Minggu, 30 Januari 2022

BISNIS YANG MEMBAHAGIAKAN

BISNIS YANG MEMBAHAGIAKAN

"Kenapa Pak Bei memilih diversifikasi usaha  jualan soto setelah berpuluh tahun berdarah-darah di usaha konveksi? Bukankah itu terlalu kecil, lagi-lagi cuma ngumpulin duit recehan?," tanya Ridwan yang tampak penasaran dengan pilihan Pak Bei. "Kenapa tidak masuk ke bisnis property, misalnya, atau main valas, atau terjun di politik.  Jelas peluang profitnya jauh lebih besar dan pasti lebih bergengsi?," lanjutnya. 

Pak Bei masih diam dan senyum-senyum mendengarkan omongan sahabatnya sambil sesekali menghisap pipa kretek di tangannya. Seorang pramusaji datang menghidangkan semangkok soto sapi dan segelas teh panas. Segera Pak Bei mempersilakan sahabatnya itu menikmati.

"Kalau memang Pak Bei suka di bisnis kuliner, kenapa tidak bikin restoran yang besar atau cafe untuk nongkrong anak-anak muda? Ah saya jadi heran, kenapa sekelas Pak Bei tidak berusaha menjaga imej sebagai pengusaha top? Orang sekarang kan harus pandai-pandai jaga imej, Pak Bei?"

"Silakan dimakan dulu, Lur. Ciciplah semua yang ada di meja ini. Nanti kita lanjut ngobrol. Aku ke dapur dulu, ya." Pak  Bei meninggalkan sahabatnya sendirian menikmati soto daging sapi yang sedap tapi tanpa penyedap rasa buatannya. Pak Bei paham betul, sahabatnya itu dari dulu suka omong besar, impiannya besar tapi kurang realistis, sok kritis, gengsian, berlagak kaya-raya padahal hidupnya susah. Banyak teman yang enggan meladeni obrolannya yang mengawang-awang, tidak membumi.

Ketika dilihatnya Ridwan sudah menuntaskan semangkok soto dan nyeruput teh, Pak Bei segera kembali nemani duduk dan meladeni obrolannya.

"Gimana sotoku, Lur, enak gak?"

"Wah luar biasa ini, Pak Bei. Belum pernah aku nemu warung soto yang seenak ini."

"Tehnya bagaimana?"

"Waduuh...ini baru teh nasgithel (panas-legi-kenthel) namanya. Benar-benar minuman finishing yang bikin terngiang di lidah."

"Terima kasih, Lur. Sekarang Kamu sudah nemukan jawaban pertanyaanmu tadi, kan?"

"Belum."

"Loh bagaimana Kamu ini. Jualanku ini gak sembarangan, kan? Rasanya gak ecek-ecek?"

"Wooh iya memang luar biasa. Rasanya bikin orang tuman, ketagihan. Tempatnya bersih, pelayanan juga bagus. Cepat saji."

"Alhamdulillaah. Sekarang coba Kamu hitung ada berapa karyawanku?"

Ridwan berdiri dan melihat ruang dapur. 
"Ada 10 orang semuanya," kata Ridwan sambil kembali duduk.

"10 orang itu baru yang di dalam. Kamu belum menghitung yang di parkiran dan penjaga malam. Semuanya ada 15 orang, Lur."

"Banyak juga, ya."

"Kebahagiaanku dalam berbisnis bukan sekadar berapa banyak aku dapat profit, tapi seberapa banyak orang memperoleh kebahagiaan dengan bergabung dalam bisnis ini. 15 orang itu baru yang terlibat langsung sebagai karyawan. Masih banyak orang yang terlibat sebagai suplayer daging sapi, daging ayam, jerohan, telor ayam, telur puyuh, bumbu-bumbu, tempe, tahu, kerupuk, kripik, dsb. Mereka semua mendapatkan rejeki melalui bisnis warung soto ini. Dengan rejeki yang mungkin tidak seberapa bagimu, mereka bisa menafkahi keluarganya, menyekolahkan anak-anaknya, dan bersedekah semampunya. Inilah realitas hidup, Lur. Gak usah bermimpi yang besar-besar, yang penting usaha bisa jalan terus agar jadi jalan rejeki bersama-sama. Semakin banyak orang terlibat, semakin bikin kita bahagia. Ngono lho, Lur."

Tampak 3 mobil masuk ke parkiran dipandu juru parkir. Ada belasan orang turun dan langsung masuk mengisi meja-meja lesehan di ruang sebelah.

"Lur, sori ya, aku harus menyambut tamu. Kapan-kapan kita bisa ngobrol lagi. Kamu gak usah ke kasir. Masih free untuk sahabat."

Pak  Bei menyalami sahabatnya dan langsung menuju ruang sebelah untuk menyapa tamu-tamunya.

#serialsotosartondho

Tidak ada komentar:

Posting Komentar