"Maaf, Pak Bei, ada tamu di ruang sebelah pengin ketemu," kata Thoriq manajer warung. Pak Bei yang dari tadi asyik ngobrol dengan Bu Bei langsung beranjak menuju ruang lesehan ditemani Thoriq.
Ruang lesehan lumayan penuh. Dari 12 meja yang ada, hanya 2 meja yang masih kosong. Begitulah, setiap pagi selalu ramai orang sarapan di Rest Area Santondho, menikmati Soto Bening Boyolali MBOK ROES yang luar biasa nikmatnya.
"Bapak-Ibu, kenalkan ini Pak Bei sesepuh kami. Silakan ngobrol dengan beliau soal warung soto ini," kata Thoriq pada tamunya, sepasang suami-istri dan seorang sopirnya.
Pak Bei langsung menyalami tamunya dan memperkenalkan diri.
"Saya Ali dari Jakarta, Pak Bei. Ini istri saya, dan ini driver kami," jawab tamunya. "Kebetulan kami lewat sini mau nengok anak yang masih kuliah di Jogja. Lah ini kok ada rest area bagus di sini. Kebetulan sejak keluar pintu tol Boyolali, kami belum nemukan tempat yang nyaman buat istirahat dan sarapan."
"Alhamdulillaah, terima kasih Pak Ali dan Ibu sudah mau mampir kemari. Kalau berkenan, mohon ngasih testimoni tentang menu soto dan pelayanan kami," kata Pak Bei. "Maklumlah, baru dua minggu warung ini kami buka dengan karyawan yang semuanya belum berpengalaman. Barangkali masih banyak kekurangan, kami mohon maaf," lanjutnya.
"Wah ini luar biasa, Pak Bei," kata Bu Ali. "Sudah lama kami pengin punya warung soto di Jakarta, tapi belum ketemu brand dan taste yang marketable," sambungnya.
"Apa yang bisa kami bantu, Bu?"
"Begini, Pak Bei. Kalau bisa, kami ingin mengajak Pak Bei kerjasama membuka warung soto ini di Jakarta? Sebagai Cabanglah, Pak. Soto ini rasanya bener-bener mantap, sesuai dengan selera orang Jakarta. Apalagi kata karyawan Pak Bei tadi, soto ini tanpa micin, tanpa MSG, tanpa penyedap rasa, dan tanpa lemak. Ini value tersendiri, Pak Bei. Makanan sehat. Insya Allah pasti akan laris-manis di Jakarta."
"Ibu ada tempat di Jakarta?"
"Ada beberapa, Pak Bei," jawab Pak Ali. "Selama ini kami sewakan, dan kebetulan ada satu yang kontraknya akan habis bulan depan," lanjutnya.
"Bagus itu, Pak Ali. Insya Allah kita bisa kerjasama."
"Alhamdulillaah," Bu Ali tampak berbinar. "Lalu apa saja yang harus kami siapkan, Pak Bei? Dan berapa franchise yang harus kami bayarkan?"
"Pola kerjasama kita bukan franchise. Jadi Bu Ali tidak perlu mengeluarkan dana besar di awal."
"Lah terus bagaimana, Pak Bei?"
"Kemitraan kita pakai pola bagi hasil, berbagi keuntungan, tanpa franchise-fee."
"Kenapa begitu, Pak Bei? Bukankah secara bisnis Pak Bei akan lebih cepat untung dengan pola franchise? Kan nerima dana cash di depan dalam jumlah banyak, Pak Bei," kata Pak Ali.
"Iya, Pak Ali. Kalau dengan pola franchise mungkin kami cepat kaya-raya. Tapi bukan itu visi usaha kami."
"Bagaimana visi Pak Bei?"
"Begini, Pak Ali. Kalau kita bisa berkolaborasi untuk maju dan kaya bersama-sama, kanapa harus bermain sendirian? Kalau sistem dan pola kerjasama bisa dipermudah, kenapa harus dipersulit? Kalau bisa berbiaya murah, kenapa harus berbiaya mahal? Bagi kami, semakin banyak orang mau bekerjasama dengan pola yang mudah ini, lalu usahanya berkembang dan maju, kami akan semakin bahagia. Begitu, Pak Ali."
"Wah luar biasa. Saya yakin akan banyak orang yang berminat buka cabang soto ini di berbagai kota, Pak Bei. Iya kan, Ma?,"
"Iya, Pa. Pasti itu," jawab Bu Ali.
"Mari kita wujudkan dulu kerjasama kita membuka satu cabang di Jakarta, Pak Bei. Ini kartu nama saya. Selanjutnya kita bisa komunikasi via TLP atau WA."
"Baik, Pak Ali. Semoga kerjasama kita dimudahkan."
"Oya, kira-kira kapan Pak Bei biesa ke Jakarta lihat calon lokasi?," tanya Bu Ali.
"Insya Allah dua minggu lagi ya, Bu. Warung ini biar stabil dulu agar bisa saya tinggal beberapa hari."
Pembicaraan pun dikhiri. Bu Ali beranjak ke kasir, dan Pak Ali berjalan sambil ngobrol dengan Pak Bei menuju parkiran.
Begitulah, kolaborasi akan menjadikan hidup terasa lebih indah dan membahagiakan.
#serialsotosartondho
#restareasartondho
#kemitraanwarungsoto
#pakbei087839454741
Tidak ada komentar:
Posting Komentar