Jumat, 25 Agustus 2023

BILA SAPARAN TIBA

BILA SAPARAN TIBA

"Kemarin ikut acara Pembukaan Saparan gak, Pak Bei?," tanya Kang Narjo tadi pagi setelah melemparkan koran ke lantai.

"Loh ini sudah bulan Safar ya, Kang? Lupa aku," jawab Pak Bei sambil meletakkan hp dan kacamata bacanya.

"Pak Bei ini bagaimana? Masa lupa. Sebentar lagi kan hari rayanya masyarakat Jatinom. Besok Jumat 1 September puncak acara Yaqawiyyu, sebaran apem di Plampeyan, lapangan di pinggir kali bawah Masjid Gedhe Jatinom itu."

"Wah iya ya, Kang. Pas musim kemarau begini, saparan tahun ini pasti ramai banget. Pasar malam dan warung-warung makan laris-manis banyak pengunjungnya."

"Benar, Pak Bei. Tahun-tahun kemarin kasihan banget. Kalau pas musim hujan, pasar malam betul-betul sepi pengunjung. Apalagi pas covid kemarin, pengusaha pasar malam mbrebes mili, sedih, anjungan mainannya gak ada pengunjung. Hasil penjualannya tiketnya konon tidak cukup untuk ganti biaya sewa tempat di Oro-oro dan Lapangan Bonyokan. Apalagi untuk biaya operasional karyawan. Blas gak nutut."

"Namanya berdagang memang begitu, Kang. Ada saat-saat penjualan sepi, ada saatnya ramai. Biasa itu, Kang."

Kali ini tumben Kang Narjo tidak mau turun dari motornya, hanya sebentar ngoceh tentang Saparan. Mesin motornya pun tidak dimatikan. Tumben juga dia menolak ditawari kopi seperti biasanya. Loper koran satu ini kadang memang nganyelke. 

"Ngopinya nanti malam saja. Teman-teman saya juga sudah kangen ngobrol sama Pak Bei," kata Kang Narjo yang langsung ngeloyor pergi tanpa menunggu persetujuan Pak Bei.

Tapi Pak Bei senang diingatkan Kang Narjo bahwa masyarakat Jatinom hari-hari ini mulai bersiap menyambut kunjungan wisatawan tahunan, Saparan Yaqawiyyu. Ini acara haul sesepuh Walisanga bernama Ki Ageng Gribik di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah yang puncak acaranya dilakukan dengan cara unik, yaitu sebaran berton-ton kue apem untuk diperebutkan oleh ribuan pengunjung, dilaksanakan tepat bakda sholat Jumat. 

Pak Bei melihat rangkaian acara selama seminggu itu bukan hanya menjadi peristiwa budaya, tetapi juga menjadi peristiwa ekonomi yang memilik dampak luar biasa bagi masyarakat Jatinom. Bahkan, sejak dasa warsa terakhir, Saparan Yaqawiyyu juga telah menjadi ajang para politisi melakukan kampanye terselubung, ajang menggaet simpati massa, membangun popularitas. Namanya juga orang politik. Di mana ada massa berkumpul, di situ ada potensi mendulang suara. Itu sah-sah saja.

Dari berbagai referensi yang pernah dibacanya, Pak Bei meyakini bahwa acara haul Yaqawiyyu setiap bulan Safar itu dimulai sejak masa Ki Ageng Gribik ke-3, dalam rangka memperingati wafat pendahulunya, yakni Ki Ageng Gribik pertama atau Syech Maulana Malik Maghribi. Waliyullah dari Maghribi atau Maroko itu datang ke Tanah Jawa bersama 8 orang lainnya sebagai Da'i yang diutus oleh Sultan Mahmud dari Kekhalifahan Turki Usmani pada abad ke-14. Tidak seperti teman-temannya yang memilih basis dakwah di pesisir Pulau Jawa, Syech Maulana Malik Maghribi memilih masuk jauh ke pedalaman di kawasan lereng timur Gunung Merapi yang kemudian dikenal sebagai wilayah Jatinom. Di sinilah beliau membangun basis dakwahnya. Jamaahnya yang orang-orang Jawa pedalaman itu kemudian menyebut gurunya itu dengan Ki Ageng Gribik. 

"Pak Bei, sejak dulu acara Yaqawiyyu kok cuma gitu-gitu saja, ya. Gak ada pembaruan sama sekali," kata Mas Tejo, teman Kang Narjo yang datang berempat sejak bakda isya' tadi.

"Maunya pembaruan yang seperti apa, Mas Tejo?," tanya Pak Bei.

"Jaman sudah berubah. Selera jaman juga sudah berganti. Tapi kok ya masih bikin acara orang berebut sebaran apem. Mbok coba ganti cara yang lain, Pak Bei, yang lebih beradab," jawab Mas Tejo.

"Lha justru di situ menariknya, Mas Tejo. Ribuan orang berebut apem di satu tempat, itu kan unik, lucu. Dari kacamata orang Dinas Pariwisata, itu kemedol, layak jual, potensial mendatangkan cuan alias PAD. Gitu lho, Mas Tejo."

"Tapi benar juga kata Mas Tejo ini, Pak Bei," Kang Narjo mencoba membela temannya.

"Pripun, Kang Narjo?"

"Memang kalau dirasa-rasa, dipikir-pikir, tradisi sebaran apem itu dulu tentu maksudnya ajaran bersedekah, mambagi kue apem kepada tamu-tamu. Tapi, bersedekah makanan untuk tamu dengan cara dilempar-lemparkan itu kan tidak sopan, kurang ngejeni tamu, jelas tidak baik. Itu bukan sedekah namanya," jawab Kang Narjo.

"Iya juga ya, Kang. Terus bagaimana mestinya?"

"Itulah yang perlu kita pikirkan, Pak Bei. Saatnya orang-orang Jatinom berkreasi menemukan cara peringatan Yawawiyyu yang lebih beradab," Kang Tejo kembali memancing diskusi.

Pak Bei teringat, beberapa tahun lalu pernah mengajak teman-teman pemuda Jatinom membuat perubahan peringatan Yaqawiyyu, mirip dengan yang digelisahkan Mas Tejo dan Kang Narjo malam ini.
Waktu itu Pak Bei mengusulkan buat acara Festival Apem sehari sebelum acara puncak Yaqawiyyu. Festival itu diikuti ibu-ibu dan remaja putri se-Kecamatan Jatinom. Setiap kelompok terdiri 3 orang. Dengan disediakan hadiah yang menarik, tentu akan ada ratusan kelompok yang siap ikut serta. Tempat festival di pinggir sepanjang jalan sejak dari perbatasan dengan Kec. Ngawen di sebelah selatan, perbatasan dengan Kec. Karanganom di sebelah timur, perbatasan dengan Kec. Tulung di sebelah utara, dan sejanjang jalan di kota Jatinom. Lalu, seluruh apem yang dibuat oleh peserta itu dibeli oleh Panitia untuk dipacking dalam dos yang bagus. Selanjutnya, ribuan dos berisi apem itu besok siang dibagikan kepada jamaah sholat Jumat di masjid-masjid sekitar kota Jatinom. Jadi tamu-tamu dari luar kota terutama yang hadir sholat Jumat di masjid akan menerima apem dengan cara terhormat. Yang masih suka ikut sebaran apem, silakan ikut berebut. Yang sudah mendapatkan apem di mesjid, silakan bila ingin menonton orang-orang yang berebut di Plampeyan.

"Sayang sekali ide saya waktu itu kurang direspon teman-teman," kenang Pak Bei.

"Ide bagus sekali itu, Pak Bei. Tapi mungkin terlalu bagus, kapiken, sehingga teman-teman Pak Bei tidak bisa merespon," kata Mas Tejo.

"Saya lihat sekarang sudah mulai muncul kegelisahan di masyarakat Jatinom, Pak Bei," kata Kang Narjo menimpali. "Memang budaya semestinya tidak statis, harus terus berubah, terus ada pembaruan seiring budaya masyarakat yang juga terus berkembang," lanjutnya.

Malam sudah larut. Udara dan angin dingin sudah terasa di kulit, pertanda sudah saatnya Pak Bei istirahat. Kang Narjo dan teman-temannya pun segera pamitan, pulang ke rumahnya masing-masing.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jatam





 
















Rabu, 23 Agustus 2023

TAK ADA RUANG PARTISIPASI

TAK ADA RUANG PARTISIPASI

Sepulang dari jama'ah isya' di mesjid malam itu, sebenarnya Pak Bei mau langsung istirahat. Badan terasa capek sepulang dari Solo mengikuti acara uji publik Raperda Kedaulatan Pangan bersama Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah. Meski undangannya sangat mendadak diterimanya, hanya beberapa jam sebelum acara dimulai, tapi mengingat topik acaranya sangat urgent, menyangkut nasib masa depan jutaan warga Jawa Tengah, maka Pak Bei pun membatalkan acaranya ke Jogja. 

Sebagai warga Jawa Tengah, Pak Bei melihat inisiatif Raperda Kedaulatan Pangan dari Komisi B itu bagus dan pantas didukung. Sebelum diundangkan menjadi Perda yang selanjutnya akan diikuti dengan peraturan-peraturan turunannya dan mengikat seluruh warga, proses uji publik diperlukan guna mendapatkan masukan dan koreksi dari masyarakat secara komprehensif.

Kebetulan tema Raperda itu jumbuh dengan kegelisahan para petani, pemuda desa, dan teman-teman pelaku usaha penggilingan padi yang sering kumpul, ngopi, ngobrol, dan curhat di nDalem Pak Bei. Meski hanya obrolan cakrukan dan disampakan dengan bahasa sederhana, tapi berbagai tema yang mengemuka kadang terasa cukup berat. Misalnya, tema terkait ancaman kedaulatan pangan, kasus stunting dan kemiskinan ekstrem yang sedang jadi hot news akhir-akhir ini. 

Obrolan terkait kemiskinan ekstrem malam itu,  para aktivis cakrukan punya kesan tersendiri. Katanya, datanya sengaja digelembungkan. Solusi yang ditempuh Pemerintah pun terkesan aneh, ora gathuk alias tidak nyambung sehingga lucu. Pak Bei merasa bakan kapasitasnya menilai kesan mereka. Namanya juga kesan, mungkin benar mungkin salah. Jelas itu di luar kapasitas Pak Bei yang hanya rakyat biasa.

Untunglah, ada dalil mengatakan "Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kapasitasnya." Artinya, rakyat tidak memiliki kewajiban memikul tanggung jawab mewujudkan tata kelola negara yang baik dan adil. Pejabat dan para pengambil kebijakan yang sudah disumpah dan digaji besar oleh rakyatlah yang wajib hukumnya mewujudkan kesejahteraan dan keadilan. 

"Pak Bei, sebenarnya kami ingin sekali membantu Pemerintah, tapi tidak ada ruang bagi kami," kata Aji yang malam itu datang bersama 5 temannya.

"Membantu dalam hal apa, Mas?," tanya Pak Bei pada pemuda ganteng itu.

"Percepatan penanggulangan kemiskinan ekstrem, Pak Bei. Kabupaten kita kan termasuk yang tinggi di Jawa Tengah. Dari 26 Kecamatan, ada 22 yang termasuk miskin ekstrem. Itu kan sangat memalukan," jawab Aji.

"Loh, memangnya Pemkab kita butuh bantuan kalian? Jangan-jangan gak butuh, Mas?"

"Ya memang, Pak Bei, setelah kemarin kami audiensi ke pemangku kepentingan yang kami pandang kompeten, rupanya Pemerintah memang tidak butuh partisipasi masyarakat. Mereka sudah punya program sendiri yang harus dijalankan."

"Nah bener, kan?"

"Tapi menurut kami programnya tidak relevan, Pak Bei?," kata Arya aktivis petani millenial itu.

"Tidak relevan bagaimana? Bagi Pemerintah, program itu yang penting sudah sesuai aturan, sesuai regulasi, berbasis data, dan terukur."

"Program penangulangan kemiskinan ekstrem dan stunting kok cuma jambanisasi, perhaikan rumah tidak layak huni, dan penyambungan listrik PLN. Itu kan cuma fisik, Pak Bei. Proyek infrastruktur, buang-buang anggaran dan tidak menyelesaikan masalah," Arya menyanggah Pak Bei.

"Lha kalau kenyataan di lapangan memang banyak rumah yang belum punya jamban, tidak layak huni, dan belum terjangkau penerangan listrik, solusinya yang program-program itu to, Mas."

"Sebenarnya kami punya gagasan yang lebih bagus untuk percepatan penanggulangan kemiskinan ekstrem dan stunting, Pak Bei. Tapi, ah sudahlah. Percuma saja ide bagus kalau tidak bisa diakomodir," kata Taufiq.

"Mbok coba ide itu ditulis, Mas, dibikin proposal biar dipelajari."

"Dari obrolan pas audiensi kemarin, tidak ada gunanya lagi kami bikin proposal, Pak Bei. Program dan anggarannya sudah diketok palu, tidak bisa diubah lagi," kata Wawan.

"Ya sudah kalau begitu. Disimpan saja gagasan kalian yang bagus itu. Suatu saat pasti akan berguna. Itu kan hanya soal momentum saja yang belum tepat."

"Maksud Pak Bei?" 

"Kalian tentu paham ini tahun politik. Beberapa bulan lagi kita akan memilih Calon Presiden dan parlemen. Semua pejabat tentu sudah ke sana pikirannya. Ide kalian yang bagus itu mungkin dipandang kurang strategis untuk kepentingan politik memenangkan Pemilu dan Pilpres 2024."

"Keliru, Pak Bei. Kalau mereka mau, sebenarnya program yang kami tawarkan ini justru akan sangat menguntungkan bagi yang punya agenda politik."

"Nyatanya ditolak, kan?"

"Kami pikir penolakan itu bukan karena kalkulasi politik kok, Pak Bei."

"Karena apa?"

"Karena tidak kompeten."

"Loh katanya pemangku kepentingan, penanggungjawab program percepatan penanggulangan kemiskinan ekstrem dan stunting? Ya pasti kompetenlah."

"Nyatanya tidak kompeten kok, Pak Bei. Bahkan tidak mudheng, tidak paham dikasih ide bagus."

Malam sudah cukup larut. Udara sudah terasa lebih atis, dingin. Semua cangkir kopi juga sudah tandas diminum. Pak Bei pun harus istirahat. Para pemuda itu pun berpamitan, menyalami Pak Bei satu per satu, pulang ke rumah masing-masing. 

"Hari gini masih ada pemuda-pemuda yang peka dan peduli pada situasi lingkungannya. Lumayan, masih ada harapan untuk masa depan yang lebih baik," kata Pak Bei dalam hati sambil menutup pintu. 

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah










Rabu, 16 Agustus 2023

MERDEKA ITU MURAH PANGAN MURAH SANDANG

MERDEKA ITU MURAH PANGAN MURAH SANDANG

Mbokdhe Sukini, begitu ibu-ibu muda tetangga Pak Bei biasa memanggil si penjual aneka makanan itu. Pak Bei sendiri sejak dulu memanggilnya 'Yu Sukini'. Dia teman sepermainan masa kecil Mbak Mun, kakak perempuan Pak Bei yang saat ini tinggal di Gianyar, Bali. Di usianya yang tak lagi muda, 60an tahun, Yu Sukini masih tampak sehat bugar dan lincah mengendarai sepeda motornya. Dengan bronjong penuh muatan aneka jajanan pasar seperti jenang sungsum, jenang mutiara, nasi kucing aneka lauk, nasi kuning, nasi gudangan, nasi trancam, bermacam-macam gorengan dan aneka krupuk khas desa, dia keliling setiap pagi dari rumah ke rumah sejak pukul 06.00 hingga sekitar jam 09.00. 

Seperti artis kondang, kedatangan Yu Sukini selalu ditunggu ibu-ibu, terutama yang tak sempat masak untuk sarapan anak-anaknya yang mau sekolah. Pun Bu Bei yang biasa sejak bakda shubuh sudah suntuk di ruang kerjanya menyiapkan pekerjaan untuk karyawan Bundaco sehingga tidak sempat masak. Nasi bungkus harga 2.000an dagangan Yu Sukini itu menjadi solusi bagi perut-perut darurat keroncongan di pagi hari.

"Bu Bei, besok saya libur sehari, ya. Gak jualan," kata Yu Sukini.

"Loh kenapa, Budhe?," tanya Bu Bei.

"Nanti malam semua orang tirakatan malam 17an, biasanya sampai larut malam. Ibu-ibu yang biasa membuat nasi bungkus ini juga sudah pamit mau libur dulu."

"Wah gara-gara tirakatan ya, Budhe?"

"Ibu-ibu juga ingin menikmati Hari Kemerdekaan kok, Bu Bei. Merdeka, kerja libur dulu."

"Iya sih, maklum."

"Padahal kita ini kan belum merdeka ya, Pak Bei?," Yu Sukini yang sok akrab itu menyapa Pak Bei yang lagi asyik membersihkan kurungan perkutut.

"Belum merdeka bagaimana to, Yu?," tanya Pak Bei sambil memindah kurungan ke tempat yang kena sinar matahari.

"Satuhuku yang namanya merdeka itu kalau sudah murah pangan, murah sandang, dan murah semua kebutuhan hidup. Sekarang kan belum, Pak Bei. Malah semua harga kebutuhan hidup semakin hari semakin mahal," jawab Yu Sukini yang cukup membuat Pak Bei kaget.

"Loh, tadi Yu Sukini bilang semua orang kampung nanti malam ngadakan malam tirakatan. Itu kan artinya merenungi dan mensyukuri negara yang sudah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945."

"Kalau menurut saya bukan itu artinya tirakatan itu, Pak Bei."

"Terus apa?"

"Tirakatan itu merenungi apakah bangsa kita ini benar-benar sudah merdeka setelah proklamasi 78 tahun yang lalu."

"Terus apalagi?"

"Tirakatan itu merenungi apakah negara kita ini sudah benar-benar merdeka dari penjajahan bangsa asing."

"Terus apa lagi, Yu?"

"Mencermati jangan-jangan bangsa kita ini masih dijajah, Pak Bei."

"Dijajah bangsa asing, maksudmu?"

"Ya gak mesti, Pak Bei."

"Gak mesti bagaimana?"

"Ya mungkin saja yang menjajah kita justru bangsa kita sendiri."

"Kok bisa begitu, Yu?"

"Walaah Pak Bei ini masa lupa dulu kita kan biasa ramai-ramai nonton kethoprak TVRI Yogyakarta di rumah Pak Yusuf."

"Ya masih ingat, Yu. Dulu orang-orang tua sampai iuran buat beli kepang untuk alas duduk."

"Pak Bei ingat gak, dulu sering ada lakon raja Mataram melawan Kumpeni, penjajah dari Belanda?"

"Iya, dulu anak-anak senang sekali melihat pas adegan perang tanding."

"Raja kita jatuh dari kekuasannya karena pengkhianatan saudara sendiri atau anak-buahnya sendiri yang sudah disogok dan kingkalingkong dengan Kumpeni."

"Wah wah...ini jualan kok malah seminar kethoprak to, Budhe?," Bu Bei menyela. 

"Hehehe....maaf Bu Bei, malah kutinggal ngobrol sama Pak Bei tentang kethoprak. Maaf..."

"Habis berapa aku ini?" Bu Bei menunjukkan belanjaannya.

"Dua puluh tiga ribu saja," jawab Yu Sukini setelah bungkusan plastik. 

Bu Bei pun langsung membayar dan masuk ke rumah meninggalkan Yu Sukini.

"Matur nuwun, Bu Bei. Saya nyuwun pamit nggih."

"Nggih, Budhe."

"Pamit dulu, Pak Bei. Ingat, tandanya merdeka itu bila sudah murah pangan, murah sandang, dan murah segala biaya hidup."

"Nggih, Yu. Merdeka...!!"

"Beluuum....hehehe..."

Yu Sukini pun meninggalkan pelataran nDalem Pak Bei, meneruskan jualan dari rumah ke rumah hingga habis jualannya. 

"Bakul panganan kok keminter, Yu Yu. Sok tahu," kata Pak Bei dalam hati.

#serialpakbei
#wahyudinasution






















Kamis, 03 Agustus 2023

CINTA PERTAMANYA

CINTA PERTAMANYA

Seperti biasanya, pagi ini Pak Bei melakukan aktivitas rutinnya jalan pagi menyusuri jalanan kampung dan persawahan. Jarak sekitar 3,5 km itu normal diselesaikannya dalam waktu 30 menit. Tapi sering lebih dari itu. Maklum saja, Pak Bei sering nyempatkan berhenti dulu menyapa para petani, lalu ngobrol berbagai hal soal pertanian, mendengarkan keluh-kesah mereka. Petani pun tampak antusias bila diajak ngobrol. Sambil merokok tingwe, mereka bercerita tentang langkanya pupuk subsidi dan mahalnya pupuk non-subsidi, soal berbagai hama tanaman yang datang silih-berganti, harga jual panenan yang kadang sangat rendah tidak masuk akal sementara biaya hidup keluarganya terus merangkak naik tak pernah turun lagi, dan sebagainya. Pak Bei pun ikut ngelinting rokok tingwe dan menikmatinya sebagai tanda ajur-ajer  dan akrab dengan kehidupan petani. 

Sampai di rumah, biasanya Pak Bei langsung buka keran air dan nyirami kembang di halaman. Tapi kali ini tidak, gara-gara ada sepeda motor Kang Narjo yang masih banyak muatan koran itu terparkir tepat di depan tempat keran dan selang air. Orangnya tidak kelihatan. Mungkin sedang ke kamar mandi. Biasa, orang tua memang kadang beser tak tertahankan.

Benar juga. Tak berapa lama Kang Narjo tampak jalan kledang-kledang dari arah kamar mandi.

"Selamat pagi, Pak Bei. Sugeng enjang," sapa Kang Narjo dengan ekspresi wajah lega.

"Sugeng enjang, Kang Narjo. Beser, ya?"

"Iya, Pak Bei. Ngempet dari tadi."

"Mau ngopi dulu?"

"Cocok, Pak Bei."

"Tunggu sebentar, ya. Kubuatkan dulu."

Tak berapa lama, Pak Bei pun keluar dengan dua gelas kopi, siap nani ngobrol sahabatnya. 

"Buat kopi sendiri to, Pak Bei? Kok gak nyuruh putrinya?"

"Anakku sudah kembali ke pondok, Kang?"

"Katanya sudah selesai kuliahnya? Sudah lulus."

"Iya memang, sudah wisuda akhir bulan kemarin. Tapi masih harus menyelesaikan setahun pengabdian di pondok kok, Kang."

"Wah, jadi berapa tahun anak Pak Bei mondok?"

"Total 11 tahun, Kang."

"Waoow...11 tahun?"

"Iya, Kang. Mondok sejak baru lulus SD hingga lulus SMA, 6 tahun. Dilanjut kuliah 4 tahun di Fakultas Ekonomi. Sudah lulus. Dilanjut lagi pengabdian satu tahun sampai Ramadhan tahun depan. Jadi total 11 tahun."

"Luar biasa anak Pak Bei. Santriwati sejati."

"Alhamdulillaah, Kang. Pangestunipun."

"Nanti keluar dari pondok sudah dewasa, ya. Sudah matang."

"Insya Allah, Kang."

"Sebentar lagi Pak Bei mantu lagi ini. Sudah ada calonnya belum?"

"Belum tampak hilalnya kok, Kang."

"Belum punya calon?"

"Belum, Kang."

"Pak Bei, salah satu tanggung jawab seorang bapak pada anak gadisnya itu mencarikan jodoh, suami, pendamping hidupnya."

"Iya tahu, Kang. Tapi biarlah dia nyelesaikan pengabdiannya dulu."

"Tapi jangan-jangan dia sudah punya calon tapi belum dikenalkan Pak Bei?"

"Kayaknya sih belum, Kang. Ketemu laki-laki saja jarang kok, cuma pas liburan."

"Kenapa begitu?"

"Kang, anakku ini mondoknya di Gontor Putri. Khusus pondok putri. Kuliahnya pun di Unida Gontor Putri. Jadi ya cuma ketemu sesama anak putri."

"Ooh iya, ya. Malah aman kok, Pak Bei."

"Iya, Kang. Insya Allah."

"Berarti Pak Bei yang harus mencarikan jodohnya. Harus mulai tebar jaring nih."

"Halaah memangnya mau menjala ikan? Soal jodoh, Gusti Allah pasti sudah mengatur, Kang. Orang tua berdoa saja semoga anaknya mendapatkan jadoh yang terbaik."

"Biasanya lho, Pak Bei, anak gadis itu mengidolakan laki-laki yang seperti bapaknya."

"Gitu to, Kang?"

"Coba saja anak Pak Bei ditanya, laki-laki seperti apa yang diinginkannya. Pasti jawabnya yang seperti ayahnya." 

"Mosok to, Kang?" Pak Bei kaget dengan omongan Kang Narjo. Teringat obrolan keluarga menjelang acara wisuda di Ponorogo tempo hari.

Pagi itu usai sarapan pagi, Bu Bei iseng bertanya pada Zika, anak gadisnya, "Nduk, Kamu ini pengin tipe laki-laki yang bagaimana?"

"Yang seperti ayah, " jawab dengan mantap.

"Walaah, kok seleramu sama dengan Bunda to, Dek?" respon Mas Cahya disambut gelak tawa.

"Ya memang begitu kok, Pak Bei. Konon, cinta pertama anak gadis itu ya ayahnya sendiri," kata Kang Narjo.

"Tapi mana ada yang persis denganku, Kang. Anak laki-lakiku saja beda kok. Dia lebih mirip dengan bundanya."

"Pasti tidak ada yang persis, Pak Bei, tapi setidaknya ada yang mirip-miriplah. Mungkin fisiknya, mungkin gayanya, mungkin tutur bahasanya,  mungkin hobinya, mungkin komunitas dan pergaulannya."

Matahari sudah meninggi. Panas kemarau mulai terasa menyengat. Kang Narjo pun berpamitan untuk neruskan tugasnya mengantar koran. Obrolan dengan loper koran senior itu sering membuat hal Pak Bei gelisah. Sering ada hal baru yang menantang. Kali ini tantangannya beda dan tidak gampang.

#serialpakbei
#wahyudinasution







 





"