Rabu, 18 Desember 2024

TIDAK ADA MAKAN SIANG GRATIS

TIDAK ADA MAKAN SIANG GRATIS

Sebenarnya Pak Bei mau langsung istirahat sesampai di rumah. Sejak bakda ashar mengikuti pembekalan calon pembimbing/karom haji 2025 di KBIHU Arafah Klaten hingga pukul 21.00 kali ini sungguh terasa lelah. 

Bayangan Pak Bei begitu sampai di rumah bisa langsung ngglethak di kasur, tidur nyenyak hingga menjelang shubuh, gagal total. Baru saja memarkir mobil di garasi, dilihatnya ternyata ada Kang Narjo sudah duduk teronggok di kursi teras nDalem Pak Bei.

"Sudah lama, Kang?" tanya Pak Bei setelah menyalami sahabatnya.

"Lumayan, Pak Bei. Ini kopiku tinggal separoh," jawab Kang Narjo sambil nunjuk gelas kopi di depannya.

"Sebentar aku ganti baju dulu ya, Kang."

"Monggo, Pak Bei. Santai saja."

Pak Bei paham, setiap kali Kang Narjo si loper koran senior itu datang, pasti ada tema yang ingin diobrolkan. Maklumlah, sudah hampir setahun ini Pak Bei berhenti berlangganan koran karena merasa mubadzir gak pernah sempat membaca koran. Asupan berita aktual sudah terpenuhi dari media online. Jadi sudah jarang ketemu Kang Narjo, kecuali sahabatnya itu memang sengaja datang malam-malam, kadang sendiri, kadang juga dengan teman-temannya.

"Kok cuma sendiri, Kang? Teman-teman pada ke mana?"

"Iya, Pak Bei. Aku tadi ikut jamaah maghrib dan isya' di Masjid Agung Al Aqsha Klaten, terus mampir ke sini. Ternyata Pak Bei belum pulang."

"Jadi sudah lumayan lama nunggu aku ya, Kang."

"Gak papa, Pak Bei. Mumpung longgar, bisa mampir."

"Ada kabar apa, Kang?

"Penging ngobrol santai saja, kok."

"Ada berita aktual apa yang menarik?"

"Masih seputar program MBG, Pak Bei. Makan Bergizi Gratis, program Pemerintah yang akan dimulai secara resmi awal Januari nanti."

"Apa yang menarik, Kang?"

"Sebenarnya program itu sangat bagus, Pak Bei. Sangat cerdas."

"Sangat cerdas bagaimana maksudmu?"

"Menurutku, itu cara yang sangat cerdas untuk menggerakkan ekonomi rakyat, Pak Bei. Di samping imbasnya akan terjadi perbaikan nutrisi pada anak-anak sekolah, usia-usia pertumbuhan, ekonomi petani sebagai produsen bahan makanan pun pasti akan bergerak. Ribuan tenaga kerja juga akan terserap di dapur-dapur umum."

"Wah hebat juga pembacaanmu, Kang. Cukup jangkep perspektifmu."

"Walah biasa saja, Pak Bei. Namanya loper koran, kan bisa baca berita aktual setiap pagi."

"Kayaknya loper koran yang rajin membaca ya cuma Kang Narjo, lho. Yang lain sekedar kerja ngantar koran ke pelanggan."

"Aku merasa rugi kalau cuma ngantar berita tapi gak sempat membaca dulu, Pak Bei."

"Ya itu bedanya Kang Narjo dengan loper koran yang lain."

"Ah sudahlah, Pak Bei. Kita kembali ke laptop," Kang Narjo mengajak kembali ngobrol soal MBG. "Aku khawatir pelaksanaan MBG nanti tidak seperti yang diharapankan banyak orang. Seperti selama ini sudah sering kita dengar ungkapan 'tidak ada makan siang gratis'," sambungnya.

"Kenapa begitu, Kang?"

"Pemerintah melalui Badan Giizi Nasional (BGN) sudah menetapkan harga MBG RP 10.000/paket, berubah dari wacana sebelumnya Rp 15.000/paket."

"Harga itu konon ditetapkan berdasarkan hasil ujicoba di Sukabumi, Kang. Sudah teruji itu. Sudah masuk harganya."

"Mungkin masuk kalau menunya cuma nasi, sayur, telor atau secuil daging ayam. Tapi kalau harus ada buah dan susu, ya pasti bangkrut para pelaku dapur umum nanti."

"Itu kan kalau perhitunganmu cuma paket kecil, Kang. Cuma puluhan atau seratusan paket. Setiap dapur umum nanti akan melayani 3.000 paket per hari, lho. Artinya, omset setiap dapur umum nanti Rp 30.000.000/hari. Kalau per bulan ada 22 hari sekolah, maka omset per bulan Rp 660.000.000. Masa omset segitu gak bisa untung, Kang?"

"Ada lagi yang cukup mengkhawatirkan, Pak Bei."

"Apa itu?'

"Konon sistem pembayaran dari BGN ke dapur-dapur umum nanti pakai pola rembers per 3 bulan. Mereka mengajukan invoice atau tagihan pembayaran per 3 bulan pelaksanaan."

"Ya wajar to, Kang. Kan gak mungkin juga program ini cuma seperti kita makan di warung, selesai makan langsung bayar, atau seperti di restoran cepat saji, bayar dulu baru makan."

"Itu artinya hanya pemodal besar yang akan sanggup menyelenggarakan dapur umum, Pak Bei. Harus punya dana besar untuk investasi dapur dan peralatannya yang sesuai standar dari BGN. Juga harus punya modal kerja berlipat-lipat agar bisa nalangi operasional paling tidak 3 bulan. Pelaku-pelaku usaha catering pun pasti tidak akan sanggup itu, Pak Bei."

"Kalau pelaku usaha catering mau usahanya besar ya pasti sanggup, Kang. Itu peluang yang luar biasa, lho."

"Ada lagi yang lebih mengerikan, Pak Bei."

"Apa itu?"

"Pola pembayaran rembers per 3 bulan itu nanti akan berimbas pada pembayaran kepada suplayer bahan seperti beras, sayuran, bumbu, lauk-pauk, dan sebagainya. Juga pada upah tenaga kerja."

"Kenapa begitu, Kang?"

"Para pemilik dapur umum nanti akan berdalih masih menunggu pembayaran dari BGN. Jadi, nanti para petani juga yang paling berat. Beras panenan bulan ini baru dibayar 4 bulan lagi, saat musim panen berikutnya tiba. Ngeri, kan?"

"Ya gak begitulah, Kang."

"Kenapa tidak?"

"Yang bisa jadi suplayer ke dapur umum nanti pedagang, Bumdes, atau Koperasi. Dan mereka harus sudah terdaftar di e-katalog. Jadi bukan petani yang memasok langsung ke dapur umum, Kang."

"Menurut Pak Bei, apakah pedagang atau Bumdes dan Koperasi cukup kuat memasok barang dengan pola pembayaran per 3 bulan?"

"Ya kalau mereka punya modal kuat pasti mau, Kang."

"Jadi harus punya modal kuat, ya?"

"Ya iyalah, Kang. Jer basuki mawa bea, begitu kata Simbah."

"Kalau memang begitu, jadi tidak salah dugaanku, bahwa yang akan menikmati program MBG nanti cuma orang-orang bermodal besar. UMKM seperti teman-teman Pak Bei jadi penonton saja, gak usah bermimpi ikut menikmati."

'Mak jleb' rasanya mendengar kata-kata terakhir Kang Narjo. Beberapa bulan terakhir ini Pak Bei sering memotivasi teman-teman pelaku UMKM, petani-peternak, Bumdes, dan Koperasi agar bersiap menyambut program prioritas Pemerintah yang bagus itu. Tapi omongan Kang Narjo sungguh membuat Pak Bei jadi agak pesimis. Rupanya berat juga untuk bisa partisipasi dan mendapatkan profit dari program MBG. Kalau cuma mau gotong-royong dan kerja bakti, rakyat sudah setiap hari melakukannya. Ora gumun, tidak heran.


Klaten, 19 Desember 2025

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jatampusat
#lpumkmpdmklaten



















Rabu, 11 Desember 2024

RESENSI BUKU: HPT JILID 3

Resensi Buku

Oleh: Wahyudi Nasution
Aktivis Muhammadiyah, tinggal di Klaten

HIMPUNAN PUTUSAN TARJIH MUHAMMADIYAH JILID III

Penulis: Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Penerbit: Suara Muhammadiyah
Tahun Terbit: 2018
Jumlah Halaman: 686
Ukuran: 18 x 25 cm

Deskripsi Buku

Himpunan Putusan Tarjih Jilid 3 merupakan kumpulan keputusan resmi Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah yang berfungsi sebagai panduan umat dalam berbagai aspek kehidupan. Buku ini memuat keputusan penting dari empat Musyawarah Nasional Tarjih yang berlangsung antara tahun 2003 hingga 2015. Selain menjawab persoalan ibadah, buku ini juga membahas tema muamalah, tata kelola, etika, serta panduan hidup modern yang sesuai dengan syariat Islam.

Isi Buku

Buku ini mengompilasi hasil empat Musyawarah Nasional Tarjih:

1. Munas Tarjih ke-26 di Padang (1424/2003)
Membahas:

Etika politik dan bisnis dalam kehidupan modern.

Pengembangan putusan tarjih agar tetap relevan.

Isu pornografi dan pornoaksi sebagai tantangan moral.

Masalah hisab-rukyat dalam penentuan waktu ibadah.

2. Munas Tarjih ke-27 di Malang (1431/2010)
Membahas:

Fikih tata kelola organisasi berbasis nilai Islam.

Seni dan budaya dalam perspektif Muhammadiyah.

Masalah ibadah dan muamalah kontekstual.

Pedoman hisab Muhammadiyah untuk penentuan waktu ibadah.

3. Munas Tarjih ke-28 di Palembang (1435/2014)
Membahas:

Fikih Air, yang tidak hanya terkait dengan penggunaannya dalam ibadah (thaharah), tetapi juga pengelolaan sumber daya air sebagai anugerah Allah SWT bagi kelangsungan kehidupan. Muhammadiyah menekankan pentingnya pelestarian dan distribusi air secara adil, terutama di tengah krisis lingkungan.

Tuntunan menuju keluarga sakinah, panduan membangun rumah tangga Islami.

Tuntunan manasik haji yang praktis dan sesuai syariat.

4. Munas Tarjih ke-29 di Yogyakarta (1436/2015)
Membahas:

Tuntunan shalat lima waktu secara mendalam.

Fikih kebencanaan, panduan syar’i dalam menghadapi bencana.

Keunggulan Buku:

1. Pendekatan Komprehensif
Buku ini tidak hanya membahas persoalan ibadah, tetapi juga mengangkat isu-isu sosial, lingkungan, dan etika kehidupan modern, menjadikannya panduan holistik untuk umat.

2. Fikih Air yang Visioner
Salah satu poin penting adalah pembahasan tentang pengelolaan air. Muhammadiyah menegaskan bahwa air adalah rahmat Allah yang harus dijaga dan dikelola dengan baik untuk kepentingan umat manusia, mencakup aspek lingkungan, sosial, dan keadilan distribusi.

3. Kaya Referensi Dalil
Setiap keputusan disertai dalil Al-Qur'an dan Hadis, serta analisis mendalam dari para ulama Muhammadiyah.

4. Panduan untuk Semua Kalangan
Buku ini relevan bagi warga Muhammadiyah, pengelola Amal Usaha Muhammadiyah/Aisyiyah, dan umat Islam secara umum yang ingin memahami pandangan Muhammadiyah.

Kritik dan Saran

Meskipun sudah sangat komprehensif, pembahasan isu teknologi dalam ibadah atau penerapan fikih lingkungan secara lebih praktis dapat menjadi pengembangan di masa depan.

Kesimpulan

Himpunan Putusan Tarjih Jilid 3 adalah buku yang sangat berharga bagi umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah. Buku ini memberikan panduan yang relevan dan syar’i dalam menghadapi persoalan kehidupan modern, mulai dari ibadah, tata kelola, hingga pelestarian lingkungan. Dengan cakupan bahasan yang luas dan dalil yang kuat, buku ini layak menjadi pegangan utama untuk mendukung dakwah dan amal usaha Islami.

Klaten, 12 Desember 2024

Jumat, 22 November 2024

GENOSIDA UMKM

Genosida UMKM: Tantangan Eksistensi Pelaku Usaha Kecil di Tengah Gempuran Ekonomi

Oleh: Wahyudi Nasution
Pemerhati Sosial-Ekonomi-Budaya, tinggal di Klaten

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) telah lama menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Dengan kontribusi lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja, UMKM adalah fondasi yang menggerakkan roda ekonomi bangsa. Namun, realitas saat ini menggambarkan sebuah ancaman serius bagi kelangsungan hidup UMKM, yang secara figuratif dapat disebut sebagai "genosida UMKM."

Apa yang Dimaksud dengan Genosida UMKM?

