Senin, 24 Juli 2023

MERDEKA...!!! BELUM....

MERDEKA...!!! BELUM....

"Sebentar lagi masuk bulan Agustus, Pak Bei," kata Kang Narjo setelah melemparkan koran ke lantai. 

"Iya, Kang. Seminggu lagi bulan Agustus," jawab Pak Bei sambil melepas kacarmata bacanya.

Melihat respon Pak Bei, Kang Narjo segera matikan motornya, lalu naik ke teras dan ikut duduk di kursi depan  Pak Bei. Pak Bei pun  hafal, itu tandanya Kang Narjo butuh istirahat, pengin ngopi dan ngobrol. Maka segera diorderkannya ke Cahya segelas kopi nDoro Bei, kopi robusta asli dari Semendo yang bikin banyak teman Pak Bei ketagihan.

"Kulihat sudah banyak panitia 17-an heboh, kerja bakti ramai-ramai, bikin  publikasi, dan nyiapkan perlombaan. Tampaknya peringatan 17-an tahun ini akan lebih meriah, Pak Bei."

"Ya wajarlah, Kang. Kebetulan pas tahun politik, banyak orang berusaha mencari simpati rakyat, ringan tangan ikut nyumbang dana panitia 17-an. Bagus itu."

"Kok bagus, Pak Bei? Bukannya malah akan bikin masyarakat terpecah-belah?"

Cahya keluar menyuguhkan segelas kopi untuk sahabat ayahnya. "Silakan diminum, Pakdhe Narjo," katanya.

"Iya, Mas. Pakdhe ini memang sudah kangen kopi buatanmu. Matur nuwun ya, Le."

"Kang, tentu rakyat sudah semakin dewasa dan tidak gampang diadu-domba lagi. Rakyat tentu sudah capek diadu-domba terus setiap pemilu, pilpres, pilgub, pilkada, dan pilkades." 

"Iya, Pak Bei. Semoga begitu."

"Kemerdekaan perlu dirayakan dan disyukuri, perlu terus diperingati guna memupuk nasionalisme generasi muda, anak-anak kita."

"Iya bener."

"Dan itu perlu biaya yang tidak sedikit, Kang. Maka biarlah para politisi dan caleg berlomba jadi sponsor."

"Tapi sudah terlanjur salah kaprah kok, Pak Bei."

"Maksudnya?"

"Tradisi peringatan kemerdekaan kita di mana-mana cuma ajang bersenang-senang. Guyonan. Tidak ada yang sungguh-sungguh. Aneka pertandingan olar raga dan permainan digelar hanya sekedar guyonan, bukan benar-benar olah raga untuk prestasi, misalnya. Juga tidak ada agenda memupuk nasionalisme agar generasi muda siap menjadi bangsa yang bermartabat. Ada juga sih malam tirakatan digelar, tapi ya cuma untuk pembagian hadiah lomba dolanan anak-anak, lalu orang-orang dewasa lanjut ngobrol atau main gaple sampai pagi."

"Mestinya bagaimana, Kang?"

"Mbokya masyarakat diajak mikir, merenungi keadaannya, nasibnya, apa benar kita ini sudah merdeka? Lha yang di atas saja malah memberi contoh tidak baik, kok."

"Yang mana, Kang?"

"Pak Bei pasti masih ingat peringatan 17 Agustus di Istana Negera tahun lalu."

"Yang mana?"

"Itu lho, upacara bendera yang diakhiri dengan penampilan penyanyi anak-anak menyanyikan lagu dangdut koplo, jenis musik dan lagu yang tidak pas untuk anak seusianya. Tapi semua pejabat tinggi negara malah ikut jogetan. Sungguh memalukan, Pak Bei."

"Bukannya malah bagus, Kang? Istana Negara jadi terkesan merakyat. Tidak sangar gitu loh."

"Saya malah kasihan perkembangan anak itu."

"Kenapa kasihan? Kan mendadak jadi artis terkenal, lalu dapat undangan pentas di mana-mana, dapat banyak duit."

"Mungkin secara materi keluarganya jadi mentereng, jadi kaya-raya. Tapi siapa yang tahu pertumbuhan kejiwaan anak itu sekarang? Inilah yang kumaksud kita ini salah kaprah memperingati kemerdekaan."

"Biasa sajah, Kang."

"Rakyat dininabobokkan dengan Bansos, PKH, BLT, dan amplop sogokan politik yang bertebaran setiap menjelang pemilu. Rakyat pun bangga mengaku miskin demi mendapatkan Bansos dan sebagainya itu. Padahal itu semua duit utangan, Pak Bai, Hutang Luar Negeri."

"Begitu ya, Kang?"

"Sebagian kecil dibagikan ke rakyat miskin agar tenang dan tidak protes. Padahal, sebagian besar untuk membiayai proyek-proyek raksasa milik mereka sendiri. Sebagiannya lagi dibagi-bagi untuk memuluskan dan mengamankan proyek. Rakyat dan anak turun kita yang harus di menanggung hutang itu, Pak Bei. Kayak gitu kok bisa-bisanya teriak Merdeka. Memangnya kita sudah merdeka?"

"Kemerdekaan kan perlu proses, Kang. Tidak datang tiba-tiba dari langit. Kemerdekaan bukan hadiah, tapi harus direbut dan diperjuangkan."

