Seperti biasanya, pagi ini Pak Bei melakukan aktivitas rutinnya jalan pagi menyusuri jalanan kampung dan persawahan. Jarak sekitar 3,5 km itu normal diselesaikannya dalam waktu 30 menit. Tapi sering lebih dari itu. Maklum saja, Pak Bei sering nyempatkan berhenti dulu menyapa para petani, lalu ngobrol berbagai hal soal pertanian, mendengarkan keluh-kesah mereka. Petani pun tampak antusias bila diajak ngobrol. Sambil merokok tingwe, mereka bercerita tentang langkanya pupuk subsidi dan mahalnya pupuk non-subsidi, soal berbagai hama tanaman yang datang silih-berganti, harga jual panenan yang kadang sangat rendah tidak masuk akal sementara biaya hidup keluarganya terus merangkak naik tak pernah turun lagi, dan sebagainya. Pak Bei pun ikut ngelinting rokok tingwe dan menikmatinya sebagai tanda ajur-ajer dan akrab dengan kehidupan petani.
Sampai di rumah, biasanya Pak Bei langsung buka keran air dan nyirami kembang di halaman. Tapi kali ini tidak, gara-gara ada sepeda motor Kang Narjo yang masih banyak muatan koran itu terparkir tepat di depan tempat keran dan selang air. Orangnya tidak kelihatan. Mungkin sedang ke kamar mandi. Biasa, orang tua memang kadang beser tak tertahankan.
Benar juga. Tak berapa lama Kang Narjo tampak jalan kledang-kledang dari arah kamar mandi.
"Selamat pagi, Pak Bei. Sugeng enjang," sapa Kang Narjo dengan ekspresi wajah lega.
"Sugeng enjang, Kang Narjo. Beser, ya?"
"Iya, Pak Bei. Ngempet dari tadi."
"Mau ngopi dulu?"
"Cocok, Pak Bei."
"Tunggu sebentar, ya. Kubuatkan dulu."
Tak berapa lama, Pak Bei pun keluar dengan dua gelas kopi, siap nani ngobrol sahabatnya.
"Buat kopi sendiri to, Pak Bei? Kok gak nyuruh putrinya?"
"Anakku sudah kembali ke pondok, Kang?"
"Katanya sudah selesai kuliahnya? Sudah lulus."
"Iya memang, sudah wisuda akhir bulan kemarin. Tapi masih harus menyelesaikan setahun pengabdian di pondok kok, Kang."
"Wah, jadi berapa tahun anak Pak Bei mondok?"
"Total 11 tahun, Kang."
"Waoow...11 tahun?"
"Iya, Kang. Mondok sejak baru lulus SD hingga lulus SMA, 6 tahun. Dilanjut kuliah 4 tahun di Fakultas Ekonomi. Sudah lulus. Dilanjut lagi pengabdian satu tahun sampai Ramadhan tahun depan. Jadi total 11 tahun."
"Luar biasa anak Pak Bei. Santriwati sejati."
"Alhamdulillaah, Kang. Pangestunipun."
"Nanti keluar dari pondok sudah dewasa, ya. Sudah matang."
"Insya Allah, Kang."
"Sebentar lagi Pak Bei mantu lagi ini. Sudah ada calonnya belum?"
"Belum tampak hilalnya kok, Kang."
"Belum punya calon?"
"Belum, Kang."
"Pak Bei, salah satu tanggung jawab seorang bapak pada anak gadisnya itu mencarikan jodoh, suami, pendamping hidupnya."
"Iya tahu, Kang. Tapi biarlah dia nyelesaikan pengabdiannya dulu."
"Tapi jangan-jangan dia sudah punya calon tapi belum dikenalkan Pak Bei?"
"Kayaknya sih belum, Kang. Ketemu laki-laki saja jarang kok, cuma pas liburan."
"Kenapa begitu?"
"Kang, anakku ini mondoknya di Gontor Putri. Khusus pondok putri. Kuliahnya pun di Unida Gontor Putri. Jadi ya cuma ketemu sesama anak putri."
"Ooh iya, ya. Malah aman kok, Pak Bei."
"Iya, Kang. Insya Allah."
"Berarti Pak Bei yang harus mencarikan jodohnya. Harus mulai tebar jaring nih."
"Halaah memangnya mau menjala ikan? Soal jodoh, Gusti Allah pasti sudah mengatur, Kang. Orang tua berdoa saja semoga anaknya mendapatkan jadoh yang terbaik."
"Biasanya lho, Pak Bei, anak gadis itu mengidolakan laki-laki yang seperti bapaknya."
"Gitu to, Kang?"
"Coba saja anak Pak Bei ditanya, laki-laki seperti apa yang diinginkannya. Pasti jawabnya yang seperti ayahnya."
"Mosok to, Kang?" Pak Bei kaget dengan omongan Kang Narjo. Teringat obrolan keluarga menjelang acara wisuda di Ponorogo tempo hari.
Pagi itu usai sarapan pagi, Bu Bei iseng bertanya pada Zika, anak gadisnya, "Nduk, Kamu ini pengin tipe laki-laki yang bagaimana?"
"Yang seperti ayah, " jawab dengan mantap.
"Walaah, kok seleramu sama dengan Bunda to, Dek?" respon Mas Cahya disambut gelak tawa.
"Ya memang begitu kok, Pak Bei. Konon, cinta pertama anak gadis itu ya ayahnya sendiri," kata Kang Narjo.
"Tapi mana ada yang persis denganku, Kang. Anak laki-lakiku saja beda kok. Dia lebih mirip dengan bundanya."
"Pasti tidak ada yang persis, Pak Bei, tapi setidaknya ada yang mirip-miriplah. Mungkin fisiknya, mungkin gayanya, mungkin tutur bahasanya, mungkin hobinya, mungkin komunitas dan pergaulannya."
Matahari sudah meninggi. Panas kemarau mulai terasa menyengat. Kang Narjo pun berpamitan untuk neruskan tugasnya mengantar koran. Obrolan dengan loper koran senior itu sering membuat hal Pak Bei gelisah. Sering ada hal baru yang menantang. Kali ini tantangannya beda dan tidak gampang.
#serialpakbei
#wahyudinasution
"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar