"Kemarin ikut acara Pembukaan Saparan gak, Pak Bei?," tanya Kang Narjo tadi pagi setelah melemparkan koran ke lantai.
"Loh ini sudah bulan Safar ya, Kang? Lupa aku," jawab Pak Bei sambil meletakkan hp dan kacamata bacanya.
"Pak Bei ini bagaimana? Masa lupa. Sebentar lagi kan hari rayanya masyarakat Jatinom. Besok Jumat 1 September puncak acara Yaqawiyyu, sebaran apem di Plampeyan, lapangan di pinggir kali bawah Masjid Gedhe Jatinom itu."
"Wah iya ya, Kang. Pas musim kemarau begini, saparan tahun ini pasti ramai banget. Pasar malam dan warung-warung makan laris-manis banyak pengunjungnya."
"Benar, Pak Bei. Tahun-tahun kemarin kasihan banget. Kalau pas musim hujan, pasar malam betul-betul sepi pengunjung. Apalagi pas covid kemarin, pengusaha pasar malam mbrebes mili, sedih, anjungan mainannya gak ada pengunjung. Hasil penjualannya tiketnya konon tidak cukup untuk ganti biaya sewa tempat di Oro-oro dan Lapangan Bonyokan. Apalagi untuk biaya operasional karyawan. Blas gak nutut."
"Namanya berdagang memang begitu, Kang. Ada saat-saat penjualan sepi, ada saatnya ramai. Biasa itu, Kang."
Kali ini tumben Kang Narjo tidak mau turun dari motornya, hanya sebentar ngoceh tentang Saparan. Mesin motornya pun tidak dimatikan. Tumben juga dia menolak ditawari kopi seperti biasanya. Loper koran satu ini kadang memang nganyelke.
"Ngopinya nanti malam saja. Teman-teman saya juga sudah kangen ngobrol sama Pak Bei," kata Kang Narjo yang langsung ngeloyor pergi tanpa menunggu persetujuan Pak Bei.
Tapi Pak Bei senang diingatkan Kang Narjo bahwa masyarakat Jatinom hari-hari ini mulai bersiap menyambut kunjungan wisatawan tahunan, Saparan Yaqawiyyu. Ini acara haul sesepuh Walisanga bernama Ki Ageng Gribik di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah yang puncak acaranya dilakukan dengan cara unik, yaitu sebaran berton-ton kue apem untuk diperebutkan oleh ribuan pengunjung, dilaksanakan tepat bakda sholat Jumat.
Pak Bei melihat rangkaian acara selama seminggu itu bukan hanya menjadi peristiwa budaya, tetapi juga menjadi peristiwa ekonomi yang memilik dampak luar biasa bagi masyarakat Jatinom. Bahkan, sejak dasa warsa terakhir, Saparan Yaqawiyyu juga telah menjadi ajang para politisi melakukan kampanye terselubung, ajang menggaet simpati massa, membangun popularitas. Namanya juga orang politik. Di mana ada massa berkumpul, di situ ada potensi mendulang suara. Itu sah-sah saja.
Dari berbagai referensi yang pernah dibacanya, Pak Bei meyakini bahwa acara haul Yaqawiyyu setiap bulan Safar itu dimulai sejak masa Ki Ageng Gribik ke-3, dalam rangka memperingati wafat pendahulunya, yakni Ki Ageng Gribik pertama atau Syech Maulana Malik Maghribi. Waliyullah dari Maghribi atau Maroko itu datang ke Tanah Jawa bersama 8 orang lainnya sebagai Da'i yang diutus oleh Sultan Mahmud dari Kekhalifahan Turki Usmani pada abad ke-14. Tidak seperti teman-temannya yang memilih basis dakwah di pesisir Pulau Jawa, Syech Maulana Malik Maghribi memilih masuk jauh ke pedalaman di kawasan lereng timur Gunung Merapi yang kemudian dikenal sebagai wilayah Jatinom. Di sinilah beliau membangun basis dakwahnya. Jamaahnya yang orang-orang Jawa pedalaman itu kemudian menyebut gurunya itu dengan Ki Ageng Gribik.