"Lah itu, Pak Bei. Ittuuh...."

"Ittuuh apanya?"

"Kemerdekaan harus direbut dan diperjuangkan. Saya setuju itu."

"Ya terus...."

"Rakyat harus disadarkan, Pak Bei. Rakyat ini masih terjajah, bahkan dijajah oleh bangsanya sendiri. Kita ini belum merdeka. Di sektor pangan saja belum berdaulat kok teriak merdeka."

"Belum berdaulat bagaimana to, Kang? Pangan kita kan hasil jerih payah petani kita sendiri?"

"Woalah Pak Bei, Pak Bei. Mbok nyebut. Eling. Kalau perlu kapan-kapan saya jelaskan agar lebih gamblang."

"Jigur tenan Kang Narjo," kata Pak Bei dalam hati. "Sudah dilayani ngobrol baik-baik kok malah ngece. Seolah aku ini goblok pol. Kesambet apa orang ini tadi?"

"Ya sudahlah, Pak Bei. Silakan merenung. Saya mau melanjutkan tugas negara dulu, mengantar berita baik, bukan kabar Hoax. Wassalam....," kata Kang Narjo sambil meninggalkan Pak Bei yang masih dheleg-dheleg kena teror omongannya.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#merdeka...!belum....



Sabtu, 08 Juli 2023

RUMPUT TETANGGA LEBIH HIJAU

RUMPUT TETANGGA LEBIH HIJAU

Namanya cukup singkat, Prawoto. Orang-orang biasa memanggilnya Woto, Kang Woto, atau Lek Woto. Laki-laki paroh baya itu kerjanya serabutan. Tidak punya pekerjaan tetap, tapi tetap bekerja. Dia rajin menawarkan tenaga dari rumah ke rumah untuk sekedar benerin genteng, nyapu halaman, nebang pohon, nyabuti rumput di halaman, bikin lubang pembuangan sampah, atau pekerjaan kasar apa pun yang penting dia bisa mendapatkan nafkah untuk istri dan 5 anaknya yang masih sekolah, bahkan ada yang masih balita.

Sudah beberapa tahun Bu Bei rutin setiap bulan memanggil Lek Woto untuk bersih-bersih halaman. Bila Bu Bei kebetulan lupa, istri Lek Woto yang kirim WA menanyakan ada pekerjaan apa untuk suaminya. Bila sudah ditanyai begitu, biasanya Bu Bei terus mencari-carikan pekerjaan untuk Lek Woto, meski kadang terkesan mengada-ada.

"Itu cara kita membantu keluarga Lek Woto. Anak-anaknya butuh makan dan sekolah," begitu Bu Bei ketika menjawab 'komplain' Pak Bei.

Seperti biasanya, pagi ini Lek Woto datang diantar istrinya naik motor sambil menggendong anaknya yang masih bayi. Melihat kedatangannya, Bu Bei yang lagi ngobrol di teras dengan Pak Bei pun langsung turun ke halaman untuk mengarahkan pekerjaan yang perlu dilakukan Lek Woto dalam 2-3 hari ke depan.

"Bersihkan halaman ini dulu ya, Lek. Rumputnya kok cepat sekali tumbuhnya. Jadi kotor dan njembrung begini," kata Bu Bei.

"Injih, Bu Bei. Rumput teki  memang begitu. Akarnya sangat kuat dan bandel.
Gak cocok untuk hiasan halaman," jawab Lek Woto.

"Apa harus pakai obat rumput, Lek?"

"Diobati juga gak mempan kok, Bu Bei."

"Lha terus gimana solusinya?"

"Kalau rumah tetangga saya pakai rumput jepang, Bu Bei. Setelah rumput teki dibersihkan, sela-sela paving ditanami rumput jepang. Setelah tumbuh jadi bagus kelihatannya."

"Sebenarnya kalau sudah dipasangi paving yang gak perlu rumput lagi, Lek."

"Itu untuk menghambat suket teki kok, Bu Bei," jawab Lek Woto.

"Ah sudahlah, Lek. Yang penting hari ini bersihkan dulu rumput-rumput liar itu, ya."

"Baik, Bu Bei. Siap."

Kang Narjo si loper koran datang. Seperti biasanya, setelah melemparkan koran ke lantai, dia pun sok akrab dulu dengan Pak Bei atau Bu Bei, mengomentari apa saja yang mengganggu pikirannya, atau curhat tentang masalah yang terjadi di kampungnya. Pagi ini, melihat Bu Bei sedang memperhatikan Lek Woto mencabuti rumput teki, Kang Narjo pun seolah mendapatkan tema obrolan.

"Rumput teki memeng mengganggu ya, Bu Bei," kata Kang Narjo.

"Iya, Kang Narjo. Bandel banget. Cepat sekali tumbuhnya. Sudah dipaving pun tetap bisa nembus sela-selanya."

"Harus ganti rumput, Bu Bei."

"Maksudnya?"

"Pantesnya nDalem Pak Bei jangan dipaving, tapi pakai rumput yang standar stadion Internasional. Dilihat tampak bagus, dipakai bermain anak-anak pun nyaman."

"Harus impor, Kang? Pasti mahal harganya."

"Gak usah pakai yang impor, Bu Bei. Pakai yang 100% produk lokal juga ada."

"Memangnya ada rumput lokal yang standar Internasional?"

"Wah Bu Bei ini pasti gak pernah baca koran. Gak ngikuti berita panas seputar Jakarta International Stadium."

"Saya malas baca berita politik, Kang. Bikin hati gak tenang."

"Ya tapi soal rumput stadion ini menarik, Bu Bei."

"Apa menariknya?"

"Rumput lapangan bola itu dianggap tidak layak, tidak memenuhi standar FIFA, maka harus diganti total. Tiga menteri sudah turun memeriksa rumput itu. Tapi lucunya, pernyataan tidak layak itu ternyata berdasar informasi dan penilaian dari penjual rumput lapangan golf."

"Ah, orang bisnis memang sukanya begitu ya, Kang. Kecap saya yang nomor satu. Meninggikan mutu dagangannya dengan menjelekkan dagangan orang lain."

"Padahal, Bu Bei, stadion itu sudah pakai rumput hybrid, lho. Rumput syntetis Limonta dari Italy 5% dimix dengan rumput Zoisia Matrella dari Boyolali yang 95%. Dan itu sudah sesuai standar FIFA."

"Loh, 95% rumput dari Boyolali?"

"Iya, Bu Bei. Bener."

"Lha kok elok temen orang Boyolali."

"Itulah, Bu Bei, tapi kita ini terlanjut silau dengan apa saja yang diimpor dari luar negeri. Ada rumput jepang, ayam bangkok, perkutut bangkok, jambu bangkok, pepaya thailand atau california, dan sebagainya. Padahal produk lokal kita tidak kalah bagusnya."

"Ya sudah, tolong Kang Narjo carikan alamat pembudidaya rumput di Boyolali itu. Kapan-kapan akan kuajak Pak Bei melihat ke sana. Kalau memang bagus dan harganya terjangkau, bisa saja paving ini nanti kita bongkar dan diganti rumput Boyolali."

"Siap, Bu Bei. Saya pamit dulu, ya. Melanjutkan tugas negara...," Kang Narjo berpamitan dengan gayanya yang khas, sambil pringas-pringis.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#rumputtetanggalebihhijau







 Atau kalau tidak, Bu Bei beli saja rumput sintetis, digelar di atas paving ini pasti bagus.






Sabtu, 17 Juni 2023

ANAK POLAH BAPAK KEPRADAH

ANAK POLAH BAPAK KEPRADAH

Sudah lama Pak Bei tidak mendengar ungkapan Jawa anak polah bapak kepradah ini. Dulu di tahun 1970an, waktu di TVRI Yogyakarta masih ada siaran Kuncung & Bawuk, cerita-cerita kearifan dan tulada budaya Jawa masih bisa dinikmati anak-anak. Tapi anak-anak Jawa sekarang, seperti halnya anak-anak dari sub-kultur Indonesia lainnya, nyaris tidak kenal lagi budaya warisan nenek-moyangnya. Pak Bei bisa mengenal sedikit warisan Budaya Melayu zaman masih sekolah di SD. Salah satu materi pelajaran Bahasa Indonesia adalah menghafal peribahasa Melayu yang hingga saat ini beberapa masih hafal di luar kepala.

Untung Pak Bei punya sahabat Kang Narjo, loper koran senior yang lumayan punya budaya literasi yang bagus. Dia rajin membaca, minimal berita aktual, opini, atau tajuk rencana di koran yang diedarkannya setiap pagi. Dari kebiasannya membaca itulah maka Kang Narjo bila berbicara sering keluar kosa kata atau ungkapan-ungkapan yang kadang terdengar aneh dan langka, terutama yang dari khasanah budaya Jawa. 

Seperti malam ini, Kang Narjo datang bersama temannya yang ternyata seorang Kepala Desa. Biasa, Kang Narjo memang suka mengajak teman atau tetangganya ngobrol dengan Pak Bei. Dia ngajak 'konsultasi', apapun masalahnya. Sebenarnya Pak Bei paham, itu hanya cara Kang Narjo mencari legitimasi omongannya pada temannya. Dia butuh cara meyakinkan teman-temannya.

"Begini lho, Pak Bei, Pak Lurah Darto ini lagi pusing kapala. Makanya kuajak ke sini," kata Kang Narjo membuka obrolan.

"Ada apa, Pak Lurah?," tanya Pak Bei. "Njenengan ini kok mau-maunya diajak Kang Narjo ke sini," sambungnya.

"Saya butuh pencerahan, Pak Bei," jawab Pak Lurah Darto.

"Soal apa, Pak Lurah?"

Melihat Pak Lurah Darto tampak ragu-ragu mau menjawab, Kang Narjo langsung menyahut, "Pak Lurah ini lagi pusing, Pak Bei. Dia sudah 3 periode menjabat Kepala Desa, dan masa jabatannya akan berakhir besok September. Bulan depan akan Pilkades untuk memilih calon Kepala Desa berikutnya."

"Pak Lurah Darto tidak bisa nyalon lagi, ya?"

"Injih, Pak Bei. Saya sudah 3 periode. Harus ganti yang muda."

"Sudah nyiapkan jago, kan?"

"Ya itulah yang bikin saya pusing, Pak Bei," jawab Pak Lurah Darto.

"Kenapa pusing, Pak Lurah?"

"Gimana gak pusing, Pak Bei?
Anak saya ngotot pengin jadi Kepala Desa. Dia bilang, pokoknya harus menang di Pilkades bulan depan. Lha saya kan jadi sangat tidak enak, Pak Bei."

"Kenapa, Pak Lurah? Berarti anak Njenengan punya minat meneruskan estafet kepemimpinan bapaknya. Siap meregenerasi. Itu kan bagus?"

"Bagus bagaimana? Calonnya ada 3 orang, Pak Bei: Pak Sekdes, Pak Kadus, dan anak saya."

"Wah seru juga, ya."

"Saya tahu Pak Sekdes selama ini kinerjanya sangat bagus. Dia paham betul seluk-beluk manajemen pembangunan Desa. Sangat bisa saya andalkan. Orangnya juga jujur dan rajin beribadah."

"Pak Kadus bagaimana?"

"Sebenarnya dia juga bagus, tapi menurut saya kapasitasnya lebih pas untuk Kepala Dusun, bukan Kepala Desa. Tapi orangnya terkenal royal terutama pada pemuda-pemuda, nyah-nyoh, suka nyumbang kegiatan olah raga."

"Kalau anak Pak Lurah bagaimana?"

Lagi-lagi Pak Lurah tampak ragu menjawab.

"Itulah masalahnya, Pak Bei," sahut Kang Narjo. "Pak Lurah ini sadar anaknya masih terlalu muda dan belum cukup punya pengalaman bermasyarakat, tapi tiba-tiba pengin maju jadi calon Kepala Desa." 

"Anak saya ini kuliahnya saja berhenti di tengah jalan, Pak Bei, kena DO. Lalu kukasih modal buka usaha cafe di kota untuk nongkrong anak-anak muda, tapi juga belum tampak berkembang."

"Wah bagus itu, Pak Lurah. Usaha yang cukup prospektif. Jaman sekarang anak-anak  muda kota nongkrongnya di cafe. Minumnya cuma segelas kopi, tapi nongkrongnya bisa berjam-jam."

"Bagus apanya, Pak Bei. Belum kelihatan hasilnya."

"Namanya wirausaha ya memang harus telaten, Pak Lurah. Disupport saja."

"Tapi bukan itu masalahnya, Pak Bei."

"Apa, Pak Lurah?"

"Betul-betul ewuh-oyo ing pambudi. Serba gak enak jadinya. Antara Pak Sekdes dengan Pak Kadus saja saya sudah repot mau mendukung yang mana, lha ini malah ditambah anak saya sendiri."

"Ini yang namanya anak polah bapak kepradah ya, Pak Bei?," Kang Narjo menimpali. "Gara-gara anak punya keinginan, bapaknya jadi tambah pusing kepala. Tapi namanya anak sendiri, masa tidak didukung, tidak dibantu supaya menang dan terpilih jadi Kades penerus bapaknya? Kalau sampai anaknya kalah kan justru ngisin-isini, memalukan Pak Kades sendiri."

"Ya saya bisa merasakan, pasti Pak Kades sangat kesulitan menghadapi kenyataan ini."

"Benar, Pak Bei. Sangat sulit. Saya tahu anak saya ini nekad kalau sudah punya keinginan. Dia sudah bilang tidak mau kalah, pokoknya harus menang melawan Pak Sekdes dan Pak Kadus. Setiap malam tim suksesnya juga sudah kumpul-kumpul koordinasi di rumah kami. Ya mau tidak mau saya harus membantu juga, Pak Bei. Harus cawe-cawe. Kalau tidak, istriku pasti marah."

"Ya sudah, kalau begitu Pak Lurah total dukung anak sendiri saja."

"Wah tapi gak enak, Pak Bei."

"Begini lho, Pak Kades, kalau seandainya Pak Sekdes dan Pak Kadus kalah, kan masih tetap bisa jadi Sekdes dan Kadus. Tidak kehilangan jabatannya. Iya, kan?"

"Iya benar, Pak Bei."

"Lha kalau anak Pak Kades yang kalah, kira-kira apa yang akan terjadi?"

"Ya pasti anak saya, ibunya, dan keluarga besar saya akan marah, Pak Bei. Saya akan dianggap tega pada anak sendiri."

"Ya sudah. Jadi sudah jelas Pak Kades harus mendukung siapa, kan?"

"Wah terima kasih sekali, Pak Bei. Saya sudah betul-betul lega sekarang. Benar kata Kang Narjo. Kalau punya masalah yang terasa ruwet, datang saja ke Pak Bei, pasti akan ketemu solusi. Matur nuwun ya, Kang Narjo," kata Pak Kades Darto pada Kang Narjo. 

Pak Kades Darto pamit pulang dengan suasana lega di hatinya. Kang Narjo pun senyum-senyum puas, tampaknya merasa sudah  berhasil membantu Pak Kades mengurai masalah dan menemukan solusinya di nDalem Pak Bei.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#anakpolahbapakkepradah



 













Sabtu, 10 Juni 2023

MISKIN EKSTREM

MISKIN EKSTREM

"Katanya sensus, tapi kok ngawur ya, Pak Bei," kata Kang Narjo sambil melemparkan koran ke lantai seperti biasanya.

"Sensus apa, Kang?"

"Aku gak tahu sensus apa namanya, entah kapan waktunya, siapa petugasnya juga gak tahu. Kata Pak RT, keluargaku masuk di data Kelurahan sebagai keluarga miskin ekstrem," jawab Kang Narjo sambil mematikan mesin motornya.

"Kok bisa, Kang?"

"Lha ya itu yang aku tidak tahu."

"Tapi kan malah bersyukur to, Kang. Berarti Perangkat Desamu baik hati, pengertian."

"Pengertian bagaimana? Itu kan merendahkan. Pelecehan."

"Kang, di mana-mana terjadi orang yang cukup mampu, rumahnya bagus, punya sawah, punya sepeda motor 3-4 buah, tapi masih suka menerima Bansos, BLT, PKH, dan sebagainya. Bangga lagi.
Lha Kang Narjo ini gak usah minta-minta malah sudah dimasukkan jadi calon penerima bantuan khusus program percepatan penanggulangan kemiskinan ekstrem. Disyukuri aja, Kang."

"Pak Bei, miskin ekstrem itu kan artinya miskin banget, mlarat nemen. Masa aku termasuk kelompok fakir miskin yang harus disantuni negara. Ya enggaklah. Itu data ngawur. Malu aku sama Gusti Allah," kata Kang Narjo dengan ekspresi wajah serius.

Pak Bei jadi teringat obrolan dengan Pak Kades dua hari lalu, bahwa Desa kami termasuk satu di antara 923 Desa Miskin Ekstrem di Jawa Tengah. Aneh. Konon indikatornya hanya berdasarkan kasus stunting, kasus bayi dan anak-anak kerdil karena kurang gizi. Memang, di Desa kami masih ada 3 kasus stunting. Tapi cuma 3 kasus. "Kok data resmi di Kabupaten dan Provinsi bisa jadi 34 kasus? Ini aneh sekali, Pak Bei," kata Pak Kades.

"Wah itu pelecehan, Mas Lurah," kata Pak Bei. "Data dari mana itu? Seolah-olah Pemerintah Desa kita tidak bekerja, tidak bisa mensejahterakan rakyatnya." Pak Bei tampak serius menanggapai informasi dari Pak Kades. "Sebagai Ketua BPD, malu aku, Mas Lurah," sambungnya.

"Saya sebenarnya juga malu, Pak Bei. Tapi ini bukan hanya terjadi di Desa kita. Desa-Desa yang lain sama saja. Katanya itu data di BKKBN tahun 2019. Itu pun sebenarnya data ngawur. Kita tahu sendiri, tidak ada keluarga yang benar-benar miskin akut di Desa kita ini," kata Pak Kades.

"Lha terus bagaimana sikap kita, Mas Lurah?"

"Ya seperti teman-teman Kades lainnya, kita terima saja, Pak Bei."

"Loh, terima saja bagaimana?"

"Ya kan mau dapat bantuan lumayan besar, Pak Bei," jawab Pak Kades dengan senyum-senyum.

"Kalau datanya sudah ngawur gitu, nanti data penerimanya tentu juga ngawur kan, Mas Lurah?"

"Lha ya itu, Pak Bei. Di data 34 kasus stunting itu, bahkan ada beberapa manula yang dimasukkan. Bukan balita kok stunting. Lucu. Ngawur banget."

"Mas Lurah, jangan-jangan data miskin ekstrem itu memang sengaja digelembungkan, ya?"

"Buat apa, Pak Bei? Kan justru memalukan, Jawa Tengah disebut sebagai provinsi termiskin di Pulau Jawa. Kesannya Gubernur kita tidak bisa bekerja."

"Mas Lurah ini mikirnya kok lempeng, lho. Mbok agak sig-sag dikit. Syukur bisa melingkar, mubeng, biar agak jangkep perspektifnya."

"Maksud Pak Bai bagaimana?"

"Ingat, Mas Lurah, ini tahun politik. Sebentar lagi kita akan Pemilu dan Pilpres."

"Ya saya paham. Tapi data kemiskinan ekstrem ini kan merugikan Gubernur kita yang sedang gigih kampanye Capres?"

"Coba logikanya dibalik, Mas Lurah,"

"Dibalik bagaimana?"

"Dengan data miskin ekstrem yang banyak itu justru akan menguntungkan Gubernur kita."

"Kok bisa?"

"Akan ada alokasi APBN dan APBD yang sangat besar untuk percepatan penanggulangan kemiskinan ekstrem. Gubernur tentu akan mengerahkan semua Bupati, Camat, dan Kades untuk menyalurkan bantuan itu. Boleh jadi nanti sambil menyalurkan bantuan, Mas Lurah dan semua Kades harus manyampaikan pesan-pesan sponsor kepada para penerima bantuan."

"Kampanye, maksudnya?"

"Mas Lurah lihat saja nanti. Makanya kalau membaca peristiwa harus dari beberapa angel, sudut pandang. Apalagi membaca politik, jangan terlalu lugulah."

"Jadi menurut Pak Bei saya nanti harus bagaimana? Terima saja bantuan itu?," tanya Narjo.

"Yah kalau memang Kang Narjo sudah terdata, ya diterima saja bantuannya. Soal pilihan Caleg atau Capres, itu terserah nanti Kang Narjo di bilik suara. Yang penting yakin dengan pilihan Kang Narjo, yakin bahwa pilihanmu tidak salah."

"Ya sudah, Pak Bei. Saya lanjut bertugas dulu, ya."

Kang Narjo meninggalkan nDalem Pak Bei dengan lega, beda dengan Mas Lurah kemarin yang tampak masih agak gamang menghadapi tugasnya menjelang masa kampanye. Emang enak jadi Kades?

#serialpakbei
#wahyudinasution
#miskinekstrem














Senin, 05 Juni 2023

SIMBOK DAN TUKANG SURVEY

SIMBOK DAN TUKANG SURVEY 

"Le, kamu ini kenapa? Sudah sebulan gak pulang, pulang-pulang kok wajahmu murung begini? Jelek sekali. Ada apa?," tanya Yu Sum pada anaknya yang mahasiswa di Jogja itu tadi sore.

"Lagi sedih aku, Mbok," jawab Tono sambil membaringkan tubuhnya di lincak.

"Ada apa to, Le. Mbokya cerita sama simbok," bujuk Yu Sum sambil tangannya memijat kaki anak tunggalnya.

"Simbok pasti juga gak mudheng, gak akan paham masalahku."

"Ya gak papa, Le. Yang penting kamu bisa ngudari masalahmu biar tidak sumpeg hatimu. Soal simbok gak mudheng, ya dimaklumi saja, mbokmu ini memang wong bodo, dulu cuma sekolah sampe SMP terus dirabi bapakmu," kenang Yu Sum. 

"Begini lho, Mbok. Sudah 3 minggu ini aku nyambi kerja, ikut jadi surveyor di sebuah lembaga survey."

"Wah, ternyata anakku sudah nyambi kerja to? Makanya kok tidak pulang minta sangu. Sudah punya duit sendiri, to. Alhamdulillaah..." 

"Duit tidak seberapa, Mbok, tapi hatiku jadi merasa sangat berdosa."

"Lah kenapa, Le? Kamu kan tidak mencuri, bukan mencopet, bukan menipu orang?"

"Ya itu masalahnya, Mbok."

"Piye, Le?"

"Pekerjaanku ini survey politik, menggiring orang supaya bersimpati pada calon presiden agar menang di Pilpres 2024 nanti."

"Ya itu kan bagus. Berarti anak simbok ini termasuk cah pinter, bisa kerja untuk memenangkan calon presiden. Pasti tidak sembarang mahasiswa bisa, kan?"

"Ya justru itu aku jadi sedih, Mbok."

"Dijalani saja dengan baik, Le. Gak usah sedih begitu."

"Wah Simbok ini memang gak mudheng tenan, kok."

"Loh asal kerjamu jujur kan beres to, Le."

"Ya itu masalahnya, Mbok."

"Piye?"

"Setelah kupikir-pikir dan kurasakan, pekerjaanku ini termasuk membohongi rakyat, Mbok."

"Kok bisa, Le?"

"Kami seolah membuat survey di masyarakat, padahal sesungguhnya kami hanya utak-atik angka di laptop. Mengarang angka-angka. Bikin simulasi."

"Simulasi ki opo to, Le?"

"Ngotak-atik angka biar seperti data sungguhan, Mbok. Pokoknya bagaimana caranya kami buat angka-angka supaya calon yang memberi pekerjaan kami ini nilainya tinggi dan bakal menang di Pilpres nanti. Itu kami umumkan di media setiap bulan biar dibaca orang, Mbok. Biar pembaca terpengaruh dan ikut memilih calon kita."

"Itu kan namanya ikhtiar, Le. Semua calon pasti ikhtiar dengan sungguh-sungguh kalau mau menang. Kamu juga ikhtiar membantu simbok mencari uang sendiri untuk biaya kuliah."

"Lha iya, Mbok. Tapi ini kan ngapusi rakyat, membohongi rakyat. Dan saya termasuk pelaku yang membantu orang ngapusi itu," kata Tono sambil bangkit dari lincak, duduk memelas menatap wajah Yu Sum yang sumeleh.

"Yho wis terserah kamu, Le. Kalau kerja tapi hatimu jadi gundah begitu, mending gak usah kerja. Cepat selesaikan saja dulu kuliahmu, terus cari pekerjaan yang bagus dan sesuai hati nuranimu."


#serialpakbei
#wahyudinasution
#fragmen
#simbokdantukangsurvey






Minggu, 04 Juni 2023

FENOMENA KRISTEN-MUHAMMADIYAH

FENOMENA KRISTEN -MUHAMMADIYAH
Banyak orang bertanya tentang istilah Kristen-Muhammadiyah. Apa itu maksudnya? Apakah telah terjadi percampuran akidah pada orang-orang Muhammadiyah dengan iman Kristen? Dan sebagainya.

Begini lho, Nda...(boleh sambil ngopi).
Islam itu rahmatal-lil'aalamiin, rahmat untuk seluruh alam. Rahmat Allah itu untuk seluruh alam dan semua makhluknya, tanpa membedakan dia beriman atau tidak. Semua dikasih rejeki dalam segala bentuknya, dari organ tubuh (dan segala detail fungsinya), udara, air, hingga semua anugerahnya. Semua berhak menikmati Rahmat Allah SWT.

Demikian juga Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah, melayani siapa saja tanpa membedakan suku, agama, ras, budaya, dan golongan/ormas/orpol. Dakwah Muhammadiyah bersifat inklusif, terbuka, dan melayani siapa saja. 

Orang sakit yang datang berobat ke PKU Muhammadiyah tidak pernah ditanya agamanya apa, ormasnya apa, dst. Semua dilayani dengan sama baiknya.

Jangan heran bila 79% mahasiwa UM Kupang beragama Nasrani, ada yang pendeta, banyak pula biarawati. 80% mahasiswa UNIMUDA Sorong Papua warga asli Papua dan Nasrani. Walikota Jayapura di berbagai kesempatan mengakui bangga sebagai alumni SMP Muhammadiyah. "Berkat Muhammadiyah, saya bisa sekolah dan sekarang bisa jadi Walikota," begitu katanya.
Kelompok Tani dampingan MPM PP Muhammadiyah di Berau Kaltim 99% etnis Dayak dan Nasrani. 60% mahasiswa UM Malang berlatar-belakang ormas Nahdhiyin/NU. Dan sebagainya. Itu semua tidak ada masalah. Muhammadiyah for All.

Karena prinsip dakwah inilah, maka banyak sekali orang Nasrani yang pernah mengalami persentuhan dan pergaulan dengan Muhammadiyah, di sekolah-sekolah dan kampus-kampus PTM-PTA, namun mereka tetap teguh pada iman Kristennya. Mereka tetap taat pada ajaran Kristen, tapi juga bersimpati pada gerakan Muhammadiyah. Kenapa bisa begitu? Karena di sekolah-sekolah dan PTM-PTA juga disedikan guru atau dosen agama Kristen untuk mengajar murid/mahasiswa Kristen. 

Fenomena sosiologis itu (Kristen-Muhammadiyah) terjadi di berbagai wilayah/daerah, terutama di Indonesia Timur. Indah bukan?
Jangan khawatir soal akidah, Insya Allah kader-kader Muhammadiyah sudah cukup dewasa dan matang. 

#pakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah

Jumat, 02 Juni 2023

PENDUSTA PANCASILA

PENDUSTA PANCASILA

Entah dapat wangsit dari mana, tiba-tiba kemarin muncul keinginan Pak Bei untuk sholat  Jumat di mesjid kampung Kang Narjo. Memang sudah lama Pak Bei tidak nyambangi ke sana, sejak sekitar sepuluh tahun lalu. Waktu itu Pak Bei diminta Kang Narjo bantu menyambut kehadiran rombongan Syech Ayyub, donatur dari Arab Saudi, yang hadir meresmikan masjid dan menandatangani prasasti. Seluruh warga kampung Kang Narjo pun tumplek-blek menghadiri acara peresmian masjid yang megah itu. Semua hadirin tampak antusias dan bergembira. Maklum saja, impian mereka punya masjid sendiri di kampungnya bisa akhirnya benar-benar terwujud. Itu pun berkat bantuan dana dari seorang dermawan, Syech Ayyub dari Arab Saudi, melalui perantara sebuah yayasan dari Surabaya yang kebetulan Pak Bei kenal direkturnya.

Jumatan kemarin benar-benar mengesankan. Pak Bei tiba di Mesjid Al-Ayyub beberapa menit sebelum manjing dhuhur, sebelum khatib naik mimbar. Karena shaf-sfaf di ruang dalam sudah penuh jamaah, maka Pak Bei memilih tempat di serambi, di dekat pintu masuk. Beberapa saat setelah Pak Bei shalat tahiyyatul-masjid,  khatib pun naik mimbar dan mengucap salam. Lalu, seorang laki-laki paroh baya berdiri mengumandangkan  adzan. Muadzin kampung, dimaklumi saja. Jangan dibandingkan dengan muadzin di Masjid Al-Aqsha Klaten yang bagus itu, atau muadzin di tivi-tivi yang rekaman suaranya selalu diputar setiap waktu maghrib tiba.

Khatib memulai khotbahnya.  Muqadimah-nya standar, mengajak seluruh jamaah memperbanyak syukur, menyampaikan shalawat dan salam kepada Baginda Nabi SAW, serta mengajak jamaah selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Mendengar suara khatib, Pak Bei yakin itu suara Kang Narjo, sahabat yang setiap pagi datang mengantar koran dan sering curhat berbagai hal. 
"Weeh...ternyata Kang Narjo khatibnya," kata Pak Bei dalam hati. Pak Bei baru tahu Kang Narjo bisa khotbah.

"Jamaah rahimakumullah, " kata khatib,  "Allah SWT mengajukan pertanyaan kepada kita dalam Al-Quran surah Al-Ma'un yang tentu sudah kita hafal," khatib mulai masuk ke tema khotbahnya dengan mambaca surah Al-Ma'un dan menterjemahkannya. "Tahukah kalian orang yang mendustakan agama?" 

"Jamaah rahimakumullah, surah itu diawali dengan pertanyaan retorik, pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban kita. Allah SWT sendiri yang kemudian menjawab dengan dua ayat berikutnya, "Yaitu orang-orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang-orang miskin."

" Jamaah rahimakumullah,  ada dua ciri pendusta agama. Yang pertama, menghardik anak yatim, menyia-nyiakan anak yatim, manggangu anak-anak yang tidak mempunyai ayah atau ibu, atau tidak mempunyai keduanya. Yang kedua, tidak menganjurkan agar memberi makan orang-orang miskin. Pada ayat berikutnya, para pendusta agama ini diancam oleh Allah SWT dengan neraka Wail. Meski kita rajin shalat, mengaji, bahkan mungkin sudah Haji dan Umrah berkali-kali, tapi kalau amaliah kita mengandung ciri pendusta agama, maka neraka Wail tempat kita di akhirat nanti. Itu karena shalat dan seluruh ibadah kita hanya riya', bukan ikhlas semata-mata untuk Allah SWT, lillaahita'ala."

"Bagus juga tema khotbah Kang Narjo ini," kata Pak Bei dalam hati.

"Jamaah rahimakumullah, itu tadi dalam konteks kita beragama dan beribadah kepada Allah SWT. Semoga kita bukan termasuk ke dalam golongan pendusta agama," khotib tampak berusaha membesarkan hati jamaah.

"Lalu, bagaimana dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara? Adakah istilah pendusta negara?" khotib memperlebar pembahasan.  
"Dalam konteks ini, tentu tolok ukur kita adalah Pancasila, konsesus dasar negara dan pedoman hidup bangsa di Negara Kesatuan Republik Indonesia," lanjut khatib Narjo dengan mantap. 

"Bila kita belajar dari Q.S. Al-Ma'un, tentu kita pun pantas bertanya, siapakah yang termasuk pendusta bangsa dan negara? Jawabannya gampang. Yaitu orang-orang yang mendustakan Pencasila, merongrong Pancasila, mengkhianati Pancasila. Dialah yang membahayakan NKRI, mengancam sendi-sendi kehidupan di NKRI. Siapakah mereka itu, Jamaah sekalian?," khatib memandangi wajah-wajah Jamaah. Sebagian jamaah menundukkan wajah, sebagian lainnya memandang khatib, menunggu uraian selanjutnya .  

Terasa mak-deg hati Pak Bei mendengar khatib mulai masuk ke wilayah politik, khawatir sahabatnya itu kepleset lidah. Jaman sekarang, orang keliru ngomong sedikit saja bisa bahaya, bisa jadi bumerang, bisa jadi bancakan netizen di medsos, jadi mudharat dampaknya. Pak Bei menahan nafas sambil tetap berusaha tenang mengikuti khotbah dengan seksama. "Husnudhon saja, tentu khatib berniat baik," Pak Bei berdoa dalam hati.

"Sebagaimana sindiran Allah SWT tadi, bahwa ternyata ada orang yang sholatnya hanya riya', alias pamer. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini pun ternyata sama saja adanya. Banyak orang, pejabat, birokrat, politisi, penegak hukum, dan aparatur negara yang bicaranya seolah paling Pancasilais, paling pro-kebhinekaan, dan paling cinta NKRI. Tetapi kita saksikan setiap hari, betapa perilaku mereka kadang sangat jauh dari nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila," pidato khatib terdengar layaknya seorang jurkam menjelang Pemilu.

"Kita rasakan betapa banyak kebijakan Pemerintah yang justru berpotensi merugikan rakyat. Kita saksikan betapa setiap hari ada saja pejabat, politisi, dan penegak hukum menjadi pesakitan karena korupsi uang rakyat bertrilyun-trilyun. Kita saksikan betapa banyak keluarga pejabat tinggi memamerkan hidupnya yang bermewah-mewah, hedonis, dan itu jelas melukai rasa keadilan rakyat yang nasibnya kurang beruntung. Kita juga mendengar betapa hutang luar negeri kita semakin menggunung, dan itu berarti anak, cucu, dan cicit kita yang kelak harus membayarnya."

Semua wajah jamaah memandang wajah khatib. Tampak satu-dua mengangguk-angguk tanda setuju. Sebagian lainnya tampak tidak berkedip, mencoba merasakan, beepikir, berusaha memahami isi khotbah Kang Narjo.

"Jamaah yang dimuliakan Allah SWT," khotib melanjutkan khotbahnya, "Kalau kita mau jujur, semua perilaku dan kejadian itu jelas bertentangan dengan Pancasila, dari sila 1 hingga 5. Bila sila Ketuhanan Yang Maha Esa sudah dilanggar, tentu dilanggar pula sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Orang menjadi tidak adil hati dan pikirannya, dan tidak beradab perilakunya. Bila sila 1 dan 2 dilanggar, maka jelas mengancam sila ke-3, mengancam Persatuan Indonesia. Bila sila 1 sampai 3 sudah dilanggar, maka pasti Permusyawaratan yang terjadi di Gedung Dewan dan Lembaga Tinggi Negara bukan lagi dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan. Maka, cita-cita kemerdekaan RI, yakni Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, tidak bisa terwujud. Itulah Pendusta Pancasila. Itulah Pengkhianat Negara yang sesungguhnya."

Pak Bei tidak menyangka seberani itu Kang Narjo memilih tema khotbahnya. Bagi jamaah yang beku hatinya, itu bisa dianggap memprovokasi jamaah. Bagi yang lembut hatinya, itu khotbah yang bagus dan penting untuk mengubah mindset dan perilaku jamaah. Sayangnya khotbah itu hanya disampaikan oleh khatib kampung dan di mesjid kampungnya sendiri, bukan di masjid Istiqlal, Al-Azhar, atau masjid di kompleks DPR dan Kementerian di ibukota sana.

"Tapi bolehlah pilihan tema khotbah Kang Narjo, kontekstual dengan suasana peringatan Hari Lahir Pancasila," Pak Bei diam-diam salut dan terkesan dengan sahabatnya.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#pendustapancasila