Sabtu, 23 September 2023

ALAMIAH ATAU BY-DESAIN

ALAMIAH ATAU BY-DESAIN

Entah ketempelan apa dan dari mana, pagi itu setelah melemparkan koran di lantai,  tiba-tiba Kang Narjo seperti orang ngomyang, nerocos berbagai hal, ngalor-ngidul, tidak peduli apakah Pak Bei yang sedang momong Eza cucunya yang lucu itu siap mendengarkan atau tidak. Yang membuat Pak Bei agak risau terutama ketika omongan Kang Narjo sudah masuk ke tema dan ranah politik. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga Kang Narjo. Loper koran senior itu memang punya budaya baca yang lumayan bagus. Setiap pagi dibacanya dulu semua headline dan tajuk di koran-koran yang mau diantarkannya ke pelanggan. Prinsipnya cukup bagus. Dia hanya menyampaikan berita setelah dia sendiri membaca dan memahaminya.

"Saya ini bertanya-tanya, Pak Bei. Penasaran," kata Kang Narjo sambil tetap duduk di atas motornya.

"Tentang apa, Kang?"

"Semua kejadian dan kahanan yang terjadi akhir-akhir ini, itu alamiah apa by desain?"

"Kejadian apa, Kang? Kok serius banget mikirmu. Slow wae-lah," kata Pak Bei setelah menyerahkan Eza pada mamanya di dapur.

"Banyak kejadian yang kita pantas bertanya-tanya, Pak Bei. Ndelalah ini kan tahun politik. Kita lihat semua politisi, entah capres-cawapres atau caleg-caleg, seolah tiap hari mendemonstrasikan kehebatannya di mata rakyat."

"Ya iyalah, Kang. Ini memang saatnya semua politisi memoles diri, mem-branding dan menawarkan dirinya supaya tampak hebat dan menarik sehingga nanti dipilih oleh rakyat, diamanahi rakyat sebagai Dewan Perwakilan atau Presiden dan Wakil Presiden, Pemimpin tertinggi di negeri ini."

"Iya saya paham, Pak Bei. Tentu semua juga sudah menyiapkan dana dalam jumlah besar, bahkan sangat besar untuk ukuran kita, untuk membeli simpati calon pemilih. Namanya juga orang kampanye. Jer basuki mawa bea, kata orang Jawa. Untuk mendapatkan kekuasaan harus mengeluarkan biaya besar."

"Kang Narjo sudah paham gitu kok."

"Masih banyak hal yang membuat saya bertanya-tanya, Pak Bei."

"Apa saja?"

"Misalnya tentang krisis beras beberapa bulan terakhir dan entah sampai kapan akan kelar."

"Loh kan sudah jelas soal krisis beras ini karena faktor elnino yang berdampak terjadinya gagal panen di mana-mana, Kang. Pemerintah juga sudah kerja keras mendatangkan 3 juta ton beras impor dari Vietnam, Kamboja, Thailand dan sebagainya, demi mencukupi ketersediaan pangan ratusan juta penduduk."

"Iya, Pak Bei. Memang begitu yang beredar di berita-berita koran maupun medsos."

"Lantas?"

"Nuwun sewu lho, Pak Bei. Mungkin saya termasuk orang yang tidak mudah percaya berita yang kita baca di media."

"Kang Narjo ini loper koran cap apa? Hampir setengah abad tiap pagi ngantar berita koran kok malah meragukan berita media."

"Ya justru karena saya sudah khatam logika pemberitaan, maka saya paham bahwa yang terjadi sebenarnya tidak pernah muncul di media."

"Terus, menurutmu apa yang sebenarnya terjadi di perberasan kita?"

"Ha ha haaa....gak enak, Pak Bei."

"Kenapa gak enak?"

"Boleh jadi impor beras yang jutaan ton itu terkait dengan biaya politik menjelang Pemilu yang sangat tinggi, Pak Bei."

"Maksudmu?"

"Itu kurang lebih sama saja dengan kasus Rempang yang bahkan sampai membahayakan keutuhah bangsa dan negara ini."

"Kok bisa, Kang?"

"Soal Rempang itu juga terkait kebutuhan biaya politik para politisi yang sangat tinggi. Ingat Pak Bei, itu terkait dengan investor yang konon siap investasi 300an Triliun di sana."

"Tapi kenapa sampai membahayakan keutuhan bangsa dan negara, Kang? Ngeri sekali membayangkan kalau sampai terjadi konflik antar-etnis, kan?"

"Memang ngeri, Pak Bei. Tapi itu kan sudah jadi pakem-nya orang di politik."

"Pakem bagaimana maksudmu, Kang?"

"Pak Bei pasti paham, politik itu soal berebut kekuasaan dan asset. Itu membutuhkan mental 3 T."

"Apa itu?"

"Tegel alias tega hati dan tidak berbelas kasihan. Teteg alias ndableg alias gak mau tahu akibatnya bagi orang lain. Tipu-tipu alias sanggup berbohong dan menipu."

"Ah masa begitu, Kang?"

"Makanya saya bertanya-tanya atas berbagai kejadian di negeri ini. Pak Bei bisa membayangkan berapa succes fee dari masuknya investasi itu?"

"Gak paham aku, Kang."

"Saya pun bertanya-tanya soal banyaknya pabrik tektil, garmen, dan manufaktur yang bangkrut, juga pedagang pasar Tanah Abang, Mangga Dua, Cipulir, PGS Solo, dan lain-lain yang bangkrut. Ada apa ini sebenarnya? Saya percaya, itu bukan semata-mata karena kebijakan Pemerintah yang salah, tapi bisa juga karena faktor perilaku para pengusaha yang lengah terhadap perubahan zaman."

"Wah kok berat sekali omonganmu pagi ini. Ketempelan dari mana, Kang? Sudahlah, ayo kita kerja sesuai kemampuan kita saja. Sana Kang Narjo lanjutkan ngantar koran, saya mau lanjut momong cucuku."  

