Pak Bei tahu sendiri, kan....?"

"Maksudnya?"

"Lah yang terjadi kan berbalik 180 derajat. Justru orang-orang yang sedang berkuasa dan sedang menjabat di pemerintahan itu yang merangkap jadi garong, selalu mencari-cari celah untuk korupsi, dan menjadi bagian dari Kumpeni yang menjajah, menghisap, dan menyengsarakan rakyat. Orang-orang baik yang berani teriak "maling" dan mengingatkan agar para penjahat itu menghentikan ulahnya, justru ditangkapi, dipenjarakan, atau bahkan langsung di-dor, dihabisi tanpa proses pengadilan."

"Sa, kita kan masih punya wakil rakyat di Senayan. Seperti para pejabat di Pemerintahan, para wakil rakyat itu sudah kita pilih, kita angkat, dan kita bayar dengan gaji besar beserta fasilitas yang sangat banyak. Kita doakan saja mereka tergerak untuk melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik dan benar."

"Walah, Pak Bei, Sampeyan kok masih berharap pada mereka. Gak bisa, Pak Bei. Mereka itu urusannya mencari seseran untuk mengembalikan modal kampanye, lalu mencari seseran lagi untuk modal kampanye Pemilu berikutnya. Makanya mereka gampang diajak kongkalingkong untuk bikin aturan-aturan yang melanggengkan permalingan."

Sinar matahari pagi tampak semakin benderang. Beberapa petani sudah asyik mengolah sawah di depan rumah. Pak Bei tahu Sasa pada jam-jam ini juga harus mulai bertugas sebagai juru parkir.

"Sa, kamu harus bertugas, kan? Sudah sana. Ayo dihabisin dulu kopinya."

"Baik, Pak Bei. Aku pamit dulu, ya. Wassalamu'alaikum wr.wb."

Sasa menaiki sepeda jengkinya meninggalkan halaman rumah Pak Bei menuju tempat dinasnya di warung Soto Kartongali Jolotundo. Dia juru parkir terhebat yang pernah Pak Bei Jumpai, layak dikukuhkan sebagai Juru Parkir Teladan Nasional.

#serialpakbei






Tidak ada komentar:

Posting Komentar