Istilah "genosida UMKM" merujuk pada penghancuran perlahan tapi pasti terhadap UMKM akibat berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Meski bersifat metaforis, dampak yang dialami para pelaku UMKM sangat nyata: kesulitan bertahan, kehilangan pasar, hingga bangkrut.

Faktor-faktor utama yang berkontribusi terhadap kondisi ini meliputi:

1. Persaingan Tak Seimbang dengan Raksasa Korporasi
Dalam banyak kasus, UMKM sulit bersaing dengan perusahaan besar, baik lokal maupun multinasional. Keunggulan modal, teknologi, dan jaringan distribusi membuat korporasi besar mendominasi pasar.

2. Digitalisasi yang Tak Merata
Percepatan transformasi digital membawa peluang besar, tetapi juga menciptakan kesenjangan bagi UMKM yang belum siap, baik karena keterbatasan dana, pengetahuan, maupun akses internet.

3. Regulasi yang Tidak Pro-Rakyat
Kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada ekonomi rakyat menjadi salah satu penyebab utama. Misalnya, aturan perpajakan yang memberatkan, birokrasi yang berbelit untuk perizinan, atau minimnya perlindungan terhadap produk lokal. Sebagai contoh, kebijakan impor produk murah yang masif mengancam keberlangsungan produk UMKM.

4. Serbuan Produk Impor Murah
Produk impor, terutama dari negara-negara dengan biaya produksi rendah, semakin membanjiri pasar domestik. Hal ini mempersulit UMKM untuk bersaing dari segi harga maupun kualitas.

5. Krisis Ekonomi Pascapandemi
Pandemi COVID-19 memberikan pukulan telak bagi UMKM. Banyak yang gulung tikar karena kehilangan pelanggan, terganggu rantai pasokan, dan tidak mampu bertahan dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil.


Tanggung Jawab Negara Melindungi UMKM

Konstitusi Indonesia, khususnya Pasal 33 UUD 1945, menyatakan bahwa perekonomian harus disusun berdasarkan asas kekeluargaan untuk kesejahteraan seluruh rakyat. Artinya, pemerintah memiliki kewajiban konstitusional untuk melindungi pelaku usaha kecil sebagai bagian dari ekonomi rakyat.

Beberapa langkah yang perlu dilakukan pemerintah untuk melindungi UMKM antara lain:

1. Revisi Kebijakan yang Tidak Pro-Rakyat
Pemerintah perlu mengevaluasi dan merevisi regulasi yang merugikan UMKM. Aturan yang memungkinkan impor produk murah secara masif, misalnya, harus dibatasi untuk memberikan ruang bagi produk lokal.

2. Peningkatan Insentif bagi UMKM
Pemerintah wajib memberikan dukungan nyata berupa insentif pajak, subsidi modal, dan pembiayaan berbunga rendah khusus bagi pelaku UMKM.

3. Perlindungan Pasar Domestik
Regulasi harus dirancang untuk memastikan produk UMKM memiliki tempat di pasar lokal. Misalnya, melalui kewajiban bagi instansi pemerintah dan korporasi untuk mengutamakan produk lokal dalam pengadaan barang dan jasa.

4. Pendampingan dan Pelatihan Teknis
Pemerintah harus menyediakan program pelatihan dan pendampingan berkelanjutan bagi UMKM untuk meningkatkan daya saing, terutama dalam era digitalisasi.


Dampak Jika UMKM Tidak Dilindungi

Kegagalan melindungi UMKM dapat membawa dampak luas terhadap ekonomi dan sosial bangsa, antara lain:

Meningkatnya Pengangguran
Dengan banyaknya UMKM yang tutup, lapangan pekerjaan akan hilang, sehingga memperburuk tingkat pengangguran nasional.

Hilangnya Identitas Lokal
UMKM adalah representasi budaya dan kearifan lokal. Jika UMKM musnah, identitas lokal pun akan tergerus.

Ketergantungan pada Produk Impor
Tanpa UMKM yang kuat, pasar domestik akan semakin bergantung pada produk impor, melemahkan kemandirian ekonomi bangsa.


Langkah Penyelamatan UMKM

Menghindari "genosida UMKM" memerlukan kolaborasi dari semua pihak. Berikut beberapa solusi konkret:

1. Regulasi Pro-UMKM
Pemerintah harus menetapkan kebijakan yang melindungi ekonomi rakyat, seperti pembatasan impor, insentif pajak, dan kemudahan akses permodalan.

2. Akselerasi Digitalisasi
Pelaku UMKM perlu didorong untuk memasuki pasar digital melalui pelatihan, bantuan infrastruktur, dan pendampingan teknis.

3. Kampanye Belanja Produk Lokal
Pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama mendukung gerakan cinta produk lokal untuk membantu UMKM bertahan.

4. Kemitraan dengan Korporasi
Korporasi besar dapat berperan dalam program kemitraan yang melibatkan UMKM, seperti pembinaan, transfer teknologi, hingga pemberian akses pasar.


Kesimpulan

Pemerintah memiliki tanggung jawab besar dalam melindungi UMKM sebagai fondasi ekonomi rakyat. Regulasi yang tidak berpihak pada pelaku usaha kecil harus segera direvisi untuk memastikan keberlangsungan ekonomi yang berkeadilan. Dengan langkah nyata dari semua pihak, UMKM dapat kembali menjadi pilar utama dalam membangun kemandirian ekonomi bangsa.

Klaten, 22 November 2024

Rabu, 13 November 2024

HARGA IKAN ARWANA

HARGA IKAN ARWANA

Sebenarnya Pak Bei sudah berencana mau keluar sepulang dari sholat isya' di mesjid. Sambil jalan kaki, Pak Bei sudah membayangkan betapa nyamleng minum teh jahe di angkringan Wahyono langganannya. Lalu, nanti sekitar jam 20.00, ikut berebut nasi kucing, nasi bungkus porsi kecil-kecil lauk sambel teri atau bandeng secuwil, yang baru disetor bapaknya Wahyono. Aahh, pasti nikmat sekali.

Tapi rencana Pak Bei gagal total. Lagi-lagi gara-gara Kang Narjo, sahabatnya yang loper koran senior itu, ternyata sudah duduk thenguk-thenguk di kursi tamu Ndalem Pak Bei. Tidak sendirian, tapi dengan Mursyid anak bungsunya.

"Mohon maaf tidak ngabari dulu," kata Kang Narjo setelah bersalaman dan Pak Bei pun ikut duduk.

"Ya gak papa, Kang," jawab Pak Bei. "Sebentar ya, biar dibuatkan kopi dulu," sambung Pak Bei sambil beranjak masuk rumah.

"Piye, Le, kabarmu? Kerja di mana sekarang?," tanya Pak Bei pada Mursyid.

"Sudah dua bulan ini saya nganggur, Pak Bei. Pabrik mengurangi banyak tenaga kerja, termasuk saya yang dirumahkan," jawab Mursyid.

"Ya itulah, Pak Bei. Makanya ragilku ini kuajak kemari, biar ikut ngobrol dengan Pak Bei,  biar tambah wawasan," sahut Kang Narjo.

"Lha memangnya ada apa? Sudah dua-tiga tahun terakhir ini kan memang banyak perusahaan mem-PHK karyawannya. Banyak pabrik yang terpaksa menutup usaha karena tidak mampu bertahan menghadapi serbuan barang-barang impor yang sangat murah harganya. Apalagi usaha-usaha kecil, UMKM, sudah banyak yang kolap tidak mampu bertahan."

"Ya memang. Setiap hari juga kubaca berita soal itu."

"Sabar dulu ya, Le. Semoga keadaan ekonomi negara kita segera membaik," kata Pak Bei pada Mursyid.

"Ini yang jadi masalah bagi saya, Pak Bei."

"Masalahnya apa, Kang?"

"Mursyid ini pengin merantau cari kerja di Jakarta. Saya dan ibunya gak mengijinkan."

"Looh...iya to, Le?"

"Injih, Pak Bei," jawab Mursyid.

"Kakak-kakaknya sudah berumah tangga di Boyolali dan Sukoharjo. Pengin kami, Mursyid ini biar di rumah saja nemani kami yang sudah mulai menua. Lha kok malah mau pergi. Yang ngajar ngaji anak-anak di mesjid nanti siapa? Yang akan jadi imam dan khotib sholat Jumat nanti siapa kalau pas aku ini lagi kurang enak badan atau bahkan sudah tidak kuat naik mimbar dan jadi imam sholat?"

"Ooh itu to masalahnya, Kang?"

"Iya, Pak Bei. Tolong anak saya ini diparingi wawasan."

"Aku jadi teringat satu cerita, Kang. Mungkin Kang Narjo dan Mursyid juga belum pernah dengar cerita ini."

"Tentang apa, Pak Bei?" tanya Kang Narjo.

"Diminum dulu kopinya, Kang. Ayo diminum dulu, Le," Pak Bei memperilahkan Kang Narjo dan anaknya menikmati kopi yang barusan disuguhkan Cahya. "Ini cerita tentang seekor ikan arwana."

"Bagaimana ceritanya, Pak Bei?" Mursyid tampak penasaran.

"Alkisah, di sebuah desa ada seorang saudagar yang cukup kaya, Pak Hasan namanya. Rumahnya besar dan bagus, meubelernya mewah, mobilnya juga banyak dan bagus-bagus. Di rumah Pak Hasan ada satu aquarium cukup besar yang isinya seekor ikan arwana. Narto, sopir pribadi Pak Hasan, yang ditugasi merawat aquarium itu bila sedang tidak ada tugas keluar."

"Terus, Pak Bei...," Mursyid tampak antusias mendengarkan.

"Pagi itu Pak Hasan memanggil Narto yang sedang mengelap mobil. "Tolong Mas Narto kuras aquarium. Terus, arwana itu bawalah ke Pasar Lagi."

"Buat apa, Pak Hasan?" tanya Narto.

"Aku pengin jual arwanaku. Coba kamu tawarkan ke pedagang ikan hias di Pasar Legi. Dia berani nawar harga berapa?"

"Lha Pak Hasan mintanya berapa?"

"Aku pengin tahu dulu dia berani nawar berapa."

Narto yang sudah ikut Pak Hasan puluhan tahun itu pun dengan sigap melaksanakan perintah juragan. Dibawanya ikan arwana klangenan Pak Hasan ke Pasar Legi dan ditawarkan ke seorang pedagang ikan hias. Betapa kagetnya si Narto, si pedagang menawar arwana itu di harga 1 juta rupiah. "Waow mahal sekali. Bisa buat beli ikan lele 50 kg dan dibikin lauk untuk berhari-hari," kata Narto dalam hati. Cepat-cepat Narto pulang membawa kabar baik itu untuk bosnya.

"Ternyata bosnya tidak tertarik dengan tawaran pedagang pasar. Disuruhnya Narto tawarkan lagi ke toko aquarium dan ikan hias di kota.
Narto pun segera putar mobil dan meluncur ke kota. Kira-kira setengah jam kemudian, Narto sudah kembali pulang menghadap Pak Hasan, menyampaikan tawaran dari pemilik toko aquarium. "Ditawar 5 juta, Pak Hasan. Masya Allah...," Hasan tidak habis pikir.

Pak Bei nyeruput kopinya, lalu menyulut sebatang kretek di pipanya. Bulll.... gumpalan asap putih tampak berhamburan dari mulut Pak Bei dan terbang bersama angin malam.

"Terus bagaimana kelanjutannya, Pak Bei,?" Mursyid tampak tidak sabar menunggu Pak Bei melanjutkan ceritanya.

"Ternyata Pak Hasan tidak keget dengan tawaran yang kedua itu. Lalu disuruhnya Narto kembali ke kota, menawarkan ikan itu ke pemilik Toko Emas yang konon seorang kolektor ikan arwana. Coba kamu tawarkan ke Koh Candra dan tunjukkan surat ini," pesan Pak Hasan sambil menyerahkan amplop coklat. 

"Sopir yang setia itu pun langsung meluncur ke kota. Setengah jam kemudian, Narto sudah kembali menghadap juragannya dan melaporkan tawaran dari Koh Chandra. "Ditawar 400 juta, Pak Hasan. Ya Allah...hanya seekor ikan saja ditawar seharga mobil Innova Reborn. Dilepas saja, Pak Hasan," Narto berharap juragannya senang dan mau melepas arwananya ke penawar ketiga.

"Dari cerita itu, apa hikmah yang kamu dapatkan, Le?," tanya Pak Bei pada Mursyid.

"Saya ikut penasaran saja, Pak Bei, kok ada ya seekor ikan dihargai semahal itu. Kalau burung seperti perkutut atau murai batu, misalnya, saya pernah dengar ada yang harganya sampai milyaran. Tapi kan jelas ada suara manggungnya yang 'koong' atau kicaunya sangat merdu dan banyak variasi. Lha kalau ikan, apanya yang bikin mahal?" Mursyid juga tidak habis pikir.

"Keindahan itu memang sifatnya subjektif,Le. Tapi, ada semacam kesepakatan umum tentang keindahan, tentang kesempurnaan. Sesuatu dianggap indah, lebih indah, atau paling indah, itu sudah ada semacam konsensus, ada ciri-ciri dan syarat yang sudah menjadi kesepakatan bersama namun tidak tertulis."

"Lha terus apa hikmah dari cerita tadi, Pak Bei?" Mursyid semakin penasaran.

"Begini, Le. Ikan arwana yang sama ditawarkan ke tiga orang berbeda, ternyata tadi hasilnya jauh berbeda. Iya, kan?"

"Iya, Pak Bei. Pedagang pasar menawar 1 juta, toko aquarium menawar 5 juta, kolektor menawar 400 juta."

"Kenapa bisa begitu?"

"Gak tahu, Pak Bei."

"Karena pengetahuan mereka tentang keindahan ikan arwana juga berbeda-beda. Pedagang pasar berani nawar 1 juta itu sudah hebat, karena dia biasa menjual ikan hias harganya cuma 5 ribu atau 10 ribu. Pemilik toko aquarium berani menawar 5 juta itu sudah berani sekali, karena dia biasa jual ikan hias paling mahal 1 juta. Sedangkan Koh Chandra, rupanya dia paham betul bahwa ikan arwana Pak Hasan itu jenis yang langka, arwana platinum, dan sangat mahal harganya. Di dalam amplop coklat tadi ada serifikat genetiknya sehingga arwana Pak Hasan itu jelas nasabnya. Dan, Koh Chandra paham soal itu. Makanya dia berani menawar di harga 400 juta, karena dia tahu betul harganya bisa sampai 2 milyar di tingkat kolektor."

"Masya Allah...harga 2 milyar?" Kang Narjo yang dari tadi cuma senyum-senyum melihat anaknya tampak enjoy ngobrol dengan Pak Bei, ternyata diam-diam juga kaget mendengar harga ikan arwana.

"Kang, Mursyid anakmu ini akan dihargai tinggi oleh orang yang paham kualitasnya. Mursyid akan dihormati bila dia berada dilingkungan yang kodusif dan  paham kualitas Mursyid. Dulu, Kanjeng Nabi Muhammad SAW dimusuhi, disinisi, dicaci-maki, diperangi, bahkan mau dibunuh oleh kerabatnya sendiri kaum kafir Quraisy di Mekah. Ketika mencoba hijrah ke Thaif, ternyata masyarakat Thaif yang masih kafir juga menolaknya. Beliau diusir dan dilempari batu. Ingat cerita itu to, Kang?" tanya Pak Bei pada sahabatnya.

"Ingat, Pak Bei. Gigi Kanjeng Nabi ada yang patah kena lemparan batu itu. Gusinya berdarah. Di Mekah juga diboikot, diembargo ekonominya hampir 3 tahun. Harta beliau dan Ibu Khadijah sampai habis untuk menghidupi keluarga sahabat-sahabat yang mayoritas kaum miskin."

"Betul itu, Kang. Lalu beliau hijrah ke Madinah, atas permintaan para pedagang Madinah yang sudah beriman. Orang-orang Madinah yakin betul bahwa beliau memang Nabi dan Rasul terakhir yang sudah tertulias pada kitab-kitab terdahulu yang sering dibacakan oleh para Ahlul-Kitab."

"Iya, Pak Bei. Orang Madinah menyambut kedatangan Kanjeng Nabi dengan suka-cita. Itu karena mereka sudah tahu dan yakin dengan kualitas Muhammad, Nabi dan Rasul terakhir yang ditunggu-tunggu umat."

"Tepat sekali. Demikian juga kita ini, Kang."

"Maksud, Pak Bei?," tanya Mursyid penasaran.

"Tidak semua orang paham harga kita, Le. Itu sangat tergantung seberapa pemahaman mereka terhadap kita. Jadi, kita gak usah berkecil hati kalau ada orang tidak suka atau bahkan memusuhi. Juga tidak perlu sombong dan besar kepala bila ada orang memuji dan menyanjung kita. Biasa-biasa saja. Orang menilai kita bisa berbeda-beda, sesuai pemahaman mereka pada kualitas kita."

"Tapi, Pak Bei, orang-orang jaman pada berebut untuk menjadi orang terhormat, lho. Aneh, kan? Bahkan, banyak juga yang minta  menikmati dipanggil dengan sebutan "Yang Mulia". Kalau tidak, mereka bisa marah. Kehormatan dan kemuliaan jaman sekarang ternyata bisa dibeli dengan uang."

"Ya biar saja orang melakukan itu, Kang. Orang yang masih waras pasti tidak akan mau seperti itu. Malu dengan Tuhan."

Saking asyiknya ngobrol, tahu-tahu angin malam yang berhembus sudah terasa anyep, dingin membelai kulit. Itu tandanya malam sudah cukup larut, sudah mendekati pergantian tanggal. Kang Narjo pun mengajak anaknya pulang.
Mereka bersalaman dengan Pak Bei, lalu pulang membawa kesannya masing-masing dari omon-omon malam ini.

Klaten, 13 November 2024

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jatampusat
#lpumkmpdmklaten


















Selasa, 12 November 2024

Deep Learning

"Mindful, Meaningful, Joyful: Tiga Pilar Deep Learning untuk Masa Depan Pendidikan Indonesia"

Dalam kabinet Presiden Prabowo Subianto, Prof. Dr. Abdul Mukti sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI memperkenalkan arah baru pendidikan yang berfokus pada konsep deep learning. Berbeda dari pendekatan konvensional yang sering mengedepankan hafalan, visi Prof. Mukti ini menitikberatkan pada pembelajaran mendalam yang mengasah keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan pemahaman bermakna dalam diri siswa.

Visi ini diwujudkan melalui tiga pilar utama yang dikenal sebagai mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning. Tiga pilar ini diharapkan dapat menghasilkan generasi pembelajar sejati yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berkarakter kuat dan siap menghadapi tantangan dunia nyata. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing pilar dan dampaknya dalam dunia pendidikan.

1. Mindful Learning: Pembelajaran dengan Kesadaran Penuh

Pembelajaran dengan kesadaran penuh atau mindful learning adalah dasar dari konsep deep learning. Dalam pendekatan ini, siswa didorong untuk benar-benar hadir secara mental dan emosional selama proses belajar, fokus pada apa yang mereka pelajari, dan tidak terburu-buru dalam menyerap informasi.

Mengapa Mindful Learning Penting? 
Mindful learning membantu siswa memusatkan perhatian secara lebih efektif, mengelola stres, dan menghadapi tantangan dengan tenang. Dengan fokus penuh, siswa lebih siap memahami pelajaran secara mendalam, mengasah kemampuan konsentrasi, dan menumbuhkan kebiasaan belajar yang sehat.


2. Meaningful Learning: Pembelajaran yang Bermakna

Pilar kedua, meaningful learning, berfokus pada pemahaman yang mendalam dan aplikatif, sehingga ilmu yang diperoleh siswa bisa dihubungkan langsung dengan kehidupan nyata. Pembelajaran yang bermakna ini memungkinkan siswa untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengerti kegunaan dan relevansi materi tersebut.

Mengapa Meaningful Learning Penting? 
Melalui pembelajaran yang bermakna, siswa lebih mampu mengingat dan memproses informasi dalam jangka panjang karena mereka memahami bagaimana konsep yang dipelajari dapat diterapkan di dunia nyata. Ini juga membangun keterampilan berpikir kritis karena siswa dilatih untuk mengaitkan ilmu dengan permasalahan yang ada di lingkungan mereka.


3. Joyful Learning: Pembelajaran yang Menyenangkan

Pilar ketiga adalah joyful learning, di mana siswa diajak untuk belajar dalam suasana yang menyenangkan. Prof. Mukti menekankan bahwa suasana positif dalam proses belajar akan membuat siswa lebih antusias dan terbuka terhadap ilmu pengetahuan.

Mengapa Joyful Learning Penting? 
Dengan suasana belajar yang menyenangkan, siswa akan lebih mudah terlibat dan termotivasi. Ini akan menumbuhkan rasa ingin tahu yang tinggi serta kemampuan untuk berpikir kreatif. Ketika siswa menikmati proses belajar, mereka akan lebih terbuka terhadap pengetahuan baru dan mengembangkan kreativitas serta inovasi.


Membangun Masa Depan Pendidikan Melalui Deep Learning

Ketiga pilar ini—mindful, meaningful, dan joyful learning—adalah landasan kuat dari visi Prof. Dr. Abdul Mukti untuk mengarahkan pendidikan Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi. Dengan menempatkan fokus pada pemahaman mendalam, relevansi nyata, dan kebahagiaan dalam belajar, konsep deep learning ini diharapkan bisa membentuk generasi yang tangguh, inovatif, dan siap menghadapi tantangan global.

Dengan pendekatan deep learning yang berbasis pada tiga pilar ini, Indonesia memiliki peluang besar untuk mencetak generasi pembelajar sejati yang akan memimpin kemajuan di berbagai bidang dan membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih cerah.

Klaten, 12 November 2024

Pak Bei

Minggu, 03 November 2024

BUKAN OTHAK-ATHIK GATHUK

BUKAN 'OTHAK-ATHIK-GATHUK'

Orang yang tidak mengenal bahasa dan budaya Jawa, tentu tidak paham istilah 'othak-athik-gathuk'. Bahkan, anak-anak Jawa Millenial dan Generasi-Z pun tidak memahaminya karena istilah itu sudah jarang terdengar. Pemahaman sederhananya, 'othak-athik' itu mencari-cari hubungan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya sehingga terjadi hubungan yang seolah logis antara keduanya, dan 'gathuk' alias klop. Kadang, 'othak-athik gathuk' juga dipakai untuk 'sonji', menebak angka lotre dalam perjudian. Begitulah, orang Jawa memang terkenal kreatif menjalani hidup dan menghibur diri. Kepala kejedhuk tembok sampai benjut dan kesakitan pun dia bilang, "Aduh uenake, Rek." 

Siang ini tetiba Pak Bei kedatangan tamu, teman kost dan sahabat waktu kuliah di Jogja, Purnomo namanya. Sudah lama keduanya tidak ketemu. Kabarnya Purnomo kerja di Madiun dan beranak-pinak di sana, sedangkan Pak Bei pulang ke kampung halaman di Jatinom, Klaten, hidup rukun bersama istri dan tiga anaknya. Hanya sesekali dua bersahabat itu saling berkabar lewat pesan WA. 

Entah angin apa yang menggiringnya, tetiba Purnomo kirim pesan WA minta sharelok.  Mau mampir, katanya. Tak berapa lama, sebuah mobil sedan warna hitam plat AE pun masuk ke halaman nDalem Pak Bei. 

Purnomo masih tampak gagah dan sehat, sama seperti Pak Bei. Keduanya salaman lalu duduk di teras. Setelah berbasa-basi dan berkabar-kabari sejenak, Pak Bei pun ke dalam memesan 2 gelas kopi pada anak gadisnya, Zika.

"Tadi di tol menjelang pintu keluar Klaten, tiba-tiba aku terpikir kontak Sampeyan. Pengin mampir. Sudah lama kita tidak ketemu," kata Purnomo. 

"Iya, Mas Pur. Sudah lama sekali. Mari diminum dulu kopinya," Pak Bei mempersilakan sahabatnya.

Purnomo pun nyeruput kopinya lalu bercerita dia mau ke Prambanan menengok anak bungsunya yang mondok di MBS. Anaknya santri kelas 6, jadi sudah jarang ditengok. Itu sama dengan anak bungsu Pak Bei, Alya, juga klas 6 di Pondok Gontor Putri 1 Mantingan. Sudah jarang ditengok juga.

"Pak Bei mengikuti berita seputar program Makan Bergizi Gratis, gak?," tanya Purnomo setelah nyeruput kopinya lagi.

"Ya lumayan, Mas. Ramai juga ya rupanya."

"Jelas ramai. Banyak orang berkepentingan, kok. Tampak orang-orang secara atraktif menyodorkan gagasan kelompoknya untuk bisa terlibat di pelaksanaan program itu."

"Begitu ya, Mas?"

"Ini proyek besar sekali, Pak Bei. Program prioritas yang didanai bukan hanya 71 triliun dari APBN, tapi juga dana CSR semua BUMN dikerahkan untuk ikut mensukseskan. Makanya, semua Parpol Koalisi, Pengusaha, dan berbagai kelompok di Jakarta tampak saling bermanufer agar kebagian menggarap proyek itu."

"Wah aku malah belum terpikir sampai ke sana, Mas. Aku hanya terpikir program ini kok kesannya mengada-ada, ya. Di saat ekonomi sedang sulit seperti ini, kok malah bikin program nganeh-anehi. Seolah-olah pro ekonomi rakyat, mengatasi kemiskinan dan pemenuhan asupan gizi anak-anak, padahal ujungnya nanti hanya untuk memakmurkan kelompoknya. Seperti BLT dan Bansos selama ini, ternyata rakyat justru dibuat semakin tergantung dan tetap miskin. Dampaknya, rakyat hanya nurut saja kemauan Pemerintah, tidak berani protes."

"Sori, aku punya pandangan agak berbeda dengan Pak Bei. Dan ini bukan othak-athik-gathuk, lho. Pertama, boleh saja kita tidak suka pada Pemerintah yang belum lama ini dilantik. Boleh-boleh saja kita tidak setuju dengan program-programnya, termasuk program Makan Bergizi Gratis."

"Terus...."

"Bagaimanapun juga, program itu sudah ditetapkan sebagai program prioritas Pemerintah yang harus dilaksanakan mulai Januari 2025. Maka, pasti program itu akan dijalankan dan dibiayai besar-besar dengan APBN.

"Terus, Mas."

"Yang kedua, mari coba kita melihatnya dari perspektif lain yang lebih positif. Program prioritas itu menurutku sangat cerdas dan logis sebagai cara Pemerintah menggerakkan ekonomi rakyat."

"Kok bisa?"

"Pak Bei, sebagai sesama aktivis Muhammadiyah, mari coba kita buat simulasi. Misalnya di PDM Klaten tempat Pak Bei ini. Saya tahu ini PDM terbesar di Jawa Tengah"

"Ya, Mas. Terus gimana?"

"Misalnya Amal Usaha Pendidikan di Klaten ini dari PAUD hingga SMA ada 40.000 murid, ditambah 5.000 guru dan karyawan. Jadi akan ada 45.000 paket makan bergizi gratis yang harus disiapkan setiap hari. Bila harga per paket RP 15.000, misalnya, berarti ada perputaran uang Rp 675.000.000/hari. Bila per bulan ada 25 hari sekolah, maka perputarannya Rp 1.625.000.000/bulan."

"Wah ternyata besar sekali ya, Mas."

"Bila beras per-kg untuk 10 porsi, maka kebutuhan berasnya 4,5 ton/hari, sama dengan 112,5 ton/bulan. Bayangkan betapa besar dampaknya bagi petani. Dapur Umum bisa melakukann contrack farming dengan para petani, dengan kepastian harga dan pola pembayaran yang adil. Belum lagi kebutuhan sayur-mayur, telor, daging ayam, ikan, bumbu. Para peternak ayam pedaging, ayam petelor, dan ikan tentu akan gembira-ria."

"Tapi bisa juga petani kecelik lagi lho, Mas."

"Kecelik bagaimana?"

"Ah Mas Pur ini kayak gak tahu saja. Melihat cuan yang sangat besar itu, para politisi akan cepat-cepat menggandeng para importir beras, telor, daging, minyak, bumbu dan sebagainya, demi mendapatkan persenan buat menutup biaya politiknya. Mereka yang memasok bahan makanan untuk program itu."

"Justru itulah Pak Bei."

"Bagaimana, Mas Pur?"

"Muhammadiyah yang jelas punya sumberdaya lengkap, harus bisa mengelola program Makan Bergizi Gratis sendiri. Jangan sampai murid-murid sekolah Muhammadiyah dan Aisyiyah yang sangat banyak jumlahnya justru digarap dan diperebutkan orang lain."

"Saya setuju itu, Mas Pur. Tapi masalahnya bola ada di tangan Badan Gizi Nasional sebagai penanggungjawab program. Tentu banyak kepentingan yang bermain, kan?"

"Ya memang BGN penanggungjawab pelaksanaannya. Tapi Muhammadiyah yang sudah berdarah-darah membangun dan mengelola ribuan sekolah secara swadaya, harusnya bisa bergaining possition dengan Pemerintah. Untuk anak-anak Muhammadiyah, serahkan pada Muhammdiyah sendiri. Begitu. Untuk anak-anak kita ya harus kita sendiri yang menyediakan makan."

Obrolan dua bersahabat itu cukup seru, tapi harus terhenti karena terdengar azan ashar bersahutan dari masjid-masjid sekitar. Keduanya pun bergegas ke masjid untuk shalat berjamaah. 

Seusai shalat, Purnomo pamit mau meneruskan perjalanan ke Pondok MBS di Prambanan Sleman, sekitar 25 km dari nDalem Pak Bei. Mereka pun berpisah. Purnomo meninggalkan masalah di kepala Pak Bei, masalah baru yang sangat menantang, namun tidak gampang mewujudkannya.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jatampusat
#lpumkmpdmklaten

"













Sabtu, 02 November 2024

Program MBG dan Relevansinya dengan Muhammadiyah

Program Makan Bergizi Gratis dan Relevansinya Dengan Gerakan Muhammadiyah

Oleh: Wahyudi Nasution
Pemerhati dan Pegiat Sosial-Budaya


Program makan bergizi gratis merupakan inisiatif pemerintah untuk menyediakan akses makanan sehat bagi masyarakat, terutama kalangan anak-anak dan ibu hamil. Program ini menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo yang akan dimulai pada Januari 2025 dengan sasaran utama anak-anak sekolah dari jenjang PAUD hingga SMA, serta balita dan ibu hamil. Tujuan utamanya adalah mengatasi masalah gizi dan kesehatan pada kelompok rentan, mengurangi kesenjangan sosial, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui asupan nutrisi yang memadai.

Bagi Muhammadiyah, program ini sejalan dengan visi dan misinya dalam meningkatkan kesejahteraan umat melalui pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 1912, Muhammadiyah berkomitmen dalam kegiatan-kegiatan amal yang memperjuangkan kesejahteraan sosial dan pendidikan yang merata. Oleh karena itu, Muhammadiyah berkepentingan agar amal usaha pendidikan dan sosialnya dapat terlibat aktif dalam program ini untuk mendukung tujuan yang lebih luas, yaitu menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.

Muhammadiyah dan Program Prioritas Pemerintah

Program makan bergizi gratis yang menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo juga sangat relevan bagi Muhammadiyah yang memiliki ribuan lembaga pendidikan dari tingkat PAUD/TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, hingga Pondok Pesantren dan Panti Asuhan. Dengan jangkauan amal usaha pendidikan yang begitu luas, Muhammadiyah berkepentingan agar seluruh lembaga pendidikannya dapat terlibat dalam program ini, serta memastikan agar tidak ada anak didik di sekolah-sekolah Muhammadiyah yang luput dari akses makanan bergizi.

Kolaborasi ini dapat membawa dampak positif terutama dalam meningkatkan kualitas belajar anak-anak dari kalangan dhuafa yang seringkali menghadapi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan gizi harian. Dengan dukungan pemerintah, Muhammadiyah dapat memainkan peran aktif dalam membantu anak-anak menerima makanan sehat secara rutin sehingga mampu mendukung perkembangan fisik dan kognitif mereka.

Menyelaraskan Nilai-Nilai Gerakan Muhammadiyah Dengan Program Peningkatan Gizi

Gerakan sosial-keagamaan Muhammadiyah berpegang pada prinsip utama dalam meningkatkan kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menekankan pentingnya kepedulian terhadap sesama, keadilan, dan kesejahteraan umat. Program makan bergizi gratis ini relevan dengan prinsip-prinsip tersebut, karena menjadi wujud nyata dari "amal usaha" Muhammadiyah yang memprioritaskan tolong-menolong, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat kurang mampu.

Dengan berpartisipasi dalam program ini, Muhammadiyah tidak hanya membantu dalam aspek kesehatan, tetapi juga mendukung pembangunan manusia secara menyeluruh. Pemberian makanan bergizi dapat membantu anak-anak menjadi lebih fokus dalam belajar, lebih sehat, dan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk berkembang menjadi generasi yang berkualitas.

Peran Muhammadiyah dalam Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Selain bidang pendidikan, Muhammadiyah memiliki jaringan Rumah Sakit PKU dan Klinik Kesehatan yang tersebar di seluruh Indonesia dan telah berkontribusi besar dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Program makan bergizi gratis ini dapat memperkuat upaya Muhammadiyah dalam sektor kesehatan dengan menitikberatkan pada pencegahan penyakit yang disebabkan oleh kekurangan gizi. Fokus utamanya adalah kelompok rentan seperti anak-anak, balita, dan ibu hamil yang membutuhkan asupan nutrisi yang memadai.

Melalui kelengkapan jaringan organisasinya, Majelis-Lembaga-Ortom,  Muhammadiyah dapat menyelenggarakan dapur umum guna melayani sekolah-sekolah Muhammadiyah dengan menyajikan makanan bergizi. Upaya ini akan memberikan manfaat langsung bagi anak-anak, terutama dari keluarga kurang mampu, agar mereka dapat mengakses makanan sehat secara rutin.

Edukasi Gizi bagi Masyarakat

Selain menyediakan makanan bergizi, Muhammadiyah juga dapat memanfaatkan PTMA yang memiliki jurusan Gizi terlibat aktif dalam program ini dengan mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pola makan sehat dan seimbang. Melalui PTMA, Muhammadiyah dapat mengadakan seminar, pelatihan, atau kelas khusus tentang nutrisi dan pentingnya konsumsi makanan sehat. Edukasi ini dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pola makan bergizi yang mudah dan terjangkau.

Langkah ini menjadi bagian dari misi Muhammadiyah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, tidak hanya dari sisi pendidikan, tetapi juga dalam menjaga kesehatan fisik dan mental masyarakat. Edukasi ini diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan sejak dini, mengurangi angka malnutrisi, dan memperbaiki pola hidup sehat secara berkelanjutan.

Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Sosial

Muhammadiyah, melalui Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM), memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pemberdayaan kaum dhuafa seperti masyarakat miskin kota, pemulung, kaum difabel, buruh, buruh migran, petani/buruh tani, serta nelayan dan masyarakat pesisir. Kaum petani dan buruh tani diberdayakan melalui wadah Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM), sedangkan nelayan dan masyarakat pesisir dihimpun dalam Jamaah Nelayan Muhammadiyah (JALAMU).

Dalam program Makan Bergizi Gratis ini, JATAM dan JALAMU disiapkan sebagai pemasok utama bahan makanan bergizi seperti beras, sayuran, telur, daging, dan ikan untuk dapur-dapur umum dan pusat-pusat pelayanan makan bergizi gratis yang dikelola oleh jaringan Muhammadiyah dari pusat hingga daerah dan cabang. Dengan menjadikan JATAM dan JALAMU sebagai mitra penyedia bahan pangan, program ini tidak hanya mendukung pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi petani dan nelayan yang selama ini sering terpinggirkan.

Upaya ini menjadi solusi efektif untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan, memperkuat ketahanan pangan nasional, serta mengurangi ketergantungan pada pasokan pangan impor. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen Muhammadiyah dalam membangun sistem pangan berkelanjutan yang mampu memberdayakan kelompok masyarakat rentan sekaligus meningkatkan kesejahteraan sosial.

Implementasi Program dan Dampaknya

Dalam pelaksanaannya, Muhammadiyah dapat mengimplementasikan program makan bergizi gratis ini dengan mendirikan Dapur Umum sesuai ketentuan yang diatur oleh Badan Gizi Nasional, melibatkan Ibu-Ibu Aisyiyah, Angkatan Muda Muhammadiyah, serta Majelis dan lembaga yang relevan untuk itu.

Guna memastikan kadar nutrisi makanan serta monitoring dampaknya bagi kesehatan anak-anak, Muhammadiyah dapat memobilisasi dokter dan ahli gizi dari Rumah Sakit PKU yang tersebar di berbagai penjuru.

Di samping itu, Muhammadiyah dapat menyelenggarakan pelatihan dan penyuluhan di sekolah, panti asuhan, komunitas binaan, serta Ranting Muhammadiyah/Aisyiyah agar masyarakat memahami pentingnya pola makan sehat.

Program makan bergizi gratis ini berpotensi membawa dampak positif dalam jangka panjang, terutama dalam peningkatan kualitas kesehatan dan kemampuan belajar anak-anak Indonesia. Dengan partisipasi aktif Muhammadiyah, program ini diharapkan bisa menjangkau masyarakat luas, menciptakan generasi yang sehat, dan memperkuat ketahanan pangan Nasional.

Kesimpulan

Program makan bergizi gratis memiliki relevansi besar dengan visi dan misi Muhammadiyah dalam membangun masyarakat yang lebih sehat, cerdas, dan sejahtera. Melalui kolaborasi yang erat antara Amal Usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat, program ini berpotensi memberikan manfaat yang luas bagi kelompok rentan di Indonesia, khususnya anak-anak dan ibu hamil. Dengan dukungan penuh dari Pemerintah, Muhammadiyah berharap program ini mampu menjadi bagian penting dari solusi berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia, menciptakan generasi muda yang sehat dan siap menjadi penerus bangsa.

Klaten, 3 November 2024

Kamis, 24 Oktober 2024

IRONI KEBIJAKAN ANGGARAN PENDIDIKAN DI TINGKAT DESA

Ironi Kebijakan Anggaran Pendidikan di Tingkat Desa: Ketimpangan dalam APBDes dan Harapan Solusi dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah

Oleh: Wahyudi Nasution
Pemerhati dan Pegiat Sosial Budaya


Pendidikan merupakan pilar penting dalam membangun masa depan anak-anak dan bangsa. Namun, ironisnya, kebijakan anggaran di tingkat Desa, yang tercermin dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes), sering kali menunjukkan ketimpangan yang mencolok dalam alokasi dana untuk sektor pendidikan, terutama bagi lembaga pendidikan yang diselenggarakan secara swadaya oleh masyarakat, seperti PAUD, TK, dan TPA.

Saat ini, dana APBDes hanya dapat digunakan untuk lembaga pendidikan yang dimiliki oleh Pemerintah Desa. Sayangnya, pada kenyataannya, Pemerintah Desa hampir tidak pernah membangun sekolah atau lembaga pendidikan. Sebaliknya, pendidikan anak usia dini, seperti PAUD, TK, dan TPA, di banyak desa justru dikelola oleh masyarakat secara swadaya. Lembaga-lembaga ini didirikan dengan modal gotong-royong masyarakat dan dijalankan oleh para guru yang bekerja secara sukarela, sering kali tanpa honorarium yang layak.

Salah satu contoh konkret dari inisiatif swadaya masyarakat dalam pendidikan adalah 'Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah, yang sangat concern terhadap pendidikan anak usia dini. 'Aisyiyah telah mendirikan dan mengelola ribuan PAUD dan TK di seluruh penjuru Tanah Air, termasuk di pelosok-pelosok Desa. Sebagaimana Amal Usaha Muhammadiyah pada umumnya, sekolah-sekolah ini dibangun secara bottom-up, atas inisiatif masyarakat setempat dan dibiayai dengan swadaya masyarakat. Peran 'Aisyiyah dalam mencerdaskan anak-anak bangsa dari desa sejak usia dini sangat signifikan, tetapi tantangan dalam pendanaan menjadi kendala serius. Inilah yang menegaskan urgensi adanya pemihakan anggaran dari APBDes agar sekolah-sekolah swadaya tersebut dapat terus berperan optimal.

Ironi terbesar dalam kebijakan ini terletak pada ketimpangan anggaran yang sangat besar. Sementara alokasi anggaran untuk pembangunan infrastruktur desa bisa mencapai 70% dari total APBDes, alokasi untuk sektor pendidikan swadaya hampir tidak ada. Program-program lain seperti PKK, Posyandu, dan stunting mendapatkan anggaran yang cukup besar, namun untuk pendidikan anak-anak desa—terutama yang diselenggarakan oleh masyarakat secara mandiri—hampir tidak ada dukungan finansial.

Situasi ini mencerminkan ketidakadilan yang serius. Masyarakat yang berinisiatif menyelenggarakan pendidikan untuk anak-anak mereka justru tidak mendapatkan dukungan dari Pemerintah Desa. Padahal, pendidikan merupakan fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Tanpa dukungan untuk pendidikan anak usia dini, upaya pembangunan infrastruktur tidak akan menghasilkan manfaat jangka panjang yang optimal bagi masyarakat.

Pentingnya Regulasi dan Legalitas

Ketimpangan ini jelas membutuhkan solusi, salah satunya melalui regulasi dan legalitas yang lebih inklusif. Saat ini, keterbatasan hukum menjadi penghalang bagi pengalokasian anggaran APBDes ke lembaga-lembaga pendidikan swadaya. Oleh karena itu, diperlukan regulasi yang memungkinkan lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat untuk mendapatkan dukungan Dana Desa, baik untuk pembangunan infrastruktur maupun kesejahteraan tenaga pendidik.

Regulasi tersebut harus mencakup beberapa poin kunci:

1. Pengakuan Lembaga Pendidikan Swadaya

Lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan dan dikelola oleh masyarakat perlu mendapatkan pengakuan resmi dari Pemerintah Desa. Ini akan memungkinkan mereka untuk diikutsertakan dalam Penganggaran Desa.


2. Alokasi Dana Pendidikan Dalam APBDes

Pemerintah perlu menetapkan aturan bahwa sebagian dari APBDes harus dialokasikan untuk pendidikan, termasuk untuk infrastruktur lembaga pendidikan swadaya dan pemberian honorarium bagi guru.


3. Legalitas Formal Lembaga Pendidikan

Mendorong lembaga pendidikan swadaya untuk mendapatkan legalitas formal, misalnya melalui izin operasional dari dinas pendidikan setempat, agar lebih mudah mengakses Dana Desa.


4. Kesejahteraan Guru

Mengatur pemberian honorarium bagi guru-guru yang mengajar di lembaga swadaya, sehingga mereka bisa menjalankan tugasnya dengan lebih layak dan profesional.


5. Pengawasan dan Transparansi

Membuat mekanisme pengawasan yang memastikan bahwa alokasi dana untuk pendidikan benar-benar digunakan dengan efektif dan tepat sasaran.



Dengan regulasi yang tepat, Pemerintah Desa dapat lebih fleksibel dalam mengelola anggaran mereka, memastikan bahwa sektor pendidikan mendapatkan perhatian yang layak. Selain itu, legalitas yang jelas juga akan memberikan payung hukum bagi lembaga-lembaga pendidikan swadaya, sehingga mereka dapat beroperasi dengan lebih aman dan mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan.

Harapan Pada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah

Dalam konteks ini, masyarakat kini menaruh harapan besar kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang baru, Prof. Abdul Mukti, untuk menemukan solusi atas masalah pendidikan anak-anak di Desa. Harapan ini semakin mendesak mengingat pentingnya mempersiapkan generasi emas 2045, yang menjadi kunci bagi masa depan Indonesia. Tantangan pendidikan di Desa, terutama terkait ketimpangan alokasi anggaran dalam APBDes, tidak hanya berdampak pada pendidikan anak-anak saat ini, tetapi juga pada potensi jangka panjang bangsa.

Prof. Abdul Mukti, yang dikenal memiliki pengalaman dan pemahaman mendalam tentang pendidikan, diharapkan mampu mendorong perubahan kebijakan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan pendidikan di Desa. Salah satu langkah penting yang perlu ditempuh adalah penyusunan regulasi yang memungkinkan Pemerintah Desa mendukung lembaga pendidikan swadaya. Ini termasuk memberikan ruang bagi Anggaran Desa untuk digunakan dalam membantu infrastruktur pendidikan serta kesejahteraan guru di PAUD, TK, dan TPA yang diselenggarakan masyarakat.

Jika solusi ini dapat diimplementasikan dengan baik, tidak hanya pendidikan di Desa yang akan meningkat, tetapi juga kualitas sumber daya manusia Indonesia pada 2045, ketika bangsa ini bercita-cita meraih masa keemasan. Keterlibatan pemerintah pusat melalui kebijakan yang tepat, ditambah dengan dukungan dari Pemerintah Desa, akan memastikan bahwa semua anak Indonesia, termasuk yang berada di pelosok Desa, mendapatkan akses pendidikan yang layak dan berkualitas.

Pada akhirnya, masyarakat menunggu langkah konkret dari Prof. Abdul Mukti dan Pemerintah untuk mewujudkan reformasi pendidikan yang benar-benar menyentuh kebutuhan anak-anak Desa sehingga mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan. Regulasi dan dukungan anggaran untuk pendidikan swadaya harus menjadi prioritas, karena pembangunan manusia adalah investasi terbaik bagi masa depan Indonesia.

Klaten, 24 Oktober 2024

Senin, 21 Oktober 2024

JANGAN "NGGEGE MANGSA"

JANGAN "NGGEGE MANGSA"

Seperti hari-hari biasanya, sore ini Pak Bei duduk di teras menikmati kopi semendo sambil asyik membuka-buka HPnya. Sebelum membaca berita online, tentu saja pertama-tama yang dibuka pesan WA. Dicermati  dulu kalau ada yang bersifat pribadi alias Wapri, baru kemudian mambuka group-group WA, sepintas kilas. Ya cuma sepintas kilas saja. Tidak mungkin membaca satu persatu postingan karena sedemikian banyaknya group WA. Ada sekitar 85 group yang tahu-tahu Pak Bei sudah menjadi anggotanya. Entah siapa yang memasukkan, tanpa permisi dan pemberitahuan sebelumnya. Hanya satu dua group yang Pak Bei buat sekaligus menjadi adminnya. 

Namanya juga medsos, siapa pun orangnya pasti tidak bisa menghindar dari 'jeratan' group WA, kecuali yang memang sangaja tidak menggunakan WA, tidak mengunduh aplikasi di HPnya.  Sebenarnya bisa kapan saja orang keluar dari group kalau merasa tidak nyaman, sangat mudah. Tapi karena pertimbangan rasa, jadinya gak enak juga mau keluar. Kadang terpaksa harus sedikit berbohong, pakai alasan memori HP-nya sudah kepenuhan, misalnya.

Sore ini ada tiga Wapri yang masuk dari teman Pak Bei dengan topik yang hampir sama. Ketiganya mengucapkan selamat atas terpilihnya beberapa kader Muhammadiyah sebagai Menteri pada Kabinet Prabowo. Aneh juga sebenarnya, kenapa teman-teman ngucapkan selamat ke Pak Bei. Mungkin karena mereka tahunya Pak Bei pengurus aktif di PP Muhammadiyah, lalu merasa perlu menunjukkan respectnya. Padahal, Pak Bei hanya satu di antara puluhan ribu aktivis dan Pengurus Muhammadiyah, posisinya juga tidak penting-penting amat. 

"Terima kasih ya, Bro," jawaban singkat dikirim ke tiga temannya. 

"Sesuai prediksi Pak Bei di postingan FB kemarin, Prof. Abdul Mukti jadi Menteri Pendidikan," ternyata Mukhlis, teman kuliahnya yang sekarang tinggal di Serang, membalas. 

"Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Nda," Pak Bei meluruskan.

"Saya ikut bersyukur, Pak Bei," balas Mukhlis lagi. "Tentu Pak Bei lebih bahagia," sambungnya.

"Memang urusan Pendidikan tidak boleh main-main, Nda. Jangan sampai diserahkan pada orang yang tidak kompeten, tidak kapabel, dan tidak punya reputasi di dunia pendidikan. Ini menyangkut penyiapan generasi 20 tahun ke depan, generasi emas 2045," tulis Pak Bei. 

"Ya itulah kenapa saya bersyukur Prof. Abdul Mu'ti terpilih jadi menteri Dikdasmen, dan Prof. Fauzan terpilih jadi Wamen DiktiRistek. Keduanya punya rekam jejak yang bagus di dunia pendidikan. Bukan kaleng-kaleng." 

"Muhammadiyah punya banyak stok ahli di berbagai bidang, Nda. Kader-kader muda yang juga terpilih jadi menteri seperti Daniel A. Simanjuntak, Raja Juli Antoni, dan Dzulfikar A. Tawalla itu hanya tiga di antara ribuan kader potensial."

"Benar, Pak Bei. Cuma selama ini kader Muhammadiyah jarang dikasih kesempatan ikut ngelola negara."

"Ya gak papa. Kita ini ngurusi Persyarikatan dan ribuan AUM saja sebenarnya sudah cukup terkuras tenaga dan pikiran. Makanya tidak perlu berebut ngurusi Pemerintahan. Itu legan golek momongan, kata orang Jawa. Meski demikian, kalau memang negara membutuhkan peran serta kader Muhammadiyah, ya kita berikan kader yang terbaik. Gitu, Nda," balas Pak Bei agak panjang lebar.

Membalas Wapri selesai, kini giliran membuka group-group WA. Ternyata gayeng juga soal nama-nama menteri. Ada komentar yang positif, tapi banyak juga yang terkesan negatif, pesimis, bahkan nyinyir. Ya gak papa, memang begitulah dunia medsos. Orang bebas mau nulis apa saja.

"Assalaamu'alaikum...," tetiba terdengar uluk salam dengan suara tidak asing di telinga Pak Bei.

"Weeeh....Kang Narjo. Wa'alaikumsalam. Gak dengar suara motormu, Kang. Ayo duduk dulu," Pak Bei menyalami Kang Narjo dan mengajaknya duduk di kursi sedan.

Sebelum melanjutkan obrolan, Pak Bei order ke Cahya supaya buatkan segelas kopi untuk sahabatnya.

"Dari mana, Kang?"

"Dari rumah. Memang sengaja ke sini."

"Kok njanur gunung. Tumben. Ada kabar apa?"

"Cuma mau mengucapkan selamat kok, Pak Bei."

"Selamat soal apa?"

"Headline semua koran tadi pagi kan soal pelantikan Presiden Prabowo dan Gibran wakilnya. Juga daftar Menteri Kabinet Merah Putih."

"Apa masalahnya, Kang?"

"Saya senang melihat ada beberapa nama kader Muhammadiyah yang diamanahi jadi Menteri dan Kepala Badan."

"Ya alhamdulillah, Kang, semoga mereka amanah."

Cahya datang menyuguhkan kopi.

"Monggo ngopi, Pakdhe," kata Cahya sambil menyalami Pakdhe Narjo.

"Matur nuwun ya, Le," kata Kang Narjo.

"Itulah, Pak Bei. Beberapa nama memang tidak perlu diragukan kredibilitasnya. Tapi ada nama-nama yang belum tampak rekam jejaknya."

"Yang kader-kader muda itu, maksudmu?"

"Benar, Pak Bei. Saya agak khawatir mereka masih gampang silau dengan godaan kadonyan, keduniaan."

"Walah, Kang, kita lihat saja dulu perjalanan ke depan. Jangan nggege mangsa, mendahului waktu," jawab Pak Bei. "Ayo diminum dulu kopinya," sambungnya.

Obrolan Pak Bei dengan Kang Narjo tidak berlangsung lama. Azan maghrib mulai terdengar bertalu-talu dari corong masjid-masjid sekitar kampung Pak Bei. Keduanya pun bergegas berangkat ke mushola depan nDalem Pak Bei.


#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jatampusat
#lpumkmpdmklaten



















Selasa, 08 Oktober 2024

MEMAKMURKAN MASJID MEMAJUKAN KLATEN: TAWARAN KOMPREHENSIF UNTUK CABUB-CAWABUB

Konsep Memakmurkan Masjid, Memajukan Klaten: Tawaran Komprehensif untuk Paslon Bupati-Wakil Bupati Klaten

Oleh: Wahyudi Nasution
Ketua LP-UMKM PDM Klaten


Klaten, sebagai daerah yang kaya akan potensi alam, sumber daya manusia, dan kearifan lokal, memiliki peluang besar untuk berkembang di berbagai sektor. Namun, kemajuan ini hanya bisa dicapai melalui kolaborasi yang strategis antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai organisasi sosial keagamaan. Oleh karena itu, kami menawarkan konsep aplikatif “Memakmurkan Masjid, Memajukan Klaten” yang dapat menjadi pijakan bagi paslon Bupati-Wakil Bupati Klaten dalam membangun daerah yang makmur secara spiritual, ekonomi, dan sosial.

1. Memakmurkan Masjid Sebagai Pusat Pemberdayaan Umat

Masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga bisa dijadikan sebagai pusat pemberdayaan ekonomi dan sosial bagi umat. Pemkab Klaten perlu mendorong agar masjid-masjid di Klaten menjadi pusat pemberdayaan umat melalui program-program yang terstruktur:

Pusat Edukasi Ekonomi Syariah: Melalui kolaborasi dengan ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah dan NU, masjid dapat dijadikan tempat edukasi mengenai ekonomi syariah. Ini mencakup pelatihan wirausaha, pengelolaan keuangan syariah, hingga praktik investasi dan bisnis halal.

Program Pemberdayaan Ekonomi Umat: Pemkab dapat bekerja sama dengan perangkat Muhammadiyah seperti Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata (MEBP), Majelis Ekonomi-Ketenagakerjaan Aisyiyah, serta Lembaga Pengembangan UMKM untuk menyelenggarakan program pemberdayaan ekonomi berbasis masjid. Misalnya, pelatihan keterampilan usaha, pengembangan UMKM, hingga program-program koperasi berbasis syariah di lingkungan masjid.


2. Kolaborasi dengan Ormas Islam dalam Pemberdayaan Ekonomi dan Sosial

Kolaborasi antara Pemkab Klaten dan organisasi kemasyarakatan Islam seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) adalah kunci keberhasilan dalam mewujudkan pemberdayaan ekonomi umat secara luas. Kedua ormas besar ini memiliki basis massa yang kuat dan perangkat organisasi yang menjangkau hingga ke tingkat desa, seperti Jamaah Tani Muhammadiyah (Jatam Klaten), yang aktif memberdayakan petani dan peternak.

Pemberdayaan Petani dan Peternak Melalui Jatam Klaten: Pemkab Klaten dapat memperkuat kerja sama dengan Jatam Klaten dalam program pemberdayaan petani dan peternak. Ini mencakup akses teknologi pertanian modern, pelatihan manajemen usaha tani, serta pengembangan rantai pasok yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Program ini akan berdampak langsung pada peningkatan produktivitas sektor pertanian dan peternakan di Klaten.

Kolaborasi dengan Lembaga Pengembangan UMKM: Pemkab juga perlu menggandeng Lembaga Pengembangan UMKM Muhammadiyah untuk mengembangkan wirausaha di tingkat desa. Fokus pada penguatan UMKM akan menciptakan lapangan pekerjaan baru serta meningkatkan daya saing produk lokal Klaten di pasar domestik maupun internasional.

Majelis Ekonomi-Ketenagakerjaan PD Aisyiyah: Sebagai organisasi yang concern pada pemberdayaan ekonomi umat, Aisyiyah dapat berperan dalam membangun kesetaraan ekonomi dengan memberdayakan kaum perempuan melalui pelatihan keterampilan, pengelolaan usaha mikro, dan penguatan ekonomi keluarga.


3. Pengembangan Bisnis, Pariwisata, dan Industri Halal

Perangkat Muhammadiyah yang berfokus pada pengembangan ekonomi, seperti Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata (MEBP), dapat menjadi mitra strategis dalam mengoptimalkan potensi pariwisata dan pengembangan ekonomi berbasis syariah.

Pengembangan Destinasi Pariwisata Berbasis Religi dan Budaya: MEBP bersama Pemkab Klaten dapat memaksimalkan potensi wisata religi di Klaten, seperti pengembangan kawasan wisata Umbul Ponggok, Rowo Jombor, dan Candi Plaosan sebagai destinasi yang memadukan unsur spiritual dan budaya. Selain itu, wisata religi Islami, seperti wisata masjid bersejarah atau makam ulama besar, dapat dipromosikan lebih luas, baik di dalam negeri maupun mancanegara.

Pengembangan Desa Wisata Ekonomi Kreatif: Klaten memiliki banyak desa yang potensial untuk dikembangkan sebagai desa wisata berbasis ekonomi kreatif. Program ini bisa melibatkan masyarakat dalam pengembangan usaha kerajinan, kuliner lokal, serta atraksi budaya yang mendukung sektor pariwisata.

Industri Halal dan Ekspor Produk UMKM: MEBP juga dapat membantu Pemkab dalam mengembangkan industri halal, baik di sektor makanan, minuman, maupun kosmetik, sehingga produk-produk lokal Klaten dapat bersaing di pasar internasional. Pendampingan bagi pelaku UMKM untuk mendapatkan sertifikasi halal serta membuka akses pasar ekspor akan menjadi langkah strategis dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah.


4. Memajukan Sektor Pendidikan dan Kesehatan Berbasis Masjid

Pemkab Klaten perlu mendorong peran masjid dalam peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat. Melalui sinergi dengan Lembaga Pendidikan dan Lembaga Kesehatan Muhammadiyah, masjid dapat difungsikan sebagai pusat pelayanan pendidikan diniyah dan kesehatan.

Masjid Sebagai Pusat Literasi Kesehatan: Program edukasi kesehatan masyarakat bisa diselenggarakan secara berkala di masjid-masjid, dengan dukungan dari RS PKU Muhammadiyah serta klinik-klinik Muhammadiyah di Klaten. Fokus utama bisa pada peningkatan kesehatan ibu dan anak, pemberantasan stunting, serta pelayanan kesehatan berbasis komunitas.

Pendidikan Anak Usia Dini dan Pengembangan Pendidikan Karakter Islami: Melalui masjid, Pemkab Klaten bisa mengembangkan pendidikan anak usia dini yang berbasis pada nilai-nilai Islam, berkolaborasi dengan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Muhammadiyah. Program ini dapat mencetak generasi muda yang berkarakter, mandiri, dan memiliki keterampilan dasar yang baik.


Penutup

Konsep Memakmurkan Masjid, Memajukan Klaten ini adalah tawaran kolaborasi yang menyeluruh antara pemerintah, masyarakat, dan ormas-ormas Islam untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat Klaten secara komprehensif. Masjid sebagai pusat spiritual dapat diperluas perannya menjadi pusat pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan, sehingga Klaten dapat menjadi daerah yang maju dan makmur di segala bidang. Pemkab Klaten, melalui sinergi dengan perangkat Muhammadiyah, dapat menjadi pionir dalam membangun daerah yang sejahtera dan berkah, dengan nilai-nilai Islam yang kuat sebagai landasannya.

TEMU ANCAMAN BAGI UMKM

Masuknya Aplikasi Temu: Ancaman Nyata Bagi UMKM Konveksi

Oleh: Wahyudi Nasution
Ketua LP-UMKM PDM Klaten

Industri konveksi di Indonesia, yang didominasi oleh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tengah menghadapi tantangan besar dengan masuknya berbagai platform e-commerce global. Salah satu yang menjadi sorotan adalah aplikasi Temu, yang menawarkan berbagai produk, termasuk pakaian, dengan harga yang sangat kompetitif. Meski membuka akses lebih luas bagi konsumen terhadap produk murah, kehadiran Temu menimbulkan ancaman serius bagi UMKM konveksi lokal. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan ketika UMKM yang memiliki keterbatasan modal dan skala produksi harus bersaing dengan raksasa global.

Tantangan yang Dihadapi UMKM Konveksi

1. Persaingan Harga yang Tidak Seimbang Aplikasi seperti Temu menawarkan harga yang sangat rendah berkat skala produksi besar-besaran dan kerja sama langsung dengan produsen internasional. Hal ini membuat konsumen tergiur oleh produk murah, sehingga pasar untuk produk konveksi lokal, yang memiliki biaya produksi lebih tinggi, semakin tergerus. UMKM konveksi, yang umumnya beroperasi dengan skala kecil dan biaya produksi yang lebih besar, kesulitan untuk menurunkan harga produk mereka ke tingkat yang kompetitif.


2. Jangkauan Pasar Global yang Lebih Luas Temu memiliki keunggulan dalam hal jangkauan pasar yang sangat luas, baik domestik maupun internasional. Platform ini menghubungkan konsumen di berbagai negara, sementara UMKM konveksi lokal sering kali terbatas pada pasar regional. Akses ke pasar global yang dimiliki Temu memberi mereka keunggulan yang sulit dihadapi oleh UMKM lokal, yang mungkin belum sepenuhnya terintegrasi dengan ekosistem e-commerce internasional.


3. Efisiensi Logistik dan Pengiriman Cepat Temu dan platform global lainnya memanfaatkan jaringan logistik internasional yang efisien, memungkinkan mereka menawarkan pengiriman cepat dengan biaya yang terjangkau. Di sisi lain, UMKM konveksi sering kali masih bergantung pada layanan logistik lokal yang mungkin tidak secepat dan semurah yang ditawarkan oleh platform global. Keunggulan logistik ini membuat konsumen semakin tertarik untuk membeli dari platform seperti Temu.


4. Skala Produksi yang Menguntungkan Produsen besar yang beroperasi melalui Temu memiliki kemampuan untuk memproduksi dalam skala besar, yang menekan biaya produksi per unit. UMKM konveksi, yang beroperasi dalam skala kecil, tidak dapat menikmati manfaat skala ekonomi yang sama, membuat produk mereka lebih mahal dan sulit bersaing dari segi harga.



Peluang bagi UMKM untuk Bertahan dan Berkembang

Meskipun ancaman dari platform seperti Temu nyata, UMKM konveksi masih memiliki peluang untuk bertahan dan berkembang melalui beberapa strategi:

1. Mengandalkan Keunikan dan Kustomisasi Produk UMKM dapat memanfaatkan keunggulan produk lokal yang unik, baik dari segi desain maupun bahan. Produk-produk yang menawarkan personalisasi dan mencerminkan budaya lokal memiliki daya tarik tersendiri yang tidak bisa disediakan oleh platform global. Ini bisa menjadi pembeda yang signifikan di pasar, terutama bagi konsumen yang mencari produk eksklusif atau buatan tangan.


2. Meningkatkan Digitalisasi Bisnis Di era digital, penting bagi UMKM untuk segera beradaptasi dengan teknologi. Mengoptimalkan pemasaran digital, media sosial, dan penjualan melalui e-commerce lokal atau internasional adalah cara penting untuk memperluas jangkauan pasar. Dengan digitalisasi, UMKM dapat memperbaiki daya saing mereka di pasar yang semakin mengglobal.


3. Kolaborasi dengan Pemangku Kepentingan Lokal UMKM bisa memperkuat posisi mereka melalui kolaborasi dengan desainer lokal, influencer, atau asosiasi bisnis. Ini membantu meningkatkan brand awareness dan menarik pasar yang lebih luas. Selain itu, bekerja sama dengan pemerintah atau swasta dalam program pemberdayaan UMKM dapat memberikan dukungan tambahan yang diperlukan untuk mempercepat pertumbuhan bisnis.



Tanggung Jawab Pemerintah dalam Melindungi UMKM

Dalam menghadapi ancaman dari aplikasi seperti Temu, pemerintah memiliki peran krusial untuk melindungi dan memberdayakan UMKM. Berikut beberapa langkah yang bisa diambil oleh pemerintah:

1. Kebijakan Proteksi dan Regulasi Pemerintah dapat menerapkan regulasi yang melindungi UMKM dari persaingan tidak adil, seperti pengenaan tarif impor yang lebih tinggi terhadap produk-produk konveksi asing yang dijual dengan harga murah. Selain itu, regulasi tentang standar kualitas dan keamanan produk dapat membantu mengurangi masuknya produk yang murah namun berkualitas rendah, yang bisa merugikan konsumen lokal dan mematikan pasar UMKM.


2. Pengembangan Infrastruktur Digital untuk UMKM Pemerintah dapat membantu UMKM meningkatkan daya saing melalui pengembangan infrastruktur digital dan pelatihan teknologi. Dengan akses yang lebih baik ke teknologi dan pelatihan dalam pemasaran online, UMKM dapat memanfaatkan e-commerce dan platform digital untuk memperluas pasar mereka.


3. Peningkatan Akses Permodalan Salah satu kendala utama UMKM adalah terbatasnya akses permodalan. Pemerintah dapat memberikan dukungan dalam bentuk akses kredit murah melalui program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), atau menyediakan dana hibah untuk pengembangan teknologi dan inovasi produk. Ini akan membantu UMKM meningkatkan kapasitas produksi dan daya saing mereka di pasar yang semakin ketat.


4. Kampanye Cinta Produk Lokal Pemerintah dapat menginisiasi kampanye untuk mendorong masyarakat agar lebih memilih produk lokal, seperti konveksi dari UMKM. Kampanye semacam ini bisa meningkatkan kesadaran konsumen akan pentingnya mendukung produk dalam negeri dan mendorong konsumsi yang lebih berkelanjutan.


5. Kolaborasi dengan Platform E-commerce Lokal Pemerintah juga dapat memfasilitasi kerjasama antara UMKM dengan platform e-commerce lokal atau membuat kebijakan yang mendukung platform-platform ini untuk mengedepankan produk UMKM. Misalnya, dengan memberikan slot promosi khusus untuk produk lokal dan dukungan logistik yang lebih baik bagi UMKM.



Apakah Pemerintah Bisa Menolak Kehadiran Temu?

Meskipun pemerintah secara teknis bisa menerapkan kebijakan pembatasan atau melarang kehadiran aplikasi seperti Temu, hal ini tidak selalu menjadi solusi yang tepat. Indonesia terlibat dalam berbagai perjanjian perdagangan internasional yang mengikat, dan melarang platform asing seperti Temu bisa melanggar perjanjian tersebut. Selain itu, pelarangan total bisa memicu retaliasi dari negara-negara mitra dagang, yang dapat berdampak buruk pada sektor ekspor Indonesia.

Lebih dari itu, kehadiran platform global juga membawa manfaat bagi konsumen melalui persaingan yang sehat, yang mendorong UMKM untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas. Oleh karena itu, alih-alih menolak kehadiran Temu, lebih baik jika pemerintah berfokus pada upaya untuk memperkuat daya saing UMKM.

Kesimpulan

Masuknya platform e-commerce global seperti Temu memang menimbulkan tantangan besar bagi UMKM konveksi, terutama dari segi persaingan harga dan skala produksi. Namun, dengan dukungan pemerintah melalui kebijakan proteksi yang tepat, akses ke teknologi, permodalan, serta pemberdayaan pasar lokal, UMKM memiliki peluang untuk bertahan dan berkembang. Penolakan total terhadap aplikasi global seperti Temu mungkin bukan solusi yang ideal, tetapi memperkuat fondasi UMKM untuk bersaing di pasar domestik dan internasional adalah langkah yang lebih strategis dan berkelanjutan.

Klaten, 8 Oktober 2024

Minggu, 06 Oktober 2024

SALAH SANGKA

SALAH SANGKA

Sebenarnya Pak Bei mau langsung istirahat sepulang dari mesjid. Matanya sudah terasa ngantuk berat sejak terdengar azan isya' tadi. Kebetulan malam ini tidak ada agenda, juga tidak ada janjian. Tentu bagus kalau sekali-sekali bisa tidur gasik agar besok bisa bangun lebih awal sebelum shubuh, seperti kebiasaan Bu Bei.

Tapi bagaimana mau tidur awal kalau baru lepas sarung dan ganti baju saja tiba-tiba terdengar ada suara motor berhenti di halaman, diikuti suara orang mengetuk pintu dan ngucapkan salam. Entah siapa tamunya, tapi gaya dan suara "uluk-salam" itu sepertinya tidak asing di telinga Pak Bei. Maka bergegas Pak Bei pakai sarungnya lagi, beranjak membuka pintu sambil menjawab salam tamunya.

"Masya Allah Kang Narjo, to? Piye kabarmu, Kang?," tanya Pak Bei pada tamunya sambil menyalami dan mengajaknya duduk di kursi sedan di teras nDalem Pak Bei. 

"Alhamdulillah kabar saya sae, Pak Bei. Sehat kewarasan. Semoga Pak Bei dan keluarga juga tansah pinaringan sehat dan keberkahan," jawab Kang Narjo.

"Amiin. Matur nuwun, Kang.
Tunggu sebentar, ya, kubuatkan kopi kesukaanmu dulu," kata Pak Bei sambil beranjak menuju dapur.

"Siap, Pak Bei. Memang itu yang kumau," jawab Narjo.

Untuk tamu spesial begini, Pak Bei sengaja membuat kopi sendiri, tidak order ke Cahya atau Zika anak-anaknya, seperti biasa. Kang Narjo, loper koran langganan Pak Bei sejak 20 tahun lalu ini, bagi Pak Bei bukanlah loper koran biasa yang setiap pagi ngantar koran ke rumah dan menagih bayaran di setiap awal bulan. Tidak. Kang Narjo sudah seperti sahabat. Tidak jarang dia istirahat dulu untuk minta kopi dan ngobrol ngalor-ngidul tentang isu-isu aktual sebelum melanjutkan tugasnya mengantar koran ke pelanggannya. Kadang juga malam-malam ngantar teman-teman dan tetangganya ke Pak Bei untuk ngobrol tentang kegiatan masjid di kampungnya, atau tentang kegiatan bertani dan beternak yang semakin tidak gampang, atau tentang situasi politik mutakhir.

Sejak 6 bulan yang lalu Pak Bei berhenti berlangganan koran karena merasa sudah sangat cukup membaca berita online di HPnya setiap hari. Sebenarnya kasihan juga Kang Narjo, pelanggannya semakin sedikit, semakin habis. Jaman sudah berubah. Sejak itu juga Kang Narjo tidak pernah tampak batang hidungnya. Baru kali ini dia datang tiba-tiba, meski tanpa janjian sebelumnya.

"Kang Narjo dari rumah atau mampir dari mana ini?," tanya Pak Bei sambil meletakkan dua gelas kopi di meja.

"Dari Masjid Al-Aqsha, Pak Bei. Tadi ikut jamaah maghrib sekalian isya' di sana."

"Kok tumben, Kang? Jauh-jauh sholat ke kota.

"Sudah lama tidak ikut sholat jamaah di sana. Kangen. Muadzinnya dan Imamnya bagus. Kita sebagai makmum pun jadi terasa nikmat."

"Ayo diminum dulu kopinya, Kang. Biar hangat," Pak Bei mempersilakan Kang Narjo minum kopinya. Kang Narjo dan Pak Bei pun langsung menuangkan kopi di lepek, piring kecil, nyeruput kopi panas itu seteguk dua teguk, lalu menyulut keretek di tangannya masing-masing. 

"Kang, semua muadzin dan imam sholat di sana memang pilihan. Tidak sembarangan. Namanya juga Masjid Agung, masjid yang dibangun Pemerintah Kab. Klaten dan dibiayai dengan APBD, dikelola oleh Takmir yang terdiri dari tokoh-tokoh perwakilan dari Ormas-Ormas Islam se-Kab. Klaten. Makanya Masjid ikon Kab. Klaten itu lumayan bagus baik fisik bangunannya maupun  manajemen kegiatannya."

"Lha ini lho yang ingin kuobrolkan dengan Pak Bei, makanya mampir ke sini."

"Soal apa, Kang?"

"Kita kan mau Pilkada bulan depan, Pak Bei. Ada tiga pasangan Cabub-Cawabub. Kebetulan juga bareng dengan Pilgub Jawa Tengah, ada dua pasangan Cagub-Cawagub."

"Memang kenapa, Kang? Kan sudah biasa kita mengikuti Pemilu, Pilpres, Pileg, Pilgub, Pilbup, dan Pilkades. Biasa wae, Kang."

"Jujur saja, Pak Bei ikut jadi Tim Sukses pasangan calon yang mana?"

"Kenapa tanya begitu, Kang?"

"Saya siap jadi gerbong Pak Bei. Jadi pengikutlah...."

"Maksudmu?"

"Orang kecil seperti saya ini butuh petunjuk supaya tidak salah pilih, Pak Bei. Di antara 2 paslon Gubernur-Wakil Gubernur dan 3 paslon Bupati-Wakil Bupati itu, mana yang sebaiknya kita pilih?"

"Kang, kujawab dulu pertanyaanmu yang pertama tadi, ya. Aku ini bukan Tim Sukses siapa pun. Maka, untuk pertanyaanmu yang kedua, jawabanku yho embuh aku ora weruh, Kang. Tentu mereka bagus semua, berkualitas semua, bukan kaleng-kaleng. Itulah makanya mereka dipilih oleh partai dan koalisinya sebagai paslon lalu ditawarkan kepada rakyat agar dipilih."

"Ah masa begitu, Pak Bei? Yang bener? Masa Pak Bei bukan Timses?"

"Apa aku pernah membohongi Kang Narjo?"

"Ya belum. Tapi orang sekelas Pak Bei masa gak ikut sibuk jadi Timses Pilkada atau Pilgub?"

"Bener, Kang. Orang seperti aku ini gak penting. Makanya gak ada paslon melamarku masuk Timsesnya."

"Tapi setidaknya pasti Pak Bei tahu mana paslon yang benar-benar layak dipilih, kan."

"Kalau pun tahu, aku tidak perlu omon-omon, Kang. Cukup kupakai sendiri dengan keluargaku."

"Kok gitu, Pak Bei? Apa gak kasihan kalau rakyat salah pilih lagi, salah pilih terus?"

"Salah pilih bagaimana? Rakyat ini sudah pintar, Kang. Jangan pernah menganggap rakyat ini bodoh."

"Nyatanya salah pilih terus."

"Itu kan menurutmu, Kang. Bagi rakyat, yang penting sudah ikut menggunakan hak pilihnya di TPS. Rakyat sudah paham bahwa semua calon di setiap Pil Pil itu hanya butuh suaranya, butuh coblosannya. Rakyat sudah niteni, sudah hafal, mereka nanti kalau sudah terpilih akan sibuk dengan urusannya sendiri dan kelompoknya. Tidak ada yang benar-benar berjuang untuk rakyat."

"Ya memang benar, Pak Bei. Mereka sibuk cari cara cepat balik modal dan melanggengkan kekuasaannya."

"Itulah, Kang. Rakyat ini mau dibilangi apa juga susah. Gak ngaruh. Mau diajak milih yang mana, mereka sederhana saja kok mikirnya."

"Gimana, Pak Bei?"

"Mereka hanya butuh bukti, tidak butuh janji-janji."

"Terus, apa buktinya?"

"Amplop, Kang. Rakyat tidak mau memilih calon yang tidak bagi-bagi amplop menjelang pemilihan."

"Wis rusak tenan."

"Mereka tidak bisa berharap akan ada perbaikan hidup sebagai rakyat. Makanya jangan serius-serius mikir Pilgub dan Pilbub, Kang."

"Tapi kita kan butuh pemimpin yang benar-benar baik dan mampu to, Pak Bei?"

"Husnudhon saja, Kang. Semua calon itu orang pilihan, orang-orang terbaik menurut parpol pengusungnya. Semoga parpol-sudah punya kalkulasi, punya perhitungan."

"Ya sudahlah, Pak Bei. Besok saja mikir lagi kalau sudah dekat hari-H. Mau ikut milih atau mau golput, kita lihat nanti. Kalau ikut milih, paling ya sekadar pantas-pantas sebagai warga negara. Hasilnya wallaahua'lam."

"Iyalah, Kang. Slow wae. Santui."

Kang Narjo pun pamit pulang. Tampak raut wajahnya memendam rasa kecewa karena obrolan dengan Pak Bei tidak seperti yang diharapkan. Ternyata Pak Bei bukan Timses siapa pun. Kali ini Kang Narjo salah sangka.


#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jatampusat
#lpumkmpdmklaten













Jumat, 04 Oktober 2024

Teater Yogyakarta Perlu Mendapatkan Prioritas Dari Danais

Teater Yogyakarta Perlu Mendapatkan Prioritas Dari Danais


Yogyakarta telah lama dikenal sebagai pusat budaya yang kaya dengan berbagai ekspresi seni, termasuk teater dan musik. Teater di kota ini berkembang pesat, menjadikannya sebagai barometer teater nasional. Dengan warisan sejarah yang kuat dan kreativitas yang terus berinovasi, Yogyakarta menjadi tempat lahirnya seniman-seniman besar di dunia teater, yang pengaruhnya menyebar hingga ke seluruh Indonesia. Sayangnya, kesenian modern seperti teater belum mendapatkan perhatian yang layak dari Dana Keistimewaan (Danais). Mengingat pentingnya teater dan seni modern dalam memperkaya kebudayaan Yogyakarta, Danais seharusnya lebih berpihak pada perkembangan teater modern sebagai bagian penting dari identitas seni Yogyakarta.

Teater Yogyakarta sebagai Pusat Inovasi dan Pendidikan

Yogyakarta memiliki tradisi panjang dalam dunia teater yang melibatkan berbagai kelompok teater besar dan komunitas seni di berbagai kampus. Teater Gandrik dan Teater Garasi adalah contoh kelompok teater profesional yang telah dikenal luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Selain itu, banyak kelompok teater kampus juga memainkan peran penting dalam menjaga dinamika teater modern di Yogyakarta.

Salah satu komunitas yang sangat berpengaruh dalam pengembangan teater kampus adalah Teater Eska dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Teater ini tidak hanya menghasilkan seniman teater berbakat, tetapi juga menjadi ruang bagi lahirnya banyak penyair berbakat di dunia sastra Indonesia. Peran Teater Eska tidak terbatas pada panggung pertunjukan, tetapi juga sebagai medium edukasi, ekspresi, dan penyampaian kritik sosial. Melalui karya-karya yang menggugah, kelompok-kelompok teater ini mampu membangun kesadaran publik tentang isu-isu kontemporer serta mengembangkan kebudayaan Yogyakarta.

Kelompok-kelompok teater di sekolah-sekolah dan kampus-kampus seperti UIN Sunan Kalijaga, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Seni Indonesia (ISI) turut memperkaya ekosistem teater Yogyakarta dengan inovasi segar dan eksperimental. Kehadiran mereka menegaskan bahwa teater di Yogyakarta bukan hanya soal hiburan, tetapi juga media untuk merefleksikan realitas sosial dan politik yang ada di tengah masyarakat.

Komunitas Musik yang Mendunia

Selain teater, Yogyakarta juga menjadi rumah bagi banyak grup musik yang berpengaruh secara nasional maupun internasional. Salah satu contohnya adalah Sheila on 7, band pop legendaris yang telah menorehkan banyak prestasi di industri musik Indonesia sejak tahun 1990-an. Karya-karya mereka tidak hanya digemari oleh generasi muda pada masanya, tetapi juga hingga generasi saat ini, menjadikan Sheila on 7 sebagai salah satu ikon musik pop Indonesia yang tetap relevan.

Begitu pula dengan grup musik Letto, yang terkenal dengan lagu-lagu balada mereka yang memadukan nuansa pop dan filosofi mendalam. Dengan lirik-lirik yang penuh makna, Letto berhasil mencuri perhatian publik dan terus eksis dalam industri musik Indonesia. Keberadaan grup-grup musik seperti Sheila on 7 dan Letto menegaskan bahwa Yogyakarta tidak hanya unggul dalam seni teater, tetapi juga memiliki kontribusi besar dalam dunia musik nasional.

Selain musik pop, Yogyakarta juga memiliki komunitas musik unik seperti Kiai Kanjeng, yang dipimpin oleh budayawan Emha Ainun Nadjib melalui Rumah Maiyah. Kiai Kanjeng memadukan unsur musik tradisional dan modern dengan instrumen gamelan serta alat musik kontemporer. Mereka telah menggelar pementasan tidak hanya di pelosok-pelosok desa di seluruh Indonesia, tetapi juga di negara-negara Eropa, Timur Tengah, dan Australia. Fenomena Kiai Kanjeng ini menunjukkan bagaimana Yogyakarta mampu menghasilkan karya-karya musik yang melintasi batas-batas budaya, dengan jangkauan internasional yang menginspirasi.

Teater dan Musik Modern: Bagian Integral dari Kebudayaan Yogyakarta

Teater Yogyakarta, bersama dengan komunitas musik modern yang berpengaruh, berperan penting dalam dinamika kebudayaan kota ini. Yogyakarta tidak hanya dikenal dengan seni tradisional seperti wayang dan gamelan, tetapi juga teater modern dan musik yang menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Kombinasi antara kreativitas modern dan akar tradisi yang kuat inilah yang membuat Yogyakarta menjadi pusat inovasi budaya yang unik di Indonesia.

Grup teater seperti Teater Gandrik, Teater Garasi, dan Teater Eska, bersama kelompok-kelompok teater di sekolah dan kampus, secara konsisten menghasilkan karya-karya yang kaya dengan pesan sosial dan politik. Karya-karya mereka sering kali mengkritik isu-isu kontemporer dengan cara yang segar, menjadikan teater sebagai ruang diskusi publik yang hidup.

Demikian juga, musik modern dari Yogyakarta tidak hanya sebatas hiburan, tetapi juga sarana untuk mengekspresikan identitas budaya. Sheila on 7 dan Letto, misalnya, adalah contoh bagaimana musik pop Yogyakarta bisa mencapai kesuksesan di panggung nasional dan bahkan internasional, sembari tetap mempertahankan keaslian dan kekayaan lokal. Di sisi lain, Kiai Kanjeng dan Rumah Maiyah menunjukkan bahwa Yogyakarta mampu menawarkan bentuk-bentuk seni yang menggabungkan tradisi dan modernitas dengan cara yang tidak biasa, menghasilkan harmoni musik yang unik.

Keberpihakan Danais bagi Kesenian Modern

Meskipun Dana Keistimewaan (Danais) di Yogyakarta sebagian besar dialokasikan untuk pelestarian budaya tradisional, seni modern seperti teater dan musik juga harus mendapatkan porsi yang layak. Teater modern Yogyakarta merupakan bagian penting dari keistimewaan kota ini yang tidak boleh diabaikan. Selama ini, Danais seringkali terlalu terfokus pada seni tradisional, tanpa mempertimbangkan bahwa seni modern juga memiliki potensi besar untuk memperkuat identitas budaya Yogyakarta di tingkat nasional dan global.

Dukungan Danais terhadap teater dan musik modern akan memungkinkan seniman Yogyakarta untuk terus berinovasi, menciptakan karya-karya baru yang relevan dengan zaman, namun tetap terhubung dengan tradisi budaya lokal. Dengan pendanaan yang memadai, kelompok-kelompok teater di Yogyakarta bisa mengadakan lebih banyak produksi, festival, dan pelatihan, serta memperluas jangkauan karya mereka ke audiens yang lebih luas, baik di dalam maupun luar negeri.

Penutup

Teater dan musik modern Yogyakarta tidak bisa dipisahkan dari perkembangan kebudayaan Indonesia secara keseluruhan. Sebagai barometer teater nasional dan pusat musik yang berpengaruh, Yogyakarta telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam memperkaya identitas seni Indonesia. Oleh karena itu, penting bagi Danais untuk memberikan dukungan yang lebih besar terhadap kesenian modern, terutama teater dan musik pop, yang telah membuktikan diri mampu menjembatani antara tradisi dan inovasi. Dukungan yang lebih luas dari Danais akan memastikan bahwa Yogyakarta tetap menjadi pusat kreativitas seni, baik dalam ranah teater maupun musik, yang akan terus menginspirasi generasi seniman berikutnya.

Klaten, 4 Oktober 2024

Wahyudi Nasution
Mantan Aktivis Sanggar Shalahuddin

Kamis, 03 Oktober 2024

Kondisi Darurat UMKM Konveksi: Tantangan, Dampak, dan Solusi

Kondisi Darurat UMKM Konveksi: Tantangan, Dampak, dan Solusi

Wahyudi Nasution
LPUMKM PDM Klaten


Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor konveksi merupakan salah satu pilar penting perekonomian di Indonesia. Kontribusi UMKM konveksi terhadap penyerapan tenaga kerja, penyediaan produk sandang, dan penggerak ekonomi lokal sangat signifikan. Namun, saat ini UMKM konveksi tengah menghadapi kondisi darurat yang mengancam keberlangsungan bisnis mereka. Berbagai faktor, mulai dari tekanan ekonomi global, perubahan tren konsumen, hingga pandemi, telah memperburuk situasi mereka. Artikel ini akan membahas kondisi darurat UMKM konveksi, tantangan yang mereka hadapi, serta solusi yang dapat ditempuh untuk menghadapi krisis ini.

1. Tantangan yang Dihadapi UMKM Konveksi

UMKM konveksi menghadapi serangkaian tantangan besar yang membuat mereka rentan terhadap krisis. Beberapa tantangan utama yang dihadapi adalah:

Kenaikan Biaya Bahan Baku: Salah satu masalah utama adalah fluktuasi harga bahan baku tekstil dan perlengkapan produksi. Harga kain, benang, dan aksesoris pakaian meningkat akibat gangguan rantai pasok global dan kebijakan impor. UMKM yang bergantung pada bahan baku impor menghadapi beban biaya produksi yang lebih tinggi, sementara daya beli konsumen tidak selalu mengikuti.

Tekanan dari Produk Impor: Serbuan produk impor murah dari negara-negara seperti Tiongkok menambah tekanan bagi UMKM konveksi lokal. Produk-produk ini sering kali lebih murah karena skala produksi yang besar, efisiensi, dan dukungan pemerintah di negara asal. Akibatnya, produk UMKM lokal kesulitan bersaing di pasar domestik, baik dari segi harga maupun kualitas.

Perubahan Tren dan Permintaan Konsumen: Tren fashion yang berubah cepat menuntut UMKM konveksi untuk terus berinovasi. Namun, banyak UMKM yang kesulitan mengikuti perubahan ini karena keterbatasan modal dan sumber daya untuk melakukan riset pasar atau mengembangkan desain baru.

Pandemi COVID-19: Pandemi memiliki dampak besar terhadap sektor konveksi. Penurunan permintaan produk fashion, penutupan pasar dan toko fisik, serta gangguan distribusi menyebabkan penurunan drastis pendapatan UMKM konveksi. Banyak pelaku usaha yang terpaksa menutup usaha atau mengurangi jumlah pekerja.


2. Dampak Krisis pada UMKM Konveksi

Krisis yang melanda UMKM konveksi memiliki dampak yang cukup serius, tidak hanya terhadap bisnis itu sendiri, tetapi juga terhadap masyarakat luas. Beberapa dampak yang paling terlihat adalah:

Penutupan Usaha: Banyak UMKM konveksi terpaksa menutup usaha mereka karena tidak mampu menutupi biaya produksi yang terus meningkat sementara pendapatan menurun. Penutupan ini tidak hanya berdampak pada pemilik usaha, tetapi juga pekerja dan pemasok bahan baku lokal yang kehilangan mata pencaharian.

Pengangguran: Sektor konveksi merupakan salah satu sektor yang padat karya, terutama di daerah-daerah penghasil produk tekstil. Penutupan usaha dan pengurangan produksi menyebabkan tingginya angka pengangguran di sektor ini, yang turut mempengaruhi ekonomi lokal.

Penurunan Daya Saing: Dalam kondisi darurat ini, UMKM konveksi lokal semakin kehilangan daya saing terhadap produk impor dan merek besar yang memiliki skala ekonomi lebih besar. Hal ini memperburuk ketidakmampuan mereka untuk bertahan di pasar domestik, apalagi untuk bersaing di pasar global.


3. Solusi Menghadapi Kondisi Darurat UMKM Konveksi

Meski berada dalam kondisi yang sulit, UMKM konveksi masih memiliki peluang untuk bangkit dan bertahan jika didukung dengan strategi dan bantuan yang tepat. Beberapa solusi yang bisa ditempuh untuk mengatasi kondisi darurat ini adalah:

Dukungan Pemerintah: Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah konkret untuk melindungi dan mendukung UMKM konveksi. Ini termasuk pemberian insentif pajak, bantuan modal kerja, subsidi bahan baku lokal, serta penguatan kebijakan perlindungan terhadap produk impor murah.

Digitalisasi Usaha: UMKM konveksi harus memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan efisiensi operasional. Penggunaan platform e-commerce, media sosial, dan aplikasi desain dapat membantu UMKM beradaptasi dengan tren pasar yang berubah cepat dan menjangkau konsumen yang lebih luas.

Pelatihan dan Inovasi: Diperlukan peningkatan kapasitas pelaku UMKM dalam hal inovasi produk, pemasaran, dan manajemen. Pelatihan keterampilan digital, pengelolaan bisnis, serta inovasi dalam desain dan produksi dapat membantu UMKM menghadapi tantangan industri fashion yang kompetitif.

Kolaborasi dan Koperasi: UMKM konveksi bisa membentuk koperasi atau asosiasi untuk memperkuat posisi tawar dalam hal pembelian bahan baku, akses ke pasar, dan penentuan harga produk. Kolaborasi dengan desainer lokal dan mitra bisnis juga dapat membantu menciptakan produk yang lebih kompetitif.


Kesimpulan

Kondisi darurat yang dihadapi oleh UMKM konveksi saat ini merupakan tantangan besar yang membutuhkan intervensi dan dukungan dari berbagai pihak. Dengan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan pelaku usaha, serta melalui inovasi dan adaptasi teknologi, UMKM konveksi dapat bangkit dan memperkuat daya saing mereka di pasar domestik maupun global. Krisis ini juga memberikan pelajaran penting tentang perlunya diversifikasi usaha, inovasi produk, dan adopsi teknologi agar UMKM dapat lebih tangguh menghadapi masa depan.


Klaten, 3 Oktober 2024