Jumat, 02 Juni 2023

PENDUSTA PANCASILA

PENDUSTA PANCASILA

Entah dapat wangsit dari mana, tiba-tiba kemarin muncul keinginan Pak Bei untuk sholat  Jumat di mesjid kampung Kang Narjo. Memang sudah lama Pak Bei tidak nyambangi ke sana, sejak sekitar sepuluh tahun lalu. Waktu itu Pak Bei diminta Kang Narjo bantu menyambut kehadiran rombongan Syech Ayyub, donatur dari Arab Saudi, yang hadir meresmikan masjid dan menandatangani prasasti. Seluruh warga kampung Kang Narjo pun tumplek-blek menghadiri acara peresmian masjid yang megah itu. Semua hadirin tampak antusias dan bergembira. Maklum saja, impian mereka punya masjid sendiri di kampungnya bisa akhirnya benar-benar terwujud. Itu pun berkat bantuan dana dari seorang dermawan, Syech Ayyub dari Arab Saudi, melalui perantara sebuah yayasan dari Surabaya yang kebetulan Pak Bei kenal direkturnya.

Jumatan kemarin benar-benar mengesankan. Pak Bei tiba di Mesjid Al-Ayyub beberapa menit sebelum manjing dhuhur, sebelum khatib naik mimbar. Karena shaf-sfaf di ruang dalam sudah penuh jamaah, maka Pak Bei memilih tempat di serambi, di dekat pintu masuk. Beberapa saat setelah Pak Bei shalat tahiyyatul-masjid,  khatib pun naik mimbar dan mengucap salam. Lalu, seorang laki-laki paroh baya berdiri mengumandangkan  adzan. Muadzin kampung, dimaklumi saja. Jangan dibandingkan dengan muadzin di Masjid Al-Aqsha Klaten yang bagus itu, atau muadzin di tivi-tivi yang rekaman suaranya selalu diputar setiap waktu maghrib tiba.

Khatib memulai khotbahnya.  Muqadimah-nya standar, mengajak seluruh jamaah memperbanyak syukur, menyampaikan shalawat dan salam kepada Baginda Nabi SAW, serta mengajak jamaah selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Mendengar suara khatib, Pak Bei yakin itu suara Kang Narjo, sahabat yang setiap pagi datang mengantar koran dan sering curhat berbagai hal. 
"Weeh...ternyata Kang Narjo khatibnya," kata Pak Bei dalam hati. Pak Bei baru tahu Kang Narjo bisa khotbah.

"Jamaah rahimakumullah, " kata khatib,  "Allah SWT mengajukan pertanyaan kepada kita dalam Al-Quran surah Al-Ma'un yang tentu sudah kita hafal," khatib mulai masuk ke tema khotbahnya dengan mambaca surah Al-Ma'un dan menterjemahkannya. "Tahukah kalian orang yang mendustakan agama?" 

"Jamaah rahimakumullah, surah itu diawali dengan pertanyaan retorik, pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban kita. Allah SWT sendiri yang kemudian menjawab dengan dua ayat berikutnya, "Yaitu orang-orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang-orang miskin."

" Jamaah rahimakumullah,  ada dua ciri pendusta agama. Yang pertama, menghardik anak yatim, menyia-nyiakan anak yatim, manggangu anak-anak yang tidak mempunyai ayah atau ibu, atau tidak mempunyai keduanya. Yang kedua, tidak menganjurkan agar memberi makan orang-orang miskin. Pada ayat berikutnya, para pendusta agama ini diancam oleh Allah SWT dengan neraka Wail. Meski kita rajin shalat, mengaji, bahkan mungkin sudah Haji dan Umrah berkali-kali, tapi kalau amaliah kita mengandung ciri pendusta agama, maka neraka Wail tempat kita di akhirat nanti. Itu karena shalat dan seluruh ibadah kita hanya riya', bukan ikhlas semata-mata untuk Allah SWT, lillaahita'ala."

"Bagus juga tema khotbah Kang Narjo ini," kata Pak Bei dalam hati.

"Jamaah rahimakumullah, itu tadi dalam konteks kita beragama dan beribadah kepada Allah SWT. Semoga kita bukan termasuk ke dalam golongan pendusta agama," khotib tampak berusaha membesarkan hati jamaah.

"Lalu, bagaimana dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara? Adakah istilah pendusta negara?" khotib memperlebar pembahasan.  
"Dalam konteks ini, tentu tolok ukur kita adalah Pancasila, konsesus dasar negara dan pedoman hidup bangsa di Negara Kesatuan Republik Indonesia," lanjut khatib Narjo dengan mantap. 

