Sabtu, 17 Juni 2023

ANAK POLAH BAPAK KEPRADAH

ANAK POLAH BAPAK KEPRADAH

Sudah lama Pak Bei tidak mendengar ungkapan Jawa anak polah bapak kepradah ini. Dulu di tahun 1970an, waktu di TVRI Yogyakarta masih ada siaran Kuncung & Bawuk, cerita-cerita kearifan dan tulada budaya Jawa masih bisa dinikmati anak-anak. Tapi anak-anak Jawa sekarang, seperti halnya anak-anak dari sub-kultur Indonesia lainnya, nyaris tidak kenal lagi budaya warisan nenek-moyangnya. Pak Bei bisa mengenal sedikit warisan Budaya Melayu zaman masih sekolah di SD. Salah satu materi pelajaran Bahasa Indonesia adalah menghafal peribahasa Melayu yang hingga saat ini beberapa masih hafal di luar kepala.

Untung Pak Bei punya sahabat Kang Narjo, loper koran senior yang lumayan punya budaya literasi yang bagus. Dia rajin membaca, minimal berita aktual, opini, atau tajuk rencana di koran yang diedarkannya setiap pagi. Dari kebiasannya membaca itulah maka Kang Narjo bila berbicara sering keluar kosa kata atau ungkapan-ungkapan yang kadang terdengar aneh dan langka, terutama yang dari khasanah budaya Jawa. 

Seperti malam ini, Kang Narjo datang bersama temannya yang ternyata seorang Kepala Desa. Biasa, Kang Narjo memang suka mengajak teman atau tetangganya ngobrol dengan Pak Bei. Dia ngajak 'konsultasi', apapun masalahnya. Sebenarnya Pak Bei paham, itu hanya cara Kang Narjo mencari legitimasi omongannya pada temannya. Dia butuh cara meyakinkan teman-temannya.

"Begini lho, Pak Bei, Pak Lurah Darto ini lagi pusing kapala. Makanya kuajak ke sini," kata Kang Narjo membuka obrolan.

"Ada apa, Pak Lurah?," tanya Pak Bei. "Njenengan ini kok mau-maunya diajak Kang Narjo ke sini," sambungnya.

"Saya butuh pencerahan, Pak Bei," jawab Pak Lurah Darto.

"Soal apa, Pak Lurah?"

Melihat Pak Lurah Darto tampak ragu-ragu mau menjawab, Kang Narjo langsung menyahut, "Pak Lurah ini lagi pusing, Pak Bei. Dia sudah 3 periode menjabat Kepala Desa, dan masa jabatannya akan berakhir besok September. Bulan depan akan Pilkades untuk memilih calon Kepala Desa berikutnya."

"Pak Lurah Darto tidak bisa nyalon lagi, ya?"

"Injih, Pak Bei. Saya sudah 3 periode. Harus ganti yang muda."

"Sudah nyiapkan jago, kan?"

"Ya itulah yang bikin saya pusing, Pak Bei," jawab Pak Lurah Darto.

"Kenapa pusing, Pak Lurah?"

"Gimana gak pusing, Pak Bei?
Anak saya ngotot pengin jadi Kepala Desa. Dia bilang, pokoknya harus menang di Pilkades bulan depan. Lha saya kan jadi sangat tidak enak, Pak Bei."

"Kenapa, Pak Lurah? Berarti anak Njenengan punya minat meneruskan estafet kepemimpinan bapaknya. Siap meregenerasi. Itu kan bagus?"

"Bagus bagaimana? Calonnya ada 3 orang, Pak Bei: Pak Sekdes, Pak Kadus, dan anak saya."

"Wah seru juga, ya."

"Saya tahu Pak Sekdes selama ini kinerjanya sangat bagus. Dia paham betul seluk-beluk manajemen pembangunan Desa. Sangat bisa saya andalkan. Orangnya juga jujur dan rajin beribadah."

"Pak Kadus bagaimana?"

"Sebenarnya dia juga bagus, tapi menurut saya kapasitasnya lebih pas untuk Kepala Dusun, bukan Kepala Desa. Tapi orangnya terkenal royal terutama pada pemuda-pemuda, nyah-nyoh, suka nyumbang kegiatan olah raga."

"Kalau anak Pak Lurah bagaimana?"

Lagi-lagi Pak Lurah tampak ragu menjawab.

"Itulah masalahnya, Pak Bei," sahut Kang Narjo. "Pak Lurah ini sadar anaknya masih terlalu muda dan belum cukup punya pengalaman bermasyarakat, tapi tiba-tiba pengin maju jadi calon Kepala Desa." 

"Anak saya ini kuliahnya saja berhenti di tengah jalan, Pak Bei, kena DO. Lalu kukasih modal buka usaha cafe di kota untuk nongkrong anak-anak muda, tapi juga belum tampak berkembang."

"Wah bagus itu, Pak Lurah. Usaha yang cukup prospektif. Jaman sekarang anak-anak  muda kota nongkrongnya di cafe. Minumnya cuma segelas kopi, tapi nongkrongnya bisa berjam-jam."

"Bagus apanya, Pak Bei. Belum kelihatan hasilnya."

"Namanya wirausaha ya memang harus telaten, Pak Lurah. Disupport saja."

"Tapi bukan itu masalahnya, Pak Bei."

"Apa, Pak Lurah?"

"Betul-betul ewuh-oyo ing pambudi. Serba gak enak jadinya. Antara Pak Sekdes dengan Pak Kadus saja saya sudah repot mau mendukung yang mana, lha ini malah ditambah anak saya sendiri."