Kali ini terpaksa Pak Bei mengakhiri obrolan sambil setengah mengusir sahabatnya. Perut masih kosong karena belum sarapan kok diberondong tema-tema kegelisahan Kang Narjo yang cukup berat. Kalau diterus-teruskan, bisa-bisa hilang selera makan Pak Bei.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
#lpumkmklaten















Rabu, 13 September 2023

TANPA KOMITMEN DAN KEBERPIHAKAN

TANPA KOMITMEN DAN KEBERPIHAKAN

Kali ini Pak Bei merasa kedatangan tamu istimewa. Tamu agung. Sanusi namanya, seniornya di dunia usaha konveksi. Tiba-tiba saja Sanusi datang tanpa ngabari sebelumnya. 

Sudah lama Pak Bei tidak ketemu dengan Sanusi, sekitar satu dasa warsa, sejak temannya ini meninggalkan dunia konveksi dan beralih ke usaha property. Mungkin karena kesibukan masing-masing di dunia usaha yang berbeda, mereka jadi jarang bertemu.

"Tiba-tiba habis 'ashar tadi aku teringat kopi Pak Bei. Sudah lama sekali gak ngopi di sini," kata Sanusi.

"Alhamdulillah, matur nuwun Mas Sanusi kangen kopiku," jawab Pak Bei. "Tunggu sebentar, ya," Pak Bei pun langsung ke dapur membuatkan kopi spesial untuk suhunya di usaha konveksi itu. Tak berapa lama, Pak Bei sudah kembali ke teras sambil membawa nampan dengan dua gelas kopi Semendo andalannya. 

"Gimana, masih jalan konveksimu?," tanya Mas Sanusi sambil menuangkan kopi panas di lepek.

"Alhamdulillah masih, Mas. Harus jalan terus."

"Ada berapa karyawanmu sekarang?"

"Masih ada 25, Mas."

"Masih lumayan itu. Sentra konveksi di kampungku sudah lama bubar. Tidak bisa bertahan. Bangkrut semua."

"Memang berat, Mas. Semakin berat. Tapi karena ini sudah menjadi penghidupan banyak orang, ya harus kami pertahankan, Mas."

"Ya pasti berat. Bagaimana mungkin usaha-usaha kecil dengan modal terbatas harus berhadapan dengan pabrik-pabrik besar bermodal besar dan didudukung Pemerintah?," kata Mas Sanusi lalu menceritakan alasannya dulu beralih usaha.

Dikenangnya dulu sekitar tahun 2011/2012, Pemerintah Provinsi sangat agresif menggaet pabrik-pabrik garment di Jabodetabek dan Bandung Raya agar berinvestasi di Jawa Tengah dengan  merelokasi pabriknya ke Kab. Semarang dan eks-Karesidenan Surakarta.
Berbagai kemudahan dan fasilitas disediakan untuk investor. Dari urusan pengadaan lahan, pembangunan pabrik, tetek-benget perizinan, hingga rekrutmen tenaga kerja pun difasilitasi penuh dengan biaya APBD Provinsi.

"Tentu Pak Bei masih ingat, waktu itu Dinas Perindustrian Provinsi mendirikan Balai Latihan Kerja sangat besar, lalu merekrut puluhan ribu lulusan SMA/SMK se-Jawa Tengah untuk dilatih menjadi calon operator mesin jahit dan ditempatkan di pabrik-pabrik garment relokasi itu."

"Iya, Mas. Saya masih ingat. Bahkan dulu sempat diminta nyarikan lulusan SMK untuk dikirim ke sana."

"Pemerintah seolah lupa peran penting usaha-usaha konveksi yang bertebaran di daerah-daerah. Usaha-usaha kecil itulah yang selama ini berjasa besar menghidupkan perekonomian daerah. Ribuan tenaga kerja terserap di usaha-usaha konveksi rumahan itu. Dulu, hampir semua barang di Pasar Klewer adalah produk konveksi rumahan, lho."

"Iya benar, Mas. Sekarang lebih banyak barang dari Tanah Abang dan produk impor dari China."

"Kita ini sebenarnya tidak anti-investor kan, Pak Bei?"

"Iya benar, Mas. Kita dukung setiap upaya untuk kebaikan masyarakat."

"Tapi sejak awal saya sudah melihat memang tidak ada komitmen dan iktikad pemihakan pada usaha kecil, Pak Bei. Investor disubyo-subyo, digelarkan karpet merah. Sebaliknya, usaha kecil justru digilas dan lemahkan. Itulah makanya dulu saya pilih langsung ganti usaha saja."

"Sebenarnya maksud Pemerintah baik lho, Mas. Menyediakan lapangan kerja seluas-luasnya dan menambah devisa sebesar-besarnya."

"Maksud baik tapi tanpa regulasi yang bagus dan komprehensif, hasilnya cuma ketimpangan seperti sekarang ini, Pak Bei. Keberadaan UMKM tidak dilindungi. Mereka jadi kesulitan meregenerasi tenaga kerjanya. Anak-anak muda lulusan sekolah semua disedot ke pabrik. Yang tersisa di usaha rumahan tinggal yang tua-tua, yang sudah menurun produkstivitasnya."

"Iya benar sekali, Mas."

"Kesulitan cari tenaga kerja muda kulihat bukan hanya terjadi pada usaha konveksi, Pak Bei. Di sentra-sentra usaha furniture, pandai besi, apalagi di sektor pertanian, semua juga mengalami krisis tenaga kerja."

"Tapi UMKM yang justru disalahkan oleh Pemerintah lho, Mas. Dianggap kurang responsif pada perkembangan jaman. Tidak memodernisir peralatan dan manajemen usaha."

"Ya memang. Harus diakui, umumnya pelaku usaha terlambat mengantisipasi perubahan jaman. Tapi menurutku, seharusnya itu tugas Pemerintah, Pak Bei. UMKM harusnya didamping, bukannya dilepas agar bertempur head to head terhadap pabrik besar dengan kapital super besar dan peralatan modern. Ya pasti keok. Seharusnya UMKM diproteksi agar tetap hidup. Tapi masalahnya memang tidak ada komitmen ke sana. Ya sudah, jebol kabeh jadinya."