"Bila kita belajar dari Q.S. Al-Ma'un, tentu kita pun pantas bertanya, siapakah yang termasuk pendusta bangsa dan negara? Jawabannya gampang. Yaitu orang-orang yang mendustakan Pencasila, merongrong Pancasila, mengkhianati Pancasila. Dialah yang membahayakan NKRI, mengancam sendi-sendi kehidupan di NKRI. Siapakah mereka itu, Jamaah sekalian?," khatib memandangi wajah-wajah Jamaah. Sebagian jamaah menundukkan wajah, sebagian lainnya memandang khatib, menunggu uraian selanjutnya .  

Terasa mak-deg hati Pak Bei mendengar khatib mulai masuk ke wilayah politik, khawatir sahabatnya itu kepleset lidah. Jaman sekarang, orang keliru ngomong sedikit saja bisa bahaya, bisa jadi bumerang, bisa jadi bancakan netizen di medsos, jadi mudharat dampaknya. Pak Bei menahan nafas sambil tetap berusaha tenang mengikuti khotbah dengan seksama. "Husnudhon saja, tentu khatib berniat baik," Pak Bei berdoa dalam hati.

"Sebagaimana sindiran Allah SWT tadi, bahwa ternyata ada orang yang sholatnya hanya riya', alias pamer. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini pun ternyata sama saja adanya. Banyak orang, pejabat, birokrat, politisi, penegak hukum, dan aparatur negara yang bicaranya seolah paling Pancasilais, paling pro-kebhinekaan, dan paling cinta NKRI. Tetapi kita saksikan setiap hari, betapa perilaku mereka kadang sangat jauh dari nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila," pidato khatib terdengar layaknya seorang jurkam menjelang Pemilu.

"Kita rasakan betapa banyak kebijakan Pemerintah yang justru berpotensi merugikan rakyat. Kita saksikan betapa setiap hari ada saja pejabat, politisi, dan penegak hukum menjadi pesakitan karena korupsi uang rakyat bertrilyun-trilyun. Kita saksikan betapa banyak keluarga pejabat tinggi memamerkan hidupnya yang bermewah-mewah, hedonis, dan itu jelas melukai rasa keadilan rakyat yang nasibnya kurang beruntung. Kita juga mendengar betapa hutang luar negeri kita semakin menggunung, dan itu berarti anak, cucu, dan cicit kita yang kelak harus membayarnya."

Semua wajah jamaah memandang wajah khatib. Tampak satu-dua mengangguk-angguk tanda setuju. Sebagian lainnya tampak tidak berkedip, mencoba merasakan, beepikir, berusaha memahami isi khotbah Kang Narjo.

"Jamaah yang dimuliakan Allah SWT," khotib melanjutkan khotbahnya, "Kalau kita mau jujur, semua perilaku dan kejadian itu jelas bertentangan dengan Pancasila, dari sila 1 hingga 5. Bila sila Ketuhanan Yang Maha Esa sudah dilanggar, tentu dilanggar pula sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Orang menjadi tidak adil hati dan pikirannya, dan tidak beradab perilakunya. Bila sila 1 dan 2 dilanggar, maka jelas mengancam sila ke-3, mengancam Persatuan Indonesia. Bila sila 1 sampai 3 sudah dilanggar, maka pasti Permusyawaratan yang terjadi di Gedung Dewan dan Lembaga Tinggi Negara bukan lagi dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan. Maka, cita-cita kemerdekaan RI, yakni Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, tidak bisa terwujud. Itulah Pendusta Pancasila. Itulah Pengkhianat Negara yang sesungguhnya."

Pak Bei tidak menyangka seberani itu Kang Narjo memilih tema khotbahnya. Bagi jamaah yang beku hatinya, itu bisa dianggap memprovokasi jamaah. Bagi yang lembut hatinya, itu khotbah yang bagus dan penting untuk mengubah mindset dan perilaku jamaah. Sayangnya khotbah itu hanya disampaikan oleh khatib kampung dan di mesjid kampungnya sendiri, bukan di masjid Istiqlal, Al-Azhar, atau masjid di kompleks DPR dan Kementerian di ibukota sana.

"Tapi bolehlah pilihan tema khotbah Kang Narjo, kontekstual dengan suasana peringatan Hari Lahir Pancasila," Pak Bei diam-diam salut dan terkesan dengan sahabatnya.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#pendustapancasila



 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar