Sabtu, 10 Juni 2023

MISKIN EKSTREM

MISKIN EKSTREM

"Katanya sensus, tapi kok ngawur ya, Pak Bei," kata Kang Narjo sambil melemparkan koran ke lantai seperti biasanya.

"Sensus apa, Kang?"

"Aku gak tahu sensus apa namanya, entah kapan waktunya, siapa petugasnya juga gak tahu. Kata Pak RT, keluargaku masuk di data Kelurahan sebagai keluarga miskin ekstrem," jawab Kang Narjo sambil mematikan mesin motornya.

"Kok bisa, Kang?"

"Lha ya itu yang aku tidak tahu."

"Tapi kan malah bersyukur to, Kang. Berarti Perangkat Desamu baik hati, pengertian."

"Pengertian bagaimana? Itu kan merendahkan. Pelecehan."

"Kang, di mana-mana terjadi orang yang cukup mampu, rumahnya bagus, punya sawah, punya sepeda motor 3-4 buah, tapi masih suka menerima Bansos, BLT, PKH, dan sebagainya. Bangga lagi.
Lha Kang Narjo ini gak usah minta-minta malah sudah dimasukkan jadi calon penerima bantuan khusus program percepatan penanggulangan kemiskinan ekstrem. Disyukuri aja, Kang."

"Pak Bei, miskin ekstrem itu kan artinya miskin banget, mlarat nemen. Masa aku termasuk kelompok fakir miskin yang harus disantuni negara. Ya enggaklah. Itu data ngawur. Malu aku sama Gusti Allah," kata Kang Narjo dengan ekspresi wajah serius.

Pak Bei jadi teringat obrolan dengan Pak Kades dua hari lalu, bahwa Desa kami termasuk satu di antara 923 Desa Miskin Ekstrem di Jawa Tengah. Aneh. Konon indikatornya hanya berdasarkan kasus stunting, kasus bayi dan anak-anak kerdil karena kurang gizi. Memang, di Desa kami masih ada 3 kasus stunting. Tapi cuma 3 kasus. "Kok data resmi di Kabupaten dan Provinsi bisa jadi 34 kasus? Ini aneh sekali, Pak Bei," kata Pak Kades.

"Wah itu pelecehan, Mas Lurah," kata Pak Bei. "Data dari mana itu? Seolah-olah Pemerintah Desa kita tidak bekerja, tidak bisa mensejahterakan rakyatnya." Pak Bei tampak serius menanggapai informasi dari Pak Kades. "Sebagai Ketua BPD, malu aku, Mas Lurah," sambungnya.

"Saya sebenarnya juga malu, Pak Bei. Tapi ini bukan hanya terjadi di Desa kita. Desa-Desa yang lain sama saja. Katanya itu data di BKKBN tahun 2019. Itu pun sebenarnya data ngawur. Kita tahu sendiri, tidak ada keluarga yang benar-benar miskin akut di Desa kita ini," kata Pak Kades.

"Lha terus bagaimana sikap kita, Mas Lurah?"

"Ya seperti teman-teman Kades lainnya, kita terima saja, Pak Bei."

"Loh, terima saja bagaimana?"

"Ya kan mau dapat bantuan lumayan besar, Pak Bei," jawab Pak Kades dengan senyum-senyum.

"Kalau datanya sudah ngawur gitu, nanti data penerimanya tentu juga ngawur kan, Mas Lurah?"

"Lha ya itu, Pak Bei. Di data 34 kasus stunting itu, bahkan ada beberapa manula yang dimasukkan. Bukan balita kok stunting. Lucu. Ngawur banget."

"Mas Lurah, jangan-jangan data miskin ekstrem itu memang sengaja digelembungkan, ya?"

"Buat apa, Pak Bei? Kan justru memalukan, Jawa Tengah disebut sebagai provinsi termiskin di Pulau Jawa. Kesannya Gubernur kita tidak bisa bekerja."

"Mas Lurah ini mikirnya kok lempeng, lho. Mbok agak sig-sag dikit. Syukur bisa melingkar, mubeng, biar agak jangkep perspektifnya."

"Maksud Pak Bai bagaimana?"

"Ingat, Mas Lurah, ini tahun politik. Sebentar lagi kita akan Pemilu dan Pilpres."

"Ya saya paham. Tapi data kemiskinan ekstrem ini kan merugikan Gubernur kita yang sedang gigih kampanye Capres?"

"Coba logikanya dibalik, Mas Lurah,"

"Dibalik bagaimana?"

"Dengan data miskin ekstrem yang banyak itu justru akan menguntungkan Gubernur kita."

"Kok bisa?"

"Akan ada alokasi APBN dan APBD yang sangat besar untuk percepatan penanggulangan kemiskinan ekstrem. Gubernur tentu akan mengerahkan semua Bupati, Camat, dan Kades untuk menyalurkan bantuan itu. Boleh jadi nanti sambil menyalurkan bantuan, Mas Lurah dan semua Kades harus manyampaikan pesan-pesan sponsor kepada para penerima bantuan."

"Kampanye, maksudnya?"

"Mas Lurah lihat saja nanti. Makanya kalau membaca peristiwa harus dari beberapa angel, sudut pandang. Apalagi membaca politik, jangan terlalu lugulah."

"Jadi menurut Pak Bei saya nanti harus bagaimana? Terima saja bantuan itu?," tanya Narjo.

"Yah kalau memang Kang Narjo sudah terdata, ya diterima saja bantuannya. Soal pilihan Caleg atau Capres, itu terserah nanti Kang Narjo di bilik suara. Yang penting yakin dengan pilihan Kang Narjo, yakin bahwa pilihanmu tidak salah."

"Ya sudah, Pak Bei. Saya lanjut bertugas dulu, ya."

Kang Narjo meninggalkan nDalem Pak Bei dengan lega, beda dengan Mas Lurah kemarin yang tampak masih agak gamang menghadapi tugasnya menjelang masa kampanye. Emang enak jadi Kades?

#serialpakbei
#wahyudinasution
#miskinekstrem














Tidak ada komentar:

Posting Komentar