Minggu, 31 Desember 2023

JANGAN PILIH POLITISI BUSUK

JANGAN PILIH POLITISI BUSUK


"Pak Bei, jamaah di masjid kami kemarin tanya,  Pemilu bulan depan kita mau milih siapa? Aku belum bisa jawab," kata Kang Narjo setelah melemparkan koran di lantai. 

"Mereka belum punya pilihan, Kang?"

"Belum, Pak Bei. Kita kan harus mencoblos 5 nama, caleg DPR Kabupaten, DPRD Provinsi, DPR RI, DPD, dan Capres-Cawapres. Betul-betul repot. Sampai sekarang aku sendiri belum bisa menentukan pilihan. Masih bingung."

Pak Bei maklum bila Kang Narjo masih kesulitan menentukan pilihan, apalagi jamaahnya. Sebagai calon pemilih, sejauh ini rakyat hanya disuguhi foto-foto caleg terpasang bertebaran di pinggir-pinggir jalan dan pojok perkampungan. Ada yang dipaku di pepohonan, ada juga yang dipajang menggunakan tiang bambu.

"Kita belum tahu mana caleg yang benar-benar layak dipilih jadi wakil di lembaga legislatif. Minim informasi, Pak Bei."

"Kalau untuk Capres-Cawapres bagaimana, Kang?"

"Kalau itu lumayan. Kita bisa cari informasi tentang ketiga pasangan itu kapan saja di koran dan internet. Yang repot untuk memilih caleg, Pak Bei."

Mendengar kesulitan sahabatnya itu, Pak Bei jadi teringat isi khotbah Jumat yang diikutinya tempo hari di mesjid rest area tol menuju Semarang. Diceritakannya bahwa Pak Bei  sampai di masjid rest area ketika azan hampir selesai dikumandangkan. Pak Bei pun tetap melakukan sholat tahiyyatul-masjid meski khotib sudah mulai menyampaikan khotbahnya.  

"Jamaah yang dirahmati Allah," khotib menyapa jamaah, "Sebentar lagi kita akan Pemilu, tepatnya besok tanggal 14 Februari 2024. Khotib berwasiat, marilah kita pergunakan hak pilih kita dengan sebaik-baiknya. Pilihan kita akan menentukan masa depan negara ini, apakah akan semakin rusak-rusakan ataukah akan menjadi lebih baik. Maka jangan ada yang golput," kata khotib dengan suaranya yang serak-serak basah namun cukup menggelegar itu.  

"Tema yang kontekstual. Up to date," batin Pak Bei.

"Apa inti pesan khotib, Pak Bei?," tanya Kang Narjo.

"Kang Narjo tentu masih ingat kisah Nabi Ibrahim AS yang ditangkap dan dibakar oleh Raja Namrud karena telah menghacurkan patung-patung sesembahannya."

"Ooh iya ingat. Api yang berkobar-kobar itu menjadi terasa dingin sehingga tidak bisa membakar Nabi Ibrahim, atas diperintah oleh Allah SWT."

"Betul, Kang. Tapi bukan itu pesan khotib kemarin."

"Apa pesannya?"

"Khotib mengajak jamaah mencontoh perjuangan burung emprit."

"Maksudnya?"

"Melihat Nabi Ibrahim Khalilullah yang dizalimi dan dibakar, burung-burung emprit beramai-ramai berjuang memadamkan api yang berkobar-kobar. Mereka mengambil air dari sungai dengan paruhnya yang kecil-kecil untuk diteteskan di nyala api yang berkobar."

"Terus, Pak Bei.."

"Di sisi lain, ada gerombolan cicak yang menjulur-julurkan lidahnya, berjuang meniup-niup nyala api agar semakin besar dan menghabisi Nabi Ibrahim. Melihat  tingkah burung-burung emprit, cicak-cicak itu tertawa terbahak-bahak mengejeknya. 

"Hei, kalian ini ngapain? Bodih sekali. Mana bisa air sak uprit yang kalian teteskan itu mampu memadamkan kobaran api ini," kata para cicak.

"Biarin saja, weeeek," jawab burung emprit sambil terus hilir-mudik mengambil air untuk memadamkan api.

"Silahkan saja kalian menganggap usaha kami sia-sia. Tapi kami yakin, Allah SWT pasti melihat betapa kami ini berpihak pada orang baik, pada orang yang jelas amanah dan jujur, hamba yang sangat taat pada perintahNya, hamba yang selalu berbelas-kasih pada sesama dan seluruh alam, hamba yang tidak pernah berbuat kerusakan di muka bumi," jawab burung-burung emprit.

"Maknanya bagaimana itu, Pak Bei? Apa hubungannya dengan Pemilu nanti?"

"Menurut khotib kemarin, Raja Namrud dan hulu-balangnya adalah simbol dari politisi busuk. Yaitu, para politisi yang berani melakukan apapun demi mencapai ambisinya, politisi yang tega mengambil harta rakyatnya dengan cara apapun, politisi yang bermain proyek dengan dana APBN dan APBD lalu dikorupsi ramai-ramai, politisi yang suka kongkalingkong membuat peraturan-peraturan guna melanggengkan kekuasannya, penguasa yang hanya memikirkan kemakmuran keluarga dan kelompoknya, penguasa yang membayar mahal para buzzer dan pendukungnya untuk terus memfitnah, menyerang, menyebarkan permusuhan dan mencelakakan orang-orang yang berbeda pendapat dengannya."

"Kalau Nabi Ibrahim simbol apa, Pak Bei?" 

"Dialah simbol politisi dan negarawan sejati, yang selalu berpikir dan berjuang demi kebaikan bangsa dan negaranya, yang selalu berupaya mewujudkan kehidupan yang penuh kasih-sayang, yang selalu menjaga ketertiban, memegakkan hukum demi keadilan, yang selalu menjaga akhlak masyarakatnya, yang tegas terhadap ketimpangan dan segala bentuk kemungkaran."

"Jadi kita disuruh mencontoh burung emprit, Pak Bei?"

"Begitulah, Kang."

"Tapi bagaimana cara agar kita tahu mana politisi busuk dan mana politisi sejati?"

"Kita harus berupaya mengetahui rekam jejak para Caleg dan 3 pasangan Capres-Cawapres, Kang. Dari rekam jejaknya akan kelihatan kejujurannya, akan kelihatan juga apakah selama ini dia berposisi membela kepentingan rakyat atau justru menindas rakyat. Lalu, simak baik-baik pidato-pidatonya, cermati visi-misi dan pandanganya tentang kondisi negara kita, tentang rencana dan janji-janjinya, juga sikap dan tutur bahasanya terhadap orang lain. Bandingkan mereka satu-persatu dengan hati dan pikiran jernih. Dengan cara itu Insya Allah kita akan menemukan mana politisi dan negarawan sejati yang pantas kita dukung dan kita pilih."

"Wah berat juga ya, Pak Bei. Tapi bagaimana kalau pilihan yang kita yakini baik itu nanti ternyata kalah di Pemilu?"

"Ya tidak masalah, Kang. Ingatlah burung emprit. Tetesan air dari paruhnya yang kecil itu memangnya bisa memadamkan api? Tidak, Kang. Tapi atas kehendak Allah SWT, kobaran api yang menyala berkobar itu jadi terasa dingin dan tidak membakar Nabi Ibrahim. Kang, sesungguhnya siapa pemenangnya nanti sudah tertulis di lauhul-mahfudz. Cuma Allah SWT menguji kita, di Pemilu nanti kita berada di pihak para politisi busuk atau politisi yang berbudi luhur."

"Semestinya kita berpihak pada politisi yang kita yakini baik dan berbudi luhur kan, Pak Bei?"

"Tepat, Kang. 

"Baiklah, Pak Bei. Jangan pilih politisi busuk. Terima kasih. Sing penting yakin."

Obrolan pagi pun berakhir. Kang Narjo meneruskan tugasnya mengantar koran ke pelanggan yang tinggal sedikit. Loper koran yang  masih setia hingga empat dasawarsa. Zaman sudah mulai berganti, orang-orang beralih membaca berita online, tapi Kang Narjo masih itiqamah dan bersahaja.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
#lpumkmpdmklaten
#selamattahunbaru2024




Selasa, 19 Desember 2023

AYAM FUNGSIONAL TELURMOE

AYAM FUNGSIONAL TELURMOE

Sebenarnya niat Pak Bei dan Bu Bei cuma mau transit sebentar di rest area Masaran, Sragen untuk sholat ashar dan ngopi. Perjalanan via tol menuju  Mantingan, Ngawi tinggal sekitar 20 menit lagi.  Si bungsu Alya yang saat ini kelas 5 di Pondok Gontor Putri 1 pasti sudah menunggu-nunggu. 

Segelas kopi dan teh manis baru saja disajikan pelayan cafetaria ketika sepasang suami istri menyapa Pak Bei dengan sikap dan tutur bahasanya yang sopan. Pak Bei menjawab salamnya dengan sopan juga, sambil berusaha mengingat-ingat siapa orang itu.

"Saya Ikhwan dari Lumajang, Pak Bei. Dan ini istri saya Latifah, aktif di 'Aisyiyah Lumajang. Kami mau pulang dari nengok anak yang kuliah di UMS.

"Oh iya, Pak Ikhwan. Saya ingat, tahun lalu kita ketemu di Muktamar 48 Solo, kan? Kenalkan juga ini istri saya, Erwina, biasa dipanggil Bu Bei."

Bu Bei segera beranjak memesankan minuman untuk teman barunya. Tak lama dua gelas minuman yang dipesan pun datang. Dua pasang suami-istri paroh baya itu pun tampak akrab dan asyik ngobrol sambil sesekali nyeruput minumannya.

"Mumpung ketemu, Pak Bei, kami ingin tanya beberapa hal," kata Pak Ikhwan.

"Monggo, Pak Ikhwan. Kita ngobrol santai saja," jawab Pak Bei.

"Kami ingin tanya seputar program Jatam, Pak Bei, Jamaah Tani Muhammadiyah. Pak Bei kan Pengurus di Pusat."

"Benar, Pak Ikhwan?"

"Begini, Pak Bei. Istri saya ini dan teman-temannya di Aisyiyah Lumajang ingin sekali berkontribusi membantu Pemerintah dalam percepatan penanggulangan kemiskinan dan stunting."

"Wah bagus itu, Pak Ikhwan. Apa yang bisa kami bantu, Bu Latifah?"

"Begini, Pak Bei. Menurut data Pemerintah, ada banyak sekali kasus kemiskinan ekstrem dan stunting di daerah kami. Tapi anehnya, solusi yang diprogramkan menurut kami kurang mengena. Padahal anggarannya sangat besar."

"Programnya apa yang kurang mengena, Bu?"

"Kemiskinan ekstrem dan stunting masa diatasi dengan Jambanisasi, RTLH, dan Sambungan Listrik PLN? Itu kan gak mengena. Aneh, Pak Bei."

"Lha terus kira-kira program apa yang lebih mengena menurut Pak Bu Latifah?"

"Pak Bei, kami pernah dengar dari teman-teman MPM Jawa Timur bahwa Jatam Pusat punya program Ayam Fungsional TELURMOE skala rumah tangga," Pak Ikhwan menyahut.

"Iya, Pak Bei. Katanya itu efektif untuk penanggulangan kemiskinan ekstrem dan stunting. Bagaimana jelasnya, Pak Bei?," sambung Bu Latifah.

"Ooh itu. Memang waktu Rakernas MPM di UM Purwokerto akhir Juli lalu sempat kami sampaikan, namun baru sepintas kilas, belum detil."

"Ya itulah, makanya ini mumpung ketemu tolong dijelaskan, Pak Bei," desak Bu Latifah.

"Baiklah, Bu. Tapi garis besarnya saja, ya."

"Iya gak papa."

"Program Ayam Fungsional TELURMOE ini berawal dari inovasi nutrisi ayam dengan serangkaian ujicoba yang cukup panjang dilakukan oleh Dewan Pakar MPM PP Muhammadiyah yang juga Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ali Agus. Ayam petelor ini dipelihara secara umbaran, bukan di kandang model batrei, dan makanannya ditambahi nutrisi inovasi beliau."

"Apa kelebihannya?"

"Berdasarkan hasil uji lab, TELURMOE memiliki kandungan nutrisi yang sangat bagus untuk kesehatan, a.l.: 
1. Protein Albumen 30% lebih tinggi dari telur ayam ras yang biasa kita konsumsi; 
2. Mineral Fe, Se, dan Zinc juga lebih tinggi;
3. Kolesterolnya 35% lebih rendah;
4. Kandungan Omega-3, Omega-6, dan Omega-9 juga tinggi."

"Wah hebat itu. Sudah pernah diujicoba belum, Pak Bei?" 

"Sudah diujicoba pada anak-anak balita penderita stunting. Dengan makan satu butir telor per hari, dalam tempo 42 hari terjadi kenaikan hemoglobin 31%, padahal bila konsumsi telur biasa hanya naik 4%.  Juga terjadi penambahan berat dan tinggi badan 6%, padahal dengan telur biasa hanya naik 3%."

"Nah ini lho, Pak. Ini baru solusi," kata Bu Latifah pada Pak Ikhsan. "Bayangkan kalau setiap hari anak-anak kita makan makanan yang sehat dan terjaga nutrisinya seperti itu. Tentu masyarakat secara umum akan lebih sehat dan tidak mudah sakit-sakitan. Iya kan, Bu Bei?," Bu Latifah minta dukungan Bu Bei.

"Cara beternaknya bagaimana, Pak Bei?," tanya Pak Ikhwan.

"Ayam petelor dilepas di kandang yang dipagari keliling. Ayam-ayam itu diumbar saja. Jadi kita tidak perlu investasi kandang baterei seperti umumnya ternak ayam petelur yang kita kenal selama ini. 

"Seperti apa kandangnya, Pak Bei?"

"Sangat sederhana, Pak Ikhsan. Per meter persegi bisa untuk 3-5 ekor ayam. Sepertiga kandang pakai atap. Di situ tempat ayam makan, minum, berteduh, dan bertelur. Yang dua pertiga terbuka tanpa atap agar ayam-ayam bisa berjemur, bermain tanah atau pasir, dan nongkrong di tempat yang disediakan."

"Kenapa dilepas, Pak Bei? Kenapa tidak di kandang batrei seperti umumya peternakan ayam?," tanya Bu Latifah.

"Bu Latifah, ayam kan juga makhluk hidup. Mereka butuh penyaluran naluri behavior. Butuh lompat-lompat, mengepakkan sayap, mandi pasir, dan sebagainya. Cara memeliharanya sangat memperhatikan kesejahteraan hewan, bahasa kerennya "animal welfare". Jadi hidupnya bahagia. 

"Terus, Pak Bei. Yang dimaksud dengan ternak skala rumah tangga tadi bagaimana?," tanya Bu Latifah penasaran.

"Setiap keluarga yang tergolong miskin ekstrem cukup beternak 50 ekor. Ayam dipelihara mulai umur 17 minggu. Mulai umur 20 minggu, ayam sudah mulai bertelur, dan mulai umur 29 atau 30 minggu sudah produksi standar, 80% bertelur, alias 40 butir dihasilkan setiap hari, sama dengan 1.200 butir per bulan."

"Terus, Pak Bei. Saya catat lho ini," kata Bu Latifah sambil asyik mencatat di HaPe-nya.

"Dari 40 butir itu, yang 5 wajib dimakan keluarga peternak untuk perbaikan gizi. Selebihnya baru disetorkan ke Pendamping dari Jatam dengan harga antara Rp 2.300 - 2. 500/butir. Hasil produksi per bulan setelah di kurangi biaya pakan, peternak akan mendapatkan hasil antara 800ribu sampai 1 juta/bulan."

"Wah, jadi ada dua keuntungan sekaligus bagi peternak ya, Pak Bei. Pertama tercukupi gizi keluarga, dan kedua ada pemasukan sekitar 1 juta setiap bulan. Itu bagus sekali."

"Maaf, Pak Bei, program ini kan diharapkan dapat dilaksanakan oleh semua Pengurus Daerah Jatam. Terus telur-telur yang disetorkan ke Pendamping dari Jatam itu nanti mau dikemanakan?," tanya Pak Ikhwan.

"Pak Ikhwan, Muhammdiyah di hampir  setiap Daerah punya banyak sekolah sejak Paud, TK, SD hingga SMA/SMK. Beberapa Daerah juga punya Perguruan Tinggi dan Rumah Sakit. Insya Allah semuanya siap mendukung gerakan MPM sesuai arahan dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Semua Amal Usaha siap membeli hasil produksi anggota Jatam, baik produk pertanian maupun peternakan. TELURMOE ini sangat bagus untuk konsumsi anak-sekolah dan recovery pasien rawat inap di Rumah Sakit atau PKU."

"Lha terus bagaimana pengadaan pakannya, Pak Bei? Kan tidak mungkin setiap peternak bikin pakan sendiri-sendiri karena kualitasnya pasti akan berbeda, tidak sesuai standar."

"Itu benar, Pak Ikhwan. Pakan akan disediakan oleh PT LUKU, Badan Usaha Milik Muhammadiyah, yang sudah didirikan oleh MPM PP. PT LUKU akan bikin pabrik pakannya."

"Pakannya beda juga, Pak Bei?"

"Beda, Bu Latifah. Perbedannya: 1. pakan ini full nabati, tanpa tepung darah, bulu, atau tulang;
2. ⁠pakan ini bebas dari tepung ikan;
3. ⁠sumber hewani ini potensi jd alergen bagi manusia;
4. ⁠bebas antibiotik;
5. ⁠ada 12 komponen jamu seperti temulawak, jahe, kunyit, bawang putih, kelor, dll;
6. ⁠ekstrak herbal sama mineral organik masuk semua;

"Satu lagi, Pak Ikhsan, nanti bila Jatam Daerah tidak mampu menjual sendiri TELURMOE di Daerahnya, PT LUKU juga siap membelinya. Insya Allah semua akan berjalan dengan baik dan berkeadilan."

"Iya, Pak Bei. Bagus sekali kalau bisa dibangun kolaborasi antar Majelis, Lembaga, Ortom, dan AUM. Kami yakin, kita pasti bisa."

"Insya Allah, Pak Ikhsan."

"Baiklah, Pak Bei. Sudah cukup jelas. Akan segera kami kabarkan ke teman-teman. Insya Allah semua Jatam Daerah akan mendukung program ini. Semoga Pemerintah juga mau mendukung dan bersinergi untuk mensejahterakan rakyatnya," kata Pak Ikhwan mantap.

"Mari kita lanjutkan perjalanan, Pak. Masih jauh kita ini," Bu Latifah mengajak suaminya. "Kami pamit dulu ya, Pak Bei. Terima kasih atas waktu dan ilmunya."

"Sama-sama, Bu Latifah. Hati-hati di jalan, Pak Ikhwan.""

Kedua pasang suami istri itu menuju mobilnya untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan masing-masing. Pak Bei dan Bu Bei ke Mantingan mudifah anaknya, Pak Ikhwan dan Bu Latifah pulang ke Lumajang. Semoga semua dilancarkan...aamiin.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#pengurusjatampusat
#lpumkmpdmklaten







Senin, 11 Desember 2023

IMAM SADAR TUPOKSI

IMAM SADAR TUPOKSI

Tamu Pak Bei malam ini namanya Suwarno, biasa dipanggil Mas Warno. Rumahnya masih satu kecamatan dengan Pak Bei, di Kecamatan Jatinom, Klaten, sekitar 3 km dari nDalem Pak Bei. Perawakannya sedang. Meski berprofesi sebagai tukang bangunan, biasa kerja fisik, tapi penampilannya cukup bersih terawat. Tutur bahasanya juga sopan. Itu mungkin karena dia biasa menjadi imam sholat rawatib di mesjid kampungnya, terutama maghrib, isya', dan shubuh. Bahkan, sesekali dia juga menjadi khatib Jumat meski statusnya hanya cadangan. Begitu ceritanya.

"Sebenarnya bukan karena saya lebih paham ilmu agama dan fasih mengaji, Pak Bei. Bukan. Tapi jamaah yang minta supaya saya menjadi imam. Saya anggap itu sebagai amanah dan tidak boleh ditolak," kata Mas Warno.

"Betul itu, Mas. Syarat sholat jamaah memang harus ada imam dan makmum. Imam tidak perlu diperebutkan, jadi tidak perlu pakai pemilihan umum. Cukuplah bila jamaah menyepakati salah seorang menjadi imam untuk diikuti. Kebetulan Mas Warno yang dituakan dan diamanahi menjadi imam," Pak Bei merespon.

"Iya, Pak Bei. Tapi setiap mau Pemilu seperti sekarang ini saya jadi merasa repot."

"Kenapa repot? Kan sudah biasa ada Pemilu, Pilpres, Pilgub, Pilkada, Pilkades?"

"Ya itulah, Pak Bei. Menjelang Pemilu kali ini, jamaah bertanya besok kita mau milih siapa untuk Capres-Cawapres, untuk DPD, DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten."

"Wah bagus itu jamaahmu. Terus bagaimana jawabmu, Mas?"

"Kemarin saya jawab bahwa saya harus cari informasi yang agak lengkap dulu, terutama tentang ketiga pasangan Capres-Cawapres."

"Lha yang untuk DPD, DPR, dan DPRD bagaimana?"

"Yang itu tidak terlalu penting, Pak Bei."

"Tidak terlalu penting bagaimana, Mas?"

"Selama ini kita tidak tahu apa kerja mereka di gedung Dewan, Pak Bei. Kita tidak tahu apa yang mereka perjuangkan. Yang kita tahu, justru banyak anggota Dewan ditangkap KPK karena korupsi."

"Kan  cuma sedikit di antara sekian ratus anggota Dewan, Mas Warno. Jangan terus gebyah uyah seolah semua anggota Dewan jadi maling."

"Saya masih ingat pelajaran jaman sekolah dulu, Pak Bei. Ada 3 tugas dan fungsi DPR, yaitu legislasi, budgeting, dan pengawasan. Kalau tiga fungsi itu dilakukan dengan baik dan benar, pasti negara kita jadi adil-makmur. Tapi ternyata yang terjadi justru rusak-rusakan. Korupsi merajalela di mana-mana, hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas alias tebang pilih, terjadi krisis pangan dan beras, harga-harga kebutuhan hidup naik terus, banyak terjadi penggusuran tanah milik rakyat atas nama Proyek Strategis Nasional, juga terjadi PHK massal karena pabrik-pabrik bangkrut, kasus kriminalitas juga semakin meningkat, dan sebagainya. Itu jelas biangnya karena anggota Dewan tidak melaksanakan tupoksinya dengan benar, bahkan mungkin ikut kongkalingkong melanggar hukum dan konstitusi."

Wah berat. Seorang imam masjid kampung dan tukang bangunan sudah punya kesan yang buruk terhadap kondisi negara. Parahnya lagi, dia punya kesimpulan anggota Dewan yang menjadi biangnya.

"Jadi kayaknya besok kita cukup milih Capres-Cawapres saja, Pak Bei."

"Kenapa begitu?"

"Belajar dari pengalaman, Pak Bei. Negara ini mau terus rusak-rusakan begini atau mau berubah menjadi lebih baik, menjadi lebih adil-makmur dan maju atau mundur, itu tergantung siapa Presidennya. Ini yang kukatakan pada jamaah kemarin, bahwa saya mau mencari dulu informasi yang jangkep agar nanti bisa memilih Calon Presiden yang terbaik."

"Caranya, Mas?"

"Sejauh ini saya memang belum nggagas soal pilihan, Pak Bei. Masih suntuk dengan kerjaan saya di proyek. Tapi karena jawaban saya sudah ditunggu jamaah, terpaksa saya harus cari-cari info ke sana-sini, termasuk buka-buka internet."

"Terus, Mas...."

"Saya akan membandingkan ketiga pasangan yang ada."

"Membandingkan apanya?"

"Terutama rekam-jejaknya, Pak Bei. Mereka kan sudah pernah jadi Gubernur, jadi Pimpinan DPR, bahkan ada yang masih menjabat sebagai Menteri dan Walikota. Akan saya simak satu-persatu apakah omongannya yang manis-manis saat kampanye sesuai dengan perilaku politiknya selama ini. Kalau omongannya sih semua pasti menawarkan yang terbaik untuk rakyat. Namanya juga kampanye. Jualan jamu, jualan kecap. Selama ini mereka sudah ngapain saja? Itu penting, Pak Bei."

"Senang sekali bisa ngobrol dengan Mas Warno malam ini. Luar biasa. Semoga Mas Warno segera menemukan pilihan yang terbaik sehingga bisa menjawab pertanyaan jamaah."

"Njih, Pak Bei. Terima kasih sudah mau mendengarkan uneg-uneg saya. Mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan."

"Santai saja, Mas Warno. Slow wae."

"Saya nyuwun pamit dulu, Pak Bei. Sudah larut malam. Sugeng dalu, selamat istirahat."

Pak Bei melepas Mas Warno meninggalkan  halaman dengan sepeda motornya. Luar biasa. Imam masjid kampung yang menyadari tupoksinya sebagai pemandu jamaah, bukan hanya dalam sholat rawatib, tetapi juga dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#lpumkmklaten
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah







Minggu, 03 Desember 2023

MILLENIAL SOCIO-PREUNEUR

MILLENIAL SOCIO-PRENUER

Minggu siang ini Pak Bei kedatangan tamu agak istimewa. Anak-anak muda Klaten kelahiran 90an, datang memperkenalkan diri sebagai Klaten Millenial Sociopreneur. Keren, kata Pak Bei dalam hati. Enam pemuda berpendidikan sarjana S1 dari berbagai Universitas dan jurusan itu berani memilih jalan hidup sebagai pengusaha. Bukan pengusaha biasa, tapi pengusaha yang punya visi pemberdayaan masyarakat. Mereka sadar memilih jalan terjal, bukan memilih jalan lempang dan nyaman sebagai pegawai atau karyawan. Dan hebatnya lagi, mereka pun bangga menyebutkan identitasnya yang keren, Klaten Millenial Sociopreneur. Mereka sengaja bareng-bareng datang ke Pak Bei untuk kenalan dan ngobrol. Begitu katanya.

Pilihan usaha anak-anak muda itu bermacam-macam. Faqih, misalnya, dia menekuni dunia digital-marketing, khusus menjual aneka produk pengecoran logam dari Batur, Ceper. Dia tidak mempunyai pabrik pengecoran sendiri, tapi kinerja marketingnya ditunggu-tunggu mitra pabriknya. Konon omsetnya bisa mencapai milyaran. Pemilik pabrik pun menjadi sangat tergantung order dari Faqih. 

Begitu juga Hasan yang menekuni marketing produk-produk furniture dari Serenan, Juwiring kampung halamannya. Pasarnya ekspor. Ada beberapa buyer dari Jepang, Korea, Canada, Itali, dan Spanyol. Order yang masuk dia bagi-bagi ke beberapa pengrajin dan bengkel. Anak muda yang hebat itu menjadi pintu rejeki bagi banyak pemilik bengkel furnitur dan karyawannya.