"Ini yang namanya anak polah bapak kepradah ya, Pak Bei?," Kang Narjo menimpali. "Gara-gara anak punya keinginan, bapaknya jadi tambah pusing kepala. Tapi namanya anak sendiri, masa tidak didukung, tidak dibantu supaya menang dan terpilih jadi Kades penerus bapaknya? Kalau sampai anaknya kalah kan justru ngisin-isini, memalukan Pak Kades sendiri."

"Ya saya bisa merasakan, pasti Pak Kades sangat kesulitan menghadapi kenyataan ini."

"Benar, Pak Bei. Sangat sulit. Saya tahu anak saya ini nekad kalau sudah punya keinginan. Dia sudah bilang tidak mau kalah, pokoknya harus menang melawan Pak Sekdes dan Pak Kadus. Setiap malam tim suksesnya juga sudah kumpul-kumpul koordinasi di rumah kami. Ya mau tidak mau saya harus membantu juga, Pak Bei. Harus cawe-cawe. Kalau tidak, istriku pasti marah."

"Ya sudah, kalau begitu Pak Lurah total dukung anak sendiri saja."

"Wah tapi gak enak, Pak Bei."

"Begini lho, Pak Kades, kalau seandainya Pak Sekdes dan Pak Kadus kalah, kan masih tetap bisa jadi Sekdes dan Kadus. Tidak kehilangan jabatannya. Iya, kan?"

"Iya benar, Pak Bei."

"Lha kalau anak Pak Kades yang kalah, kira-kira apa yang akan terjadi?"

"Ya pasti anak saya, ibunya, dan keluarga besar saya akan marah, Pak Bei. Saya akan dianggap tega pada anak sendiri."

"Ya sudah. Jadi sudah jelas Pak Kades harus mendukung siapa, kan?"

"Wah terima kasih sekali, Pak Bei. Saya sudah betul-betul lega sekarang. Benar kata Kang Narjo. Kalau punya masalah yang terasa ruwet, datang saja ke Pak Bei, pasti akan ketemu solusi. Matur nuwun ya, Kang Narjo," kata Pak Kades Darto pada Kang Narjo. 

Pak Kades Darto pamit pulang dengan suasana lega di hatinya. Kang Narjo pun senyum-senyum puas, tampaknya merasa sudah  berhasil membantu Pak Kades mengurai masalah dan menemukan solusinya di nDalem Pak Bei.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#anakpolahbapakkepradah



 













Sabtu, 10 Juni 2023

MISKIN EKSTREM

MISKIN EKSTREM

"Katanya sensus, tapi kok ngawur ya, Pak Bei," kata Kang Narjo sambil melemparkan koran ke lantai seperti biasanya.

"Sensus apa, Kang?"

"Aku gak tahu sensus apa namanya, entah kapan waktunya, siapa petugasnya juga gak tahu. Kata Pak RT, keluargaku masuk di data Kelurahan sebagai keluarga miskin ekstrem," jawab Kang Narjo sambil mematikan mesin motornya.

"Kok bisa, Kang?"

"Lha ya itu yang aku tidak tahu."

"Tapi kan malah bersyukur to, Kang. Berarti Perangkat Desamu baik hati, pengertian."

"Pengertian bagaimana? Itu kan merendahkan. Pelecehan."

"Kang, di mana-mana terjadi orang yang cukup mampu, rumahnya bagus, punya sawah, punya sepeda motor 3-4 buah, tapi masih suka menerima Bansos, BLT, PKH, dan sebagainya. Bangga lagi.
Lha Kang Narjo ini gak usah minta-minta malah sudah dimasukkan jadi calon penerima bantuan khusus program percepatan penanggulangan kemiskinan ekstrem. Disyukuri aja, Kang."

"Pak Bei, miskin ekstrem itu kan artinya miskin banget, mlarat nemen. Masa aku termasuk kelompok fakir miskin yang harus disantuni negara. Ya enggaklah. Itu data ngawur. Malu aku sama Gusti Allah," kata Kang Narjo dengan ekspresi wajah serius.

Pak Bei jadi teringat obrolan dengan Pak Kades dua hari lalu, bahwa Desa kami termasuk satu di antara 923 Desa Miskin Ekstrem di Jawa Tengah. Aneh. Konon indikatornya hanya berdasarkan kasus stunting, kasus bayi dan anak-anak kerdil karena kurang gizi. Memang, di Desa kami masih ada 3 kasus stunting. Tapi cuma 3 kasus. "Kok data resmi di Kabupaten dan Provinsi bisa jadi 34 kasus? Ini aneh sekali, Pak Bei," kata Pak Kades.

"Wah itu pelecehan, Mas Lurah," kata Pak Bei. "Data dari mana itu? Seolah-olah Pemerintah Desa kita tidak bekerja, tidak bisa mensejahterakan rakyatnya." Pak Bei tampak serius menanggapai informasi dari Pak Kades. "Sebagai Ketua BPD, malu aku, Mas Lurah," sambungnya.

"Saya sebenarnya juga malu, Pak Bei. Tapi ini bukan hanya terjadi di Desa kita. Desa-Desa yang lain sama saja. Katanya itu data di BKKBN tahun 2019. Itu pun sebenarnya data ngawur. Kita tahu sendiri, tidak ada keluarga yang benar-benar miskin akut di Desa kita ini," kata Pak Kades.

"Lha terus bagaimana sikap kita, Mas Lurah?"

"Ya seperti teman-teman Kades lainnya, kita terima saja, Pak Bei."

"Loh, terima saja bagaimana?"

"Ya kan mau dapat bantuan lumayan besar, Pak Bei," jawab Pak Kades dengan senyum-senyum.

"Kalau datanya sudah ngawur gitu, nanti data penerimanya tentu juga ngawur kan, Mas Lurah?"

"Lha ya itu, Pak Bei. Di data 34 kasus stunting itu, bahkan ada beberapa manula yang dimasukkan. Bukan balita kok stunting. Lucu. Ngawur banget."

"Mas Lurah, jangan-jangan data miskin ekstrem itu memang sengaja digelembungkan, ya?"

"Buat apa, Pak Bei? Kan justru memalukan, Jawa Tengah disebut sebagai provinsi termiskin di Pulau Jawa. Kesannya Gubernur kita tidak bisa bekerja."

"Mas Lurah ini mikirnya kok lempeng, lho. Mbok agak sig-sag dikit. Syukur bisa melingkar, mubeng, biar agak jangkep perspektifnya."

"Maksud Pak Bai bagaimana?"

"Ingat, Mas Lurah, ini tahun politik. Sebentar lagi kita akan Pemilu dan Pilpres."

"Ya saya paham. Tapi data kemiskinan ekstrem ini kan merugikan Gubernur kita yang sedang gigih kampanye Capres?"

"Coba logikanya dibalik, Mas Lurah,"

"Dibalik bagaimana?"

"Dengan data miskin ekstrem yang banyak itu justru akan menguntungkan Gubernur kita."

"Kok bisa?"

"Akan ada alokasi APBN dan APBD yang sangat besar untuk percepatan penanggulangan kemiskinan ekstrem. Gubernur tentu akan mengerahkan semua Bupati, Camat, dan Kades untuk menyalurkan bantuan itu. Boleh jadi nanti sambil menyalurkan bantuan, Mas Lurah dan semua Kades harus manyampaikan pesan-pesan sponsor kepada para penerima bantuan."

"Kampanye, maksudnya?"

"Mas Lurah lihat saja nanti. Makanya kalau membaca peristiwa harus dari beberapa angel, sudut pandang. Apalagi membaca politik, jangan terlalu lugulah."

"Jadi menurut Pak Bei saya nanti harus bagaimana? Terima saja bantuan itu?," tanya Narjo.

"Yah kalau memang Kang Narjo sudah terdata, ya diterima saja bantuannya. Soal pilihan Caleg atau Capres, itu terserah nanti Kang Narjo di bilik suara. Yang penting yakin dengan pilihan Kang Narjo, yakin bahwa pilihanmu tidak salah."

"Ya sudah, Pak Bei. Saya lanjut bertugas dulu, ya."

Kang Narjo meninggalkan nDalem Pak Bei dengan lega, beda dengan Mas Lurah kemarin yang tampak masih agak gamang menghadapi tugasnya menjelang masa kampanye. Emang enak jadi Kades?

#serialpakbei
#wahyudinasution
#miskinekstrem














Senin, 05 Juni 2023

SIMBOK DAN TUKANG SURVEY

SIMBOK DAN TUKANG SURVEY 

"Le, kamu ini kenapa? Sudah sebulan gak pulang, pulang-pulang kok wajahmu murung begini? Jelek sekali. Ada apa?," tanya Yu Sum pada anaknya yang mahasiswa di Jogja itu tadi sore.

"Lagi sedih aku, Mbok," jawab Tono sambil membaringkan tubuhnya di lincak.

"Ada apa to, Le. Mbokya cerita sama simbok," bujuk Yu Sum sambil tangannya memijat kaki anak tunggalnya.

"Simbok pasti juga gak mudheng, gak akan paham masalahku."

"Ya gak papa, Le. Yang penting kamu bisa ngudari masalahmu biar tidak sumpeg hatimu. Soal simbok gak mudheng, ya dimaklumi saja, mbokmu ini memang wong bodo, dulu cuma sekolah sampe SMP terus dirabi bapakmu," kenang Yu Sum. 

"Begini lho, Mbok. Sudah 3 minggu ini aku nyambi kerja, ikut jadi surveyor di sebuah lembaga survey."

"Wah, ternyata anakku sudah nyambi kerja to? Makanya kok tidak pulang minta sangu. Sudah punya duit sendiri, to. Alhamdulillaah..." 

"Duit tidak seberapa, Mbok, tapi hatiku jadi merasa sangat berdosa."

"Lah kenapa, Le? Kamu kan tidak mencuri, bukan mencopet, bukan menipu orang?"

"Ya itu masalahnya, Mbok."

"Piye, Le?"

"Pekerjaanku ini survey politik, menggiring orang supaya bersimpati pada calon presiden agar menang di Pilpres 2024 nanti."

"Ya itu kan bagus. Berarti anak simbok ini termasuk cah pinter, bisa kerja untuk memenangkan calon presiden. Pasti tidak sembarang mahasiswa bisa, kan?"

"Ya justru itu aku jadi sedih, Mbok."

"Dijalani saja dengan baik, Le. Gak usah sedih begitu."

"Wah Simbok ini memang gak mudheng tenan, kok."

"Loh asal kerjamu jujur kan beres to, Le."

"Ya itu masalahnya, Mbok."

"Piye?"

"Setelah kupikir-pikir dan kurasakan, pekerjaanku ini termasuk membohongi rakyat, Mbok."

"Kok bisa, Le?"

"Kami seolah membuat survey di masyarakat, padahal sesungguhnya kami hanya utak-atik angka di laptop. Mengarang angka-angka. Bikin simulasi."

"Simulasi ki opo to, Le?"

"Ngotak-atik angka biar seperti data sungguhan, Mbok. Pokoknya bagaimana caranya kami buat angka-angka supaya calon yang memberi pekerjaan kami ini nilainya tinggi dan bakal menang di Pilpres nanti. Itu kami umumkan di media setiap bulan biar dibaca orang, Mbok. Biar pembaca terpengaruh dan ikut memilih calon kita."

"Itu kan namanya ikhtiar, Le. Semua calon pasti ikhtiar dengan sungguh-sungguh kalau mau menang. Kamu juga ikhtiar membantu simbok mencari uang sendiri untuk biaya kuliah."

"Lha iya, Mbok. Tapi ini kan ngapusi rakyat, membohongi rakyat. Dan saya termasuk pelaku yang membantu orang ngapusi itu," kata Tono sambil bangkit dari lincak, duduk memelas menatap wajah Yu Sum yang sumeleh.

"Yho wis terserah kamu, Le. Kalau kerja tapi hatimu jadi gundah begitu, mending gak usah kerja. Cepat selesaikan saja dulu kuliahmu, terus cari pekerjaan yang bagus dan sesuai hati nuranimu."


#serialpakbei
#wahyudinasution
#fragmen
#simbokdantukangsurvey






Minggu, 04 Juni 2023

FENOMENA KRISTEN-MUHAMMADIYAH

FENOMENA KRISTEN -MUHAMMADIYAH
Banyak orang bertanya tentang istilah Kristen-Muhammadiyah. Apa itu maksudnya? Apakah telah terjadi percampuran akidah pada orang-orang Muhammadiyah dengan iman Kristen? Dan sebagainya.

Begini lho, Nda...(boleh sambil ngopi).
Islam itu rahmatal-lil'aalamiin, rahmat untuk seluruh alam. Rahmat Allah itu untuk seluruh alam dan semua makhluknya, tanpa membedakan dia beriman atau tidak. Semua dikasih rejeki dalam segala bentuknya, dari organ tubuh (dan segala detail fungsinya), udara, air, hingga semua anugerahnya. Semua berhak menikmati Rahmat Allah SWT.

Demikian juga Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah, melayani siapa saja tanpa membedakan suku, agama, ras, budaya, dan golongan/ormas/orpol. Dakwah Muhammadiyah bersifat inklusif, terbuka, dan melayani siapa saja. 

Orang sakit yang datang berobat ke PKU Muhammadiyah tidak pernah ditanya agamanya apa, ormasnya apa, dst. Semua dilayani dengan sama baiknya.

Jangan heran bila 79% mahasiwa UM Kupang beragama Nasrani, ada yang pendeta, banyak pula biarawati. 80% mahasiswa UNIMUDA Sorong Papua warga asli Papua dan Nasrani. Walikota Jayapura di berbagai kesempatan mengakui bangga sebagai alumni SMP Muhammadiyah. "Berkat Muhammadiyah, saya bisa sekolah dan sekarang bisa jadi Walikota," begitu katanya.
Kelompok Tani dampingan MPM PP Muhammadiyah di Berau Kaltim 99% etnis Dayak dan Nasrani. 60% mahasiswa UM Malang berlatar-belakang ormas Nahdhiyin/NU. Dan sebagainya. Itu semua tidak ada masalah. Muhammadiyah for All.

Karena prinsip dakwah inilah, maka banyak sekali orang Nasrani yang pernah mengalami persentuhan dan pergaulan dengan Muhammadiyah, di sekolah-sekolah dan kampus-kampus PTM-PTA, namun mereka tetap teguh pada iman Kristennya. Mereka tetap taat pada ajaran Kristen, tapi juga bersimpati pada gerakan Muhammadiyah. Kenapa bisa begitu? Karena di sekolah-sekolah dan PTM-PTA juga disedikan guru atau dosen agama Kristen untuk mengajar murid/mahasiswa Kristen. 

Fenomena sosiologis itu (Kristen-Muhammadiyah) terjadi di berbagai wilayah/daerah, terutama di Indonesia Timur. Indah bukan?
Jangan khawatir soal akidah, Insya Allah kader-kader Muhammadiyah sudah cukup dewasa dan matang. 

#pakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah

Jumat, 02 Juni 2023

PENDUSTA PANCASILA

PENDUSTA PANCASILA

Entah dapat wangsit dari mana, tiba-tiba kemarin muncul keinginan Pak Bei untuk sholat  Jumat di mesjid kampung Kang Narjo. Memang sudah lama Pak Bei tidak nyambangi ke sana, sejak sekitar sepuluh tahun lalu. Waktu itu Pak Bei diminta Kang Narjo bantu menyambut kehadiran rombongan Syech Ayyub, donatur dari Arab Saudi, yang hadir meresmikan masjid dan menandatangani prasasti. Seluruh warga kampung Kang Narjo pun tumplek-blek menghadiri acara peresmian masjid yang megah itu. Semua hadirin tampak antusias dan bergembira. Maklum saja, impian mereka punya masjid sendiri di kampungnya bisa akhirnya benar-benar terwujud. Itu pun berkat bantuan dana dari seorang dermawan, Syech Ayyub dari Arab Saudi, melalui perantara sebuah yayasan dari Surabaya yang kebetulan Pak Bei kenal direkturnya.

Jumatan kemarin benar-benar mengesankan. Pak Bei tiba di Mesjid Al-Ayyub beberapa menit sebelum manjing dhuhur, sebelum khatib naik mimbar. Karena shaf-sfaf di ruang dalam sudah penuh jamaah, maka Pak Bei memilih tempat di serambi, di dekat pintu masuk. Beberapa saat setelah Pak Bei shalat tahiyyatul-masjid,  khatib pun naik mimbar dan mengucap salam. Lalu, seorang laki-laki paroh baya berdiri mengumandangkan  adzan. Muadzin kampung, dimaklumi saja. Jangan dibandingkan dengan muadzin di Masjid Al-Aqsha Klaten yang bagus itu, atau muadzin di tivi-tivi yang rekaman suaranya selalu diputar setiap waktu maghrib tiba.