"Situasi ini sekarang juga dialami teman-teman pelaku usaha penggilingan padi, Mas. Mereka tergilas pabrik2 beras skala besar yang menguasai pembelian gabah dari petani. Taman-teman rice-mill banyak yang nutup usahanya."

"Iya saya juga mengikuti berita itu. Hancur-hancuran semua. Belum lagi kasus di Pulau Rempang Batam itu. Runyam betul. Ini ujian berat bagi Pemerintah, mau terus nyubyo-nyubyo investor atau mau melindungi segenap rakyat dan tumpah darah. Beraaat..."

Kumandang azan maghrib mulai terdengar bersahutan dari masjid-masjid sekitar kampung Pak Bei. Obrolan dua sahabat pun berakhir. Keduanya segera bergegas ke masjid depan nDalem Pak Bei untuk siap-siap ikut shalat berjamaah.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah











Jumat, 08 September 2023

GONJANG-GANJING DAULAT PANGAN

GONJANG-GANJING DAULAT PANGAN

"Pak Bei kok lama gak nongol di status FB, ada apa? Sehat, kan?" tanya Lek Sodiq via pesan WA. Ini penanya via WA yang ketiga, dan hanya dijawab sekenanya oleh Pak Bei 'Ya ditunggu saja' atau 'Masih nunggu si Ilham belum datang' atau 'Durung wayahe'. Pertanyaan pun tidak berlanjut. Pak Bei kembali asyik dengan aktivitas sebelumnya.

Tentu jawaban Pak Bei akan berbeda kalau pertanyaan itu disampaikan secara langsung, ketemu tatap muka sambil wedangan, misalnya. Biasanya Pak Bei melayani setiap obrolan dengan sabar, dijawabnya semua pertanyaan dengan baik, dan dijelaskannya panjang-lebar bila penanya perlu perjelasan. 

Tapi kadang-kadang Pak Bei juga lebih memilih mendengarkan saja, sambil sesekali nyenggaki atau memancing petanyaan agar temannya yang lebih banyak bicara. Seperti dengan Kang Narjo, misalnya. Pak Bei tahu Kang Narjo kadang butuh curhat, butuh tempat membuang limbah kegelisahan, butuh teman glenak-glenik. Jadi dia yang kadang justru lebih banyak bicara kalau ketemu Pak Bei, seakan sedang menyampaikan aspirasi.

"Soal beras kok jadi ewuh-aya begini ya, Pak Bei," kata Kang Narjo sambil turun dari motornya.

Pak Bei yang lagi asyik baca berita online pun langsung menutup HPnya, membuka dan melepas kacamatanya, lalu turun duduk lesehan bersama Kang Narjo.

"Bagaimana Pak Bei membaca situasi perberasan yang gonjang-ganjing tak kunjung selesai ini?" tanya Kang Narjo.

"Ya biasa saja, Kang. Produktivitas petani kita masih rendah, ditambah musim kemarau yang bikin banyak sawah kekeringan dan gagal panen."

"Ya itu, Pak Bei. Katanya dampak Elnino. Gabah jadi langka sehingga harga beras di pasaran jadi mahal dan naik terus." 

"Tapi petani justru senang lho, Kang. Baru kali ini harga gabah panenannya dihargai tinggi oleh para tengkulak, jauh lebih tinggi dari harga yang dipatok Pemerintah. Dibayar cash lagi."

Cahya putra sulung Pak Bei  datang membawa nampan dengan dua gelas kopi.

"Monggo ngopi dulu, Pakdhe Narjo," Cahya mempersilakan sahabat ayahnya.

"Ooh ya, Le. Terima kasih, ya. Sini ikut ngobrol dulu," Kang Narjo ngajak Cahya gabung ngobrol.

"Ngobrol apa, Pakdhe?" tanya Cahya.

"Ini lho, Le. Negeri kita ini kok semakin mengkhawatirkan."

"Yang mana, Pakdhe?"

"Kedaulatan pangan kita dalam bahaya, Le. Ini lagi gonjang-ganjing tak kunjung berakhir."

"Ooh soal harga beras yang mahal dan terus naik ini, maksudnya?"

"Ya itulah, Le. Kelihatannya cuma soal beras, tapi menurutku ini soal kedaulatan negara yang sedang dalam ancaman, dalam bahaya, Le."

"Kok jadi sejauh itu, Pakdhe?"

"Ya jelas to, Le. Kita jangan merasa merdeka lalu teriak-teriak 'merdeka' kalau ternyata soal pangan untuk rakyat tidak mampu berdaulat. Kalau pangan kita dikuasai hanya oleh segelintir orang, lalu jutaan rakyat berada dalam ancaman kesulitan mendapatkan makanan, apakah itu kemerdekaan? Kalau isi perut jutaan rakyat sehari-hari harus menunggu bantuan sedekah atau bantuan sosial dari Pemerintah, apa itu cita-cita proklamasi 45?," Kang Narjo seakan mahasiswa sedang pidato di mimbar bebas menjelang reformasi 1998.

"Omonganmu kok kadohan to, Kang. Ngelantur ke mana-mana. Mbok agak diremlah," Pak Bei mengingatkan sahabatnya.

"Gap papa, Yah. Biarkan saja. Cahya senang kok Pakdhe Narjo masih punya semangat '45 begini," kata Cahya.

"Masalahnya kan sudah jelas, Le. Sangat jelas, cetha wela-wela, kata orang Jawa."

"Jelas bagaimana, Pakdhe?"

"Negara pasti tahu dan punya data berapa luas lahan pertanian dan berapa hasil per musim tanam padi kita, juga tahu berapa produksi padi per tahun. Tentu punya hitungannya."

"Ya pasti, Pakdhe. Kan ada BPS yang selalu update data."

"Betul, Le. BPS pasti juga punya data berapa lahan pertanian kita berkurang setiap tahun karena berubah jadi properti dan jalan tol. Jadi BPS sudah tahu betul berapa total produksi beras kita setiap tahun."

"Pasti tahu, Pakdhe."

"BPS pasti juga punya data ada berapa ribu usaha rise mill atau penggilingan padi dan kapasitas produksinya di setiap daerah. Juga tahu apakah keberadaan rise mill itu sudah mencukupi untuk memproses pasca-panen dari seluruh lahan yang ada."

"Iya, Pakdhe. Pasti tahu."

"Tapi kenapa Pemerintah mengijinkan para konglomerat juga masuk di sektor usaha beras?"

"Apa masalahnya, Pakdhe? Ini kan jamannya perdagangan bebas. Semua orang punya hak yang sama untuk berdagang."

"Nalarku ini sederhana saja kok, Cah Bagus. Coba hitung-hitungan. Kita berasumsi saja, ya."

"Bagaimana, Pakdhe?"

"Seandainya produksi padi dari total luas lahan kita hanya 2 juta ton per musim tanam, dan sudah ada 200 unit rise mill dengan kapasitas produksi masing-masing 10 ton per unit. Itu artinya seluruh hasil panen dari petani kita sudah tertangani oleh 200 rise mill unit yang ada. Dan selama ini tidak terjadi gejolak harga beras di pasaran."

"Iya benar, Pakdhe."

"Lha kalau kemudian Pemerintah mengijinkan pendirian beras skala raksana dengan mesin canggih, dengan kapasitas produksi 1000 ton gabah kering panen per hari, itu kan sama seja membiarkan terjadi perampasan pekerjaan 200 penggilingan skala kecil yang sudah ada selama ini. Iya to, Le?"

"Iya ya, Pakdhe. Seharusnya pekerjaan bisa dibagi untuk 200 usaha milik rakyat, sekarang dimonopoli oleh satu pengusaha saja."

"Betul, Le. Itulah kenapa di mana-mana terjadi usaha penggilingan padi milik rakyat berehenti beroperasi, alias tutup. Tidak kebagian pekerjaan, Le."

"Kabarnya harga gabah di tingkat petani jadi mahal dan terus naik ya, Pakdhe?"

"Ya pasti, Le. Untuk memenuhi kapasitas produksinya, pabrik besar itu berani membeli mahal gabah panenan dari petani. Berapapun petani minta, pasti dibayar cash. Penggilingan kecil jelas tidak mampu bersaing, Le."

"Ooh jadi itu ya masalahnya,  kenapa kamarin ribuan usaha rise mill di Banten demonstrasi menuntut agar pabrik beras skala raksasa itu ditutup."

"Ya itulah, Le. Tapi ah sudahlah. Para pemangku kepentingan justru menyalahkan petani dan musim kok, Le. Mau apa kita?"

"Berdoa saja, Pakdhe."

"Doa apa kira-kira yang cocok, Le."

"Sapu jagad, Pakde....wkkkk."

Kang Narjo dan Pak Bei tertawa mendengar guyonan Cahya. Itu goyunan pari kena, candaan tapi mengena. Karena memang sesungguhnya sebagai rakyat biasa, Kang Narjo dan Pak Bei juga tidak berdaya melakukan perubahan. Hanya doa sapu jagat yang bisa dipanjatkan semoga ke depan menjadi lebih baik, negeri ini bisa bersaulat pangan.

#seriappakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah



















Jumat, 25 Agustus 2023

BILA SAPARAN TIBA

BILA SAPARAN TIBA

"Kemarin ikut acara Pembukaan Saparan gak, Pak Bei?," tanya Kang Narjo tadi pagi setelah melemparkan koran ke lantai.

"Loh ini sudah bulan Safar ya, Kang? Lupa aku," jawab Pak Bei sambil meletakkan hp dan kacamata bacanya.

"Pak Bei ini bagaimana? Masa lupa. Sebentar lagi kan hari rayanya masyarakat Jatinom. Besok Jumat 1 September puncak acara Yaqawiyyu, sebaran apem di Plampeyan, lapangan di pinggir kali bawah Masjid Gedhe Jatinom itu."

"Wah iya ya, Kang. Pas musim kemarau begini, saparan tahun ini pasti ramai banget. Pasar malam dan warung-warung makan laris-manis banyak pengunjungnya."

"Benar, Pak Bei. Tahun-tahun kemarin kasihan banget. Kalau pas musim hujan, pasar malam betul-betul sepi pengunjung. Apalagi pas covid kemarin, pengusaha pasar malam mbrebes mili, sedih, anjungan mainannya gak ada pengunjung. Hasil penjualannya tiketnya konon tidak cukup untuk ganti biaya sewa tempat di Oro-oro dan Lapangan Bonyokan. Apalagi untuk biaya operasional karyawan. Blas gak nutut."

"Namanya berdagang memang begitu, Kang. Ada saat-saat penjualan sepi, ada saatnya ramai. Biasa itu, Kang."

Kali ini tumben Kang Narjo tidak mau turun dari motornya, hanya sebentar ngoceh tentang Saparan. Mesin motornya pun tidak dimatikan. Tumben juga dia menolak ditawari kopi seperti biasanya. Loper koran satu ini kadang memang nganyelke. 

"Ngopinya nanti malam saja. Teman-teman saya juga sudah kangen ngobrol sama Pak Bei," kata Kang Narjo yang langsung ngeloyor pergi tanpa menunggu persetujuan Pak Bei.

Tapi Pak Bei senang diingatkan Kang Narjo bahwa masyarakat Jatinom hari-hari ini mulai bersiap menyambut kunjungan wisatawan tahunan, Saparan Yaqawiyyu. Ini acara haul sesepuh Walisanga bernama Ki Ageng Gribik di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah yang puncak acaranya dilakukan dengan cara unik, yaitu sebaran berton-ton kue apem untuk diperebutkan oleh ribuan pengunjung, dilaksanakan tepat bakda sholat Jumat. 