Hendy yang dari Wedi memilih melanjutkan usaha konveksi almarhum bapaknya. Bedanya, dia memilih produksi kaos dan jersey sesuai selera kekinian, bukan produksi seragam sekolah seperti bapaknya dulu.
Pasarnya pun tidak mengandalkan penjualan di Pasar Klewer Solo. Sesuai dengan segmentasinya, dia mengandalkan pemasaran online melalui medsos dan E-commers. Jadi skalanya lebih luas ke berbagai kota.

Yusuf dari Cawas memilih mendampingi para perajin lurik ATBM di kampungnya dan membantu penjualan produk secara online. Menurut Yusuf, sebenarnya peluang pasar lurik masih cukup bagus, baik lokal maupun Nasional. Tapi masalahnya pada kemampuan produksi para perajin. Mereka sering tidak mampu melayani tingginya permintaan pasar. Maklum, namanya saja ATBM, Alat Tenun Bukan Mesin. Proses produksi dikerjakan secara manual, dengan tangan dan kaki. Tenaga kerjanya mayoritas ibu-ibu yang sudah berumur, sebagai pekerjaan sambilan di sela-sela tugasnya mengurus anak dan membantu suami bekerja di sawah.

Irfan dari Karangpoh, Jatinom memilih usaha jualan aneka alat pertanian dan alat dapur seperti cangkul, cengkek, sabit, pisau, dan sebagainya. Maklum, desanya memang terkenal sebagai sentra pandai besi di Klaten. Dengan ketrampilannya digital-marketing, Irfan tampak cukup sukses memasarkan aneka produksi pandai besi tetangganya.  Agen dan reseller ada di berbagai daerah terutama di daerah perkebunan dan transmigran di luar Jawa.

Didik dari Delanggu memilih masuk bisnis di sektor beras. Dia tidak punya sawah, juga tidak membina langsung para petani dalam budidaya. Tapi, dia menggalang beberapa pemilih usaha penggilingan padi kecil di Delanggu dan sekitarnya, menggarap pemasaran Beras Delanggu via online. Dengan cara itu, Didik dapat menuhi permintaan pasar di berbagai kota.

"Tapi sudah beberapa bulan ini pasar lesu, Pak Bei. Tidak ada lagi permintaan dari luar Jawa," kata Rifan si pedagang senjata tajam.  "Mungkin karena semua orang sedang sibuk urusan politik mau Pemilu. Atau mungkin juga karena peralatan pertanian dari China sudah membanjiri pasar kita, Pak Bei. Produk kita juga kalah bersaing di harga," sambungnya. 

"Produksi kaosmu bagaimana, Mas Hendy? Banyak pesanan kaos kampanye, kan?" tanya Pak Bei.

"Enggak, Pak Bei. Sama saja, kami juga sedang sepi order. Kabarnya para politisi sekarang pesan Alat Peraga Kampanye seperti kaos dan banner langsung ke China. Konon harganya jauh lebih murah," jawab Hendy.

"Kalau bisnis berasmu bagaimana, Mas Didik? Ikut merasakan dampak gonjang-ganjing harga gak?"

"Ya jelas, Pak Bei," jawab Didik. "Sampai sekarang pun saya masih kesulitan mendapatkan barang. Teman-teman penggilingan padi skala kecil banyak yang terpaksa tutup usaha karena tidak ada pasokan gabah dari petani. Semua gabah tersedot ke pabrik besar. Dengan mesin-mesin canggih dan bermodal besar, mereka bisa memonopoli gabah dari petani se-Solo Raya," sambungnya.

"Terjadinya krisis beras kan karena faktor kekeringan dan gagal panen di tingkat petani to, Mas? Itulah sebabnya Pemerintah mengimpor berjuta ton beras dari Vietnam dan sebagainya demi menjaga stok pangan kita."

"Mungkin itu benar, Pak Bei, tapi tidak sepenuhnya benar," kata Didik.

"Maksudmu?"

"Menurut saya, kebijakan Pemerintah di sektor on-farm atau budidaya harus diperbaiki. Petani sebagai produsen beras harus dimuliakan dan dipihaki. Jangan hanya dijadikan objek pasar dari produsen benih, pupuk, dan obat-obatan, juga proyek ujicoba alsintan. Off-farm dan tata niaga beras juga harus dipebaiki, Pak Bei. Jangan sampai pangan kita dikendalikan oleh kartel."

"Untuk Mas Faqih dan Mas Hasan, tampaknya saya tidak perlu bertanya karena saya percaya jenis komoditas kalian masih aman, setidaknya untuk saat ini," kata Pak Bei pada juragan muda cor logam dan furnitur.

"Benar, Pak Bei. Alhamdulillah untuk saat ini memang masih aman, masih jalan terus," kata Faqih. 

"Tapi kami pun mulai menghadapi ancaman serius dari kompetitor luar lho, Pak Bei," Hasan menyahut. "Entah bagaimana caranya, mereka bisa menjual barang yang sama dengan kami tapi dengan harga yang sangat murah, bahkan tidak masuk akal," lanjut Hasan.

Obrolan masih seru, tapi azan ashar mulai terdengar bersahutan dari Toa-toa masjid sekitar nDalem Pak Bei. Tampak Bu Bei yang sudah mengenakan mukena memberi kode agar Pak Bei bersiap ke masjid. Tamu-tamu millenial itu pun paham. Mereka beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju ke masjid di samping nDalem Pak Bei.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#lpumkmpdmklaten
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah





Sabtu, 25 November 2023

MEMILIH PEMIMPIN

MEMILIH PEMIMPIN

Ronda di Poskamling malam Minggu kali ini tampak lebih gayeng dari biasanya. Bukan hanya karena tiap malam Minggu memang jadwal rondanya mayoritas pemuda-remaja yang masih sekolah atau kuliah, tapi ndelalah ada Lek Nardi yang mampir dari kondangan dan membawa banyak makanan. Suasana pun jadi hidup dan meriah. 

Tetangga Pak Bei yang satu ini agak istimewa. Kehadirannya di manapun selalu membawa suasana segar.  Pekerjaannya sebagai pengrajin lanjaran, bilah bambu untuk tanaman merambat, rupanya membawanya banyak bergaulan dengan berbagai kalangan. Banyak omong. Kadang terkesan sok tahu segala hal.  Suaranya pun keras, khas orang desa. Saking sok tahu dan kerasnya, kadang terkesan kurang subasita, kurang sopan. Tapi justru itu yang bikin suasana jadi hidup, gayeng, dan anak-anak muda pun menyukainya. 


"Anak-anak, ini mumpung ada Pak Bei, ayo kita keroyok ramai-ramai agar berbagi ilmu ke kita," Lek Nardi memprovokasi para pemuda. 

"Ya monggo, Lek Nardi dulu yang memulai," sahut Teguh yang duduk di pojok.

"Mestinya kalian dulu yang punya banyak informasi. Ayu Sul, ajukan pertanyaan ke Pak Bei," Lek Nardi menyuruh Samsul yang lagi asyik makan rengginang. "Kalau saya ini kan cuma wong bodo, hanya tahu informasi dari tivi. Atau monggo Pak Bei saja yang cerita. Pasti punya info yang layak kita dengar," sambungnya.

"Cerita apa to, Lek? Aku lebih suka mendengarkan cerita-ceritamu," jawab Pak Bei.

"Ya cerita tentang politik, misalnya. Beberapa hari lagi kita akan memasuki masa kampanye Pemilu. Pasangan  capres-cawapres ada tiga dan sudah jelas nomor urutnya. Dari ketiga pasangan itu, mana yang layak kita pilih?" 

"Wah berat itu, Lek."

"Kok berat? Sampeyan kan tokoh masyarakat. Pasti bisa memberi pencerahan pada orang bodoh seperti saya ini."

"Iya, Pak Bei. Lek Nardi benar. Kami ini butuh pengarahan menghadapi Pemilu nanti," kata Slamet.

"Begini... Pertama, kalian tahu saya ini bukan tokoh politik, bukan politisi. Jadi kurang cukup paham peta politik yang sebenarnya. Kedua, saya sudah punya pilihan yang mungkin berbeda dari pilihan teman-teman. Mari kita saling menghormati perbedaan dan saling menjaga perasaan."

"Tolong Pak Bei juga menghargai permintaan kami. Kami cuma ingin diajari membaca dan membedakan mana calon pemimpin yang baik dan mana yang kurang baik. Pak Bei tentu lebih tahu dari kami," Lek Nardi menyanggah.

"Baiklah kalau begitu," Pak Bei pun mengalah. "Aku punya cerita."

"Nah gitu, Pak Bei."

"Jumat kemarin, di perjalanan ke Semarang untuk suatu urusan, aku berhenti di sebuah masjid untuk Jumatan."

Semua petugas ronda tampak siap mendengarkan cerita Pak Bei. Ada yang sambil klepas-klepus rokokan, ada yang sambil menikmati kacang oven bawaan Lek Nardi.

"Muazin mengumandangkan azan tepat setelah aku selesai sholat tahiyatul-masjid. Jamaahnya belum seberapa banyak, masih beberapa shaf belum terisi, alias masih kosong. Beberapa jamaah yang baru datang tampak berdiri menunggu muazin menyelesaikan azan, baru kemudian mereka akan melakukan shalat dua rakaat, shalat tahiyatul-masjid." 

"Rupanya masyarakat di sana tidak jauh beda dengan di kampung kita ya, Pak Bei? Baru bergegas ke masjid ketika azan sudah mulai berkumandang," kata Arif sambil tertawa. 

"Iya. Kebiasaan yang kurang afdhol, tetapi umum terjadi di mana-mana," jawab Pak Bei.

Pak Bei melanjutkan ceritanya. Khotib Jumat mengangkat tema aktual dan sangat kontekstual, yakni seputar memilih pemimpin. Diawali cerita sejarah Madinah sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin dari Mekah. Konon ada banyak suku di Madinah, yang paling dominan adalah suku Aus dan Khazrat. Suku-suku kecil bangsa Yahudi suka memperkeruh keadaan, menyebar fitnah, dan mengadu domba mereka. Maka, kedua suku Arab yang seakan partai politik di jaman kita itu terus bermusuhan dan tak jarang terjadi peperangan antara keduanya.

"Di jaman itu sudah ada provokator yang suka adu-domba ya, Pak Bei?"

"Benar. Saking seringnya berperang antar-mereka, akhirnya mereka pun merasa capek sendiri. Mereka sadar dan ingin hidup damai dan tenteram, ingin bebas dari rasa takut, ingin bisa bekerja dengan tenang, dan ingin membangun negerinya agar makmur sentosa. Mereka butuh pemimpin yang adil dan tidak menindas."

"Terus, Pak Bei...."

"Menurut cerita khatib kemarin, ada seorang tokoh dari suku Khazrat bernama Abdullah bin Ubay yang sangat berambisi menjadi pemimpin Madinah. Tentu saja suku Aus menolaknya karena mereka tahu watak Abdullah bin Ubay yang culas, suka berbohong, tidak jujur, dan kejam. Tapi Abdulllah bin Ubay tetap berusaha tampil sebagai pemimpin Madinah. Orang-orang pun takut dan terpaksa taat pada Abdullah bin Ubay."

"Terus, Pak Bei..."

"Ketika Nabi Muhammad dan para sahabatnya datang berhijrah dari Mekah, masyarakat Madinah menyambut dengan suka cita. Maklumlah, memang sudah lama mereka mendengar kabar dari orang-orang Yahudi bahwa Allah akan mengutus Nabi terakhir, entah kapan datang, untuk menjadi panutan bagi manusia agar selamat dunia-akhirat. Ciri-ciri Nabi terakhir itu persis yang mereka saksikan pada diri Muhammad. Orangnya jujur, dapat dipercaya, turur katanya bagus, dan cerdas. Masyarakat Madinah pun yakin bahwa beliaulah Nabi terakhir itu. Maka mereka ramai-ramai berbaiat kepada Muhammad dan mengikuti ajaran Islam yang dibawanya."

"Terus bagaimana reaksi Abdullah bin Ubay, Pak Bei?"

"Abdullah bin Ubay pun terpaksa pura-pura ikut berbaiat, meski
 sebenarnya dia sangat benci pada Rasulullah SAW."

"Mbok jangan panjang-panjang ceritanya, Pak Bei," rupanya Lek Nardi tidak sabar mendengar cerita sejarah. "Kesimpulannya saja apa?," tanyanya.

"Menurut khotib, Pemilu nanti kita akan memilih pemimpin untuk masa depan Indonesia, Lek Nardi. Apakah kita mau memilih pemimpin tipe Abdullah bin Ubay yang munafiq dan ambisius, atau memilih pemimpin tipe Muhammad SAW yang memiliki sifat sidiq/jujur, amanah/dapat dipercaya, tabligh/komunikatif, dan fathonah/cerdas. Semua terserah jamaah. Khotib cuma mewanti-wanti supaya jamaah menggunakan akal sehat dalam menentukan pilihan agar tidak menyesal kemudian."

"Terima kasih, Pak Bei. Jelas aku akan milih yang tipe Nabi Muhammad SAW. Kalau kalian mau pilih tipe Abdullah bin Ubay, ya silakan saja, tapi rasakan akibatnya. Akan semakin remuk dan hanya dibohongi terus," kata Lek Nardi kepada anak-muda.

"Ya enggaklah, Lek. Aku bala-mu," sahut Teguh.

"Iya, Lek. Aku juga bala-mu," kata Samsul.

Obrolan di cakruk pun bubar setelah Teguh melaporkan hasil jimpitan malam ini, terkumpul Rp 35.500. Alhamdulillaah.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
#lpumkmpdmklaten





 

Minggu, 19 November 2023

BERPRASANGKA BAIK

BERPRASANGKA BAIK

Bakda isya', Pak Bei sebenarnya mau langsung siap-siap berangkat ke Yasinan sepulang dari masjid. Maklumlah ini malam Jumat. Di kampung Pak Bei ada tradisi sejak tahun 1952/53 yang masih berjalan dan terawat baik hingga sekarang, yaitu Pengajian Tilawatil-Qur'an khusus untuk Bapak-bapak dan pemuda atau remaja putra. Tempatnya berpindah-pindah, bergilir dari rumah-rumah jamaah. Konon, pada pengajian tiap malam Jumat itu awalnya yang dibaca hanya surah Yasin dilanjut Tahlilan. Dalam perkembangannya, jamaah membaca Al Quran secara tartil  dipandu oleh salah seorang yang termasuk bagus bacaannya sesuai jadwal yang sudah dibuat. 

Untunglah malam ini bukan giliran Pak Bei yang memandu mengaji. Jadi Pak Bei merasa tidak wajib berangkat. Ada yang lebih wajib dilakukannya,  yakni menemani tamu-tamunya. Ndelalah juga tamunya kali ini Kang Narjo. Dia datang lagi bersama tiga pemuda kampungnya. 

"Pangapunten tidak ngabari dulu, Pak Bei. Adik-adik ini tadi selesai jamaah isya' langsung minta diantar ke sini. Katanya pengin meguru ke Pak Bei," kata Kang Narjo.

"Halaah meguru apa? Ngobrol sajalah. Saya kan bukan guru," kata Pak Bei.

"Pak Bei kan termasuk pengurus di PP Muhammadiyah," kata pemuda yang Pak Bei masih ingat namanya Aji. "Jadi wajar kalau kami-kami yang masih muda ini datang meguru ke sini," lanjutnya.

Cahya putra Pak Bei keluar menyuguhkan 5 gelas kopi, sekalian pamit ke Pak Bei mau berangkat Yasinan. 

"Pamitkan ayah ya, Le. Ada tamu," kata Pak Bei.

"Siap, Yah," kata Cahya sambil mempersilakan tamu-tamu ayahnya menikmati kopinya.

"Baiklah. Teman-teman pengin ngobrol soal apa malam ini?" tanya Pak Bei.

"Anu, Pak Bei, soal warga Muhammadiyah menghadapi situasi politik terkini," kata Marwan.

"Waoow...kok berattt. Mbok ngobrol yang ringan-ringan saja to, Mas."

"Kalau obrolan yang ringan kan sudah biasa kami lakukan di angkringan hampir tiap malam, Pak Bei," kata Azis.

"Terus apa yang mau kita bahas?"

"Begini lho, Pak Bei, besok Rabu kan ada acara Dialog Terbuka Muhammadiyah Bersama Calon Pemimpin Bangsa di Edutorium UMS," kata Azis.

"Iya benar."

"Tapi kenapa yang dihadirkan cuma Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar? Kenapa tidak diundang sekalian Prabowo-Gibran dan Ganjar-Mahfud,?" lanjut Azis seolah memprotes.

"Iya, Pak Bei. Kenapa mereka harus dipisah tempat dan audiensnya? Padahal kalau ketiganya diadu di even yang sama, di tempat dan audiens yang sama, kan seru. Setidaknya, rakyat ini jadi tahu kualitas setiap pasangan," kata Marwan.

"Benar, Pak Bei. Kenapa yang dihadirkan di UM Surabaya hanya Prabowo-Gibran? Apa orang Jawa Timur tidak butuh mengenal Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud?  Demikian juga yang dihadirkan di UMS kok hanya AMIN, dan yang di UM Jakarta hanya Ganjar-Mahfud. Kenapa, Pak Bei?" kata Aji dengan nada protes juga.

"Begini, Teman-teman. Pertama, saya ini bukan panitia acara itu. Jadi saya tidak ikut merencanakannya. Kedua, tolong dipahami bahwa segala hal yang dilakukan oleh PP Muhammadiyah itu hasil keputusan kolektif-kolegial, sudah melalui proses diskusi dan kajian  komprehensif yang dilakukan oleh para Ketua. Kita harus ingat, para Ketua itu sudah kita pilih bersama di Muktamar sebagai Pimpinan Pusat dan kita warga Persyarikatan Muhammadiyah harus mentaatinya."

"Iya, Pak Bei, kami juga paham itu."

"Lha terus, kenapa seolah kalian menggugat ke saya? 

"Sebenarnya kami bukan bermaksud menggugat Pak Bei. Sama sekali bukan. Kami cuma ingin dibantu memahami kenapa besok yang di UMS itu hanya AMIN yang dihadirkan?" Jangan-jangan PP Muhammadiyah memang sengaja membantu kampanye AMIN di Solo yang konon kandangnya Ganjar dan Gibran?"

"Masya Allah...janganlah shu'udzon begitu, Mas. Itu tidak baik. Kalian kemarin menyaksikan pengundian nomor urut pasangan Capres-Cawapres, kan?"

"Iya, Pak Bei. Kami melihat di televisi."

"Hasilnya pasangan AMIN no 1, pasangan PRAGI no 2, pasangan GAFUD no 3."

"Iya benar, Pak Bei.

"Menurut kalian, hasil itu by desain alias rekayasa atau proses alamiah?"

"Menurut saya alamiah, Pak Bei," jawab Aji.

"Bagus. Good. Bagaimana kalau kita juga husnudzon saja bahwa penjadwalan acara Dialog Terbuka yang diadakan oleh PP Muhamamdiyah itu hasil proses alamiah? Kebetulan saja PRAGI dapatnya di UM Surabaya, AMIN di UM Surakarta, dan GAFUD di UM Jakarta. Gak usah berprasangka neko-neko, jangan menduga yang enggak-enggak."

"Ya maklum saja, Pak Bei, mereka ini anak-anak muda," Kang Narjo yang sejak tadi diam saja, kini ikut bicara. "Mungkin mereka ini penginnya seperti nonton pertandingan tinju atau UFC. Senang melihat antar-pasangan itu saling pukul, saling tendang, saling banting, saling pithing. Senang melihat ada yang roboh dan KO di octagon," lanjut Kang Narjo.

"Ya kan jadi gayeng, Pakdhe. Jadi seru kalau ada yg kena uper-cut terus ngglethak, KO," kata Aji disambut gelak-tawa teman-temannya.

"Justru itu yang harus kita hindari, Mas. Marilah pesta demokrasi ini kita hadapi dengan gembira. PP Muhammadiyah mengundang dan menguji ketiga pasangan capres-cawapres. Silakan publik menilai dengan jernih. Slow wae, gak usah kenceng-kenceng. Kita nilai ketiga pasangan dengan kaca mata objektif dan rasional."

"Halaah, Pak Bei ini masa lupa. Setiap memasuki masa kampanye, di mana-mana terjadi polusi pemandangan dan pendengaran. Gambar-gambar caleg dan capres-cawapres ditempel di mana-mana. Bikin mata sepet. Suara deru sepeda motor tanpa knalpot merusak ketenangan masyarakat. Bising luar biasa. Bagaimana kita mau slow wae melihat permainan amplop dari para makelar,.menjelang hari-H menyerbu rumah-rumah pemilih di desa-desa?"

"Nah itu. Itulah tugas kalian generasi muda. Kalau memang kalian melihat permainan amplop itu, difoto saja, lalu disebar ke medsos. Viralkan. Itu baru gayeng. Kita harus jadi pengawas perilaku politik para peserta Pemilu. Ayo kita ramaikan."

"Siap, Pak Bei," kafa Aji.

"Kami siap jadi pengawas mandiri, Pak Bei," kata Marwan.

"Siap gas pol, Pak Bei, kata Azis.

"Sudah malam. Cukup ya nyobrolnya. Ayo kita pamitan. Pak Bei biar istirahat."

"Baiklah, Kang Narjo. Terima kasih Teman-teman sudah datang ke sini. Kapan-kapan kita sambung lagi, ya."

Kang Narjo dan rombongan meninggalkan nDalem Pak Bei dengan lega. Sudah dua kali rombongan itu datang dan dilayani Pak Bei dengan baik. Anak-anak muda yang belajar peka dan peduli dengan problem masyarakatnya.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuadiyah
#lpumkmpdmklaten





 











Jumat, 03 November 2023

PALESTINA MAKIN MERANA

PALESTINA MAKIN MERANA

"Pak Bei, kenapa kita harus bersimpati pada Palestina?," tanya Kang Narjo. "Sampai-sampai pas Jumatan di mesjid kami kemarin, khotib mengajak jamaah untuk menunjukkan keberpihakan, setidaknya membantu berdoa untuk bangsa Palestina," lanjutnya.

"Apa yang disampaikan khotib kemarin, Kang?"

"Katanya, kita memang tidak bisa membantu angkat senjata membebaskan rakyat Palestina dari penjahahan dan gempuran kaum zionis yang kejam sebagaimana dilakukan oleh Kelompok Hamas di Gaza, Hizbullah di Libanon, dan Hauthi di Yaman. Tapi minimal kita bisa berdoa mengetuk pintu langit agar rakyat Palestina dan Masjidil Aqsha ditolong oleh Allah SWT."

"Khotib gak ngajak jamaah untuk saweran dana solodaritas,?"

"Iya, khotib juga mengajak kita siap partisispasi bila sewaktu-waktu ada penggalangan dana solidaritas."

"Ya bagus itu."

"Katanya dulu ada saudagar Palestina yang kaya-raya menghibahkan seluruh saldo tabungannya di Bank Arabia untuk membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia. Apa benar itu, Pak Bei?"

"Iya benar, Kang. Saudagar itu namanya Muhammad Ali Thahir. Dia juga yang memfasilitasi Mufti Besar Palestina, Syech Muhammad Amin Al-Husaini, pada tanggal 6 dan 7 September 1944   pidato berbahasa Arab di radio Berlin menggalang solidaritas dunia Arab agar mendukung dan menyambut gembira kemerdekaan Indonesia. Di samping itu,  beliau juga mendesak Perdana Menteri Jepang agar segera menarik tentaranya agar Indonesia bisa benar-benar merdeka."

"Berarti itu setahun sebelum proklamasi kemerdekaan kita 17 Agustus 1945, Pak Bei?"

"Iya, Kang. Itulah makanya setelah Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, negera-negara Arab pun dengan cepat memberikan dukungan defacto dan dejure, diawali oleh Mesir. Itu berkat seruan dari Mufti Besar Palestina tadi."

"Wah berarti kita sangat berhutang budi pada Palestina ya, Pak Bei."

"Kang Narjo tahu kan, dulu setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia ke-2, Belanda ingin kembali menjajah Indonesia? Belanda tidak rela kita merdeka. Mereka memobilisasi tentaranya ke Indonesia dengan menumpang pasukan Sekutu. Lalu terjadilah perlawanan sengit dari bangsa Indonesia di berbagai kota yang kita kenal dengan perang kemerdekaan."

"Iya, Pak Bei. Jakarta jatuh, lalu Ibukota Pindah ke Yogyakarta. Semarang dan kota-kota lain juga dikusai Belanda. Surabaya bisa dipertahankam oleh arek-arek Suroboyo pada pertempuran 10 November."

"Nah, Kang Narjo masih ingat gitu kok."

"Yogyakarta akhirnya jatuh juga. Presiden Soekarno ditangkap dan diasingkan. Untung Panglima Besar Jenderal Soedirman dan tentara BKR tidak mau menyerah dan melakukan perlawanan dengan perang gerilya."

"Kang, kalau saja dulu negara-negara Arab tidak memberikan dukungan secara defacto dan dejure, maka PBB pun tidak bisa melegalkan Indonesia sebagai negara merdeka. Pasti negara-negara Sekutu mendukung Belanda untuk kembali menguasai Indonesia."

"Kasihan bangsa Palestina ya, Pak Bei. Sampai sekarang negerinya masih terjajah. Sudah jutaan nyawa melayang akibat kekejaman kaum zionis Israel."

"Ya itulah, Kang. UUD 45 mengamanatkan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Kasus di Palestina itu jelas, Israel yang didukung negara2 Barat merebut tanah Palestina sejak akhir Perang Dunia pertama. Tanah dan segenap kekayaannya dikuasai Israel. Orang-orang Palestina yang melawan dianggap teroris yang harus dibasmi. Padahal  mereka berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan tanah-airnya sendiri."

"Ya sudah, Pak Bei. Ngeri sekali kalau cerita soal Palestina. Saya mau melanjutkan tugas dulu. Sudah wijang, sudah paham saya, kenapa kita harus berpihak pada bangsa Palestina, bangsa yang dijajah dan dholimi oleh bangsa Israel zionis."

"Oke, Kang. Hati-hati di jalan."

Kang Narjo melanjutkan tugasnya mengantar koran ke rumah-rumah pelanggan yang tinggal tersisa beberapa. Selebihnya orang-orang sudah beralih baca berita online dari gadgetnya masing-masing. Zaman sudah berubah sedemikian cepatnya, tetapi bangsa Palestina masih hidup dalam ancaman moncong meriam, roket, dan bom foshfore. Tak kunjung merdeka. Semoga Allah melindungi bangsa Palestina.. Aamiin.

#serialpakbei
#wahyudinasution






Minggu, 08 Oktober 2023

ZAMAN YANG ABSURD

ZAMAN YANG ABSURD

"Pemerintah kok jadi wagu ya, Pak Bei," kata Bu Bei sambil tangannya meletakkan segelas kopi di meja untuk Pak Bei. 

"Siapa yang barusan telepon?" tanya Pak Bei yang lagi asyik baca koran yang diantar Kang Narjo tadi pagi namun baru sempat dibacanya sore hari.

"Ooh...itu tadi dari Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja. Lucu pol....."

"Lucu pol bagaimana?"

"Tahun lalu saya kan diminta jadi Ketua Kluster Konveksi, Pak Bei."

"Iya tahu. Terus..."

"Lha ini tadi saya ditelepon, diminta supaya mengajak teman-teman konveksi mau menampung dan mempekerjakan korban PHK dari Sritex. Ada banyak sekali tenaga terampil yang perlu dibantu, katanya."

Pak Bei jadi ingat berita beberapa minggu terakhir tentang puluhan perusahaan, termasuk perusahaan tekstil dan garment Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten yang terpaksa menutup usahanya karena bangkrut. Ada juga yang dinyatakan pailit oleh PTUN seperti PT Sritex di Sukoharjo yang konon pabrik tekstil terbesar se-Asia Tenggara itu. Puluhan ribu buruh dirumahkan alias kena PHK. Kemarin, Mas Cahya anak sulung Pak Bei-Bu Bei yang dikader meneruskan usaha Bundaco juga cerita bahwa toko-toko kain langganannya kulakan bahan di Solo, Jogja, Tengerang, Tanah Abang, dan Bandung juga mengeluh karena krisis stok barang. Gudang-gudang mereka kosong. Beberapa toko grosir bahan itu pun terpaksa menutup usahanya. Boleh jadi itu imbas dari tutupnya pabrik-pabrik tekstil.

"Terus maunya orang Dinas bagaimana, Nda?"

"UMKM konveksi seperti kita ini diminta menyelamatkan nasib buruh korban PHK itu. Lucu to, Pak Bei."

"Bukan lucu lagi, tapi lugu."

"Kok lugu?"

"Ya lugu: lucu tur guoblok."

"Hahaha....iya betul itu. Lucu tur guoblok. Setuju."

Pak Bei-Bu Bei sore itu bisa tertawa lepas. Sudah beberapa bulan terakhir keduanya jarang bisa tertawa lepas. Kalau pun sesekali kelihatan tertawa, tawanya tidak bisa lepas, bahkan terkesan agak kecut. Maklum saja, kondisi hampir semua pelaku UMKM konveksi sedang tidak baik-baik saja, tak kunjung membaik meski Pandemi Covid-19 telah berlalu. Bahkan, musim paceklik semakin dari hari ke hari semakin terasa. Permintaan pasar tak kunjung membaik. Untung, Mas Cahya dan Mbak Vika istrinya sebagai penerus usaha Bundaco mau berjibaku memasuki dunia digital marketing yang bagi generasi Pak Bei-Bu Bei masih diterasa ghoib.

"Tapi kujawab spontan begini. Pak, Njenengan ini kok lucu, to. Selama ini Pemerintah kan lebih menganak-emaskan pabrik-pabrik besar. Lha kok sekarang kami yang disuruh menolong mereka?"

"Ya betul itu. Terus..."

"Masuknya pabrik-pabrik tekstil dan garment ke Jawa Tengah selama ini sudah disubyo-subyo dan difasilitasi dengan berbagai kemudahan. Di sisi lain, usaha-usaha konveksi rumahan seperti kami dan sentra-sentra konveksi yang sudah jelas bisa menggerakkan ekonomi Daerah justru tidak pernah diaruhke keadaannya, ditanyai kesulitannya, juga tidak dibantu dengan berbagai kemudahan dan fasilitas. Kami dibiarkan berjuang sendiri, seakan keberadaan kami tidak penting bagi Pemerintah."

"Terus bagaimana respon orang Dinas tadi?"

"Cuma tertawa dia. Minta maaf pun tidak. Aneh."

"Iya, kok aneh. Selama ini pelaku UMKM harus legowo bertempur sendirian di pasar bebas melawan pemodal besar, tanpa perlindungan dari Pemerintah."

"Betul. Masuknya barang-barang impor dari China yang harganya sangat murah nyata-nyata telah membunuh UMKM kita.  Produk UMKM tidak mampu melawan produk China."

"Nah itu. Patut diduga, barang-barang impor itu masuk ke sini secara ilegal. Bahkan, kalau melihat intensitas dan kuantitynya, boleh jadi Pememrintah China memang melakukan dumping agar bisa menguasai pasar kita."

"Tapi kenapa yang disalahkan justru Tik-Tok, Pak Bei? Lalu ditutup. Anak-anak millenial jadi tidak bisa lagi berjualan lewat Tik-Tok. Katanya demi melindungi UMKM."

"Terlalu cepat mendiagnosa. Jadinya kurang tepat juga ngasih obat."

"Maksud Pak Bei?"

"Lah kan sudah jelas, banyaknya barang-barang ilegal telah menyebabkan banyak industri dalam negeri tutup karena bangkrut. Dengan politik dumping, barang-barang mereka masuk menyerbu pasar-pasar kita dengan harga sangat murah. Imbasnya, UMKM dan para pedagang kita jadi kopals semua. Tidak mampu bersaing. Barang ilegal dan dumping itulah yang seharusnya diatasi dan dilawan Pemerintah, bukan Tik-Toknya yang ditutup."

"Ah entahlah, Pak Bei. Jadi pusing kalau mikir soal ini."

"Memang, Nda. Jadi tidak jelas, itu sebenarnya soal bisnis/ekonomi atau soal politik. Penutupan Tik-Tok itu benar-benar demi melindungi kepentingan rakyat atau karena persaingan bisnis tingkat tinggi di kalangan politisi di atas sana. Absurd kan jadinya?"

Obrolan sore Pak Bei-Bu Bei pun berakhir. Azan maghrib terdengar bersahutan dari corong beberapa masjid di kampung sekitar nDalem Pak Bei. Keduanya bergegas berangkat ke masjid untuk memenuhi panggilanNya.

#wahyudinasution
#serialpakbeizamanyangabsurd
#lpumkmklaten
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah

















"

Minggu, 01 Oktober 2023

JANGAN LUPA SEJARAH

JANGAN LUPA SEJARAH

Pak Bei sedang bersiap  mau menyirami tanaman bunga dan sayuran di halaman rumah ketika mak-bedunduk, tiba-tiba, Kang Narjo datang dengan senyum mengembang, mengendarai motor Supra-X dengan setumpuk koran yang masih harus diantarnya ke rumah-rumah pelanggan. Loper koran senior itu benar-benar 'tak lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh panas'. Di usianya yang sudah di kepala 6 hampir 7, badannya masih sehat bugar, tetap open-face dan full-smile. Mungkin itu berkat dulu waktu sekolah ikut aktif di kegiatan Pramuka sehingga punya mental 'tak takut panas tak takut hujan', juga tertanam spirit lagu 'Di Sini Senang Di Sana Senang' yang legendaris itu. 

Memang, meskipun cah ndesa dan dari keluarga pas-pasan, Kang Narjo dulu termasuk anak yang rajin sekolah, bahkan  hingga lulus dari SMEA Negeri favorit di kota kami, satu hal yang cukup hebat bagi cah ndesa pada waktu itu. Sejak lulus SMEA tahun 1982, dia pun memilih pekerjaan sebagai loper koran, bukan merantau ke kota besar mencari pekerjaan.

Tiap pagi bakda shubuh, Kang Narjo naik sepeda ontel berangkat mengambil koran dan majalah di agen dekat terminal bus, lalu mengantarnya satu-persatu ke rumah-rumah pelanggan. Profesi itu terus dijalaninya dengan setia hingga zaman sudah terus berkembang. Kendaraan sepeda motornya pun sudah ganti entah berapa kali. Yang paling terasa, masa keemasan media cetak sudah digantikan oleh media online. Pelangannya semakin berkurang, tinggal sedikit. Tapi Kang Narjo tidak punya pilihan lain selain meneruskan profesi yang sudah dijalaninya selama 40 tahun itu.

"Pak Bei paham sejarah Nabi Syu'aib?," tanya Kang Narjo setelah melempar korannya ke lantai dan mematikan mesin motornya.

Pak Bei pun tanggap gelagat sahabatnya itu, pasti ingin ngobrol sambil istirahat.

"Turun dulu, Kang. Ngopi, ya. Biar dibuatkan anakku." 

"Wah Pak Bei ini tahu yang kumau," jawab Kang Narjo sambil turun dari motor dan ngesot lesehan di lantai.

"Kok tumben tanya sejarah Nabi Syu'aid, ada apa, Kang?," tanya Pak Bei sambil ikut ngesot di lantai.

Kang Narjo pun bercerita bahwa Jumat kemarin dia ikut Jumatan di Masjid An-Nur di kawasan kota. Entah siapa khotibnya, tapi materi khotbahnya cukup menarik hingga tidak ada satu pun jamaah tampak mengantuk. Karena kebetulan ini bulan Rabi'ul Awaal, Khotib itu pun mengangkat tema Maulid Nabi, memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Setelah memaparkan sekilas kelahiran Rasulullah SAW dan pentingnya kita mencintai dan meneladani kehidupan Nabi pamungkas zaman, Khotib pun menyinggung beberapa tarikh Nabi dan Rasul-Rasul terdahulu

"Ada salah satu cerita yang saya masih terngiang, yaitu tarikh Nabi Syu'aib di negeri Madyan."

Cahya datang menyuguhkan segelas Kopi Semendo.

"Monggo diunjuk, Pakdhe."

"Iya, Mas. Matur nuwun, ya."

"Apa yang menarik dari Nabi Syu'aib yang diceritakan Khotib, Kang?"

"Nabi Syu'aib RA diutus oleh Allah SAW untuk mengingatkan kaumnya, masyarakat Madyan, agar menghentikan budaya manipulatif."

"Budaya manipulatif bagaimana maksudnya?"

"Kebiasaan mengurangi takaran dan timbangan dalam jual-beli, Pak Bei. Itu sudah membudaya, dilakukan semua orang, bahkan sudah dianggap lumrah. 

"Terus, Kang...."

"Nabi Syu'aib AS justru dimusuhi kaumnya, diintimadi, bahkan diusir dari Madyan. Padahal, negeri Madyan itu dulu yang membangun kakek buyut Nabi Syu'aib yang bernama Madyan bin Ibrahim AS. Tapi orang-orang Madyan sudah gelap mata, tidak mau diingatkan agar berlaku jujur."

"Terus, Kang..."

"Nabi Syu'aib pun berdoa agar Allah SWT menurunkan azab bagi kaum Madyan yang kafir. Allah SWT pun mengabulkan doa itu, lalu diturunkanNya azab berupa gempa bumi dan badai panas. Kaum Madyan yang kafir itu pun musnah terbakar dan terkubur di reruntuhan bumi, hanya Nabi Syu'aib dan beberapa pengikutnya saja yang selamat."

"Wah ngeri ya, Kang."

"Ngeri banget, Pak Bei. Lebih ngeri lagi kalau itu sampai terjadi di negeri kita saat ini."

"Loh kok gitu, Kang?"

"Ya bisa saja to? Pak Bei pasti tahu ketidakjujuran di negeri kita juga sudah sangat parah. Korupsi dan manipulasi sudah dianggap lumrah, bahkan dilakukan secara berjamaah."

"Contohnya, Kang?"

"Buanyak banget, Pak Bei. Sudah jamak lumrah orang korupsi, main suap, upeti, dan manipulasi di semua sektor."

"Sudah separah itukah negeri kita, Kang?" 

"Perhatian saja, Pak Bei. Orang mau naik pangkat harus nyogok atasan. Orang mencari keadilan di lembaga peradilan harus menyogok penegak hukum. Orang mau menang tender proyek harus nyogok pejabat. Orang mau jadi Kepala Desa, Wakil Rakyat, Bupati, Walikota, Gubernur, dan Presiden ya harus nyogok rakyat pemilik suara. Orang mau jadi Dirjen, Kabid, Kasi, dan Camat pun harus nyogok atasan. Pejabat belanja barang atau bikin proyek harga riilnya cuma 100 Miliar, tapi negara disuruh bayar 300 Miliar. Kuitansinya bisa direkayasa, lalu marginnya dibagi-bagi para pengambil keputusan dan pembuat anggaran. Itu dianggap sudah lumrah, Pak Bei. Itu kan bentuk lain 'mengurangi takaran dan timbangan' seperti dilakukan kaum Madyan. Orang tidak membayangkan bahwa azab Allah SWT yang dahsyat bisa datang kapan saja."

"Wislah, Kang. Jadi mules perutku pagi-pagi ngobrol soal ini."

"Ya sudah, Pak Bei. Kopiku juga sudah habis kok. Pamit dulu, ya."

Kang Narjo meninggalkan Pak Bei yang masih menahan perut mules dengan tanpa merasa bersalah sedikitpun. Kang Narjo tetaplah Kang Narjo yang plengah-plengeh, selalu full-smile di segala keadaan.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#janganlupasejarah
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
#lpumkmklaten












Sabtu, 23 September 2023

ALAMIAH ATAU BY-DESAIN

ALAMIAH ATAU BY-DESAIN

Entah ketempelan apa dan dari mana, pagi itu setelah melemparkan koran di lantai,  tiba-tiba Kang Narjo seperti orang ngomyang, nerocos berbagai hal, ngalor-ngidul, tidak peduli apakah Pak Bei yang sedang momong Eza cucunya yang lucu itu siap mendengarkan atau tidak. Yang membuat Pak Bei agak risau terutama ketika omongan Kang Narjo sudah masuk ke tema dan ranah politik. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga Kang Narjo. Loper koran senior itu memang punya budaya baca yang lumayan bagus. Setiap pagi dibacanya dulu semua headline dan tajuk di koran-koran yang mau diantarkannya ke pelanggan. Prinsipnya cukup bagus. Dia hanya menyampaikan berita setelah dia sendiri membaca dan memahaminya.

"Saya ini bertanya-tanya, Pak Bei. Penasaran," kata Kang Narjo sambil tetap duduk di atas motornya.

"Tentang apa, Kang?"

"Semua kejadian dan kahanan yang terjadi akhir-akhir ini, itu alamiah apa by desain?"

"Kejadian apa, Kang? Kok serius banget mikirmu. Slow wae-lah," kata Pak Bei setelah menyerahkan Eza pada mamanya di dapur.

"Banyak kejadian yang kita pantas bertanya-tanya, Pak Bei. Ndelalah ini kan tahun politik. Kita lihat semua politisi, entah capres-cawapres atau caleg-caleg, seolah tiap hari mendemonstrasikan kehebatannya di mata rakyat."

"Ya iyalah, Kang. Ini memang saatnya semua politisi memoles diri, mem-branding dan menawarkan dirinya supaya tampak hebat dan menarik sehingga nanti dipilih oleh rakyat, diamanahi rakyat sebagai Dewan Perwakilan atau Presiden dan Wakil Presiden, Pemimpin tertinggi di negeri ini."

"Iya saya paham, Pak Bei. Tentu semua juga sudah menyiapkan dana dalam jumlah besar, bahkan sangat besar untuk ukuran kita, untuk membeli simpati calon pemilih. Namanya juga orang kampanye. Jer basuki mawa bea, kata orang Jawa. Untuk mendapatkan kekuasaan harus mengeluarkan biaya besar."

"Kang Narjo sudah paham gitu kok."

"Masih banyak hal yang membuat saya bertanya-tanya, Pak Bei."

"Apa saja?"

"Misalnya tentang krisis beras beberapa bulan terakhir dan entah sampai kapan akan kelar."

"Loh kan sudah jelas soal krisis beras ini karena faktor elnino yang berdampak terjadinya gagal panen di mana-mana, Kang. Pemerintah juga sudah kerja keras mendatangkan 3 juta ton beras impor dari Vietnam, Kamboja, Thailand dan sebagainya, demi mencukupi ketersediaan pangan ratusan juta penduduk."

"Iya, Pak Bei. Memang begitu yang beredar di berita-berita koran maupun medsos."

"Lantas?"

"Nuwun sewu lho, Pak Bei. Mungkin saya termasuk orang yang tidak mudah percaya berita yang kita baca di media."

"Kang Narjo ini loper koran cap apa? Hampir setengah abad tiap pagi ngantar berita koran kok malah meragukan berita media."

"Ya justru karena saya sudah khatam logika pemberitaan, maka saya paham bahwa yang terjadi sebenarnya tidak pernah muncul di media."

"Terus, menurutmu apa yang sebenarnya terjadi di perberasan kita?"

"Ha ha haaa....gak enak, Pak Bei."

"Kenapa gak enak?"

"Boleh jadi impor beras yang jutaan ton itu terkait dengan biaya politik menjelang Pemilu yang sangat tinggi, Pak Bei."

"Maksudmu?"

"Itu kurang lebih sama saja dengan kasus Rempang yang bahkan sampai membahayakan keutuhah bangsa dan negara ini."

"Kok bisa, Kang?"

"Soal Rempang itu juga terkait kebutuhan biaya politik para politisi yang sangat tinggi. Ingat Pak Bei, itu terkait dengan investor yang konon siap investasi 300an Triliun di sana."

"Tapi kenapa sampai membahayakan keutuhan bangsa dan negara, Kang? Ngeri sekali membayangkan kalau sampai terjadi konflik antar-etnis, kan?"

"Memang ngeri, Pak Bei. Tapi itu kan sudah jadi pakem-nya orang di politik."

"Pakem bagaimana maksudmu, Kang?"

"Pak Bei pasti paham, politik itu soal berebut kekuasaan dan asset. Itu membutuhkan mental 3 T."

"Apa itu?"

"Tegel alias tega hati dan tidak berbelas kasihan. Teteg alias ndableg alias gak mau tahu akibatnya bagi orang lain. Tipu-tipu alias sanggup berbohong dan menipu."

"Ah masa begitu, Kang?"

"Makanya saya bertanya-tanya atas berbagai kejadian di negeri ini. Pak Bei bisa membayangkan berapa succes fee dari masuknya investasi itu?"

"Gak paham aku, Kang."

"Saya pun bertanya-tanya soal banyaknya pabrik tektil, garmen, dan manufaktur yang bangkrut, juga pedagang pasar Tanah Abang, Mangga Dua, Cipulir, PGS Solo, dan lain-lain yang bangkrut. Ada apa ini sebenarnya? Saya percaya, itu bukan semata-mata karena kebijakan Pemerintah yang salah, tapi bisa juga karena faktor perilaku para pengusaha yang lengah terhadap perubahan zaman."

"Wah kok berat sekali omonganmu pagi ini. Ketempelan dari mana, Kang? Sudahlah, ayo kita kerja sesuai kemampuan kita saja. Sana Kang Narjo lanjutkan ngantar koran, saya mau lanjut momong cucuku."  

Kali ini terpaksa Pak Bei mengakhiri obrolan sambil setengah mengusir sahabatnya. Perut masih kosong karena belum sarapan kok diberondong tema-tema kegelisahan Kang Narjo yang cukup berat. Kalau diterus-teruskan, bisa-bisa hilang selera makan Pak Bei.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
#lpumkmklaten















Rabu, 13 September 2023

TANPA KOMITMEN DAN KEBERPIHAKAN

TANPA KOMITMEN DAN KEBERPIHAKAN

Kali ini Pak Bei merasa kedatangan tamu istimewa. Tamu agung. Sanusi namanya, seniornya di dunia usaha konveksi. Tiba-tiba saja Sanusi datang tanpa ngabari sebelumnya. 

Sudah lama Pak Bei tidak ketemu dengan Sanusi, sekitar satu dasa warsa, sejak temannya ini meninggalkan dunia konveksi dan beralih ke usaha property. Mungkin karena kesibukan masing-masing di dunia usaha yang berbeda, mereka jadi jarang bertemu.

"Tiba-tiba habis 'ashar tadi aku teringat kopi Pak Bei. Sudah lama sekali gak ngopi di sini," kata Sanusi.

"Alhamdulillah, matur nuwun Mas Sanusi kangen kopiku," jawab Pak Bei. "Tunggu sebentar, ya," Pak Bei pun langsung ke dapur membuatkan kopi spesial untuk suhunya di usaha konveksi itu. Tak berapa lama, Pak Bei sudah kembali ke teras sambil membawa nampan dengan dua gelas kopi Semendo andalannya. 

"Gimana, masih jalan konveksimu?," tanya Mas Sanusi sambil menuangkan kopi panas di lepek.

"Alhamdulillah masih, Mas. Harus jalan terus."

"Ada berapa karyawanmu sekarang?"

"Masih ada 25, Mas."

"Masih lumayan itu. Sentra konveksi di kampungku sudah lama bubar. Tidak bisa bertahan. Bangkrut semua."

"Memang berat, Mas. Semakin berat. Tapi karena ini sudah menjadi penghidupan banyak orang, ya harus kami pertahankan, Mas."

"Ya pasti berat. Bagaimana mungkin usaha-usaha kecil dengan modal terbatas harus berhadapan dengan pabrik-pabrik besar bermodal besar dan didudukung Pemerintah?," kata Mas Sanusi lalu menceritakan alasannya dulu beralih usaha.

Dikenangnya dulu sekitar tahun 2011/2012, Pemerintah Provinsi sangat agresif menggaet pabrik-pabrik garment di Jabodetabek dan Bandung Raya agar berinvestasi di Jawa Tengah dengan  merelokasi pabriknya ke Kab. Semarang dan eks-Karesidenan Surakarta.
Berbagai kemudahan dan fasilitas disediakan untuk investor. Dari urusan pengadaan lahan, pembangunan pabrik, tetek-benget perizinan, hingga rekrutmen tenaga kerja pun difasilitasi penuh dengan biaya APBD Provinsi.

"Tentu Pak Bei masih ingat, waktu itu Dinas Perindustrian Provinsi mendirikan Balai Latihan Kerja sangat besar, lalu merekrut puluhan ribu lulusan SMA/SMK se-Jawa Tengah untuk dilatih menjadi calon operator mesin jahit dan ditempatkan di pabrik-pabrik garment relokasi itu."

"Iya, Mas. Saya masih ingat. Bahkan dulu sempat diminta nyarikan lulusan SMK untuk dikirim ke sana."

"Pemerintah seolah lupa peran penting usaha-usaha konveksi yang bertebaran di daerah-daerah. Usaha-usaha kecil itulah yang selama ini berjasa besar menghidupkan perekonomian daerah. Ribuan tenaga kerja terserap di usaha-usaha konveksi rumahan itu. Dulu, hampir semua barang di Pasar Klewer adalah produk konveksi rumahan, lho."

"Iya benar, Mas. Sekarang lebih banyak barang dari Tanah Abang dan produk impor dari China."

"Kita ini sebenarnya tidak anti-investor kan, Pak Bei?"

"Iya benar, Mas. Kita dukung setiap upaya untuk kebaikan masyarakat."

"Tapi sejak awal saya sudah melihat memang tidak ada komitmen dan iktikad pemihakan pada usaha kecil, Pak Bei. Investor disubyo-subyo, digelarkan karpet merah. Sebaliknya, usaha kecil justru digilas dan lemahkan. Itulah makanya dulu saya pilih langsung ganti usaha saja."

"Sebenarnya maksud Pemerintah baik lho, Mas. Menyediakan lapangan kerja seluas-luasnya dan menambah devisa sebesar-besarnya."

"Maksud baik tapi tanpa regulasi yang bagus dan komprehensif, hasilnya cuma ketimpangan seperti sekarang ini, Pak Bei. Keberadaan UMKM tidak dilindungi. Mereka jadi kesulitan meregenerasi tenaga kerjanya. Anak-anak muda lulusan sekolah semua disedot ke pabrik. Yang tersisa di usaha rumahan tinggal yang tua-tua, yang sudah menurun produkstivitasnya."

"Iya benar sekali, Mas."

"Kesulitan cari tenaga kerja muda kulihat bukan hanya terjadi pada usaha konveksi, Pak Bei. Di sentra-sentra usaha furniture, pandai besi, apalagi di sektor pertanian, semua juga mengalami krisis tenaga kerja."

"Tapi UMKM yang justru disalahkan oleh Pemerintah lho, Mas. Dianggap kurang responsif pada perkembangan jaman. Tidak memodernisir peralatan dan manajemen usaha."

"Ya memang. Harus diakui, umumnya pelaku usaha terlambat mengantisipasi perubahan jaman. Tapi menurutku, seharusnya itu tugas Pemerintah, Pak Bei. UMKM harusnya didamping, bukannya dilepas agar bertempur head to head terhadap pabrik besar dengan kapital super besar dan peralatan modern. Ya pasti keok. Seharusnya UMKM diproteksi agar tetap hidup. Tapi masalahnya memang tidak ada komitmen ke sana. Ya sudah, jebol kabeh jadinya."

"Situasi ini sekarang juga dialami teman-teman pelaku usaha penggilingan padi, Mas. Mereka tergilas pabrik2 beras skala besar yang menguasai pembelian gabah dari petani. Taman-teman rice-mill banyak yang nutup usahanya."

"Iya saya juga mengikuti berita itu. Hancur-hancuran semua. Belum lagi kasus di Pulau Rempang Batam itu. Runyam betul. Ini ujian berat bagi Pemerintah, mau terus nyubyo-nyubyo investor atau mau melindungi segenap rakyat dan tumpah darah. Beraaat..."

Kumandang azan maghrib mulai terdengar bersahutan dari masjid-masjid sekitar kampung Pak Bei. Obrolan dua sahabat pun berakhir. Keduanya segera bergegas ke masjid depan nDalem Pak Bei untuk siap-siap ikut shalat berjamaah.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah











Jumat, 08 September 2023

GONJANG-GANJING DAULAT PANGAN

GONJANG-GANJING DAULAT PANGAN

"Pak Bei kok lama gak nongol di status FB, ada apa? Sehat, kan?" tanya Lek Sodiq via pesan WA. Ini penanya via WA yang ketiga, dan hanya dijawab sekenanya oleh Pak Bei 'Ya ditunggu saja' atau 'Masih nunggu si Ilham belum datang' atau 'Durung wayahe'. Pertanyaan pun tidak berlanjut. Pak Bei kembali asyik dengan aktivitas sebelumnya.

Tentu jawaban Pak Bei akan berbeda kalau pertanyaan itu disampaikan secara langsung, ketemu tatap muka sambil wedangan, misalnya. Biasanya Pak Bei melayani setiap obrolan dengan sabar, dijawabnya semua pertanyaan dengan baik, dan dijelaskannya panjang-lebar bila penanya perlu perjelasan. 

Tapi kadang-kadang Pak Bei juga lebih memilih mendengarkan saja, sambil sesekali nyenggaki atau memancing petanyaan agar temannya yang lebih banyak bicara. Seperti dengan Kang Narjo, misalnya. Pak Bei tahu Kang Narjo kadang butuh curhat, butuh tempat membuang limbah kegelisahan, butuh teman glenak-glenik. Jadi dia yang kadang justru lebih banyak bicara kalau ketemu Pak Bei, seakan sedang menyampaikan aspirasi.

"Soal beras kok jadi ewuh-aya begini ya, Pak Bei," kata Kang Narjo sambil turun dari motornya.

Pak Bei yang lagi asyik baca berita online pun langsung menutup HPnya, membuka dan melepas kacamatanya, lalu turun duduk lesehan bersama Kang Narjo.

"Bagaimana Pak Bei membaca situasi perberasan yang gonjang-ganjing tak kunjung selesai ini?" tanya Kang Narjo.

"Ya biasa saja, Kang. Produktivitas petani kita masih rendah, ditambah musim kemarau yang bikin banyak sawah kekeringan dan gagal panen."

"Ya itu, Pak Bei. Katanya dampak Elnino. Gabah jadi langka sehingga harga beras di pasaran jadi mahal dan naik terus." 

"Tapi petani justru senang lho, Kang. Baru kali ini harga gabah panenannya dihargai tinggi oleh para tengkulak, jauh lebih tinggi dari harga yang dipatok Pemerintah. Dibayar cash lagi."

Cahya putra sulung Pak Bei  datang membawa nampan dengan dua gelas kopi.

"Monggo ngopi dulu, Pakdhe Narjo," Cahya mempersilakan sahabat ayahnya.

"Ooh ya, Le. Terima kasih, ya. Sini ikut ngobrol dulu," Kang Narjo ngajak Cahya gabung ngobrol.

"Ngobrol apa, Pakdhe?" tanya Cahya.

"Ini lho, Le. Negeri kita ini kok semakin mengkhawatirkan."

"Yang mana, Pakdhe?"

"Kedaulatan pangan kita dalam bahaya, Le. Ini lagi gonjang-ganjing tak kunjung berakhir."

"Ooh soal harga beras yang mahal dan terus naik ini, maksudnya?"

"Ya itulah, Le. Kelihatannya cuma soal beras, tapi menurutku ini soal kedaulatan negara yang sedang dalam ancaman, dalam bahaya, Le."

"Kok jadi sejauh itu, Pakdhe?"

"Ya jelas to, Le. Kita jangan merasa merdeka lalu teriak-teriak 'merdeka' kalau ternyata soal pangan untuk rakyat tidak mampu berdaulat. Kalau pangan kita dikuasai hanya oleh segelintir orang, lalu jutaan rakyat berada dalam ancaman kesulitan mendapatkan makanan, apakah itu kemerdekaan? Kalau isi perut jutaan rakyat sehari-hari harus menunggu bantuan sedekah atau bantuan sosial dari Pemerintah, apa itu cita-cita proklamasi 45?," Kang Narjo seakan mahasiswa sedang pidato di mimbar bebas menjelang reformasi 1998.

"Omonganmu kok kadohan to, Kang. Ngelantur ke mana-mana. Mbok agak diremlah," Pak Bei mengingatkan sahabatnya.

"Gap papa, Yah. Biarkan saja. Cahya senang kok Pakdhe Narjo masih punya semangat '45 begini," kata Cahya.

"Masalahnya kan sudah jelas, Le. Sangat jelas, cetha wela-wela, kata orang Jawa."

"Jelas bagaimana, Pakdhe?"

"Negara pasti tahu dan punya data berapa luas lahan pertanian dan berapa hasil per musim tanam padi kita, juga tahu berapa produksi padi per tahun. Tentu punya hitungannya."

"Ya pasti, Pakdhe. Kan ada BPS yang selalu update data."

"Betul, Le. BPS pasti juga punya data berapa lahan pertanian kita berkurang setiap tahun karena berubah jadi properti dan jalan tol. Jadi BPS sudah tahu betul berapa total produksi beras kita setiap tahun."

"Pasti tahu, Pakdhe."

"BPS pasti juga punya data ada berapa ribu usaha rise mill atau penggilingan padi dan kapasitas produksinya di setiap daerah. Juga tahu apakah keberadaan rise mill itu sudah mencukupi untuk memproses pasca-panen dari seluruh lahan yang ada."

"Iya, Pakdhe. Pasti tahu."

"Tapi kenapa Pemerintah mengijinkan para konglomerat juga masuk di sektor usaha beras?"

"Apa masalahnya, Pakdhe? Ini kan jamannya perdagangan bebas. Semua orang punya hak yang sama untuk berdagang."

"Nalarku ini sederhana saja kok, Cah Bagus. Coba hitung-hitungan. Kita berasumsi saja, ya."

"Bagaimana, Pakdhe?"

"Seandainya produksi padi dari total luas lahan kita hanya 2 juta ton per musim tanam, dan sudah ada 200 unit rise mill dengan kapasitas produksi masing-masing 10 ton per unit. Itu artinya seluruh hasil panen dari petani kita sudah tertangani oleh 200 rise mill unit yang ada. Dan selama ini tidak terjadi gejolak harga beras di pasaran."

"Iya benar, Pakdhe."

"Lha kalau kemudian Pemerintah mengijinkan pendirian beras skala raksana dengan mesin canggih, dengan kapasitas produksi 1000 ton gabah kering panen per hari, itu kan sama seja membiarkan terjadi perampasan pekerjaan 200 penggilingan skala kecil yang sudah ada selama ini. Iya to, Le?"

"Iya ya, Pakdhe. Seharusnya pekerjaan bisa dibagi untuk 200 usaha milik rakyat, sekarang dimonopoli oleh satu pengusaha saja."

"Betul, Le. Itulah kenapa di mana-mana terjadi usaha penggilingan padi milik rakyat berehenti beroperasi, alias tutup. Tidak kebagian pekerjaan, Le."

"Kabarnya harga gabah di tingkat petani jadi mahal dan terus naik ya, Pakdhe?"

"Ya pasti, Le. Untuk memenuhi kapasitas produksinya, pabrik besar itu berani membeli mahal gabah panenan dari petani. Berapapun petani minta, pasti dibayar cash. Penggilingan kecil jelas tidak mampu bersaing, Le."

"Ooh jadi itu ya masalahnya,  kenapa kamarin ribuan usaha rise mill di Banten demonstrasi menuntut agar pabrik beras skala raksasa itu ditutup."

"Ya itulah, Le. Tapi ah sudahlah. Para pemangku kepentingan justru menyalahkan petani dan musim kok, Le. Mau apa kita?"

"Berdoa saja, Pakdhe."

"Doa apa kira-kira yang cocok, Le."

"Sapu jagad, Pakde....wkkkk."

Kang Narjo dan Pak Bei tertawa mendengar guyonan Cahya. Itu goyunan pari kena, candaan tapi mengena. Karena memang sesungguhnya sebagai rakyat biasa, Kang Narjo dan Pak Bei juga tidak berdaya melakukan perubahan. Hanya doa sapu jagat yang bisa dipanjatkan semoga ke depan menjadi lebih baik, negeri ini bisa bersaulat pangan.

#seriappakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah



















Jumat, 25 Agustus 2023

BILA SAPARAN TIBA

BILA SAPARAN TIBA

"Kemarin ikut acara Pembukaan Saparan gak, Pak Bei?," tanya Kang Narjo tadi pagi setelah melemparkan koran ke lantai.

"Loh ini sudah bulan Safar ya, Kang? Lupa aku," jawab Pak Bei sambil meletakkan hp dan kacamata bacanya.

"Pak Bei ini bagaimana? Masa lupa. Sebentar lagi kan hari rayanya masyarakat Jatinom. Besok Jumat 1 September puncak acara Yaqawiyyu, sebaran apem di Plampeyan, lapangan di pinggir kali bawah Masjid Gedhe Jatinom itu."

"Wah iya ya, Kang. Pas musim kemarau begini, saparan tahun ini pasti ramai banget. Pasar malam dan warung-warung makan laris-manis banyak pengunjungnya."

"Benar, Pak Bei. Tahun-tahun kemarin kasihan banget. Kalau pas musim hujan, pasar malam betul-betul sepi pengunjung. Apalagi pas covid kemarin, pengusaha pasar malam mbrebes mili, sedih, anjungan mainannya gak ada pengunjung. Hasil penjualannya tiketnya konon tidak cukup untuk ganti biaya sewa tempat di Oro-oro dan Lapangan Bonyokan. Apalagi untuk biaya operasional karyawan. Blas gak nutut."

"Namanya berdagang memang begitu, Kang. Ada saat-saat penjualan sepi, ada saatnya ramai. Biasa itu, Kang."

Kali ini tumben Kang Narjo tidak mau turun dari motornya, hanya sebentar ngoceh tentang Saparan. Mesin motornya pun tidak dimatikan. Tumben juga dia menolak ditawari kopi seperti biasanya. Loper koran satu ini kadang memang nganyelke. 

"Ngopinya nanti malam saja. Teman-teman saya juga sudah kangen ngobrol sama Pak Bei," kata Kang Narjo yang langsung ngeloyor pergi tanpa menunggu persetujuan Pak Bei.

Tapi Pak Bei senang diingatkan Kang Narjo bahwa masyarakat Jatinom hari-hari ini mulai bersiap menyambut kunjungan wisatawan tahunan, Saparan Yaqawiyyu. Ini acara haul sesepuh Walisanga bernama Ki Ageng Gribik di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah yang puncak acaranya dilakukan dengan cara unik, yaitu sebaran berton-ton kue apem untuk diperebutkan oleh ribuan pengunjung, dilaksanakan tepat bakda sholat Jumat. 

Pak Bei melihat rangkaian acara selama seminggu itu bukan hanya menjadi peristiwa budaya, tetapi juga menjadi peristiwa ekonomi yang memilik dampak luar biasa bagi masyarakat Jatinom. Bahkan, sejak dasa warsa terakhir, Saparan Yaqawiyyu juga telah menjadi ajang para politisi melakukan kampanye terselubung, ajang menggaet simpati massa, membangun popularitas. Namanya juga orang politik. Di mana ada massa berkumpul, di situ ada potensi mendulang suara. Itu sah-sah saja.

Dari berbagai referensi yang pernah dibacanya, Pak Bei meyakini bahwa acara haul Yaqawiyyu setiap bulan Safar itu dimulai sejak masa Ki Ageng Gribik ke-3, dalam rangka memperingati wafat pendahulunya, yakni Ki Ageng Gribik pertama atau Syech Maulana Malik Maghribi. Waliyullah dari Maghribi atau Maroko itu datang ke Tanah Jawa bersama 8 orang lainnya sebagai Da'i yang diutus oleh Sultan Mahmud dari Kekhalifahan Turki Usmani pada abad ke-14. Tidak seperti teman-temannya yang memilih basis dakwah di pesisir Pulau Jawa, Syech Maulana Malik Maghribi memilih masuk jauh ke pedalaman di kawasan lereng timur Gunung Merapi yang kemudian dikenal sebagai wilayah Jatinom. Di sinilah beliau membangun basis dakwahnya. Jamaahnya yang orang-orang Jawa pedalaman itu kemudian menyebut gurunya itu dengan Ki Ageng Gribik. 

"Pak Bei, sejak dulu acara Yaqawiyyu kok cuma gitu-gitu saja, ya. Gak ada pembaruan sama sekali," kata Mas Tejo, teman Kang Narjo yang datang berempat sejak bakda isya' tadi.

"Maunya pembaruan yang seperti apa, Mas Tejo?," tanya Pak Bei.

"Jaman sudah berubah. Selera jaman juga sudah berganti. Tapi kok ya masih bikin acara orang berebut sebaran apem. Mbok coba ganti cara yang lain, Pak Bei, yang lebih beradab," jawab Mas Tejo.

"Lha justru di situ menariknya, Mas Tejo. Ribuan orang berebut apem di satu tempat, itu kan unik, lucu. Dari kacamata orang Dinas Pariwisata, itu kemedol, layak jual, potensial mendatangkan cuan alias PAD. Gitu lho, Mas Tejo."

"Tapi benar juga kata Mas Tejo ini, Pak Bei," Kang Narjo mencoba membela temannya.

"Pripun, Kang Narjo?"

"Memang kalau dirasa-rasa, dipikir-pikir, tradisi sebaran apem itu dulu tentu maksudnya ajaran bersedekah, mambagi kue apem kepada tamu-tamu. Tapi, bersedekah makanan untuk tamu dengan cara dilempar-lemparkan itu kan tidak sopan, kurang ngejeni tamu, jelas tidak baik. Itu bukan sedekah namanya," jawab Kang Narjo.

"Iya juga ya, Kang. Terus bagaimana mestinya?"

"Itulah yang perlu kita pikirkan, Pak Bei. Saatnya orang-orang Jatinom berkreasi menemukan cara peringatan Yawawiyyu yang lebih beradab," Kang Tejo kembali memancing diskusi.

Pak Bei teringat, beberapa tahun lalu pernah mengajak teman-teman pemuda Jatinom membuat perubahan peringatan Yaqawiyyu, mirip dengan yang digelisahkan Mas Tejo dan Kang Narjo malam ini.
Waktu itu Pak Bei mengusulkan buat acara Festival Apem sehari sebelum acara puncak Yaqawiyyu. Festival itu diikuti ibu-ibu dan remaja putri se-Kecamatan Jatinom. Setiap kelompok terdiri 3 orang. Dengan disediakan hadiah yang menarik, tentu akan ada ratusan kelompok yang siap ikut serta. Tempat festival di pinggir sepanjang jalan sejak dari perbatasan dengan Kec. Ngawen di sebelah selatan, perbatasan dengan Kec. Karanganom di sebelah timur, perbatasan dengan Kec. Tulung di sebelah utara, dan sejanjang jalan di kota Jatinom. Lalu, seluruh apem yang dibuat oleh peserta itu dibeli oleh Panitia untuk dipacking dalam dos yang bagus. Selanjutnya, ribuan dos berisi apem itu besok siang dibagikan kepada jamaah sholat Jumat di masjid-masjid sekitar kota Jatinom. Jadi tamu-tamu dari luar kota terutama yang hadir sholat Jumat di masjid akan menerima apem dengan cara terhormat. Yang masih suka ikut sebaran apem, silakan ikut berebut. Yang sudah mendapatkan apem di mesjid, silakan bila ingin menonton orang-orang yang berebut di Plampeyan.

"Sayang sekali ide saya waktu itu kurang direspon teman-teman," kenang Pak Bei.

"Ide bagus sekali itu, Pak Bei. Tapi mungkin terlalu bagus, kapiken, sehingga teman-teman Pak Bei tidak bisa merespon," kata Mas Tejo.

"Saya lihat sekarang sudah mulai muncul kegelisahan di masyarakat Jatinom, Pak Bei," kata Kang Narjo menimpali. "Memang budaya semestinya tidak statis, harus terus berubah, terus ada pembaruan seiring budaya masyarakat yang juga terus berkembang," lanjutnya.

Malam sudah larut. Udara dan angin dingin sudah terasa di kulit, pertanda sudah saatnya Pak Bei istirahat. Kang Narjo dan teman-temannya pun segera pamitan, pulang ke rumahnya masing-masing.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jatam





 
















Rabu, 23 Agustus 2023

TAK ADA RUANG PARTISIPASI

TAK ADA RUANG PARTISIPASI

Sepulang dari jama'ah isya' di mesjid malam itu, sebenarnya Pak Bei mau langsung istirahat. Badan terasa capek sepulang dari Solo mengikuti acara uji publik Raperda Kedaulatan Pangan bersama Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah. Meski undangannya sangat mendadak diterimanya, hanya beberapa jam sebelum acara dimulai, tapi mengingat topik acaranya sangat urgent, menyangkut nasib masa depan jutaan warga Jawa Tengah, maka Pak Bei pun membatalkan acaranya ke Jogja. 

Sebagai warga Jawa Tengah, Pak Bei melihat inisiatif Raperda Kedaulatan Pangan dari Komisi B itu bagus dan pantas didukung. Sebelum diundangkan menjadi Perda yang selanjutnya akan diikuti dengan peraturan-peraturan turunannya dan mengikat seluruh warga, proses uji publik diperlukan guna mendapatkan masukan dan koreksi dari masyarakat secara komprehensif.

Kebetulan tema Raperda itu jumbuh dengan kegelisahan para petani, pemuda desa, dan teman-teman pelaku usaha penggilingan padi yang sering kumpul, ngopi, ngobrol, dan curhat di nDalem Pak Bei. Meski hanya obrolan cakrukan dan disampakan dengan bahasa sederhana, tapi berbagai tema yang mengemuka kadang terasa cukup berat. Misalnya, tema terkait ancaman kedaulatan pangan, kasus stunting dan kemiskinan ekstrem yang sedang jadi hot news akhir-akhir ini. 

Obrolan terkait kemiskinan ekstrem malam itu,  para aktivis cakrukan punya kesan tersendiri. Katanya, datanya sengaja digelembungkan. Solusi yang ditempuh Pemerintah pun terkesan aneh, ora gathuk alias tidak nyambung sehingga lucu. Pak Bei merasa bakan kapasitasnya menilai kesan mereka. Namanya juga kesan, mungkin benar mungkin salah. Jelas itu di luar kapasitas Pak Bei yang hanya rakyat biasa.

Untunglah, ada dalil mengatakan "Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kapasitasnya." Artinya, rakyat tidak memiliki kewajiban memikul tanggung jawab mewujudkan tata kelola negara yang baik dan adil. Pejabat dan para pengambil kebijakan yang sudah disumpah dan digaji besar oleh rakyatlah yang wajib hukumnya mewujudkan kesejahteraan dan keadilan. 

"Pak Bei, sebenarnya kami ingin sekali membantu Pemerintah, tapi tidak ada ruang bagi kami," kata Aji yang malam itu datang bersama 5 temannya.

"Membantu dalam hal apa, Mas?," tanya Pak Bei pada pemuda ganteng itu.

"Percepatan penanggulangan kemiskinan ekstrem, Pak Bei. Kabupaten kita kan termasuk yang tinggi di Jawa Tengah. Dari 26 Kecamatan, ada 22 yang termasuk miskin ekstrem. Itu kan sangat memalukan," jawab Aji.

"Loh, memangnya Pemkab kita butuh bantuan kalian? Jangan-jangan gak butuh, Mas?"

"Ya memang, Pak Bei, setelah kemarin kami audiensi ke pemangku kepentingan yang kami pandang kompeten, rupanya Pemerintah memang tidak butuh partisipasi masyarakat. Mereka sudah punya program sendiri yang harus dijalankan."

"Nah bener, kan?"

"Tapi menurut kami programnya tidak relevan, Pak Bei?," kata Arya aktivis petani millenial itu.

"Tidak relevan bagaimana? Bagi Pemerintah, program itu yang penting sudah sesuai aturan, sesuai regulasi, berbasis data, dan terukur."

"Program penangulangan kemiskinan ekstrem dan stunting kok cuma jambanisasi, perhaikan rumah tidak layak huni, dan penyambungan listrik PLN. Itu kan cuma fisik, Pak Bei. Proyek infrastruktur, buang-buang anggaran dan tidak menyelesaikan masalah," Arya menyanggah Pak Bei.

"Lha kalau kenyataan di lapangan memang banyak rumah yang belum punya jamban, tidak layak huni, dan belum terjangkau penerangan listrik, solusinya yang program-program itu to, Mas."

"Sebenarnya kami punya gagasan yang lebih bagus untuk percepatan penanggulangan kemiskinan ekstrem dan stunting, Pak Bei. Tapi, ah sudahlah. Percuma saja ide bagus kalau tidak bisa diakomodir," kata Taufiq.

"Mbok coba ide itu ditulis, Mas, dibikin proposal biar dipelajari."

"Dari obrolan pas audiensi kemarin, tidak ada gunanya lagi kami bikin proposal, Pak Bei. Program dan anggarannya sudah diketok palu, tidak bisa diubah lagi," kata Wawan.

"Ya sudah kalau begitu. Disimpan saja gagasan kalian yang bagus itu. Suatu saat pasti akan berguna. Itu kan hanya soal momentum saja yang belum tepat."

"Maksud Pak Bei?" 

"Kalian tentu paham ini tahun politik. Beberapa bulan lagi kita akan memilih Calon Presiden dan parlemen. Semua pejabat tentu sudah ke sana pikirannya. Ide kalian yang bagus itu mungkin dipandang kurang strategis untuk kepentingan politik memenangkan Pemilu dan Pilpres 2024."

"Keliru, Pak Bei. Kalau mereka mau, sebenarnya program yang kami tawarkan ini justru akan sangat menguntungkan bagi yang punya agenda politik."

"Nyatanya ditolak, kan?"

"Kami pikir penolakan itu bukan karena kalkulasi politik kok, Pak Bei."

"Karena apa?"

"Karena tidak kompeten."

"Loh katanya pemangku kepentingan, penanggungjawab program percepatan penanggulangan kemiskinan ekstrem dan stunting? Ya pasti kompetenlah."

"Nyatanya tidak kompeten kok, Pak Bei. Bahkan tidak mudheng, tidak paham dikasih ide bagus."

Malam sudah cukup larut. Udara sudah terasa lebih atis, dingin. Semua cangkir kopi juga sudah tandas diminum. Pak Bei pun harus istirahat. Para pemuda itu pun berpamitan, menyalami Pak Bei satu per satu, pulang ke rumah masing-masing. 

"Hari gini masih ada pemuda-pemuda yang peka dan peduli pada situasi lingkungannya. Lumayan, masih ada harapan untuk masa depan yang lebih baik," kata Pak Bei dalam hati sambil menutup pintu. 

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah










Rabu, 16 Agustus 2023

MERDEKA ITU MURAH PANGAN MURAH SANDANG

MERDEKA ITU MURAH PANGAN MURAH SANDANG

Mbokdhe Sukini, begitu ibu-ibu muda tetangga Pak Bei biasa memanggil si penjual aneka makanan itu. Pak Bei sendiri sejak dulu memanggilnya 'Yu Sukini'. Dia teman sepermainan masa kecil Mbak Mun, kakak perempuan Pak Bei yang saat ini tinggal di Gianyar, Bali. Di usianya yang tak lagi muda, 60an tahun, Yu Sukini masih tampak sehat bugar dan lincah mengendarai sepeda motornya. Dengan bronjong penuh muatan aneka jajanan pasar seperti jenang sungsum, jenang mutiara, nasi kucing aneka lauk, nasi kuning, nasi gudangan, nasi trancam, bermacam-macam gorengan dan aneka krupuk khas desa, dia keliling setiap pagi dari rumah ke rumah sejak pukul 06.00 hingga sekitar jam 09.00. 

Seperti artis kondang, kedatangan Yu Sukini selalu ditunggu ibu-ibu, terutama yang tak sempat masak untuk sarapan anak-anaknya yang mau sekolah. Pun Bu Bei yang biasa sejak bakda shubuh sudah suntuk di ruang kerjanya menyiapkan pekerjaan untuk karyawan Bundaco sehingga tidak sempat masak. Nasi bungkus harga 2.000an dagangan Yu Sukini itu menjadi solusi bagi perut-perut darurat keroncongan di pagi hari.

"Bu Bei, besok saya libur sehari, ya. Gak jualan," kata Yu Sukini.

"Loh kenapa, Budhe?," tanya Bu Bei.

"Nanti malam semua orang tirakatan malam 17an, biasanya sampai larut malam. Ibu-ibu yang biasa membuat nasi bungkus ini juga sudah pamit mau libur dulu."

"Wah gara-gara tirakatan ya, Budhe?"

"Ibu-ibu juga ingin menikmati Hari Kemerdekaan kok, Bu Bei. Merdeka, kerja libur dulu."

"Iya sih, maklum."

"Padahal kita ini kan belum merdeka ya, Pak Bei?," Yu Sukini yang sok akrab itu menyapa Pak Bei yang lagi asyik membersihkan kurungan perkutut.

"Belum merdeka bagaimana to, Yu?," tanya Pak Bei sambil memindah kurungan ke tempat yang kena sinar matahari.

"Satuhuku yang namanya merdeka itu kalau sudah murah pangan, murah sandang, dan murah semua kebutuhan hidup. Sekarang kan belum, Pak Bei. Malah semua harga kebutuhan hidup semakin hari semakin mahal," jawab Yu Sukini yang cukup membuat Pak Bei kaget.

"Loh, tadi Yu Sukini bilang semua orang kampung nanti malam ngadakan malam tirakatan. Itu kan artinya merenungi dan mensyukuri negara yang sudah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945."

"Kalau menurut saya bukan itu artinya tirakatan itu, Pak Bei."

"Terus apa?"

"Tirakatan itu merenungi apakah bangsa kita ini benar-benar sudah merdeka setelah proklamasi 78 tahun yang lalu."

"Terus apalagi?"

"Tirakatan itu merenungi apakah negara kita ini sudah benar-benar merdeka dari penjajahan bangsa asing."

"Terus apa lagi, Yu?"

"Mencermati jangan-jangan bangsa kita ini masih dijajah, Pak Bei."

"Dijajah bangsa asing, maksudmu?"

"Ya gak mesti, Pak Bei."

"Gak mesti bagaimana?"

"Ya mungkin saja yang menjajah kita justru bangsa kita sendiri."

"Kok bisa begitu, Yu?"

"Walaah Pak Bei ini masa lupa dulu kita kan biasa ramai-ramai nonton kethoprak TVRI Yogyakarta di rumah Pak Yusuf."

"Ya masih ingat, Yu. Dulu orang-orang tua sampai iuran buat beli kepang untuk alas duduk."

"Pak Bei ingat gak, dulu sering ada lakon raja Mataram melawan Kumpeni, penjajah dari Belanda?"

"Iya, dulu anak-anak senang sekali melihat pas adegan perang tanding."

"Raja kita jatuh dari kekuasannya karena pengkhianatan saudara sendiri atau anak-buahnya sendiri yang sudah disogok dan kingkalingkong dengan Kumpeni."

"Wah wah...ini jualan kok malah seminar kethoprak to, Budhe?," Bu Bei menyela. 

"Hehehe....maaf Bu Bei, malah kutinggal ngobrol sama Pak Bei tentang kethoprak. Maaf..."

"Habis berapa aku ini?" Bu Bei menunjukkan belanjaannya.

"Dua puluh tiga ribu saja," jawab Yu Sukini setelah bungkusan plastik. 

Bu Bei pun langsung membayar dan masuk ke rumah meninggalkan Yu Sukini.

"Matur nuwun, Bu Bei. Saya nyuwun pamit nggih."

"Nggih, Budhe."

"Pamit dulu, Pak Bei. Ingat, tandanya merdeka itu bila sudah murah pangan, murah sandang, dan murah segala biaya hidup."

"Nggih, Yu. Merdeka...!!"

"Beluuum....hehehe..."

Yu Sukini pun meninggalkan pelataran nDalem Pak Bei, meneruskan jualan dari rumah ke rumah hingga habis jualannya. 

"Bakul panganan kok keminter, Yu Yu. Sok tahu," kata Pak Bei dalam hati.

#serialpakbei
#wahyudinasution