"Pak Bei, sejak dulu acara Yaqawiyyu kok cuma gitu-gitu saja, ya. Gak ada pembaruan sama sekali," kata Mas Tejo, teman Kang Narjo yang datang berempat sejak bakda isya' tadi.
"Maunya pembaruan yang seperti apa, Mas Tejo?," tanya Pak Bei.
"Jaman sudah berubah. Selera jaman juga sudah berganti. Tapi kok ya masih bikin acara orang berebut sebaran apem. Mbok coba ganti cara yang lain, Pak Bei, yang lebih beradab," jawab Mas Tejo.
"Lha justru di situ menariknya, Mas Tejo. Ribuan orang berebut apem di satu tempat, itu kan unik, lucu. Dari kacamata orang Dinas Pariwisata, itu kemedol, layak jual, potensial mendatangkan cuan alias PAD. Gitu lho, Mas Tejo."
"Tapi benar juga kata Mas Tejo ini, Pak Bei," Kang Narjo mencoba membela temannya.
"Pripun, Kang Narjo?"
"Memang kalau dirasa-rasa, dipikir-pikir, tradisi sebaran apem itu dulu tentu maksudnya ajaran bersedekah, mambagi kue apem kepada tamu-tamu. Tapi, bersedekah makanan untuk tamu dengan cara dilempar-lemparkan itu kan tidak sopan, kurang ngejeni tamu, jelas tidak baik. Itu bukan sedekah namanya," jawab Kang Narjo.
"Iya juga ya, Kang. Terus bagaimana mestinya?"
"Itulah yang perlu kita pikirkan, Pak Bei. Saatnya orang-orang Jatinom berkreasi menemukan cara peringatan Yawawiyyu yang lebih beradab," Kang Tejo kembali memancing diskusi.
Pak Bei teringat, beberapa tahun lalu pernah mengajak teman-teman pemuda Jatinom membuat perubahan peringatan Yaqawiyyu, mirip dengan yang digelisahkan Mas Tejo dan Kang Narjo malam ini.
Waktu itu Pak Bei mengusulkan buat acara Festival Apem sehari sebelum acara puncak Yaqawiyyu. Festival itu diikuti ibu-ibu dan remaja putri se-Kecamatan Jatinom. Setiap kelompok terdiri 3 orang. Dengan disediakan hadiah yang menarik, tentu akan ada ratusan kelompok yang siap ikut serta. Tempat festival di pinggir sepanjang jalan sejak dari perbatasan dengan Kec. Ngawen di sebelah selatan, perbatasan dengan Kec. Karanganom di sebelah timur, perbatasan dengan Kec. Tulung di sebelah utara, dan sejanjang jalan di kota Jatinom. Lalu, seluruh apem yang dibuat oleh peserta itu dibeli oleh Panitia untuk dipacking dalam dos yang bagus. Selanjutnya, ribuan dos berisi apem itu besok siang dibagikan kepada jamaah sholat Jumat di masjid-masjid sekitar kota Jatinom. Jadi tamu-tamu dari luar kota terutama yang hadir sholat Jumat di masjid akan menerima apem dengan cara terhormat. Yang masih suka ikut sebaran apem, silakan ikut berebut. Yang sudah mendapatkan apem di mesjid, silakan bila ingin menonton orang-orang yang berebut di Plampeyan.
"Sayang sekali ide saya waktu itu kurang direspon teman-teman," kenang Pak Bei.
"Ide bagus sekali itu, Pak Bei. Tapi mungkin terlalu bagus, kapiken, sehingga teman-teman Pak Bei tidak bisa merespon," kata Mas Tejo.
"Saya lihat sekarang sudah mulai muncul kegelisahan di masyarakat Jatinom, Pak Bei," kata Kang Narjo menimpali. "Memang budaya semestinya tidak statis, harus terus berubah, terus ada pembaruan seiring budaya masyarakat yang juga terus berkembang," lanjutnya.
Malam sudah larut. Udara dan angin dingin sudah terasa di kulit, pertanda sudah saatnya Pak Bei istirahat. Kang Narjo dan teman-temannya pun segera pamitan, pulang ke rumahnya masing-masing.
#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jatam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar