Sudah lama Pak Bei tidak mendengar ungkapan Jawa anak polah bapak kepradah ini. Dulu di tahun 1970an, waktu di TVRI Yogyakarta masih ada siaran Kuncung & Bawuk, cerita-cerita kearifan dan tulada budaya Jawa masih bisa dinikmati anak-anak. Tapi anak-anak Jawa sekarang, seperti halnya anak-anak dari sub-kultur Indonesia lainnya, nyaris tidak kenal lagi budaya warisan nenek-moyangnya. Pak Bei bisa mengenal sedikit warisan Budaya Melayu zaman masih sekolah di SD. Salah satu materi pelajaran Bahasa Indonesia adalah menghafal peribahasa Melayu yang hingga saat ini beberapa masih hafal di luar kepala.
Untung Pak Bei punya sahabat Kang Narjo, loper koran senior yang lumayan punya budaya literasi yang bagus. Dia rajin membaca, minimal berita aktual, opini, atau tajuk rencana di koran yang diedarkannya setiap pagi. Dari kebiasannya membaca itulah maka Kang Narjo bila berbicara sering keluar kosa kata atau ungkapan-ungkapan yang kadang terdengar aneh dan langka, terutama yang dari khasanah budaya Jawa.
Seperti malam ini, Kang Narjo datang bersama temannya yang ternyata seorang Kepala Desa. Biasa, Kang Narjo memang suka mengajak teman atau tetangganya ngobrol dengan Pak Bei. Dia ngajak 'konsultasi', apapun masalahnya. Sebenarnya Pak Bei paham, itu hanya cara Kang Narjo mencari legitimasi omongannya pada temannya. Dia butuh cara meyakinkan teman-temannya.
"Begini lho, Pak Bei, Pak Lurah Darto ini lagi pusing kapala. Makanya kuajak ke sini," kata Kang Narjo membuka obrolan.
"Ada apa, Pak Lurah?," tanya Pak Bei. "Njenengan ini kok mau-maunya diajak Kang Narjo ke sini," sambungnya.
"Saya butuh pencerahan, Pak Bei," jawab Pak Lurah Darto.
"Soal apa, Pak Lurah?"
Melihat Pak Lurah Darto tampak ragu-ragu mau menjawab, Kang Narjo langsung menyahut, "Pak Lurah ini lagi pusing, Pak Bei. Dia sudah 3 periode menjabat Kepala Desa, dan masa jabatannya akan berakhir besok September. Bulan depan akan Pilkades untuk memilih calon Kepala Desa berikutnya."
"Pak Lurah Darto tidak bisa nyalon lagi, ya?"
"Injih, Pak Bei. Saya sudah 3 periode. Harus ganti yang muda."
"Sudah nyiapkan jago, kan?"
"Ya itulah yang bikin saya pusing, Pak Bei," jawab Pak Lurah Darto.
"Kenapa pusing, Pak Lurah?"
"Gimana gak pusing, Pak Bei?
Anak saya ngotot pengin jadi Kepala Desa. Dia bilang, pokoknya harus menang di Pilkades bulan depan. Lha saya kan jadi sangat tidak enak, Pak Bei."
"Kenapa, Pak Lurah? Berarti anak Njenengan punya minat meneruskan estafet kepemimpinan bapaknya. Siap meregenerasi. Itu kan bagus?"
"Bagus bagaimana? Calonnya ada 3 orang, Pak Bei: Pak Sekdes, Pak Kadus, dan anak saya."
"Wah seru juga, ya."
"Saya tahu Pak Sekdes selama ini kinerjanya sangat bagus. Dia paham betul seluk-beluk manajemen pembangunan Desa. Sangat bisa saya andalkan. Orangnya juga jujur dan rajin beribadah."
"Pak Kadus bagaimana?"
"Sebenarnya dia juga bagus, tapi menurut saya kapasitasnya lebih pas untuk Kepala Dusun, bukan Kepala Desa. Tapi orangnya terkenal royal terutama pada pemuda-pemuda, nyah-nyoh, suka nyumbang kegiatan olah raga."