Khatib memulai khotbahnya.  Muqadimah-nya standar, mengajak seluruh jamaah memperbanyak syukur, menyampaikan shalawat dan salam kepada Baginda Nabi SAW, serta mengajak jamaah selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Mendengar suara khatib, Pak Bei yakin itu suara Kang Narjo, sahabat yang setiap pagi datang mengantar koran dan sering curhat berbagai hal. 
"Weeh...ternyata Kang Narjo khatibnya," kata Pak Bei dalam hati. Pak Bei baru tahu Kang Narjo bisa khotbah.

"Jamaah rahimakumullah, " kata khatib,  "Allah SWT mengajukan pertanyaan kepada kita dalam Al-Quran surah Al-Ma'un yang tentu sudah kita hafal," khatib mulai masuk ke tema khotbahnya dengan mambaca surah Al-Ma'un dan menterjemahkannya. "Tahukah kalian orang yang mendustakan agama?" 

"Jamaah rahimakumullah, surah itu diawali dengan pertanyaan retorik, pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban kita. Allah SWT sendiri yang kemudian menjawab dengan dua ayat berikutnya, "Yaitu orang-orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang-orang miskin."

" Jamaah rahimakumullah,  ada dua ciri pendusta agama. Yang pertama, menghardik anak yatim, menyia-nyiakan anak yatim, manggangu anak-anak yang tidak mempunyai ayah atau ibu, atau tidak mempunyai keduanya. Yang kedua, tidak menganjurkan agar memberi makan orang-orang miskin. Pada ayat berikutnya, para pendusta agama ini diancam oleh Allah SWT dengan neraka Wail. Meski kita rajin shalat, mengaji, bahkan mungkin sudah Haji dan Umrah berkali-kali, tapi kalau amaliah kita mengandung ciri pendusta agama, maka neraka Wail tempat kita di akhirat nanti. Itu karena shalat dan seluruh ibadah kita hanya riya', bukan ikhlas semata-mata untuk Allah SWT, lillaahita'ala."

"Bagus juga tema khotbah Kang Narjo ini," kata Pak Bei dalam hati.

"Jamaah rahimakumullah, itu tadi dalam konteks kita beragama dan beribadah kepada Allah SWT. Semoga kita bukan termasuk ke dalam golongan pendusta agama," khotib tampak berusaha membesarkan hati jamaah.

"Lalu, bagaimana dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara? Adakah istilah pendusta negara?" khotib memperlebar pembahasan.  
"Dalam konteks ini, tentu tolok ukur kita adalah Pancasila, konsesus dasar negara dan pedoman hidup bangsa di Negara Kesatuan Republik Indonesia," lanjut khatib Narjo dengan mantap. 

"Bila kita belajar dari Q.S. Al-Ma'un, tentu kita pun pantas bertanya, siapakah yang termasuk pendusta bangsa dan negara? Jawabannya gampang. Yaitu orang-orang yang mendustakan Pencasila, merongrong Pancasila, mengkhianati Pancasila. Dialah yang membahayakan NKRI, mengancam sendi-sendi kehidupan di NKRI. Siapakah mereka itu, Jamaah sekalian?," khatib memandangi wajah-wajah Jamaah. Sebagian jamaah menundukkan wajah, sebagian lainnya memandang khatib, menunggu uraian selanjutnya .  

Terasa mak-deg hati Pak Bei mendengar khatib mulai masuk ke wilayah politik, khawatir sahabatnya itu kepleset lidah. Jaman sekarang, orang keliru ngomong sedikit saja bisa bahaya, bisa jadi bumerang, bisa jadi bancakan netizen di medsos, jadi mudharat dampaknya. Pak Bei menahan nafas sambil tetap berusaha tenang mengikuti khotbah dengan seksama. "Husnudhon saja, tentu khatib berniat baik," Pak Bei berdoa dalam hati.

"Sebagaimana sindiran Allah SWT tadi, bahwa ternyata ada orang yang sholatnya hanya riya', alias pamer. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini pun ternyata sama saja adanya. Banyak orang, pejabat, birokrat, politisi, penegak hukum, dan aparatur negara yang bicaranya seolah paling Pancasilais, paling pro-kebhinekaan, dan paling cinta NKRI. Tetapi kita saksikan setiap hari, betapa perilaku mereka kadang sangat jauh dari nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila," pidato khatib terdengar layaknya seorang jurkam menjelang Pemilu.

"Kita rasakan betapa banyak kebijakan Pemerintah yang justru berpotensi merugikan rakyat. Kita saksikan betapa setiap hari ada saja pejabat, politisi, dan penegak hukum menjadi pesakitan karena korupsi uang rakyat bertrilyun-trilyun. Kita saksikan betapa banyak keluarga pejabat tinggi memamerkan hidupnya yang bermewah-mewah, hedonis, dan itu jelas melukai rasa keadilan rakyat yang nasibnya kurang beruntung. Kita juga mendengar betapa hutang luar negeri kita semakin menggunung, dan itu berarti anak, cucu, dan cicit kita yang kelak harus membayarnya."

Semua wajah jamaah memandang wajah khatib. Tampak satu-dua mengangguk-angguk tanda setuju. Sebagian lainnya tampak tidak berkedip, mencoba merasakan, beepikir, berusaha memahami isi khotbah Kang Narjo.

"Jamaah yang dimuliakan Allah SWT," khotib melanjutkan khotbahnya, "Kalau kita mau jujur, semua perilaku dan kejadian itu jelas bertentangan dengan Pancasila, dari sila 1 hingga 5. Bila sila Ketuhanan Yang Maha Esa sudah dilanggar, tentu dilanggar pula sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Orang menjadi tidak adil hati dan pikirannya, dan tidak beradab perilakunya. Bila sila 1 dan 2 dilanggar, maka jelas mengancam sila ke-3, mengancam Persatuan Indonesia. Bila sila 1 sampai 3 sudah dilanggar, maka pasti Permusyawaratan yang terjadi di Gedung Dewan dan Lembaga Tinggi Negara bukan lagi dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan. Maka, cita-cita kemerdekaan RI, yakni Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, tidak bisa terwujud. Itulah Pendusta Pancasila. Itulah Pengkhianat Negara yang sesungguhnya."

Pak Bei tidak menyangka seberani itu Kang Narjo memilih tema khotbahnya. Bagi jamaah yang beku hatinya, itu bisa dianggap memprovokasi jamaah. Bagi yang lembut hatinya, itu khotbah yang bagus dan penting untuk mengubah mindset dan perilaku jamaah. Sayangnya khotbah itu hanya disampaikan oleh khatib kampung dan di mesjid kampungnya sendiri, bukan di masjid Istiqlal, Al-Azhar, atau masjid di kompleks DPR dan Kementerian di ibukota sana.

"Tapi bolehlah pilihan tema khotbah Kang Narjo, kontekstual dengan suasana peringatan Hari Lahir Pancasila," Pak Bei diam-diam salut dan terkesan dengan sahabatnya.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#pendustapancasila



 




Sabtu, 20 Mei 2023

ORONG-ORONG BERBUNYI

ORONG-ORONG BERBUNYI

"Pak Bei ingat gak cerita seputar pembangunan Masjid Demak jaman Walisanga dulu?," tanya Narjo tadi pagi sambil nglesot duduk di lantai. 

Pak Bei sudah hafal, sahabatnya itu pasti ingin ngajak ngobrol sambil istirahat sebentar. Maklum saja, sebagai loper koran, Narjo sudah keluar rumah sejak bakda shubuh setiap hari mengambil koran ke agen di kota Klaten lalu mengantar ke rumah pelanggannya satu-persatu. Sampai di nDalem Pak Bei sekitar jam 07.00, kadang sudah tampak capek, butuh istirahat, butuh minum kopi atau teh nasgithel. Pak Bei paham itu.

"Cerita soal apa tadi, Kang?," tanya Pak Bei sambil menyugukan segelas kopi robusta Semendo.

"Itu lho, Pak Bei, satu kejadian ketika para Wali dan umat Islam di Demak Bintoro sedang kerja bakti membangun masjid. Waktu itu Sunan Kalijaga sedang mengerjakan salah satu saka, tiang utama dari kayu jati, dengan menggunakan kapaknya. Betapa terkejut Kanjeng Sunan, ternyata pukulan kapaknya mengenai seekor orong-orong, binatang kecil yang biasa hidup di comberan dan berbunyi nyaring setelah turun hujan. Kepala orong-orong itu terputus dari tubuhnya."

"Ooh itu? Iya, aku ingat, Kang."

"Terus Kanjeng Sunan berupaya menyelamatkan orong-orong itu. Tubuh dan kepalanya disambungnya kembali dengan lidi dari tatal kayu jati."

"Iya betul, Kang. Memang begitu ceritanya. Kepala dan badannya disambung pakai kayu jati."

"Sebenarnya cerita itu cuma perlambang lho, Pak Bei. Bukan kejadian sungguhan. Jadi jangan dipahami mentah-mentah."

"Ada maknanya, maksudmu?"

"Ya jelas, Pak Bei. Itu ilmu hikmah. Perlu pemaknaan."

"Kira-kira apa maknanya, Kang?"

"Kanjeng Sunan mengajari kita bahwa antara kepala dengan badan itu harus tersambung dengan kayu jati."

"Wah jero iki. Terus, Kang..."

"Isi kepala, pikiran, dan omongan kita harus jumbuh, harus sesuai dengan isi hati, juga harus sesuai dengan tindakan, perilaku, amal perbuatan. Tidak boleh jarkoni, isoh ujar ning ora isoh nglakoni,  bisa berujar,  suka ngomong berbusa-busa tapi tidak bisa mengamalkan, suka berjanji tapi tidak bisa menepati, tidak bisa membuktikan apa yang diomongkan. Alias berbohong. Dan, sambungannya pun harus pakai kayu jati, bukan sembarang kayu."

"Artinya apa, Kang?"

"Artinya, keselarasan antara pikiran dan omongan dengan hati itu bisa terjadi bila ada kesadaran kesejatian dan akal sehat. Bukan dituntun nafsu,  ambisi, atau gengsi.

"Sebentar, Kang, ada apa kok tiba-tiba Kang Narjo ngomong soal ajaran kesejatian Kanjeng Sunan Kalijaga? Mimpi apa tadi malam?"

"Hehehe...ini bukan soal mimpi, Pak Bei."

"Terus....?"

"Saya prihatin saja."

"Soal apa?"

"Ini kan tahun politik. Orang-orang politik sudah gayeng kampanye untuk Pemilu dan Pilpres 2024."

"Lalu apa masalahnya?"

"Pak Bei perhatikan saja, semua Tim Sukses dan Tim Hore-hore  sudah mulai jualan janji-janji."

"Namanya kampanye kan memang jualan janji to, Kang?"

"Makanya itu, Pak Bei..."

"Apa?"

"Rakyat selalu kecelik, kecewa karena terbuai janji-janji."

"Kok gitu?"

"Walah Pak Bei ini mbok jangan gampang lupa, to. Banyak janji-janji waktu kampanye, tapi mana yang sudah terbukti setelah dia berkuasa? Janji tidak nambah utang Luar Negeri? Janji mau mensejahterakan petani? Janji mau merampas uang koruptor yang ribuan trilyun? Janji tidak ada rangkap jabatan? Semua tidak terbukti, Pak Bei."

"Pemerintah kan punya skala prioritas, Kang."

"Seharusnya yang jadi prioritas ya yang sudah dijanjikan waktu kampanye, Pak Bei. Biar rakyat tidak kepusan, tidak merasa tertipu."

"Kang, hati-hati lho ngomong seperti ini. Kamu bisa dianggap menyebar kebencian dan menebar kabar bohong, kabar hoax, lho."

"Walah, Pak Bei. Aku ngomong ini kan cuma dengan Pak Bei. Cuma ngudarasa, ngomong dari hati ke hati. Aku ini juga rakyat yang punya hak bicara, hak memilih, dan hak dipilih. Hak dipilih tidak pernah kugunakan. Hak memilih kugunakan dengan baik setiap Pemilu, Pilpres, Pilgub, Pilbup, dan Pilkades. Hak bicara? Apa rakyat ini harus mingkem diam saja meskipun merasa teraniaya?"

"Memang Kang Narjo merasa teraniaya?"

"Aku ini juga manusia, Pak Bei. Punya hati dan punya pikiran. Tidak bisa pura-pura senang sedangkan hati terasa miris melihat keadaan, melihat ketimpangan, melihat ketidakadilan. Ya sekali-kali butuh curhatlah. Dan aku suka curhat di sini, ke Pak Bei. Ya mohon maaf kalau Pak Bei kurang berkenan."

"Bukannya kurang berkenan, Kang. Aku paham kok kegelisahanmu. Itu sama dengan kegelisahan banyak orang yang sering kudengar. Cuma aku mengingatkanmu agar hati-hati kalau ngomong politik. Harus empan-papan, lihat-lihat tempat dan situasi."

"Ya sudah, Pak Bei. Aku mau lanjut kerja. Makasih ya kopinya."

"Oke, Kang. Jaga kesehatan, ya."

Narjo si loper koran senior itu meninggalkan nDalem Pak Bei dengan Supra-X tuanya, dengan koran-koran yang masih setumpuk dibawanya, dan entah masih ada kegelisahan apalagi di hatinya. Ada saatnya orong-orong memang harus berbunyi nyaring agar orang tahu ada kehidupan di tanah becek di kala musim hujan dan di comberan di persawahan.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#orong-orong
#220523
 












TELAH LAHIR: JATAM KLATEN

TELAH LAHIR: JATAM KLATEN

Setelah melalui proses dua kali  pertemuan, para petani dan pegiat pertanian di Kabupaten Klaten secara aklamasi telah menyepakati terbentuknya Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Kab. Klaten. Acara pertemuan di nDalem Pak Bei Kwaon, Jemawan, Jatinom itu berlangsung pada Kamis, 19 Mei 2023 dari pukul 20.00 hingga 01.00 dini hari, dihadiri oleh 15 orang dari berbagai kecamatan, di antaranya Jatinom, Karanganom, Wonosari, Pedan, Cawas, Ceper, Gantiwarno, Klaten Utara, dan Klaten Selatan.

Dalam sambutan dan pengantar diskusinya, Wahyudi Nasution selaku inisiator dan wakil dari Pengurus Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjelaskan bahwa JATAM adalah wadah pengorganisasian petani yang dibangun secara resmi oleh MPM PP Muhammadiyah. Dijelaskannya bahwa sesungguhnya JATAM telah dideklarasikan sejak 18 Maret 2018 di markas Gapoktan Gempol, Karanganom, Klaten, dalam satu rangkaian acara Rakornas MPM periode ke-47 di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Deklarasi Jatam itu juga dihadiri oleh utusan MPM PWM seluruh Indonesia.
Namun, belum sempat MPM PP menggerakkan Jatam secara masif ke setiap wilayah dan daerah, negeri kita dilanda pandemi covid-19 hingga melumpuhkan hampir seluruh kegiatan pemerintahan dan kemasyarakatan, tak terkecuali kegiatan MPM.

Alhamdulillah pandemi telah berlalu, Muhammadiyah pun telah berhasil melaksanakan Muktamar ke-48 di Solo dengan sukses pada November 2022 setelah tertunda selama 2 tahun dari jadwal. Pengurus MPM periode Muktamar ke-48 saat ini kembali melihat betapa penting melakukan revitalisasi Jatam guna merespon amanat tanfidz Muktamar ke-48 tentang gerakan pembebasan dhuafa dan mustadh'afin, kaum lemah dan dilemahkan. 

"Kita tahu, selama ini perserikatan petani hanya di tingkat Kelompok Tani yang terdiri dari 30-40 orang. Lalu, 3-4 Kelompok Tani tergabung dalam satu Gapoktan di tingkat Desa. Perserikatan yang hanya beranggotakan sekitar 200 orang itu tentu tidak memiliki kekuatan apa-apa menghadapi ganasnya pasar bebas. Itulah makanya para petani perlu kita ajak berjamaah dalam skala besar, skala Nasional, agar punya posisi tawar yang kuat, bukan hanya terhadap pabrik benih, pupuk, obat-obatan, dan pelaku pasar, tapi juga terhadap pengambil kebijakan. Jatam inilah wadah terbaik yang MPM tawarkan," kata Wahyudi dengan semangat.

Banyak tanggapan yang mengemuka atas ajakan Wahyudi. Zubaidi, petani padi organik dan aktivis Komunitas Rise-Mill Klaten menyampaikan betapa posisi petani memang sangat lemah dan dilemahkan. Di on-farm, petani selalu dihadapkan pada masalah kelangkaan pupuk dan hama yang datang silih-berganti. 

"Cerita tentang kelangkaan pupuk subsidi sudah biasa kita dengar sehari-hari. Di off-farm pun lebih ngeri lagi. Harga jual hasil panen selalu dibatasi sehingga petani tidak bisa untung," kata Zubaidi.  "Para pelaku usaha rise-mill di desa-desa lebih gawat lagi. Saat ini kita  menghadapi ancaman serius munculnya pabrik-pabrik beras skala besar milik para oligarki dengan kapasitas serapan 100 truk alias 1.000 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hari. Cepat atau lambat, usaha-usaha rise-mill skala kecil milik rakyat akan gulung tikar karena tidak kebagian pekerjaan. Jadi, saya setuju sekali bila ada kepedulian dari Muhammadiyah melalui Jatam ini," lanjut Zubaidi.

Akbar Mahali, pelaku dan penggerak usaha ternak kambing bridding dan susu di Wonosari, mengemukakan betapa sektor peternakan juga sangat memprihatinkan. Peternak unggas sangat tergantung permainan pabrik-pabrik DOC, pakan, dan obat-obatan. Pabrik-pabrik itu juga punya kandang skala besar sehingga mereka bisa mengatur harga telor dan daging di pasaran. Peternak sapi juga sulit berkembang karena para pemilik modal lebih memilih impor sapi dari Australia dan New Zeland untuk menuhi kebutuhan daging di pasaran.

"Belum lagi soal virus PMK dan Lato-Lato yang terbaru. Pemerintah sangat terlambat mengantisipasi," kata Akbar. "Kalau mau aman, petani anggota Jatam nanti mending kita ajak beralih ke ternak kambing atau domba. Terserah mau kambing susu atau pedaging. Itu lebih aman. Kebutuhan pasar pun sangat tinggi sehingga harganya relatif bagus," Akbar menambahkan.

Kabul Subahid, mantan aktivis HKTI Klaten yang sekarang aktif mengembangkan budidaya atsiri dan hortikultura di berbagai daerah, menyambut baik bila dibentuk Jatam Klaten. "Dengan kekuatan jaringan organisasi yang rapi dan amal usaha yang luar biasa banyaknya, Muhammadiyah pasti bisa menolong nasib petani," kata Kabul optimis.

Yuwono Haris, alumni Teknik Geodesi UGM yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Kecamatan Gantiwarno, menyambut gembira atas undangan yang diterimanya. 

"Dulu saya yang memprovokasi Pak Nusanto dan kawan-kawan agar melakukan pemuliaan varietas Rojolele. Kita gandeng BATAN untuk itu. Dengan teknologi nuklir, varietas khas Klaten ini bisa kita perpendek usia tanamnya, dari 155 hari menjadi 108 hari, dengan rasa dan wanginya tetap sama," Haris mengenang sejarah 10 tahun lalu. "Jadi, saya sangat mendukung bila Muhammadiyah, persyarikatan yang usianya lebih tua dari Indonesia, sebagai organisasi yang kaya SDM dan amal usaha ini, mengajak para petani untuk bersama-sama berjamaah di Jatam dan berjuang mencapai kesejahteraan bersama," imbuh Haris.

Penanggap yang lain menyampaikan hal yang kurang-lebih sama. Semua mendukung gerakan berjamaah melalui Jatam. Giliran terakhir Nusanto Herlambang, peneliti pemuliaan varietas Rojolele dari Gempol Karanganom yang sejak 2018 telah bekerjasama dengan Lazismu Pusat, MEK PDM Klaten, dan MPM PP dalam program Tani Bangkit,  mengingatkan bahwa bekerjasama di Muhammadiyah ini sangat menyenangkan. 

"Anggota Kelompok Tani kami heterogen. Banyak anggota kami yang warga Muhammadiyah, tapi juga ada yang NU, ada LDII, ada MTA, bahkan ada Nasrani, dan ada juga yang masih Abangan. Tidak masalah," kata Nusanto. "Semua kita layani dengan sama baiknya. Tidak kita beda-bedakan. Islam dan Muhammadiyah itu rahmatan-lil'alamin, menjadi rahmat untuk semua orang, untuk seluruh alam,"  imbuh Nusanto seperti sedang tausiah.

Sebelum mengakhiri pertemuan, Wahyudi membacakan naskah Piagam Pembentukan Jatam Klaten.

"Ini dokumen penting dan bersejarah," kata Wahyudi setelah membacakan naskah. Lalu, semua yang hadir diminta membubuhkan tanda tangan dan nama terang, satu persatu.
 "Tugas kita selanjutnya mengabarkan dan mengajak teman2 petani di Klaten untuk bergabung di Jatam. Teman-Teman siap?," tanya Wahyudi.

"Siapp....," jawab hadirin kompak.

Acara pun ditutup secara resmi tepat pukul 00.00 WIB. Dan seperti biasa, usai acara ditutup masih dilanjutkan ngobrol santai ngalor-ngidul sambil menikmati kopi dan klethikan hingga pukul 01.00 WIB.

#serialpakbei
#mpmppmuhammadiyah
#telahlahirjatamklaten