Pak Bei melihat rangkaian acara selama seminggu itu bukan hanya menjadi peristiwa budaya, tetapi juga menjadi peristiwa ekonomi yang memilik dampak luar biasa bagi masyarakat Jatinom. Bahkan, sejak dasa warsa terakhir, Saparan Yaqawiyyu juga telah menjadi ajang para politisi melakukan kampanye terselubung, ajang menggaet simpati massa, membangun popularitas. Namanya juga orang politik. Di mana ada massa berkumpul, di situ ada potensi mendulang suara. Itu sah-sah saja.

Dari berbagai referensi yang pernah dibacanya, Pak Bei meyakini bahwa acara haul Yaqawiyyu setiap bulan Safar itu dimulai sejak masa Ki Ageng Gribik ke-3, dalam rangka memperingati wafat pendahulunya, yakni Ki Ageng Gribik pertama atau Syech Maulana Malik Maghribi. Waliyullah dari Maghribi atau Maroko itu datang ke Tanah Jawa bersama 8 orang lainnya sebagai Da'i yang diutus oleh Sultan Mahmud dari Kekhalifahan Turki Usmani pada abad ke-14. Tidak seperti teman-temannya yang memilih basis dakwah di pesisir Pulau Jawa, Syech Maulana Malik Maghribi memilih masuk jauh ke pedalaman di kawasan lereng timur Gunung Merapi yang kemudian dikenal sebagai wilayah Jatinom. Di sinilah beliau membangun basis dakwahnya. Jamaahnya yang orang-orang Jawa pedalaman itu kemudian menyebut gurunya itu dengan Ki Ageng Gribik. 

"Pak Bei, sejak dulu acara Yaqawiyyu kok cuma gitu-gitu saja, ya. Gak ada pembaruan sama sekali," kata Mas Tejo, teman Kang Narjo yang datang berempat sejak bakda isya' tadi.

"Maunya pembaruan yang seperti apa, Mas Tejo?," tanya Pak Bei.

"Jaman sudah berubah. Selera jaman juga sudah berganti. Tapi kok ya masih bikin acara orang berebut sebaran apem. Mbok coba ganti cara yang lain, Pak Bei, yang lebih beradab," jawab Mas Tejo.

"Lha justru di situ menariknya, Mas Tejo. Ribuan orang berebut apem di satu tempat, itu kan unik, lucu. Dari kacamata orang Dinas Pariwisata, itu kemedol, layak jual, potensial mendatangkan cuan alias PAD. Gitu lho, Mas Tejo."

"Tapi benar juga kata Mas Tejo ini, Pak Bei," Kang Narjo mencoba membela temannya.

"Pripun, Kang Narjo?"

"Memang kalau dirasa-rasa, dipikir-pikir, tradisi sebaran apem itu dulu tentu maksudnya ajaran bersedekah, mambagi kue apem kepada tamu-tamu. Tapi, bersedekah makanan untuk tamu dengan cara dilempar-lemparkan itu kan tidak sopan, kurang ngejeni tamu, jelas tidak baik. Itu bukan sedekah namanya," jawab Kang Narjo.

"Iya juga ya, Kang. Terus bagaimana mestinya?"

"Itulah yang perlu kita pikirkan, Pak Bei. Saatnya orang-orang Jatinom berkreasi menemukan cara peringatan Yawawiyyu yang lebih beradab," Kang Tejo kembali memancing diskusi.

Pak Bei teringat, beberapa tahun lalu pernah mengajak teman-teman pemuda Jatinom membuat perubahan peringatan Yaqawiyyu, mirip dengan yang digelisahkan Mas Tejo dan Kang Narjo malam ini.
Waktu itu Pak Bei mengusulkan buat acara Festival Apem sehari sebelum acara puncak Yaqawiyyu. Festival itu diikuti ibu-ibu dan remaja putri se-Kecamatan Jatinom. Setiap kelompok terdiri 3 orang. Dengan disediakan hadiah yang menarik, tentu akan ada ratusan kelompok yang siap ikut serta. Tempat festival di pinggir sepanjang jalan sejak dari perbatasan dengan Kec. Ngawen di sebelah selatan, perbatasan dengan Kec. Karanganom di sebelah timur, perbatasan dengan Kec. Tulung di sebelah utara, dan sejanjang jalan di kota Jatinom. Lalu, seluruh apem yang dibuat oleh peserta itu dibeli oleh Panitia untuk dipacking dalam dos yang bagus. Selanjutnya, ribuan dos berisi apem itu besok siang dibagikan kepada jamaah sholat Jumat di masjid-masjid sekitar kota Jatinom. Jadi tamu-tamu dari luar kota terutama yang hadir sholat Jumat di masjid akan menerima apem dengan cara terhormat. Yang masih suka ikut sebaran apem, silakan ikut berebut. Yang sudah mendapatkan apem di mesjid, silakan bila ingin menonton orang-orang yang berebut di Plampeyan.

"Sayang sekali ide saya waktu itu kurang direspon teman-teman," kenang Pak Bei.

"Ide bagus sekali itu, Pak Bei. Tapi mungkin terlalu bagus, kapiken, sehingga teman-teman Pak Bei tidak bisa merespon," kata Mas Tejo.

"Saya lihat sekarang sudah mulai muncul kegelisahan di masyarakat Jatinom, Pak Bei," kata Kang Narjo menimpali. "Memang budaya semestinya tidak statis, harus terus berubah, terus ada pembaruan seiring budaya masyarakat yang juga terus berkembang," lanjutnya.

Malam sudah larut. Udara dan angin dingin sudah terasa di kulit, pertanda sudah saatnya Pak Bei istirahat. Kang Narjo dan teman-temannya pun segera pamitan, pulang ke rumahnya masing-masing.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jatam





 
















Rabu, 23 Agustus 2023

TAK ADA RUANG PARTISIPASI

TAK ADA RUANG PARTISIPASI

Sepulang dari jama'ah isya' di mesjid malam itu, sebenarnya Pak Bei mau langsung istirahat. Badan terasa capek sepulang dari Solo mengikuti acara uji publik Raperda Kedaulatan Pangan bersama Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah. Meski undangannya sangat mendadak diterimanya, hanya beberapa jam sebelum acara dimulai, tapi mengingat topik acaranya sangat urgent, menyangkut nasib masa depan jutaan warga Jawa Tengah, maka Pak Bei pun membatalkan acaranya ke Jogja. 

Sebagai warga Jawa Tengah, Pak Bei melihat inisiatif Raperda Kedaulatan Pangan dari Komisi B itu bagus dan pantas didukung. Sebelum diundangkan menjadi Perda yang selanjutnya akan diikuti dengan peraturan-peraturan turunannya dan mengikat seluruh warga, proses uji publik diperlukan guna mendapatkan masukan dan koreksi dari masyarakat secara komprehensif.

Kebetulan tema Raperda itu jumbuh dengan kegelisahan para petani, pemuda desa, dan teman-teman pelaku usaha penggilingan padi yang sering kumpul, ngopi, ngobrol, dan curhat di nDalem Pak Bei. Meski hanya obrolan cakrukan dan disampakan dengan bahasa sederhana, tapi berbagai tema yang mengemuka kadang terasa cukup berat. Misalnya, tema terkait ancaman kedaulatan pangan, kasus stunting dan kemiskinan ekstrem yang sedang jadi hot news akhir-akhir ini. 

Obrolan terkait kemiskinan ekstrem malam itu,  para aktivis cakrukan punya kesan tersendiri. Katanya, datanya sengaja digelembungkan. Solusi yang ditempuh Pemerintah pun terkesan aneh, ora gathuk alias tidak nyambung sehingga lucu. Pak Bei merasa bakan kapasitasnya menilai kesan mereka. Namanya juga kesan, mungkin benar mungkin salah. Jelas itu di luar kapasitas Pak Bei yang hanya rakyat biasa.

Untunglah, ada dalil mengatakan "Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kapasitasnya." Artinya, rakyat tidak memiliki kewajiban memikul tanggung jawab mewujudkan tata kelola negara yang baik dan adil. Pejabat dan para pengambil kebijakan yang sudah disumpah dan digaji besar oleh rakyatlah yang wajib hukumnya mewujudkan kesejahteraan dan keadilan. 

"Pak Bei, sebenarnya kami ingin sekali membantu Pemerintah, tapi tidak ada ruang bagi kami," kata Aji yang malam itu datang bersama 5 temannya.

"Membantu dalam hal apa, Mas?," tanya Pak Bei pada pemuda ganteng itu.

"Percepatan penanggulangan kemiskinan ekstrem, Pak Bei. Kabupaten kita kan termasuk yang tinggi di Jawa Tengah. Dari 26 Kecamatan, ada 22 yang termasuk miskin ekstrem. Itu kan sangat memalukan," jawab Aji.

"Loh, memangnya Pemkab kita butuh bantuan kalian? Jangan-jangan gak butuh, Mas?"

"Ya memang, Pak Bei, setelah kemarin kami audiensi ke pemangku kepentingan yang kami pandang kompeten, rupanya Pemerintah memang tidak butuh partisipasi masyarakat. Mereka sudah punya program sendiri yang harus dijalankan."

"Nah bener, kan?"

"Tapi menurut kami programnya tidak relevan, Pak Bei?," kata Arya aktivis petani millenial itu.

"Tidak relevan bagaimana? Bagi Pemerintah, program itu yang penting sudah sesuai aturan, sesuai regulasi, berbasis data, dan terukur."

"Program penangulangan kemiskinan ekstrem dan stunting kok cuma jambanisasi, perhaikan rumah tidak layak huni, dan penyambungan listrik PLN. Itu kan cuma fisik, Pak Bei. Proyek infrastruktur, buang-buang anggaran dan tidak menyelesaikan masalah," Arya menyanggah Pak Bei.

"Lha kalau kenyataan di lapangan memang banyak rumah yang belum punya jamban, tidak layak huni, dan belum terjangkau penerangan listrik, solusinya yang program-program itu to, Mas."

"Sebenarnya kami punya gagasan yang lebih bagus untuk percepatan penanggulangan kemiskinan ekstrem dan stunting, Pak Bei. Tapi, ah sudahlah. Percuma saja ide bagus kalau tidak bisa diakomodir," kata Taufiq.

"Mbok coba ide itu ditulis, Mas, dibikin proposal biar dipelajari."

"Dari obrolan pas audiensi kemarin, tidak ada gunanya lagi kami bikin proposal, Pak Bei. Program dan anggarannya sudah diketok palu, tidak bisa diubah lagi," kata Wawan.

"Ya sudah kalau begitu. Disimpan saja gagasan kalian yang bagus itu. Suatu saat pasti akan berguna. Itu kan hanya soal momentum saja yang belum tepat."

"Maksud Pak Bei?" 

"Kalian tentu paham ini tahun politik. Beberapa bulan lagi kita akan memilih Calon Presiden dan parlemen. Semua pejabat tentu sudah ke sana pikirannya. Ide kalian yang bagus itu mungkin dipandang kurang strategis untuk kepentingan politik memenangkan Pemilu dan Pilpres 2024."

"Keliru, Pak Bei. Kalau mereka mau, sebenarnya program yang kami tawarkan ini justru akan sangat menguntungkan bagi yang punya agenda politik."

"Nyatanya ditolak, kan?"

"Kami pikir penolakan itu bukan karena kalkulasi politik kok, Pak Bei."

"Karena apa?"

"Karena tidak kompeten."

"Loh katanya pemangku kepentingan, penanggungjawab program percepatan penanggulangan kemiskinan ekstrem dan stunting? Ya pasti kompetenlah."

"Nyatanya tidak kompeten kok, Pak Bei. Bahkan tidak mudheng, tidak paham dikasih ide bagus."

Malam sudah cukup larut. Udara sudah terasa lebih atis, dingin. Semua cangkir kopi juga sudah tandas diminum. Pak Bei pun harus istirahat. Para pemuda itu pun berpamitan, menyalami Pak Bei satu per satu, pulang ke rumah masing-masing. 

"Hari gini masih ada pemuda-pemuda yang peka dan peduli pada situasi lingkungannya. Lumayan, masih ada harapan untuk masa depan yang lebih baik," kata Pak Bei dalam hati sambil menutup pintu. 

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah










Rabu, 16 Agustus 2023

MERDEKA ITU MURAH PANGAN MURAH SANDANG

MERDEKA ITU MURAH PANGAN MURAH SANDANG

Mbokdhe Sukini, begitu ibu-ibu muda tetangga Pak Bei biasa memanggil si penjual aneka makanan itu. Pak Bei sendiri sejak dulu memanggilnya 'Yu Sukini'. Dia teman sepermainan masa kecil Mbak Mun, kakak perempuan Pak Bei yang saat ini tinggal di Gianyar, Bali. Di usianya yang tak lagi muda, 60an tahun, Yu Sukini masih tampak sehat bugar dan lincah mengendarai sepeda motornya. Dengan bronjong penuh muatan aneka jajanan pasar seperti jenang sungsum, jenang mutiara, nasi kucing aneka lauk, nasi kuning, nasi gudangan, nasi trancam, bermacam-macam gorengan dan aneka krupuk khas desa, dia keliling setiap pagi dari rumah ke rumah sejak pukul 06.00 hingga sekitar jam 09.00. 

Seperti artis kondang, kedatangan Yu Sukini selalu ditunggu ibu-ibu, terutama yang tak sempat masak untuk sarapan anak-anaknya yang mau sekolah. Pun Bu Bei yang biasa sejak bakda shubuh sudah suntuk di ruang kerjanya menyiapkan pekerjaan untuk karyawan Bundaco sehingga tidak sempat masak. Nasi bungkus harga 2.000an dagangan Yu Sukini itu menjadi solusi bagi perut-perut darurat keroncongan di pagi hari.

"Bu Bei, besok saya libur sehari, ya. Gak jualan," kata Yu Sukini.

"Loh kenapa, Budhe?," tanya Bu Bei.

"Nanti malam semua orang tirakatan malam 17an, biasanya sampai larut malam. Ibu-ibu yang biasa membuat nasi bungkus ini juga sudah pamit mau libur dulu."

"Wah gara-gara tirakatan ya, Budhe?"

"Ibu-ibu juga ingin menikmati Hari Kemerdekaan kok, Bu Bei. Merdeka, kerja libur dulu."

"Iya sih, maklum."

"Padahal kita ini kan belum merdeka ya, Pak Bei?," Yu Sukini yang sok akrab itu menyapa Pak Bei yang lagi asyik membersihkan kurungan perkutut.

"Belum merdeka bagaimana to, Yu?," tanya Pak Bei sambil memindah kurungan ke tempat yang kena sinar matahari.

"Satuhuku yang namanya merdeka itu kalau sudah murah pangan, murah sandang, dan murah semua kebutuhan hidup. Sekarang kan belum, Pak Bei. Malah semua harga kebutuhan hidup semakin hari semakin mahal," jawab Yu Sukini yang cukup membuat Pak Bei kaget.

"Loh, tadi Yu Sukini bilang semua orang kampung nanti malam ngadakan malam tirakatan. Itu kan artinya merenungi dan mensyukuri negara yang sudah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945."

"Kalau menurut saya bukan itu artinya tirakatan itu, Pak Bei."

"Terus apa?"

"Tirakatan itu merenungi apakah bangsa kita ini benar-benar sudah merdeka setelah proklamasi 78 tahun yang lalu."

"Terus apalagi?"

"Tirakatan itu merenungi apakah negara kita ini sudah benar-benar merdeka dari penjajahan bangsa asing."

"Terus apa lagi, Yu?"

"Mencermati jangan-jangan bangsa kita ini masih dijajah, Pak Bei."

"Dijajah bangsa asing, maksudmu?"

"Ya gak mesti, Pak Bei."

"Gak mesti bagaimana?"

"Ya mungkin saja yang menjajah kita justru bangsa kita sendiri."

"Kok bisa begitu, Yu?"

"Walaah Pak Bei ini masa lupa dulu kita kan biasa ramai-ramai nonton kethoprak TVRI Yogyakarta di rumah Pak Yusuf."

"Ya masih ingat, Yu. Dulu orang-orang tua sampai iuran buat beli kepang untuk alas duduk."

"Pak Bei ingat gak, dulu sering ada lakon raja Mataram melawan Kumpeni, penjajah dari Belanda?"

"Iya, dulu anak-anak senang sekali melihat pas adegan perang tanding."

"Raja kita jatuh dari kekuasannya karena pengkhianatan saudara sendiri atau anak-buahnya sendiri yang sudah disogok dan kingkalingkong dengan Kumpeni."

"Wah wah...ini jualan kok malah seminar kethoprak to, Budhe?," Bu Bei menyela. 

"Hehehe....maaf Bu Bei, malah kutinggal ngobrol sama Pak Bei tentang kethoprak. Maaf..."

"Habis berapa aku ini?" Bu Bei menunjukkan belanjaannya.

"Dua puluh tiga ribu saja," jawab Yu Sukini setelah bungkusan plastik. 

Bu Bei pun langsung membayar dan masuk ke rumah meninggalkan Yu Sukini.

"Matur nuwun, Bu Bei. Saya nyuwun pamit nggih."

"Nggih, Budhe."

"Pamit dulu, Pak Bei. Ingat, tandanya merdeka itu bila sudah murah pangan, murah sandang, dan murah segala biaya hidup."

"Nggih, Yu. Merdeka...!!"

"Beluuum....hehehe..."

Yu Sukini pun meninggalkan pelataran nDalem Pak Bei, meneruskan jualan dari rumah ke rumah hingga habis jualannya. 

"Bakul panganan kok keminter, Yu Yu. Sok tahu," kata Pak Bei dalam hati.