"Kalau anak Pak Lurah bagaimana?"
Lagi-lagi Pak Lurah tampak ragu menjawab.
"Itulah masalahnya, Pak Bei," sahut Kang Narjo. "Pak Lurah ini sadar anaknya masih terlalu muda dan belum cukup punya pengalaman bermasyarakat, tapi tiba-tiba pengin maju jadi calon Kepala Desa."
"Anak saya ini kuliahnya saja berhenti di tengah jalan, Pak Bei, kena DO. Lalu kukasih modal buka usaha cafe di kota untuk nongkrong anak-anak muda, tapi juga belum tampak berkembang."
"Wah bagus itu, Pak Lurah. Usaha yang cukup prospektif. Jaman sekarang anak-anak muda kota nongkrongnya di cafe. Minumnya cuma segelas kopi, tapi nongkrongnya bisa berjam-jam."
"Bagus apanya, Pak Bei. Belum kelihatan hasilnya."
"Namanya wirausaha ya memang harus telaten, Pak Lurah. Disupport saja."
"Tapi bukan itu masalahnya, Pak Bei."
"Apa, Pak Lurah?"
"Betul-betul ewuh-oyo ing pambudi. Serba gak enak jadinya. Antara Pak Sekdes dengan Pak Kadus saja saya sudah repot mau mendukung yang mana, lha ini malah ditambah anak saya sendiri."
"Ini yang namanya anak polah bapak kepradah ya, Pak Bei?," Kang Narjo menimpali. "Gara-gara anak punya keinginan, bapaknya jadi tambah pusing kepala. Tapi namanya anak sendiri, masa tidak didukung, tidak dibantu supaya menang dan terpilih jadi Kades penerus bapaknya? Kalau sampai anaknya kalah kan justru ngisin-isini, memalukan Pak Kades sendiri."
"Ya saya bisa merasakan, pasti Pak Kades sangat kesulitan menghadapi kenyataan ini."
"Benar, Pak Bei. Sangat sulit. Saya tahu anak saya ini nekad kalau sudah punya keinginan. Dia sudah bilang tidak mau kalah, pokoknya harus menang melawan Pak Sekdes dan Pak Kadus. Setiap malam tim suksesnya juga sudah kumpul-kumpul koordinasi di rumah kami. Ya mau tidak mau saya harus membantu juga, Pak Bei. Harus cawe-cawe. Kalau tidak, istriku pasti marah."
"Ya sudah, kalau begitu Pak Lurah total dukung anak sendiri saja."
"Wah tapi gak enak, Pak Bei."
"Begini lho, Pak Kades, kalau seandainya Pak Sekdes dan Pak Kadus kalah, kan masih tetap bisa jadi Sekdes dan Kadus. Tidak kehilangan jabatannya. Iya, kan?"
"Iya benar, Pak Bei."
"Lha kalau anak Pak Kades yang kalah, kira-kira apa yang akan terjadi?"
"Ya pasti anak saya, ibunya, dan keluarga besar saya akan marah, Pak Bei. Saya akan dianggap tega pada anak sendiri."
"Ya sudah. Jadi sudah jelas Pak Kades harus mendukung siapa, kan?"
"Wah terima kasih sekali, Pak Bei. Saya sudah betul-betul lega sekarang. Benar kata Kang Narjo. Kalau punya masalah yang terasa ruwet, datang saja ke Pak Bei, pasti akan ketemu solusi. Matur nuwun ya, Kang Narjo," kata Pak Kades Darto pada Kang Narjo.
Pak Kades Darto pamit pulang dengan suasana lega di hatinya. Kang Narjo pun senyum-senyum puas, tampaknya merasa sudah berhasil membantu Pak Kades mengurai masalah dan menemukan solusinya di nDalem Pak Bei.
#serialpakbei
#wahyudinasution
#anakpolahbapakkepradah