#serialpakbei
#wahyudinasution






















Kamis, 03 Agustus 2023

CINTA PERTAMANYA

CINTA PERTAMANYA

Seperti biasanya, pagi ini Pak Bei melakukan aktivitas rutinnya jalan pagi menyusuri jalanan kampung dan persawahan. Jarak sekitar 3,5 km itu normal diselesaikannya dalam waktu 30 menit. Tapi sering lebih dari itu. Maklum saja, Pak Bei sering nyempatkan berhenti dulu menyapa para petani, lalu ngobrol berbagai hal soal pertanian, mendengarkan keluh-kesah mereka. Petani pun tampak antusias bila diajak ngobrol. Sambil merokok tingwe, mereka bercerita tentang langkanya pupuk subsidi dan mahalnya pupuk non-subsidi, soal berbagai hama tanaman yang datang silih-berganti, harga jual panenan yang kadang sangat rendah tidak masuk akal sementara biaya hidup keluarganya terus merangkak naik tak pernah turun lagi, dan sebagainya. Pak Bei pun ikut ngelinting rokok tingwe dan menikmatinya sebagai tanda ajur-ajer  dan akrab dengan kehidupan petani. 

Sampai di rumah, biasanya Pak Bei langsung buka keran air dan nyirami kembang di halaman. Tapi kali ini tidak, gara-gara ada sepeda motor Kang Narjo yang masih banyak muatan koran itu terparkir tepat di depan tempat keran dan selang air. Orangnya tidak kelihatan. Mungkin sedang ke kamar mandi. Biasa, orang tua memang kadang beser tak tertahankan.

Benar juga. Tak berapa lama Kang Narjo tampak jalan kledang-kledang dari arah kamar mandi.

"Selamat pagi, Pak Bei. Sugeng enjang," sapa Kang Narjo dengan ekspresi wajah lega.

"Sugeng enjang, Kang Narjo. Beser, ya?"

"Iya, Pak Bei. Ngempet dari tadi."

"Mau ngopi dulu?"

"Cocok, Pak Bei."

"Tunggu sebentar, ya. Kubuatkan dulu."

Tak berapa lama, Pak Bei pun keluar dengan dua gelas kopi, siap nani ngobrol sahabatnya. 

"Buat kopi sendiri to, Pak Bei? Kok gak nyuruh putrinya?"

"Anakku sudah kembali ke pondok, Kang?"

"Katanya sudah selesai kuliahnya? Sudah lulus."

"Iya memang, sudah wisuda akhir bulan kemarin. Tapi masih harus menyelesaikan setahun pengabdian di pondok kok, Kang."

"Wah, jadi berapa tahun anak Pak Bei mondok?"

"Total 11 tahun, Kang."

"Waoow...11 tahun?"

"Iya, Kang. Mondok sejak baru lulus SD hingga lulus SMA, 6 tahun. Dilanjut kuliah 4 tahun di Fakultas Ekonomi. Sudah lulus. Dilanjut lagi pengabdian satu tahun sampai Ramadhan tahun depan. Jadi total 11 tahun."

"Luar biasa anak Pak Bei. Santriwati sejati."

"Alhamdulillaah, Kang. Pangestunipun."

"Nanti keluar dari pondok sudah dewasa, ya. Sudah matang."

"Insya Allah, Kang."

"Sebentar lagi Pak Bei mantu lagi ini. Sudah ada calonnya belum?"

"Belum tampak hilalnya kok, Kang."

"Belum punya calon?"

"Belum, Kang."

"Pak Bei, salah satu tanggung jawab seorang bapak pada anak gadisnya itu mencarikan jodoh, suami, pendamping hidupnya."

"Iya tahu, Kang. Tapi biarlah dia nyelesaikan pengabdiannya dulu."

"Tapi jangan-jangan dia sudah punya calon tapi belum dikenalkan Pak Bei?"

"Kayaknya sih belum, Kang. Ketemu laki-laki saja jarang kok, cuma pas liburan."

"Kenapa begitu?"

"Kang, anakku ini mondoknya di Gontor Putri. Khusus pondok putri. Kuliahnya pun di Unida Gontor Putri. Jadi ya cuma ketemu sesama anak putri."

"Ooh iya, ya. Malah aman kok, Pak Bei."

"Iya, Kang. Insya Allah."

"Berarti Pak Bei yang harus mencarikan jodohnya. Harus mulai tebar jaring nih."

"Halaah memangnya mau menjala ikan? Soal jodoh, Gusti Allah pasti sudah mengatur, Kang. Orang tua berdoa saja semoga anaknya mendapatkan jadoh yang terbaik."

"Biasanya lho, Pak Bei, anak gadis itu mengidolakan laki-laki yang seperti bapaknya."

"Gitu to, Kang?"

"Coba saja anak Pak Bei ditanya, laki-laki seperti apa yang diinginkannya. Pasti jawabnya yang seperti ayahnya." 

"Mosok to, Kang?" Pak Bei kaget dengan omongan Kang Narjo. Teringat obrolan keluarga menjelang acara wisuda di Ponorogo tempo hari.

Pagi itu usai sarapan pagi, Bu Bei iseng bertanya pada Zika, anak gadisnya, "Nduk, Kamu ini pengin tipe laki-laki yang bagaimana?"

"Yang seperti ayah, " jawab dengan mantap.

"Walaah, kok seleramu sama dengan Bunda to, Dek?" respon Mas Cahya disambut gelak tawa.

"Ya memang begitu kok, Pak Bei. Konon, cinta pertama anak gadis itu ya ayahnya sendiri," kata Kang Narjo.

"Tapi mana ada yang persis denganku, Kang. Anak laki-lakiku saja beda kok. Dia lebih mirip dengan bundanya."

"Pasti tidak ada yang persis, Pak Bei, tapi setidaknya ada yang mirip-miriplah. Mungkin fisiknya, mungkin gayanya, mungkin tutur bahasanya,  mungkin hobinya, mungkin komunitas dan pergaulannya."

Matahari sudah meninggi. Panas kemarau mulai terasa menyengat. Kang Narjo pun berpamitan untuk neruskan tugasnya mengantar koran. Obrolan dengan loper koran senior itu sering membuat hal Pak Bei gelisah. Sering ada hal baru yang menantang. Kali ini tantangannya beda dan tidak gampang.

#serialpakbei
#wahyudinasution







 





"